← Semua tulisan

Zakat

Perhiasan Emas yang Dipakai Sehari-hari: Wajib Dizakati?

Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H. · 17 Oktober 2026 · 9 menit baca

Banyak ibu di Indonesia menyimpan kekayaannya dalam bentuk perhiasan emas: cincin kawin, kalung, gelang, dan anting. Sebagian dipakai setiap hari, sebagian lagi hanya keluar saat kondangan atau hari raya. Jika semuanya ditimbang, beratnya bisa melebihi nisab emas.

Wajibkah perhiasan seperti ini dizakati setiap tahun? Pertanyaan ini sering muncul di majelis taklim, dan jawabannya ternyata berbeda di antara empat mazhab.

Hanafi: wajib, apa pun bentuknya

Mazhab Hanafi mewajibkan zakat atas semua emas dan perak, termasuk perhiasan yang dipakai. Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah, yang disyarah Ibnu al-Humâm (w. 861 H) dalam Fatḫ al-Qadîr, menulis:

(وَفِي تِبْرِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَحُلِيِّهِمَا وَأَوَانِيهِمَا الزَّكَاةُ) وَقَالَ الشَّافِعِيُّ: لَا تَجِبُ فِي حُلِيِّ النِّسَاءِ وَخَاتَمِ الْفِضَّةِ لِلرِّجَالِ

"(Pada emas dan perak batangan, perhiasan keduanya, dan bejana dari keduanya ada zakat). Asy-Syâfi’î berkata: tidak wajib pada perhiasan perempuan dan cincin perak laki-laki."

Al-Kâsânî (w. 587 H) dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ menegaskan bahwa zakat itu wajib apa pun bentuk dan tujuannya:

أَوْ حُلِيًّا مَصُوغًا ... إذَا بَلَغَتْ مِائَتَيْ دِرْهَمٍ، وَسَوَاءٌ كَانَ يُمْسِكُهَا لِلتِّجَارَةِ، أَوْ لِلنَّفَقَةِ، أَوْ لِلتَّجَمُّلِ، أَوْ لَمْ يَنْوِ شَيْئًا

"... atau perhiasan yang sudah dibentuk ... jika mencapai dua ratus dirham, baik disimpan untuk berdagang, untuk nafkah, untuk berhias, atau tanpa niat apa pun."

Dalam ad-Durr al-Mukhtâr yang disyarah Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H) dalam Radd al-Muḫtâr, alasannya dirumuskan dengan ringkas:

(وَلَوْ تِبْرًا أَوْ حُلِيًّا مُطْلَقًا) مُبَاحَ الِاسْتِعْمَالِ أَوْ لَا وَلَوْ لِلتَّجَمُّلِ وَالنَّفَقَةِ؛ لِأَنَّهُمَا خُلِقَا أَثْمَانًا فَيُزَكِّيهِمَا كَيْفَ كَانَا

"(Walaupun berupa emas batangan atau perhiasan secara mutlak), baik boleh dipakai maupun tidak, walaupun untuk berhias dan nafkah, karena emas dan perak diciptakan sebagai alat tukar, maka keduanya dizakati dalam bentuk apa pun."

Dalil mazhab Hanafi. Al-Kâsânî berdalil dengan ayat ancaman bagi penimbun emas dan perak:

وَلَنَا قَوْله تَعَالَى ﴿وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ﴾ أَلْحَقَ الْوَعِيدَ الشَّدِيدَ بِكَنْزِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ ... مِنْ غَيْرِ فَصْلٍ بَيْنَ الْحُلِيِّ وَغَيْرِهِ

"Dalil kami adalah firman Allah: 'Orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, beri kabar gembira kepada mereka dengan azab yang pedih' (QS. at-Taubah: 34). Allah mengaitkan ancaman keras dengan menyimpan emas dan perak ... tanpa membedakan perhiasan dan lainnya."

