← Semua tulisan

Zakat

Zakat Fitrah dengan Uang: Sah atau Harus Makanan Pokok?

Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H. · 17 Oktober 2026 · 9 menit baca

Setiap akhir Ramadhan, panitia zakat di masjid biasanya menyediakan dua meja: satu menerima beras, satu lagi menerima uang. Banyak keluarga di kota memilih uang karena lebih praktis, dan sebagian amil pun menganggapnya lebih bermanfaat bagi penerima. Tetapi tidak sedikit pula yang bertanya: bukankah Nabi ﷺ memerintahkan satu shâ’ kurma atau gandum? Apakah zakat fitrah dengan uang sah?

Inilah salah satu perbedaan mazhab yang paling terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Hanafi: sah, bahkan bisa lebih utama

Mazhab Hanafi membolehkan zakat fitrah dibayar dengan nilainya. Al-Kâsânî (w. 587 H) dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ menulis:

فَيَجُوزُ أَنْ يُعْطِيَ عَنْ جَمِيعِ ذَلِكَ الْقِيمَةَ دَرَاهِمَ، أَوْ دَنَانِيرَ، أَوْ فُلُوسًا، أَوْ عُرُوضًا، أَوْ مَا شَاءَ وَهَذَا عِنْدَنَا

"Boleh memberikan nilai dari semua itu, berupa dirham, dinar, uang logam, barang, atau apa saja yang ia kehendaki. Ini pendapat kami."

Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah, yang dicetak bersama Fatḫ al-Qadîr karya Ibnu al-Humâm (w. 861 H), menegaskan hal yang sama untuk zakat secara umum: "(وَيَجُوزُ دَفْعُ الْقِيَمِ فِي الزَّكَاةِ) عِنْدَنَا وَكَذَا فِي الْكَفَّارَاتِ وَصَدَقَةِ الْفِطْرِ وَالْعُشْرِ", boleh membayar zakat dengan nilainya menurut kami, demikian pula dalam kafarat, zakat fitrah, dan zakat hasil bumi.

Bahkan dalam mazhab Hanafi ada pendapat bahwa uang lebih utama. Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H) dalam Radd al-Muḫtâr menjelaskan alasannya:

لِأَنَّ الْعِلَّةَ فِي أَفْضَلِيَّةِ الْقِيمَةِ كَوْنُهَا أَعْوَنَ عَلَى دَفْعِ حَاجَةِ الْفَقِيرِ لِاحْتِمَالِ أَنَّهُ يَحْتَاجُ غَيْرَ الْحِنْطَةِ مَثَلًا مِنْ ثِيَابٍ وَنَحْوِهَا

"Karena alasan lebih utamanya nilai (uang) adalah ia lebih membantu memenuhi kebutuhan orang fakir, sebab bisa jadi ia membutuhkan selain gandum, misalnya pakaian dan semacamnya."

Ia juga mencatat pendapat lain dalam mazhab bahwa "دَفْعَ الْحِنْطَةِ أَفْضَلُ فِي الْأَحْوَالِ كُلِّهَا ... لِأَنَّ فِي هَذَا مُوَافَقَةُ السُّنَّةِ", membayar dengan gandum lebih utama dalam semua keadaan, karena sesuai dengan sunnah. Jadi di dalam mazhab Hanafi sendiri, yang diperselisihkan adalah mana yang lebih utama, bukan apakah uang itu sah.

