← Semua artikel

Puasa

Utang Puasa Orang yang Sudah Meninggal: Dipuasakan Keluarga atau Dibayar Fidyah?

Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H. · 20 Oktober 2026 · 10 menit baca

Seorang ayah sakit pada bulan Ramadhan dan tidak berpuasa sepuluh hari. Setelah Lebaran ia sembuh dan sempat beraktivitas beberapa bulan, tetapi belum mengganti puasanya sampai ia wafat. Anak-anaknya bertanya: apakah salah satu dari mereka boleh berpuasa sepuluh hari atas nama ayahnya? Ataukah cukup membayar fidyah? Lalu, apakah fidyah itu wajib diambil dari harta warisan walaupun almarhum tidak berwasiat?

Para ulama sepakat bahwa orang yang uzurnya berlanjut sampai meninggal, misalnya sakit terus sejak Ramadhan hingga wafat, tidak menanggung apa-apa. Perbedaan terjadi pada orang yang sempat mengganti puasanya tetapi tidak melakukannya. Tulisan ini menghimpun pendapat empat mazhab dari kitab-kitab mereka sendiri.

Hanafi: tidak dipuasakan; fidyah wajib jika ia berwasiat

Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah menulis:

ومن مات وعليه قضاء رمضان فأوصى به أطعم عنه وليه لكل مسكينا نصف صاع من بر أو صاعا من تمر أو شعير

"Siapa yang meninggal dan masih menanggung qadha Ramadhan, lalu ia berwasiat untuk itu, walinya memberi makan atas namanya untuk setiap hari seorang miskin, setengah sha’ gandum atau satu sha’ kurma atau jelai."

Ia menegaskan bahwa wasiat menjadi syarat: "ثم لا بد من الإيصاء عندنا خلافا للشافعي", kemudian menurut kami harus ada wasiat, berbeda dengan asy-Syâfi’î. As-Sarakhsî (w. 483 H) dalam al-Mabsûth menjelaskan batasnya: "وَإِنَّمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ الْإِطْعَامُ مِنْ ثُلُثِهِ إذَا أَوْصَى وَلَا يَلْزَمُهُمْ ذَلِكَ إذَا لَمْ يُوصِ عِنْدَنَا", menurut kami ahli waris hanya wajib memberi makan dari sepertiga hartanya jika ia berwasiat, dan tidak wajib jika ia tidak berwasiat.

Jika tidak ada wasiat, ahli waris boleh bersedekah atas namanya secara sukarela. Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H) dalam Radd al-Muḫtâr menukil dari ad-Durr al-Mukhtâr:

وَ (تَبَرَّعَ وَلِيُّهُ بِهِ جَازَ) إنْ شَاءَ اللَّهُ وَيَكُونُ الثَّوَابُ لِلْوَلِيِّ اخْتِيَارٌ (وَإِنْ صَامَ أَوْ صَلَّى عَنْهُ) الْوَلِيُّ (لَا)

"Dan (jika walinya menyumbangkannya secara sukarela, hal itu sah) insya Allah, dan pahalanya bagi wali (al-Ikhtiyâr). (Jika) wali (berpuasa atau shalat atas namanya, tidak sah)."

Dalil mazhab Hanafi. Al-Kâsânî (w. 587 H) dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ berdalil dengan hadis Abû Mâlik al-Asyja’î tentang orang sakit yang meninggal: "إنْ مَاتَ قَبْلَ أَنْ يُطِيقَ الصِّيَامَ فَلَا يُقْضَى عَنْهُ، وَإِنْ مَاتَ وَهُوَ مَرِيضٌ وَقَدْ أَطَاقَ الصِّيَامَ فِي مَرَضِهِ ذَلِكَ فَلْيُقْضَ عَنْهُ", jika ia meninggal sebelum mampu berpuasa, tidak diqadha atas namanya; jika ia meninggal dalam keadaan pernah mampu berpuasa, hendaklah diqadha atas namanya. Ia menjelaskan "وَالْمُرَادُ مِنْهُ الْقَضَاءُ بِالْفِدْيَةِ لَا بِالصَّوْمِ", maksudnya qadha dengan fidyah, bukan dengan puasa, berdasarkan riwayat Ibnu ’Umar secara mauquf dan marfu’: "«لَا يَصُومَنَّ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ وَلَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ»", janganlah seseorang berpuasa atas nama orang lain dan janganlah seseorang shalat atas nama orang lain. As-Sarakhsî menambahkan qiyas: "ثُمَّ الصَّوْمُ عِبَادَةٌ لَا تَجْرِي النِّيَابَةُ فِي أَدَائِهَا فِي حَالَةِ الْحَيَاةِ فَكَذَلِكَ بَعْدَ الْمَوْتِ كَالصَّلَاةِ", puasa adalah ibadah yang tidak bisa diwakilkan semasa hidup, maka demikian pula setelah mati, seperti shalat. Adapun wasiat disyaratkan karena, menurut al-Marghînânî, "ولنا أنه عبادة ولا بد فيه من الاختيار وذلك في الإيصاء دون الوراثة لأنها جبرية", fidyah itu ibadah yang menuntut pilihan pelakunya, dan pilihan itu ada pada wasiat, tidak pada warisan yang berpindah secara paksa.