Ibnu al-Humâm menambahkan hadis yang diriwayatkan Abû Dâwud dan an-Nasâ’î:

«امْرَأَةً أَتَتْ النَّبِيَّ ﷺ وَمَعَهَا ابْنَةٌ لَهَا وَفِي يَدِ بِنْتِهَا مَسَكَتَانِ غَلِيظَتَانِ مِنْ ذَهَبٍ، فَقَالَ لَهُمَا: أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا؟ قَالَتْ لَا، قَالَ: أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اللَّهُ بِهِمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ سِوَارًا مِنْ نَارٍ؟»

"Seorang perempuan datang kepada Nabi ﷺ bersama putrinya, dan di tangan putrinya ada dua gelang emas yang tebal. Beliau bertanya: Apakah engkau menunaikan zakat ini? Ia menjawab: tidak. Beliau bersabda: Apakah engkau senang Allah memakaikan kepadamu karena keduanya gelang dari api pada hari kiamat?" Perempuan itu pun melepas keduanya dan menyerahkannya kepada Nabi ﷺ.

Ibnu al-Humâm menukil penilaian Abû al-Ḫasan bin al-Qaththân: "إسْنَادُهُ صَحِيحٌ", sanadnya sahih, dan al-Mundzirî: "إسْنَادُهُ لَا مَقَالَ فِيهِ", sanadnya tidak bermasalah. Dari sisi nalar, Ibnu al-Humâm menulis: "وَلَنَا أَنَّ السَّبَبَ مَالٌ نَامٍ وَدَلِيلُ النَّمَاءِ مَوْجُودٌ وَهُوَ الْإِعْدَادُ لِلتِّجَارَةِ خِلْقَةً", sebab zakat adalah harta yang berkembang, dan tanda berkembangnya ada, yaitu emas dan perak memang diciptakan untuk perdagangan, berbeda dengan pakaian.

Maliki: tidak wajib untuk perhiasan yang dipakai

Imam Mâlik (w. 179 H) dalam al-Mudawwanah berpendapat sebaliknya:

وَقَالَ مَالِكٌ فِي كُلِّ حُلِيٍّ هُوَ لِلنِّسَاءِ اتَّخَذَتْهُ لِلُّبْسِ. فَلَا زَكَاةَ عَلَيْهِنَّ فِيهِ

"Mâlik berkata tentang setiap perhiasan milik perempuan yang ia buat untuk dipakai: tidak ada zakat atas mereka pada perhiasan itu." Bahkan perhiasan yang disewakan untuk pengantin, kata Mâlik dalam riwayat ini, juga tidak dizakati. Tetapi perhiasan warisan yang disimpan untuk dijual atau untuk berjaga-jaga jika butuh, bukan untuk dipakai, wajib dizakati.

Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H) dalam al-Kâfî merumuskannya:

فإن كان المصوغ حليا متخذا لزينة النساء من كسبهن أو كسب أوليائهن أو أزواجهن لزينتهن ولم يكن لتجارة ولا لكراء سقطت عنه الزكاة

"Jika emas yang dibentuk itu perhiasan untuk berhias perempuan, dari hasil usaha mereka, wali mereka, atau suami mereka, untuk perhiasan mereka, dan bukan untuk dagang atau disewakan, maka gugurlah zakatnya." Ia juga mencatat bahwa perhiasan yang sengaja dibuat untuk menghindari zakat tetap dizakati menurut Mâlik dan kebanyakan muridnya.

Ad-Dardîr (w. 1201 H) dalam asy-Syarḫ al-Kabîr menambahkan rincian tentang perhiasan yang rusak:

(وَ) لَا فِي (حُلِيٍّ) جَائِزٍ اتِّخَاذُهُ وَلَوْ لِرَجُلٍ (وَإِنْ تَكَسَّرَ إنْ لَمْ يَتَهَشَّمْ) فَإِنْ تَهَشَّمَ بِحَيْثُ لَا يُمْكِنُ إصْلَاحُهُ إلَّا بِسَبْكِهِ وَجَبَتْ فِيهِ

"(Dan tidak ada zakat pada perhiasan) yang boleh dipakai, walaupun milik laki-laki, (walaupun patah, selama tidak hancur). Jika hancur sehingga tidak bisa diperbaiki kecuali dengan dilebur, maka wajib dizakati."

