Zakat Profesi: Menimbang Pendapat Yûsuf al-Qaradhâwî dengan Pendapat Empat Mazhab
Seorang karyawan bergaji Rp15 juta sebulan mendapat pemberitahuan dari kantornya: mulai bulan depan, gajinya dipotong 2,5% untuk zakat profesi. Seorang temannya berkata bahwa gaji baru wajib dizakati jika tabungan dari gaji itu mencapai nisab dan sudah tersimpan satu tahun. Mana yang benar?
Gagasan memotong zakat dari gaji setiap kali diterima paling banyak dirujuk pada kitab Fiqh az-Zakâh karya Yûsuf al-Qaradhâwî (w. 1444 H/2022 M). Tulisan ini meringkas pendapat beliau dari bab Zakât Kasb al-’Amal wa al-Mihan al-Ḫurrah, lalu menimbangnya dengan apa yang tertulis dalam kitab-kitab mu’tamad empat mazhab.
Pendapat al-Qaradhâwî dalam Fiqh az-Zakâh
Gaji adalah mâl mustafâd. Al-Qaradhâwî menggolongkan gaji, upah, dan honor profesi sebagai harta yang baru diperoleh (al-mâl al-mustafâd):
فالتكييف الفقهي الصحيح لهذا الكسب: أنه مال مستفاد
"Penggolongan fikih yang benar untuk penghasilan ini adalah bahwa ia termasuk harta yang baru diperoleh."
Tidak menunggu haul. Setelah membandingkan pendapat para ulama, beliau menyimpulkan:
فالذي اختاره: أن المال المستفاد – كراتب الموظف وأجر العامل ودخل الطبيب والمهندس والمحامي وغيرهم من ذوي المهن الحرة ... – لا يشترط لوجوب الزكاة فيه مرور حول، بل يزكيه حين يقبضه
"Pendapat yang saya pilih: harta yang baru diperoleh, seperti gaji pegawai, upah pekerja, dan penghasilan dokter, insinyur, pengacara, dan para profesional lainnya ..., tidak disyaratkan berlalu satu tahun untuk wajib zakatnya, tetapi dizakati ketika diterima."
Alasan-alasannya. Beliau menyebut sepuluh alasan. Yang terpenting:
- Hadis-hadis tentang haul semuanya lemah: "أنه ليس في اشتراط الحول حديث ثابت مرفوع إلى النبي صلى الله عليه وسلم، ولا سيما في المال المستفاد، كما قال الحافظ البيهقي", tidak ada hadis marfu’ yang sahih tentang syarat haul, terlebih pada harta yang baru diperoleh, sebagaimana kata al-Baihaqî.
- Para sahabat dan tabi’in berbeda pendapat. Ibnu ’Abbâs, Ibnu Mas’ûd, dan Mu’âwiyah tidak mensyaratkan haul, begitu pula ’Umar bin ’Abd al-’Azîz, az-Zuhrî, dan al-Ḫasan. Ibnu Mas’ûd memotong zakat dari tunjangan (’athâ’) yang dibagikan: "كان ابن مسعود يزكي أعطياتهم من كل ألف خمسة وعشرين", dari setiap seribu ia memotong dua puluh lima.
- Keumuman nas, seperti "يا أيها الذين آمنوا أنفقوا من طيبات ما كسبتم" (QS al-Baqarah [2]: 267).
- Qiyas kepada zakat pertanian: "فإذا كنا نأخذ من الزارع ولو مستأجراً عشر زرعه وثمره، أو نصف عشره، فلماذا لا نأخذ من الموظف أو الطبيب مثلاً ربع عشر كسبه؟", jika petani, walaupun menyewa lahan, kita ambil sepersepuluh atau seperdua puluh panennya, mengapa dari pegawai atau dokter tidak kita ambil seperempat puluh penghasilannya?
- Keadilan. Jika haul disyaratkan, yang membayar zakat hanya orang hemat yang menabung, sedangkan orang boros yang menghabiskan penghasilannya tidak pernah terkena zakat.
- Kemudahan memungut lewat potongan gaji.