Dalil mazhab Hanafi. Al-Kâsânî menjelaskan bahwa yang hakiki dituju zakat fitrah adalah mencukupi orang fakir:

وَلَنَا أَنَّ الْوَاجِبَ فِي الْحَقِيقَةِ إغْنَاءُ الْفَقِيرِ لِقَوْلِهِ ﷺ «أَغْنُوهُمْ عَنْ الْمَسْأَلَةِ فِي مِثْلِ هَذَا الْيَوْمِ» ، وَالْإِغْنَاءُ يَحْصُلُ بِالْقِيمَةِ بَلْ أَتَمَّ وَأَوْفَرَ؛ لِأَنَّهَا أَقْرَبُ إلَى دَفْعِ الْحَاجَةِ

"Dalil kami: yang wajib pada hakikatnya adalah mencukupi orang fakir, berdasarkan sabda Nabi ﷺ, 'Cukupkanlah mereka dari meminta-minta pada hari seperti ini.' Kecukupan itu terwujud dengan nilainya, bahkan lebih sempurna dan lebih banyak, karena nilai lebih dekat untuk memenuhi kebutuhan."

Dengan begitu, menurutnya, membolehkan nilai tidak berarti mengubah nas, karena nas itu sendiri memiliki alasan, yaitu ighnâ’ (mencukupi). Ibnu al-Humâm dalam Fatḫ al-Qadîr juga berdalil dengan perbuatan Mu’âdz ketika diutus ke Yaman:

ائْتُونِي بِعَرْضِ ثِيَابِ خَمِيسٍ أَوْ لَبِيسٍ فِي الصَّدَقَةِ مَكَانَ الذُّرَةِ وَالشَّعِيرِ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ وَخَيْرٌ لِأَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ بِالْمَدِينَةِ

"Bawakan kepadaku barang berupa kain khamîs atau pakaian bekas dalam zakat, sebagai ganti jagung dan gandum. Itu lebih ringan bagi kalian dan lebih baik bagi para sahabat Rasulullah ﷺ di Madinah."

Maliki: tidak sah, menurut pendapat yang masyhur

Mazhab Maliki tidak membolehkan zakat fitrah diganti nilai. Dalam al-Mudawwanah, Ibnu al-Qâsim menukil Imam Mâlik (w. 179 H):

وَلَا يُجْزِئُ الرَّجُلَ أَنْ يُعْطِيَ مَكَانَ زَكَاةِ الْفِطْرِ عَرْضًا مِنْ الْعُرُوضِ، قَالَ: وَلَيْسَ كَذَلِكَ أَمْرُ النَّبِيِّ ﷺ

"Tidak sah seseorang memberikan barang apa pun sebagai ganti zakat fitrah. Ia berkata: bukan begitu perintah Nabi ﷺ."

Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H) dalam al-Kâfî fî Fiqh Ahl al-Madînah menegaskan dan sekaligus mencatat riwayat yang berbeda:

ولا يجزأ فيها ولا في تغيرها من الزكاة القيمة عند أهل المدينة وهو الصحيح عن مالك وأكثر أصحابه

"Nilai tidak mencukupi dalam zakat fitrah maupun zakat lainnya menurut ulama Madinah. Inilah pendapat yang sahih dari Mâlik dan kebanyakan muridnya." (Kata تغيرها demikian tertulis dalam cetakan; maksudnya غيرها.)

Lalu ia menambahkan bahwa ada riwayat dari Mâlik dan sebagian muridnya "أنه تجزأ القيمة عمن أخرجها في زكاة الفطر", bahwa nilai itu sah bagi yang mengeluarkannya dalam zakat fitrah, tetapi "والأول هو المشهور في مذهب مالك", pendapat pertama yang masyhur dalam mazhab Mâlik.

Ad-Dardîr (w. 1201 H) dalam asy-Syarḫ al-Kabîr menyebut kaidah umumnya untuk zakat: seseorang yang dengan sukarela membayar "(بِقِيمَةٍ) كَعَرُوضٍ دَفَعَهَا عَنْ عَيْنٍ أَوْ حَرْثٍ أَوْ مَاشِيَةٍ (لَمْ تُجْزِ)", dengan nilai, seperti barang yang ia serahkan sebagai ganti emas-perak, hasil bumi, atau ternak, maka itu tidak sah. Tetapi ad-Dasûqî (w. 1230 H) dalam Ḫâsyiyah-nya mencatat bahwa Khalîl dalam at-Taudhîḫ menolak pernyataan ini untuk zakat harta: "الْمَشْهُورُ فِي إعْطَاءِ الْقِيمَةِ أَنَّهُ مَكْرُوهٌ لَا مُحَرَّمٌ", pendapat masyhur dalam memberikan nilai adalah makruh, bukan haram. Catatan ini berbicara tentang zakat harta, bukan khusus zakat fitrah yang ditegaskan Mâlik dalam al-Mudawwanah di atas.