Dalil mazhab Maliki. Imam Mâlik berdalil dengan praktik ’Â’isyah, istri Nabi ﷺ, yang ia riwayatkan dalam al-Mudawwanah:

أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ ﷺ كَانَتْ تَلِي بَنَاتَ أَخِيهَا يَتَامَى فِي حِجْرِهَا لَهُنَّ الْحُلِيُّ فَلَا تُخْرِجُ مِنْهُ الزَّكَاةَ

"’Â’isyah, istri Nabi ﷺ, mengasuh anak-anak perempuan saudaranya yang yatim dalam pemeliharaannya. Mereka memiliki perhiasan, dan ’Â’isyah tidak mengeluarkan zakatnya."

Ibnu Wahb juga meriwayatkan dalam al-Mudawwanah dari sejumlah sahabat dan tabi’in, di antaranya Jâbir bin ’Abdillâh, Anas bin Mâlik, ’Abdullâh bin Mas’ûd, al-Qâsim bin Muḫammad, dan Sa’îd bin al-Musayyib, bahwa mereka berkata "لَيْسَ فِي الْحُلِيِّ زَكَاةٌ", tidak ada zakat pada perhiasan. Dari Ibnu ’Umar diriwayatkan pembedaan yang jelas: "فَإِنْ كَانَ مَالٌ يُوضَعُ كَنْزًا فَفِيهِ الزَّكَاةُ وَأَمَّا حُلِيٌّ تَلْبَسُهُ الْمَرْأَةُ فَلَا زَكَاةَ فِيهِ", jika ia harta yang disimpan sebagai simpanan, maka ada zakatnya, adapun perhiasan yang dipakai perempuan, tidak ada zakatnya.

(Perlu dicatat, dalam riwayat yang sama Ibnu Wahb menukil Sa’îd bin al-Musayyib berpendapat "إنْ كَانَ مَصُوغًا يُلْبَسُ فَزَكِّهِ", jika ia perhiasan yang dipakai, zakatilah. Jadi di kalangan tabi’in pun ada perbedaan.)

Syafi’i: tidak wajib menurut pendapat yang lebih kuat

Dalam mazhab Syafi’i ada dua pendapat (qaul) Imam asy-Syâfi’î. Asy-Syîrâzî (w. 476 H) dalam al-Muhadzdzab, yang disyarah an-Nawawî (w. 676 H) dalam al-Majmû’, menulis:

وان كان لاستعمال مباح كحلي النساء وما اعدلهن وخاتم الفضة للرجال ففيه قولان (احدهما) لا تجب فيه الزكاة ... (والثاني) تجب فيه الزكاة

"Jika (emas atau perak yang dibentuk itu) untuk pemakaian yang mubah, seperti perhiasan perempuan dan yang disiapkan untuk mereka, serta cincin perak bagi laki-laki, maka ada dua pendapat: (pertama) tidak wajib zakat ... (kedua) wajib zakat." (Kata اعدلهن demikian dalam cetakan; maksudnya أُعِدَّ لهن.)

An-Nawawî menegaskan mana yang lebih kuat: "قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ الْأَصَحَّ عِنْدَنَا أَنَّهُ لَا زَكَاةَ فِيهِ", telah kami sebutkan bahwa pendapat yang paling sahih menurut kami adalah tidak ada zakatnya. Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H) dalam Tuḫfat al-Muḫtâj dan ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj mensyarah matan Minhâj dengan kalimat "(لَا الْمُبَاحُ فِي الْأَظْهَرِ)", tidak (wajib) pada perhiasan yang mubah menurut pendapat yang lebih kuat.

Tetapi perhiasan yang haram dipakai tetap wajib dizakati, seperti bejana emas, atau perhiasan emas yang dipakai laki-laki. Asy-Syîrâzî juga menyebut bahwa perhiasan yang disimpan sebagai simpanan (qinyah), bukan untuk dipakai, wajib dizakati "لانه مرصد للنماء فهو كغير المصوغ", karena ia disiapkan untuk berkembang, sama dengan emas yang belum dibentuk.