Nisab dan cara menghitung. Nisabnya mengikuti nisab uang: "وأولى من ذلك أن يكون نصاب النقود هو المعتبر هنا، وقد حددناه بما قيمته ٨٥ جراماً من الذهب", yang lebih tepat adalah nisab uang, yaitu senilai 85 gram emas. Penghasilan dalam setahun boleh dijumlahkan: "وبناء على ذلك تؤخذ الزكاة من صافي دخل الموظف وغيره من ذوي المهن الحرة في سنة كاملة إذا بلغ الصافي نصاباً", zakat diambil dari penghasilan bersih selama setahun penuh jika penghasilan bersih itu mencapai nisab. Yang dimaksud penghasilan bersih adalah setelah dikurangi utang dan kebutuhan hidup minimal: "ليطرح منه الدين ان ثبت عليه، ويعفى الحد الأدنى لمعيشته ومعيشة من يعوله". Kadarnya: "فالواجب فيه ربع العشر فقط", kewajibannya hanya 2,5%. Harta yang sudah dizakati saat diterima tidak dizakati lagi ketika haul harta lainnya tiba.
Pengakuan beliau sendiri. Al-Qaradhâwî menyadari pendapat ini menyelisihi empat mazhab, dan menulis:
وإذا كان في ذلك خروج على المذاهب الأربعة المعتمدة فلم يجيء نص عن الله تعالى ورسوله ﷺ – ولا عن أئمة المذاهب أنفسهم – بوجوب اتباعهم وتقليدهم وتحريم الخروج عن اجتهادهم
"Jika dalam hal ini ada penyimpangan dari empat mazhab yang mu’tamad, tidak ada nas dari Allah dan Rasul-Nya ﷺ, juga dari para imam mazhab itu sendiri, yang mewajibkan mengikuti dan bertaklid kepada mereka serta mengharamkan keluar dari ijtihad mereka."
Sekarang kita lihat apa yang tertulis dalam kitab empat mazhab tentang harta yang baru diperoleh.
Hanafi: digabung ke haul harta sejenis yang sudah ada
Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah menulis: "(وَمَنْ كَانَ لَهُ نِصَابٌ فَاسْتَفَادَ فِي أَثْنَاءِ الْحَوْلِ مِنْ جِنْسِهِ ضَمَّهُ إلَيْهِ وَزَكَّاهُ بِهِ)", siapa yang memiliki satu nisab lalu memperoleh harta sejenis di tengah haul, ia menggabungkannya dengan harta itu dan menzakatinya bersama. Ad-Durr al-Mukhtâr, yang disyarah Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H) dalam Radd al-Muḫtâr, merumuskan: "(وَالْمُسْتَفَادُ) وَلَوْ بِهِبَةٍ أَوْ إرْثٍ (وَسَطَ الْحَوْلِ يُضَمُّ إلَى نِصَابٍ مِنْ جِنْسِهِ) فَيُزَكِّيهِ بِحَوْلِ الْأَصْلِ", harta yang diperoleh di tengah haul, walaupun dari hibah atau warisan, digabung dengan nisab sejenis lalu dizakati pada haul harta asal.
Jadi, menurut mazhab Hanafi, gaji orang yang sudah memiliki tabungan senisab dizakati bersama tabungannya pada akhir haul tabungan itu, tanpa menunggu haul baru. Tetapi jika ia belum memiliki nisab, atau harta itu tidak sejenis, gaji itu memulai haulnya sendiri. Al-Kâsânî (w. 587 H) dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ menegaskan: "بِخِلَافِ الْمُسْتَفَادِ بِخِلَافِ الْجِنْسِ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ بِتَابِعٍ بَلْ هُوَ أَصْلٌ بِنَفْسِهِ", berbeda dengan harta yang tidak sejenis, karena ia bukan ikutan, melainkan harta pokok tersendiri.