Dalil mazhab Maliki. Imam Mâlik meriwayatkan hadis Abû Sa’îd al-Khudrî dalam al-Mudawwanah:

كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ

"Kami dahulu mengeluarkan zakat fitrah satu shâ’ makanan, atau satu shâ’ gandum, atau satu shâ’ kurma, atau satu shâ’ keju kering, atau satu shâ’ kismis."

Semua yang disebut dalam hadis adalah makanan. Karena itu Mâlik berkata, "bukan begitu perintah Nabi ﷺ".

Syafi’i: tidak sah, harus makanan pokok

Mazhab Syafi’i juga tidak membolehkan nilai. Asy-Syîrâzî (w. 476 H) dalam al-Muhadzdzab, yang disyarah an-Nawawî (w. 676 H) dalam al-Majmû’, menetapkan kaidah untuk seluruh zakat:

ولا يجوز أخذ القيمة في شئ مِنْ الزَّكَاةِ لِأَنَّ الْحَقَّ لِلَّهِ تَعَالَى وَقَدْ عَلَّقَهُ عَلَى مَا نَصَّ عَلَيْهِ فَلَا يَجُوزُ نَقْلُ ذَلِكَ إلَى غَيْرِهِ

"Tidak boleh mengambil nilai dalam zakat apa pun, karena hak itu milik Allah ta’ala, dan Dia telah menggantungkannya pada apa yang Dia tetapkan, sehingga tidak boleh dialihkan kepada yang lain." (Kata شئ demikian dalam cetakan; maksudnya شيء.)

An-Nawawî menegaskan bahwa ada satu wajh dalam mazhab yang membolehkan nilai, tetapi ia menilainya "شَاذٌّ بَاطِلٌ", ganjil dan batil. Khusus zakat fitrah, ia menulis:

لَا تُجْزِئُ الْقِيمَةُ فِي الْفِطْرَةِ عِنْدَنَا وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَابْنُ الْمُنْذِرِ

"Nilai tidak mencukupi dalam zakat fitrah menurut kami. Ini juga pendapat Mâlik, Aḫmad, dan Ibnu al-Mundzir."

Ia juga menukil dari Ibnu al-Mundzir bahwa Isḫâq dan Abû Tsaur berpendapat "لَا تُجْزِئُ إلَّا عِنْدَ الضَّرُورَةِ", nilai tidak mencukupi kecuali dalam keadaan darurat.

Lalu apa yang dikeluarkan? Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H) dalam Tuḫfat al-Muḫtâj dan ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj sama-sama mensyarah matan Minhâj dengan kalimat "(وَجِنْسُهُ) أَيْ الصَّاعِ الْوَاجِبِ (الْقُوتُ الْمُعَشَّرُ)", jenisnya, yaitu satu shâ’ yang wajib, adalah makanan pokok yang dikenai zakat hasil bumi. Ar-Ramlî menjelaskan alasannya: "لِأَنَّ النَّصَّ وَرَدَ فِي بَعْضِ الْمُعَشَّرَاتِ كَالْبُرِّ وَالشَّعِيرِ", karena nas datang menyebut sebagian jenis itu, seperti gandum dan jelai. Di Indonesia, makanan pokok itu adalah beras.