Dalil mazhab Syafi’i. Asy-Syîrâzî berdalil dengan hadis Jâbir "ليس في الحلي زكاة", tidak ada zakat pada perhiasan, dan dengan qiyas: perhiasan itu "معد لاستعمال مباح فلم تجب فيه الزكاة كالعوامل من الابل والبقر", disiapkan untuk pemakaian yang mubah, sehingga tidak dizakati, seperti unta dan sapi pekerja. Ar-Ramlî menambahkan bahwa pendapat ini "وَصَحَّ ذَلِكَ عَنْ جَمْعٍ مِنْ الصَّحَابَةِ", sahih dari sejumlah sahabat.

Lalu bagaimana dengan hadis dua gelang emas? Ibnu Ḫajar menjelaskan bahwa al-Baihaqî dan lainnya memahami hadis-hadis seperti itu "عَلَى أَنَّ الْحُلِيَّ كَانَ مُحَرَّمًا أَوَّلَ الْإِسْلَامِ عَلَى النِّسَاءِ عَلَى أَنَّهَا فِي أَفْرَادٍ خَاصَّةٍ فَيُحْتَمَلُ أَنَّ ذَلِكَ لِإِسْرَافٍ فِيهَا", bahwa perhiasan dahulu diharamkan bagi perempuan di awal Islam, selain itu hadis-hadis itu berbicara tentang kasus-kasus khusus, sehingga mungkin karena ada pemborosan di dalamnya.

Hanbali: tidak wajib, dengan zakatnya berupa dipinjamkan

Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî mensyarah matan al-Khiraqî:

(وَلَيْسَ فِي حُلِيِّ الْمَرْأَةِ زَكَاةٌ إذَا كَانَ مِمَّا تَلْبَسُهُ أَوْ تُعِيرُهُ) هَذَا ظَاهِرُ الْمَذْهَبِ. وَرُوِيَ ذَلِكَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ، وَجَابِرٍ، وَأَنَسٍ، وَعَائِشَةَ، وَأَسْمَاءَ

"(Tidak ada zakat pada perhiasan perempuan jika termasuk yang ia pakai atau ia pinjamkan). Inilah pendapat yang tampak dari mazhab. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu ’Umar, Jâbir, Anas, ’Â’isyah, dan Asmâ’."

Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menegaskan bahwa inilah mazhab, tetapi mencatat riwayat lain dari Aḫmad:

وَعَنْهُ تَجِبُ فِيهِ الزَّكَاةُ. قَالَ فِي الْفَائِقِ: وَهُوَ الْمُخْتَارُ نَظَرًا، وَعَنْهُ تَجِبُ فِيهِ الزَّكَاةُ إذَا لَمْ يُعَرْ وَلَمْ يُلْبَسْ، وَقَالَ الْقَاضِي ... نَقَلَ ابْنُ هَانِئٍ " زَكَاتُهُ عَارِيَّتُهُ "

"Ada riwayat dari Aḫmad bahwa perhiasan itu wajib dizakati. Penulis al-Fâ’iq berkata: itulah yang terpilih dari sisi dalil. Ada pula riwayat bahwa ia wajib dizakati jika tidak dipinjamkan dan tidak dipakai. Al-Qâdhî berkata ... Ibnu Hâni’ menukil (dari Aḫmad): zakatnya adalah dipinjamkan."

Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ menjelaskan bahwa tidak adanya zakat ini berlaku untuk perhiasan "مُعَدٍّ لِاسْتِعْمَالٍ مُبَاحٍ أَوْ إعَارَةٍ، وَلَوْ لَمْ يُعَرْ أَوْ يُلْبَسْ حَيْثُ أُعِدَّ لِذَلِكَ", yang disiapkan untuk dipakai secara mubah atau dipinjamkan, walaupun belum pernah dipinjamkan atau dipakai, selama memang disiapkan untuk itu.