Dalil mazhab Hanafi. Al-Kâsânî berdalil:
وَلَنَا أَنَّ عُمُومَاتِ الزَّكَاةِ تَقْتَضِي الْوُجُوبَ مُطْلَقًا عَنْ شَرْطِ الْحَوْلِ إلَّا مَا خُصَّ بِدَلِيلٍ؛ وَلِأَنَّ الْمُسْتَفَادَ مِنْ جِنْسِ الْأَصْلِ تَبَعٌ لَهُ؛ لِأَنَّهُ زِيَادَةٌ عَلَيْهِ
"Dalil kami: keumuman nas zakat menuntut kewajiban tanpa syarat haul, kecuali yang dikhususkan oleh dalil; dan harta yang diperoleh dari jenis yang sama adalah ikutan bagi harta pokok, karena ia tambahan atasnya."
Ibnu al-Humâm (w. 861 H) dalam Fatḫ al-Qadîr menambahkan alasan kemudahan: penggabungan itu "أَدْفَعُ لِلْحَرَجِ اللَّازِمِ عَلَى تَقْدِيرِ قَوْلِهِ فِي أَصْحَابِ الْغَلَّةِ الَّذِينَ يَسْتَغِلُّونَ كُلَّ يَوْمٍ دِرْهَمًا وَأَقَلَّ وَأَكْثَرَ", lebih menghilangkan kesulitan yang timbul dari pendapat asy-Syâfi’î bagi orang-orang berpenghasilan yang setiap hari memperoleh satu dirham, kurang, atau lebih. Menghitung haul untuk setiap dirham, katanya, adalah "حَرَجًا عَظِيمًا", kesulitan yang besar.
Maliki: memulai haul baru sejak diterima
Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H) dalam al-Kâfî membuat bab khusus Zakât al-Fâ’idah dan menulis:
كل من استفاد مالا عينا أو عروضا وهو حر بأي وجه كانت استفادته إياه بميراث أو هبة أو جائزة أو صلة ... أو غلة مسكن ... فلا زكاة في شيء من ذلك كله حتى يقبض المستفيد ما استفاده منه عينا ... ويحول عليه الحول وهو في يده كذلك
"Setiap orang merdeka yang memperoleh harta, uang maupun barang, dengan cara apa pun, baik warisan, hibah, hadiah, pemberian ... maupun hasil sewa rumah ..., tidak ada zakat pada semua itu sampai ia menerimanya dalam bentuk uang ... dan berlalu satu tahun atasnya di tangannya."
Khalîl (w. 776 H) dalam Mukhtashar-nya, yang disyarah al-Ḫaththâb (w. 954 H) dalam Mawâhib al-Jalîl, merumuskan: "(وَاسْتَقْبَلَ بِفَائِدَةٍ تَجَدَّدَتْ لَا عَنْ مَالٍ كَعَطِيَّةٍ)", ia memulai haul baru untuk harta yang datang bukan dari harta sebelumnya, seperti pemberian. Berbeda dengan Hanafi, mazhab Maliki tidak menggabungkan harta itu ke haul uang yang sudah ada.
Dalil mazhab Maliki. Al-Mudawwanah membawakan atsar para sahabat:
قَالَ ابْنُ وَهْبٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ مُحَمَّدٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ نَافِعٍ، إنَّ عَبْدَ اللَّهَ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ: مَنْ اسْتَفَادَ مَالًا فَلَا زَكَاةَ عَلَيْهِ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ. قَالَ ابْنُ وَهْبٍ وَأَخْبَرَنِي رِجَالٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ، أَنَّ عُثْمَانَ وَعَلِيًّا وَرَبِيعَةَ وَيَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ وَسَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ وَعَائِشَةَ كَانُوا يَقُولُونَ ذَلِكَ
"Ibnu Wahb meriwayatkan dari Nâfi’ bahwa ’Abdullâh bin ’Umar berkata: Siapa yang memperoleh harta, tidak ada zakat atasnya sampai berlalu satu tahun atasnya. Ibnu Wahb berkata: beberapa ahli ilmu mengabarkan kepadaku bahwa ’Utsmân, ’Alî, Rabî’ah, Yaḫyâ bin Sa’îd, Sâlim bin ’Abdullâh, dan ’Âisyah berpendapat demikian."