Dalil mazhab Syafi’i. An-Nawawî merangkum dalil para ulama Syafi’iyyah:

وَاسْتَدَلَّ أَصْحَابُنَا بِأَنَّ الشَّرْعَ نَصَّ عَلَى بِنْتِ مَخَاضٍ وَبِنْتِ لَبُونٍ وَحِقَّةٍ وَجَذَعَةٍ وَتَبِيعٍ وَمُسِنَّةٍ وَشَاةٍ وَشِيَاهٍ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ الْوَاجِبَاتِ فَلَا يَجُوزُ الْعُدُولُ كَمَا لَا يَجُوزُ فِي الْأُضْحِيَّةِ

"Para ulama kami berdalil bahwa syariat telah menetapkan secara tegas jenis-jenis zakat: unta betina umur satu, dua, tiga, dan empat tahun, sapi umur satu dan dua tahun, kambing, dan seterusnya. Maka tidak boleh berpaling darinya, sebagaimana tidak boleh dalam kurban."

Ia juga menukil penulis al-Ḫâwî (al-Mâwardî) yang berdalil dengan hadis zakat fitrah: Nabi ﷺ menyebut satu shâ’ kurma dan satu shâ’ gandum tanpa menyebut nilainya, padahal kalau nilai boleh, tentu beliau menjelaskannya, karena kebutuhan bisa saja mendorong ke sana.

Menariknya, an-Nawawî juga jujur menyebut dalil pihak yang membolehkan, termasuk atsar Mu’âdz di atas, yang menurutnya "ذَكَرَهُ الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ تَعْلِيقًا بِصِيغَةِ جَزْمٍ", disebut al-Bukhârî dalam Shaḫîḫ-nya secara ta’lîq dengan bentuk kalimat yang tegas.

Hanbali: tidak sah, tetapi Ibnu Taimiyyah membuka pintu

Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî menukil matan al-Khiraqî "(وَمَنْ أَعْطَى الْقِيمَةَ، لَمْ تُجْزِئْهُ)", siapa yang memberikan nilainya, tidak sah. Lalu ia menukil jawaban Imam Aḫmad yang tegas:

قَالَ أَبُو دَاوُد قِيلَ لِأَحْمَدَ وَأَنَا أَسْمَعُ: أُعْطِي دَرَاهِمَ - يَعْنِي فِي صَدَقَةِ الْفِطْرِ - قَالَ: أَخَافُ أَنْ لَا يُجْزِئَهُ خِلَافُ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ

"Abû Dâwud berkata: Aḫmad ditanya, dan aku mendengarnya: Bolehkah aku memberi dirham (dalam zakat fitrah)? Ia menjawab: Aku khawatir tidak mencukupi, karena menyelisihi sunnah Rasulullah ﷺ."

Ketika diberi tahu bahwa ’Umar bin ’Abd al-’Azîz menerima nilai, Aḫmad menjawab: "يَدَعُونَ قَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَيَقُولُونَ قَالَ فُلَانٌ", mereka meninggalkan sabda Rasulullah ﷺ lalu berkata, si fulan berkata.

Tetapi al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf mencatat bahwa ada riwayat lain dari Aḫmad, dan ada ulama besar mazhab yang memilihnya:

وَعَنْهُ تُجْزِئُ لِلْحَاجَةِ، مِنْ تَعَذُّرِ الْفَرْضِ وَنَحْوِهِ ... وَاخْتَارَهُ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ وَقِيلَ: وَلِمَصْلَحَةٍ أَيْضًا، وَاخْتَارَهُ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ أَيْضًا

"Diriwayatkan dari Aḫmad bahwa nilai itu sah karena kebutuhan, seperti ketika jenis yang wajib sulit didapat dan semacamnya ... Ini dipilih Syaikh Taqiyyuddîn (Ibnu Taimiyyah). Ada pula pendapat: juga karena maslahat, dan ini juga dipilih Syaikh Taqiyyuddîn."