Dalil mazhab Hanbali. Al-Buhûtî berdalil:

لِمَا رَوَى جَابِرٌ أَنَّهُ ﷺ قَالَ «لَيْسَ فِي الْحُلِيِّ زَكَاةٌ» رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ عُمَرَ وَعَائِشَةَ وَأَسْمَاءَ ... وَلِأَنَّهُ مُرْصَدٌ لِلِاسْتِعْمَالِ الْمُبَاحِ فَلَمْ يَجِبْ فِيهِ الزَّكَاةُ كَالْعَوَامِلِ وَثِيَابِ الْقِنْيَةِ

"Berdasarkan riwayat Jâbir bahwa Nabi ﷺ bersabda: Tidak ada zakat pada perhiasan (diriwayatkan ath-Thabarânî). Ini juga pendapat Ibnu ’Umar, ’Â’isyah, dan Asmâ’ ... Juga karena perhiasan itu disiapkan untuk pemakaian yang mubah, sehingga tidak wajib dizakati, seperti hewan pekerja dan pakaian simpanan."

Tentang hadis dua gelang emas, al-Buhûtî menilainya "فَهُوَ ضَعِيفٌ قَالَهُ أَبُو عُبَيْدٍ وَالتِّرْمِذِيُّ", lemah, sebagaimana dikatakan Abû ’Ubaid dan at-Tirmidzî.

Mengapa berbeda? Emas sebagai uang atau sebagai barang pakai

Perbedaan ini berakar pada dua hal. Pertama, cara memandang emas. Bagi mazhab Hanafi, emas dan perak "خُلِقَا أَثْمَانًا", diciptakan sebagai alat tukar, sehingga tetap berstatus uang apa pun bentuknya. Bagi mayoritas, emas yang sudah menjadi perhiasan untuk dipakai berubah fungsi menjadi barang pakai, seperti pakaian atau hewan pekerja yang tidak dizakati.

Kedua, penilaian hadis. Ibnu al-Humâm dari mazhab Hanafi menukil para ahli hadis yang menyatakan sanad hadis dua gelang emas sahih. Al-Buhûtî dari mazhab Hanbali menukil Abû ’Ubaid dan at-Tirmidzî yang menyatakan hadis itu lemah. Sementara mazhab Syafi’i, melalui Ibnu Ḫajar, memahami hadis itu sebagai kasus khusus atau berlaku di awal Islam.

Ringkasnya

MazhabPerhiasan yang dipakaiCatatan
HanafiWajib dizakatiEmas dan perak tetap dianggap alat tukar dalam bentuk apa pun
MalikiTidak wajibPerhiasan yang disimpan untuk dijual atau berjaga-jaga tetap dizakati
Syafi’iTidak wajib (al-azhhar)Perhiasan haram dan yang disimpan sebagai simpanan tetap dizakati
HanbaliTidak wajib (mazhab)Ada riwayat wajib; riwayat lain: zakatnya adalah dipinjamkan

Pelajaran untuk kita

  1. Lihat niat dan fungsinya. Menurut tiga mazhab, perhiasan yang benar-benar dipakai tidak dizakati. Tetapi emas yang disimpan sebagai tabungan atau investasi, walaupun berbentuk perhiasan, tetap wajib dizakati menurut mazhab Maliki dan Syafi’i, sebagaimana dalam kutipan al-Mudawwanah dan al-Muhadzdzab di atas.
  2. Yang ingin berhati-hati dapat mengikuti mazhab Hanafi dan menzakati seluruh perhiasannya yang mencapai nisab. Ini saran penulis, bukan kutipan kitab, karena perbedaan ini kuat dan masing-masing pihak punya dalil yang dinilai sahih oleh ulamanya.
  3. Meminjamkan perhiasan juga bernilai sedekah. Ibnu ’Umar, Sa’îd bin al-Musayyib, dan riwayat dari Imam Aḫmad menyebut zakat perhiasan adalah dipinjamkan. Meminjamkan perhiasan kepada saudara atau tetangga yang membutuhkan, misalnya untuk acara pernikahan, adalah kebaikan yang dianjurkan.