Al-Mudawwanah juga menukil cara Abû Bakr memperlakukan tunjangan: "وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ إذَا أَعْطَى النَّاسَ أَعْطِيَاتِهِمْ، يَسْأَلُ الرَّجُلَ عِنْدَكَ مِنْ مَالٍ وَجَبَتْ عَلَيْكَ فِيهِ الزَّكَاةُ؟ فَإِنْ قَالَ: نَعَمْ، أَخَذَ مِنْ عَطَائِهِ زَكَاةَ مَالِ ذَلِكَ، وَإِنْ قَالَ \" لَا \" أَسْلَمَ إلَيْهِ عَطَاءَهُ وَلَمْ يَأْخُذْ مِنْهُ شَيْئًا", ketika membagikan tunjangan, Abû Bakr bertanya kepada penerimanya: apakah engkau punya harta yang sudah wajib dizakati? Jika ya, ia memotong zakat harta itu dari tunjangannya; jika tidak, tunjangan itu diserahkan utuh. ’Utsmân melakukan hal yang sama.
Syafi’i: memulai haul baru, tidak digabung
An-Nawawî (w. 676 H) dalam Minhâj ath-Thâlibîn menulis: "ولا يضم المملوك بشراء وغيره في الحول", harta yang dimiliki melalui pembelian dan cara lainnya tidak digabung dalam hitungan haul. Ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj merinci "cara lainnya" itu: "كَإِرْثٍ وَوَصِيَّةٍ وَهِبَةٍ", seperti warisan, wasiat, dan hibah. Dalam al-Majmû’, an-Nawawî menegaskan bahwa hal ini tidak diperselisihkan dalam mazhab:
الْمَالُ الْمُسْتَفَادُ فِي أَثْنَاءِ الْحَوْلِ بِشِرَاءٍ أَوْ هِبَةٍ أَوْ وَقْفٍ أَوْ نَحْوِهَا مِمَّا يُسْتَفَادُ لَا مِنْ نَفْسِ الْمَالِ لَا يُجْمَعُ إلَى مَا عِنْدَهُ فِي الْحَوْلِ بِلَا خِلَافٍ وَيُضَمُّ إلَيْهِ فِي النِّصَابِ عَلَى الْمَذْهَبِ
"Harta yang diperoleh di tengah haul melalui pembelian, hibah, wakaf, atau semacamnya, yang tidak berasal dari harta itu sendiri, tidak digabung dengan harta yang sudah ada dalam hitungan haul, tanpa perbedaan pendapat; tetapi digabung dalam hitungan nisab menurut pendapat mazhab."
Dalil mazhab Syafi’i. An-Nawawî dalam al-Majmû’ mengakui bahwa hadis haul lemah, tetapi syarat itu tetap tegak di atas atsar yang sahih:
هَذَا الْمَذْكُورُ عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ ﵃ صَحِيحٌ عَنْهُمْ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُ ... وَإِنَّمَا لَمْ يَحْتَجَّ الْمُصَنِّفُ بِالْحَدِيثِ لِأَنَّهُ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ فَاقْتَصَرَ عَلَى الْآثَارِ الْمُفَسِّرَةِ قَالَ الْبَيْهَقِيُّ الِاعْتِمَادُ فِي اشْتِرَاطِ الْحَوْلِ عَلَى الْآثَارِ الصَّحِيحَةِ فِيهِ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ وَعُثْمَانَ وَابْنِ عُمَرَ وَغَيْرِهِمْ
"Riwayat dari Abû Bakr, ’Utsmân, dan ’Alî ini sahih dari mereka, diriwayatkan al-Baihaqî dan lainnya ... Penulis (al-Muhadzdzab) tidak berdalil dengan hadis karena hadisnya lemah, sehingga ia mencukupkan diri dengan atsar yang menjelaskan. Al-Baihaqî berkata: sandaran syarat haul adalah atsar-atsar sahih dari Abû Bakr ash-Shiddîq, ’Utsmân, Ibnu ’Umar, dan lainnya."