Meski begitu, al-Mardâwî menegaskan bahwa pendapat resmi mazhab adalah tidak sah, "سَوَاءٌ كَانَ ثَمَّ حَاجَةٌ أَمْ لَا، لِمَصْلَحَةٍ أَوْ لَا، لِفِطْرَةٍ وَغَيْرِهَا", baik ada kebutuhan maupun tidak, ada maslahat maupun tidak, untuk zakat fitrah maupun lainnya.

Dalil mazhab Hanbali. Ibnu Qudâmah berdalil dengan hadis Ibnu ’Umar:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ صَدَقَةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، وَصَاعًا مِنْ شَعِيرٍ

"Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah satu shâ’ kurma dan satu shâ’ gandum." Lalu ia menyimpulkan: "فَإِذَا عَدَلَ عَنْ ذَلِكَ فَقَدْ تَرَكَ الْمَفْرُوضَ", jika seseorang berpaling darinya, berarti ia meninggalkan yang diwajibkan. Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ menambahkan sabda Nabi ﷺ kepada Mu’âdz:

خُذْ الْحَبَّ مِنْ الْحَبِّ، وَالْإِبِلَ مِنْ الْإِبِلِ، وَالْبَقَرَ مِنْ الْبَقَرِ، وَالْغَنَمَ مِنْ الْغَنَمِ

"Ambillah biji-bijian dari biji-bijian, unta dari unta, sapi dari sapi, dan kambing dari kambing." Ia menambahkan kaidah usul fikih: "وَالْأَمْرُ بِالشَّيْءِ نَهْيٌ عَنْ ضِدِّهِ", perintah melakukan sesuatu berarti larangan dari kebalikannya.

Menariknya, Mu’âdz menjadi tokoh di kedua kubu. Mazhab Hanafi membawakan perbuatannya yang menerima kain sebagai ganti gandum, sedangkan mazhab Hanbali membawakan perintah Nabi ﷺ kepadanya untuk mengambil biji-bijian dari biji-bijian.

Mengapa berbeda? Ibadah murni atau punya tujuan yang bisa dinalar

Akar perbedaannya adalah cara memandang perintah satu shâ’ makanan. Bagi mazhab Hanafi, perintah itu punya tujuan yang jelas, yaitu ighnâ’, mencukupi orang fakir di hari raya. Selama tujuan itu tercapai, bentuknya boleh berbeda, bahkan uang lebih tepat sasaran. Bagi mayoritas ulama dari tiga mazhab lainnya, jenis yang disebut nas adalah bagian dari ibadah itu sendiri. Hak itu milik Allah dan Dia telah menentukan bentuknya, maka tidak boleh dialihkan.

Ringkasnya

MazhabZakat fitrah dengan uangCatatan
HanafiSahDiperselisihkan mana yang lebih utama: uang atau gandum
MalikiTidak sah (masyhur)Ada riwayat dari Mâlik yang mengesahkan
Syafi’iTidak sahWajib makanan pokok setempat; satu wajh membolehkan, dinilai an-Nawawî syâdz
HanbaliTidak sah (pendapat mazhab)Ibnu Taimiyyah memilih sah karena kebutuhan atau maslahat

Pelajaran untuk kita

  1. Membayar dengan uang punya dasar kuat dalam mazhab Hanafi. Ia juga sejalan dengan pilihan Ibnu Taimiyyah dari mazhab Hanbali ketika ada kebutuhan atau maslahat. Jadi orang yang membayar dengan uang tidak sedang mengada-ada.
  2. Bagi yang ingin keluar dari perbedaan pendapat, membayar dengan beras sah menurut keempat mazhab, karena mazhab Hanafi pun menerima makanan pokok. Ini saran penulis, bukan bagian dari kutipan kitab.
  3. Tujuan zakat fitrah disepakati semua pihak: mencukupi fakir miskin di hari raya. Yang diperselisihkan hanya apakah bentuk makanan itu bagian dari ibadah yang tidak boleh diubah, atau sarana yang boleh diganti dengan yang lebih bermanfaat.