Rujukan

  1. Al-Kâsânî (w. 587 H). Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ fî Tartîb asy-Syarâ’i’. Juz 2, hlm. 17, Fashl Shifat Nishâb az-Zakâh fî al-Fidhdhah. shamela.ws/book/8183/340
  2. Al-Marghînânî (w. 593 H), al-Hidâyah, dicetak bersama Ibnu al-Humâm (w. 861 H), Fatḫ al-Qadîr (cet. al-Ḫalabî). Juz 2, hlm. 215–216, Fashl fî adz-Dzahab. shamela.ws/book/21744/735, shamela.ws/book/21744/736
  3. Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H). Radd al-Muḫtâr ’alâ ad-Durr al-Mukhtâr (cet. al-Ḫalabî). Juz 2, hlm. 298, Kitâb az-Zakâh. shamela.ws/book/21613/954
  4. Mâlik bin Anas (w. 179 H). Al-Mudawwanah, riwayat Saḫnûn. Juz 1, hlm. 305–306, Zakât al-Ḫulî. shamela.ws/book/587/193, shamela.ws/book/587/194
  5. Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H). Al-Kâfî fî Fiqh Ahl al-Madînah. Juz 1, hlm. 286, Bâb Zakât adz-Dzahab wa al-Wariq. shamela.ws/book/7367/180
  6. Ad-Dardîr (w. 1201 H), asy-Syarḫ al-Kabîr, bersama Ḫâsyiyat ad-Dasûqî (w. 1230 H). Juz 1, hlm. 460, Bâb az-Zakâh. shamela.ws/book/21604/459
  7. Asy-Syîrâzî (w. 476 H), al-Muhadzdzab, dalam an-Nawawî (w. 676 H), Al-Majmû’ Syarḫ al-Muhadzdzab (cet. al-Munîriyyah). Juz 6, hlm. 32 dan 46, Bâb Zakât adz-Dzahab wa al-Fidhdhah. shamela.ws/book/2186/2938, shamela.ws/book/2186/2952
  8. Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 3, hlm. 271, Bâb Zakât an-Naqd. shamela.ws/book/9059/1269
  9. Syamsuddîn ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 3, hlm. 89, Bâb Zakât an-Naqd. shamela.ws/book/3565/1137
  10. Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 3, hlm. 41, masalah no. 1885. shamela.ws/book/8463/1000
  11. Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 3, hlm. 138, Bâb Zakât al-Atsmân. shamela.ws/book/21609/1201
  12. Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 2, hlm. 234, Fashl wa Lâ Zakâh fî Ḫulî Mubâḫ. shamela.ws/book/21642/738
Bagikan ke WhatsApp
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Dosen & Pengajar Fiqih · Profil

Tulisan lainnya

Waris & Wasiat

Dzawil Arḫâm: Mendapat Warisan atau Diserahkan ke Baitul Mal?

Seorang lelaki tua wafat tanpa anak, tanpa istri, tanpa saudara, tanpa paman, dan tanpa sepupu dari pihak ayah. Kerabat yang tersisa hanyalah keponakan dari saudara perempuannya, cucu dari…

17 Oktober 2026 · 11 menit baca
Puasa

Niat Puasa Ramadhan: Setiap Malam atau Cukup Sekali di Awal Bulan?

Di banyak masjid di Indonesia, setelah tarawih jamaah bersama-sama melafalkan niat puasa untuk esok hari. Di sebagian tempat, pada malam pertama Ramadhan ditambah satu niat lagi: niat puasa…

17 Oktober 2026 · 10 menit baca
Munakahat

Nikah Tanpa Wali: Sah Menurut Siapa?

Kasus seperti ini cukup sering terdengar: sepasang calon pengantin sudah dewasa dan saling ridha, tetapi ayah si perempuan tidak merestui. Lalu ada yang menyarankan, "Menikah saja tanpa…

17 Oktober 2026 · 10 menit baca