An-Nawawî juga menukil al-’Abdarî: "وَبِهِ قَالَ الْفُقَهَاءُ كَافَّةً قَالَ وَقَالَ ابن مسعود وابن عباس ﵄ تَجِبُ الزَّكَاةُ فِيهِ يَوْمَ مَلَكَ النِّصَابَ قَالَ فَإِذَا حَالَ الْحَوْلُ وَجَبَتْ زَكَاةٌ ثَانِيَةٌ", inilah pendapat seluruh fuqaha; Ibnu Mas’ûd dan Ibnu ’Abbâs berpendapat zakat wajib pada hari ia memiliki nisab, lalu jika haul tiba, wajib zakat kedua. Ar-Ramlî memberi alasan mengapa harta baru tidak ikut haul harta lama: "لِأَنَّهُ لَيْسَ فِي مَعْنَى النِّتَاجِ لِقِيَامِ الدَّلِيلِ عَلَى اشْتِرَاطِ الْحَوْلِ", karena ia tidak semakna dengan anak ternak, sebab dalil tentang syarat haul tetap berlaku.
Hanbali: memulai haul baru, dengan jawaban langsung atas dalil yang dipakai al-Qaradhâwî
Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ menulis: "(فَإِذَا اسْتَفَادَ مَالًا، وَلَوْ) كَانَ الْمَالُ (مِنْ غَيْرِ جِنْسِ مَا يَمْلِكُهُ فَلَا زَكَاةَ فِيهِ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ)", jika seseorang memperoleh harta, walaupun tidak sejenis dengan yang ia miliki, tidak ada zakat padanya sampai berlalu satu tahun. Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menegaskan bahwa inilah pendapat mazhab, lalu mencatat: "وَحُكِيَ عَنْهُ رِوَايَةٌ فِي الْأُجْرَةِ: أَنَّهَا تَتْبَعُ الْمَالَ الَّذِي مِنْ جِنْسِهَا", ada riwayat dari Aḫmad tentang upah, bahwa upah itu mengikuti (haul) harta sejenis yang sudah ada.
Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî membahas langsung pendapat yang dipegang al-Qaradhâwî:
وَرُوِيَ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَمُعَاوِيَةَ أَنَّ الزَّكَاةَ تَجِبُ فِيهِ حِينَ اسْتَفَادَهُ ... وَجُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ عَلَى خِلَافِ هَذَا الْقَوْلِ؛ مِنْهُمْ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ ﵃. قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ عَلَى هَذَا جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ، وَالْخِلَافُ فِي ذَلِكَ شُذُوذٌ، وَلَمْ يُعَرِّجْ عَلَيْهِ أَحَدٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ، وَلَا قَالَ بِهِ أَحَدٌ مِنْ أَئِمَّةِ الْفَتْوَى
"Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ûd, Ibnu ’Abbâs, dan Mu’âwiyah bahwa zakat wajib saat harta itu diperoleh ... Mayoritas ulama menyelisihi pendapat ini, di antaranya Abû Bakr, ’Umar, ’Utsmân, dan ’Alî. Ibnu ’Abd al-Barr berkata: inilah pendapat mayoritas ulama; perbedaan dalam masalah ini adalah pendapat yang ganjil, tidak dihiraukan oleh seorang ulama pun, dan tidak dipegang oleh seorang pun imam fatwa."
Dalil mazhab Hanbali. Ibnu Qudâmah berdalil dengan hadis ’Âisyah dan atsar Ibnu ’Umar, lalu menyebut para sahabat dan tabi’in yang berpendapat sama: "وَقَدْ رُوِيَ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ وَعَلِيٍّ وَابْنِ عُمَرَ وَعَائِشَةَ وَعَطَاءٍ وَعُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَسَالِمٍ وَالنَّخَعِيِّ أَنَّهُ لَا زَكَاةَ فِي الْمُسْتَفَادِ حَتَّى يَحُولَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ". Al-Buhûtî, setelah mengakui bahwa hadis ’Âisyah "وَقَدْ ضَعَّفَهُ جَمَاعَةٌ", dilemahkan sejumlah ulama, memberi alasan maknawi: "وَرِفْقًا بِالْمَالِكِ وَلِيَتَكَامَلَ النَّمَاءُ فَيُوَاسِي مِنْهُ", untuk meringankan pemilik harta dan agar hartanya berkembang sempurna, sehingga ia membantu orang miskin dari hasil perkembangan itu.
Menimbang dalil-dalil al-Qaradhâwî
Kitab-kitab di atas memberi jawaban atas hampir setiap dalil yang dipakai al-Qaradhâwî.