Rujukan

  1. Al-Kâsânî (w. 587 H). Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ fî Tartîb asy-Syarâ’i’. Juz 2, hlm. 73, Fashl Bayân Jins al-Wâjib wa Qadrih wa Shifatih fî Shadaqat al-Fithr. shamela.ws/book/8183/396
  2. Al-Marghînânî (w. 593 H), al-Hidâyah, dicetak bersama Ibnu al-Humâm (w. 861 H), Fatḫ al-Qadîr (cet. al-Ḫalabî). Juz 2, hlm. 191 dan 280, Kitâb az-Zakâh. shamela.ws/book/21744/711, shamela.ws/book/21744/800
  3. Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H). Radd al-Muḫtâr ’alâ ad-Durr al-Mukhtâr (cet. al-Ḫalabî). Juz 2, hlm. 366, Bâb Shadaqat al-Fithr. shamela.ws/book/21613/1022
  4. Mâlik bin Anas (w. 179 H). Al-Mudawwanah, riwayat Saḫnûn. Juz 1, hlm. 392, Kitâb az-Zakâh ats-Tsânî. shamela.ws/book/587/280
  5. Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H). Al-Kâfî fî Fiqh Ahl al-Madînah. Juz 1, hlm. 323, Bâb Shadaqat al-Fithr. shamela.ws/book/7367/227
  6. Ad-Dardîr (w. 1201 H), asy-Syarḫ al-Kabîr, bersama Ḫâsyiyat ad-Dasûqî (w. 1230 H). Juz 1, hlm. 502, Fashl Man Tushraf lahu az-Zakâh. shamela.ws/book/21604/501
  7. Asy-Syîrâzî (w. 476 H), al-Muhadzdzab, dalam an-Nawawî (w. 676 H), Al-Majmû’ Syarḫ al-Muhadzdzab (cet. al-Munîriyyah). Juz 5, hlm. 428–429, dan juz 6, hlm. 144, Kitâb az-Zakâh. shamela.ws/book/2186/2741, shamela.ws/book/2186/2742, shamela.ws/book/2186/3050
  8. Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 3, hlm. 320, Bâb Zakât al-Fithr. shamela.ws/book/9059/1318
  9. Syamsuddîn ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 3, hlm. 121, Bâb Zakât al-Fithr. shamela.ws/book/3565/1169
  10. Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 3, hlm. 87, masalah no. 1966. shamela.ws/book/8463/1046
  11. Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 3, hlm. 65, Bâb Zakât Bahîmat al-An’âm. shamela.ws/book/21609/1128
  12. Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 2, hlm. 195, Bâb Zakât Bahîmat al-An’âm. shamela.ws/book/21642/699
Bagikan ke WhatsApp
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Dosen & Pengajar Fiqih · Profil

Tulisan lainnya

Shalat

Qunut Subuh: Sunnah Rutin atau Hanya Saat Musibah?

Di banyak masjid di Indonesia, rakaat kedua shalat Subuh selalu diwarnai doa "Allâhummahdinî fî man hadait" dengan tangan terangkat dan makmum mengaminkan. Tetapi seorang jamaah yang pernah…

17 Oktober 2026 · 8 menit baca
Thaharah

Menyentuh Kemaluan Sendiri: Wudhu Batal atau Tetap Sah?

Pertanyaan ini hampir pasti pernah terlintas. Selesai berwudhu, lalu memakai sarung atau merapikan celana, tangan tanpa sengaja menyentuh kemaluan. Atau seorang ibu yang sudah berwudhu…

17 Oktober 2026 · 8 menit baca
Shalat

Makmum Wajib Baca Al-Fatihah atau Cukup Diam?

Perhatikan jamaah shalat Maghrib di masjid yang ramai. Saat imam membaca Al-Fatihah dengan suara keras, sebagian makmum ikut komat-kamit membaca Al-Fatihah. Sebagian lain diam mendengarkan…

17 Oktober 2026 · 9 menit baca