1. Hadis haul memang lemah, tetapi syarat haul tidak bersandar pada hadis itu. Dalam hal kelemahan hadis, al-Qaradhâwî sejalan dengan an-Nawawî dan al-Buhûtî. Tetapi an-Nawawî menukil al-Baihaqî bahwa sandaran syarat haul adalah atsar sahih dari Abû Bakr, ’Utsmân, ’Alî, dan Ibnu ’Umar. Atsar-atsar itu disebut juga oleh al-Qaradhâwî. Yang berbeda adalah penilaiannya: beliau menganggap atsar para sahabat itu diimbangi pendapat sahabat lain, sehingga kembali kepada keumuman nas.
2. Riwayat dari Ibnu Mas’ûd dan Mu’âwiyah dipahami berbeda oleh para fuqaha. Al-Mudawwanah menunjukkan bahwa Abû Bakr dan ’Utsmân memotong zakat dari tunjangan, tetapi yang dipotong adalah zakat harta lain milik penerima yang sudah wajib dizakati, bukan zakat tunjangan itu sendiri. Al-Qaradhâwî mengetahui penafsiran serupa dari Abû ’Ubaid dan menolaknya, karena ada riwayat Ibnu Mas’ûd memotong dua puluh lima dari setiap seribu. Ibnu ’Abd al-Barr, sebagaimana dinukil Ibnu Qudâmah, menyebut pendapat yang tidak mensyaratkan haul sebagai syudzûdz yang tidak diikuti seorang pun imam fatwa. Menurut al-’Abdarî dalam al-Majmû’, Ibnu Mas’ûd dan Ibnu ’Abbâs pun tetap mewajibkan zakat kedua ketika haul tiba.
3. Riwayat Aḫmad tentang sewa rumah ditafsirkan sendiri oleh ulama Hanbali. Al-Qaradhâwî menjadikan riwayat Aḫmad, bahwa uang sewa rumah dizakati ketika diterima, sebagai pendukung. Ibnu Qudâmah menjelaskan maksudnya: uang sewa itu telah menjadi piutang sejak awal akad, sehingga ketika diterima ia dizakati untuk haul yang telah berlalu, "كَسَائِرِ الدُّيُونِ", seperti piutang-piutang lainnya. Ia juga menukil riwayat Aḫmad yang lebih tegas: "إذَا كَرَى دَارًا أَوْ عَبْدًا فِي سَنَةٍ بِأَلْفٍ، فَحَصَلَتْ لَهُ الدَّرَاهِمُ وَقَبَضَهَا، زَكَّاهَا إذَا حَالَ عَلَيْهَا الْحَوْلُ، مِنْ حِينِ قَبَضَهَا", jika ia menyewakan rumah atau budak setahun seharga seribu, lalu menerima uangnya, ia menzakatinya setelah berlalu satu tahun sejak diterima.
4. Qiyas kepada zakat pertanian dijawab dengan perbedaan sifat hartanya. Ibnu Qudâmah menulis: "وَلَا تُشْبِهُ هَذِهِ الْأَمْوَالُ الزُّرُوعَ وَالثِّمَارَ، لِأَنَّهَا تَتَكَامَلُ ثِمَارُهَا دُفْعَةً وَاحِدَةً، وَلِهَذَا لَا تَتَكَرَّرُ الزَّكَاةُ فِيهَا، وَهَذِهِ نَمَاؤُهَا بِنَقْلِهَا، فَاحْتَاجَتْ إلَى الْحَوْلِ", harta-harta ini tidak serupa dengan tanaman dan buah, karena hasil tanaman sempurna sekaligus dan zakatnya tidak berulang, sedangkan uang berkembang dengan diputar, sehingga memerlukan haul. Al-Qaradhâwî sendiri tidak memakai kadar zakat pertanian (10% atau 5%) untuk gaji, tetapi 2,5% berdasarkan nas tentang uang. Jadi qiyas itu hanya beliau pakai untuk waktu pembayaran.
5. Kesulitan menghitung haul setiap gaji sudah dijawab dalam kitab mazhab. Alasan kemudahan pemungutan dikemukakan juga oleh Ibnu al-Humâm, tetapi jalan keluarnya adalah menggabungkan penghasilan baru ke haul harta sejenis yang sudah ada, bukan menghapus haul. Ibnu Qudâmah menambahkan: "وَالْيُسْرُ فِيمَا ذَكَرْنَا أَكْثَرُ؛ لِأَنَّ الْإِنْسَانَ يَتَخَيَّرُ بَيْنَ التَّأْخِيرِ وَالتَّعْجِيلِ", kemudahan lebih banyak pada pendapat kami, karena orang bisa memilih antara menunda dan mempercepat (pembayaran zakat). Al-Qaradhâwî pun akhirnya membolehkan orang yang punya haul tetap untuk menunda zakat gajinya sampai haul hartanya yang lain, selama tidak khawatir uangnya habis.
6. Dalam beberapa hal, al-Qaradhâwî justru sejalan dengan kitab mazhab. Nisab yang beliau pakai adalah nisab uang. Zakat hanya diambil dari penghasilan bersih setelah dikurangi utang dan kebutuhan pokok, sejalan dengan syarat bebas utang dan lebih dari kebutuhan pokok dalam mazhab Hanafi dan Hanbali. Beliau juga melarang zakat ganda atas harta yang sama dalam setahun. Gaji kecil yang setahun tidak mencapai nisab bersih tidak dizakati.
Mengapa berbeda?
- Kedudukan atsar sahabat. Empat mazhab menjadikan atsar Abû Bakr, ’Utsmân, ’Alî, dan Ibnu ’Umar sebagai sandaran syarat haul. Al-Qaradhâwî memandangnya diimbangi riwayat Ibnu ’Abbâs, Ibnu Mas’ûd, dan Mu’âwiyah, lalu kembali kepada keumuman nas.
- Sifat gaji. Empat mazhab memperlakukan gaji seperti uang yang diterima dari hibah atau warisan, yang zakatnya menunggu haul. Al-Qaradhâwî memperlakukannya seperti hasil panen yang dizakati saat diterima.
- Pertimbangan keadilan dan pemungutan. Al-Qaradhâwî menimbang keadilan antara orang hemat dan orang boros serta kemudahan pemotongan gaji. Para fuqaha klasik menimbang kemudahan dengan cara lain: menggabungkan ke haul harta yang sudah ada (Hanafi) atau memberi pilihan mempercepat pembayaran (Hanbali).
Ringkasnya
| Pendapat | Kapan gaji dizakati? | Nisab | Kadar |
|---|---|---|---|
| Hanafi | Bersama haul tabungan sejenis yang sudah senisab; jika belum ada, haul sendiri | Nisab uang | 2,5% |
| Maliki | Setelah satu tahun sejak diterima | Nisab uang | 2,5% |
| Syafi’i | Setelah satu tahun sejak diterima; tidak digabung ke haul lain | Nisab uang (digabung dalam nisab) | 2,5% |
| Hanbali | Setelah satu tahun sejak diterima (pendapat mazhab); riwayat lain: upah mengikuti haul harta sejenis | Nisab uang | 2,5% |
| Al-Qaradhâwî | Saat diterima, atau ditunda sampai haul harta lain | 85 g emas dari penghasilan bersih setahun | 2,5% |
Pelajaran untuk kita
- Menurut empat mazhab, gaji tidak dizakati setiap bulan saat diterima. Gaji yang ditabung dizakati setelah tabungan itu mencapai nisab dan berlalu satu tahun. Menurut mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali, setiap tambahan memulai haulnya sendiri. Menurut mazhab Hanafi, tambahan itu ikut haul tabungan yang sudah senisab.
- Cara paling sederhana bagi pengikut mazhab Syafi’i adalah menetapkan satu tanggal tahunan, lalu menzakati seluruh tabungan pada tanggal itu, termasuk gaji yang belum genap setahun. Ini termasuk mempercepat zakat (ta’jîl az-zakâh). Ar-Ramlî dalam Nihâyat al-Muḫtâj membolehkannya "فِيمَا انْعَقَدَ حَوْلُهُ وَوُجِدَ النِّصَابُ فِيهِ", pada harta yang haulnya sudah berjalan dan nisabnya sudah ada. Jadi, gaji yang sudah diterima boleh ikut dizakati lebih awal, sedangkan gaji yang belum diterima tidak.
- Potongan 2,5% setiap bulan adalah pendapat al-Qaradhâwî dan ulama yang mengikutinya. Beliau sendiri mengakui pendapat ini menyelisihi empat mazhab. Orang yang mengikutinya hendaknya juga mengikuti batasan beliau: yang dizakati hanya penghasilan bersih setelah utang dan kebutuhan pokok, dengan nisab 85 gram emas setahun, dan harta yang sudah dizakati tidak dizakati lagi pada akhir tahun.
Rujukan
- Yûsuf al-Qaradhâwî (w. 1444 H). Fiqh az-Zakâh: Dirâsah Muqâranah li Aḫkâmihâ wa Falsafatihâ fî Dhau’ al-Qur’ân wa as-Sunnah. Beirut: Mu’assasah ar-Risâlah, cet. II, 1393 H/1973 M. Juz 1, hlm. 487–520, al-Fashl at-Tâsi’: Zakât Kasb al-’Amal wa al-Mihan al-Ḫurrah (kutipan hlm. 490, 497, 501, 505, 507, 512, 513, 515, 517, 519).
- Al-Kâsânî (w. 587 H). Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ fî Tartîb asy-Syarâ’i’. Juz 2, hlm. 14, Fashl asy-Syarâ’ith allatî Tarji’ ilâ al-Mâl. shamela.ws/book/8183/337
- Al-Marghînânî (w. 593 H), al-Hidâyah, dicetak bersama Ibnu al-Humâm (w. 861 H), Fatḫ al-Qadîr (cet. al-Ḫalabî). Juz 2, hlm. 195–196, Bâb Shadaqat as-Sawâ’im. shamela.ws/book/21744/715, shamela.ws/book/21744/716
- Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H). Radd al-Muḫtâr ’alâ ad-Durr al-Mukhtâr (cet. al-Ḫalabî). Juz 2, hlm. 288, Kitâb az-Zakâh. shamela.ws/book/21613/944
- Mâlik bin Anas (w. 179 H), riwayat Saḫnûn. Al-Mudawwanah. Juz 1, hlm. 325, Kitâb az-Zakâh al-Awwal. shamela.ws/book/587/213
- Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H). Al-Kâfî fî Fiqh Ahl al-Madînah. Juz 1, hlm. 289, Bâb Zakât al-Fâ’idah min al-’Ain wa al-’Urûdh wa al-Mâsyiyah. shamela.ws/book/7367/184
- Al-Ḫaththâb (w. 954 H). Mawâhib al-Jalîl fî Syarḫ Mukhtashar Khalîl. Juz 2, hlm. 302, Bâb az-Zakâh. shamela.ws/book/569/852
- An-Nawawî (w. 676 H). Minhâj ath-Thâlibîn wa ’Umdat al-Muftîn. Hlm. 66, Kitâb az-Zakâh. shamela.ws/book/12096/75
- Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 3, hlm. 233, Kitâb az-Zakâh. shamela.ws/book/9059/1231
- Ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 3, hlm. 65 dan 141, Bâb Zakât al-Ḫayawân dan Fashl Ta’jîl az-Zakâh. shamela.ws/book/3565/1113, shamela.ws/book/3565/1189
- An-Nawawî (w. 676 H). Al-Majmû’ Syarḫ al-Muhadzdzab (cet. al-Munîriyyah). Juz 5, hlm. 361 dan 365, Kitâb az-Zakâh. shamela.ws/book/2186/2674, shamela.ws/book/2186/2678
- Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 2, hlm. 467–469, Mas’alah: Lâ Zakâh fî Mâl ḫattâ Yaḫûla ’alaihi al-Ḫaul. shamela.ws/book/8463/915, shamela.ws/book/8463/916, shamela.ws/book/8463/917
- Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 3, hlm. 30, Kitâb az-Zakâh. shamela.ws/book/21609/1093
- Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 2, hlm. 177, Kitâb az-Zakâh. shamela.ws/book/21642/681