Maliki: tidak dipuasakan; fidyah dianjurkan, dan wajib dari sepertiga jika diwasiatkan

Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H) dalam al-Kâfî menulis tentang orang yang menunda qadha sampai wafat:

ولو مات قبل أن يقضي تلك الأيام أحببت للورثة أن يطعموا عنه لذلك إذا فرط أن يوصي وليس ذلك عليهم بواجب

"Jika ia meninggal sebelum mengqadha hari-hari itu, aku menganjurkan ahli waris memberi makan atas namanya. Karena itu, jika ia lalai (mengqadha), hendaklah ia berwasiat. Hal itu (memberi makan) tidak wajib atas ahli waris."

Lalu ia menegaskan: "ولا يصوم في نذر ولا في غيره وسواء كان الميت وليه أو لم يكن", tidak ada yang berpuasa atas namanya, baik untuk puasa nadzar maupun lainnya, baik yang meninggal itu kerabatnya maupun bukan. Jika ia berwasiat, al-Mudawwanah menetapkan fidyah itu "قَالَ مَالِكٌ: يَكُونُ ذَلِكَ فِي ثُلُثِهِ، يَبْدَأُ عَلَى أَهْلِ الْوَصَايَا", diambil dari sepertiga hartanya dan didahulukan atas wasiat-wasiat lain.

Al-Ḫaththâb (w. 954 H) dalam Mawâhib al-Jalîl menukil al-Mâzarî: "وَأَمَّا مَعَ الْمَوْتِ فَعِنْدَنَا أَنَّهُ لَا يَصُومُ أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ حَيًّا كَانَ أَوْ مَيِّتًا", adapun setelah mati, menurut kami seseorang tidak berpuasa atas nama orang lain, baik yang hidup maupun yang mati.

Dalil mazhab Maliki. Al-Qarâfî (w. 684 H) dalam adz-Dzakhîrah menyebut hadis Muslim "مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَوْمٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ", lalu menjawabnya:

وَجَوَابُهُ صَرْفُهُ عَنْ ظَاهِرِهِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى ﴿وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلا مَا سَعَى﴾ فَيحمل على أَن يَفْعَل مَا يَنُوبُ مَنَابَ الصَّوْمِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَالدُّعَاءِ وَفِي الْمُوَطَّأِ كَانَ ابْنُ عُمَرَ رضي الله عنه يَقُول لَا يَصُوم أحد عَن أحد وَلَا يُصَلِّي أَحَدٌ عَنْ أَحَدٍ وَقِيَاسًا عَلَى الْجِهَادِ وَالصَّلَاةِ فِي حَالَةِ الْحَيَاةِ

"Jawabannya: hadis itu dipalingkan dari makna lahirnya karena firman Allah 'dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya' (QS. an-Najm: 39), sehingga dibawa kepada perbuatan yang menggantikan puasa, berupa sedekah dan doa. Dalam al-Muwaththa’, Ibnu ’Umar berkata: seseorang tidak berpuasa atas nama orang lain dan tidak shalat atas nama orang lain. Juga diqiyaskan kepada jihad dan shalat semasa hidup."

Syafi’i: dua pendapat; pendapat lama (wali boleh berpuasa) yang dipilih an-Nawawî

An-Nawawî (w. 676 H) dalam al-Majmû’ membagi orang yang meninggal dengan utang puasa Ramadhan menjadi dua. Yang uzurnya berlanjut sampai mati "لم يجب شئ عَلَى وَرَثَتِهِ وَلَا فِي تَرِكَتِهِ لَا صِيَامَ وَلَا إطْعَامَ", tidak ada kewajiban apa pun atas ahli waris maupun hartanya, baik puasa maupun memberi makan. Yang sempat mengqadha tetapi tidak melakukannya, hukumnya terdapat dua pendapat:

(أَشْهَرُهُمَا وَأَصَحُّهُمَا) عِنْدَ الْمُصَنِّفِ وَالْجُمْهُورِ وَهُوَ الْمَنْصُوصُ فِي الْجَدِيدِ أَنَّهُ يَجِبُ فِي تَرِكَتِهِ لِكُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ مِنْ طَعَامٍ وَلَا يَصِحُّ صِيَامُ وَلِيِّهِ عَنْهُ ... (وَالثَّانِي) وَهُوَ الْقَدِيمُ وَهُوَ الصَّحِيحُ عِنْدَ جَمَاعَةٍ مِنْ مُحَقِّقِي أَصْحَابِنَا وَهُوَ الْمُخْتَارُ أَنَّهُ يَجُوزُ لِوَلِيِّهِ أَنْ يَصُومَ عَنْهُ وَيَصِحُّ ذَلِكَ وَيُجْزِئُهُ عَنْ الْإِطْعَامِ وَتَبْرَأُ بِهِ ذِمَّةُ الْمَيِّتِ وَلكن لا يَلْزَمُ الْوَلِيَّ الصَّوْمُ بَلْ هُوَ إلَى خِيَرَتِهِ

"(Yang paling masyhur dan paling sahih dari keduanya) menurut penulis (al-Muhadzdzab) dan jumhur, yaitu nas asy-Syâfi’î dalam pendapat baru (jadîd): wajib dari harta peninggalannya untuk setiap hari satu mud makanan, dan puasa walinya atas namanya tidak sah ... (Yang kedua) adalah pendapat lama (qadîm), dan inilah yang sahih menurut sejumlah ulama muḫaqqiq mazhab kami dan yang terpilih: walinya boleh berpuasa atas namanya, puasa itu sah, mencukupi sebagai ganti memberi makan, dan membebaskan tanggungan mayit. Tetapi wali tidak wajib berpuasa; itu terserah pilihannya."

Ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj menukil penegasan an-Nawawî dalam al-Minhâj: "(قُلْت: الْقَدِيمُ هُنَا أَظْهَرُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ) وَعَبَّرَ عَنْهُ فِي التَّصْحِيحِ بِالْمُخْتَارِ وَفِي الرَّوْضَةِ (بِالصَّوَابِ)", (aku berkata: pendapat lama di sini lebih kuat), dan dalam at-Tashḫîḫ ia menyebutnya pendapat terpilih, dalam ar-Raudhah pendapat yang benar. Ar-Ramlî juga menukil bahwa asy-Syâfi’î sendiri berkata dalam al-Amâlî, yang termasuk kitab-kitab barunya: "إنْ صَحَّ الْحَدِيثُ قُلْت بِهِ", jika hadis itu sahih, aku berpendapat dengannya. Yang dimaksud wali adalah "(كُلُّ قَرِيبٍ) أَيْ أَيُّ قَرِيبٍ كَانَ (عَلَى الْمُخْتَارِ)", setiap kerabat, siapa pun dia, menurut pendapat terpilih.

Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H) dalam Tuḫfat al-Muḫtâj menambahkan: "ثُمَّ إنْ خَلَّفَ تَرِكَةً وَجَبَ أَحَدُهُمَا وَإِلَّا نُدِبَ", jika mayit meninggalkan harta, wajib salah satu dari keduanya (puasa wali atau fidyah); jika tidak, hukumnya sunnah.

Dalil mazhab Syafi’i. Pendapat lama berdalil dengan hadis ’Â’isyah: "مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ", yang menurut an-Nawawî "رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ". Pendapat baru berdalil dengan hadis Ibnu ’Umar "من مات وعليه صيام فليطعم عنه مكان كل يوم مسكين", dan qiyas: "ولانه عِبَادَةٌ لَا تَدْخُلُهَا النِّيَابَةُ فِي حَالِ الْحَيَاةِ فلا تدخلها النيابة بعد الموت كالصلاة". Tentang hadis Ibnu ’Umar, an-Nawawî menukil at-Tirmidzî: "هُوَ غَرِيبٌ قَالَ وَالصَّحِيحُ أَنَّهُ مَوْقُوفٌ عَلَى ابْنِ عُمَرَ مِنْ قَوْلِهِ", hadis itu gharib, dan yang sahih ia mauquf, ucapan Ibnu ’Umar sendiri. An-Nawawî lalu menolak penafsiran sebagian ulama mazhabnya: "(وَأَمَّا) تَأْوِيلُ مَنْ تَأَوَّلَ مِنْ أَصْحَابِنَا \" صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ \" أَيْ أَطْعَمَ بَدَلَ الصِّيَامِ فَتَأْوِيلٌ بَاطِلٌ", adapun penakwilan sebagian ulama mazhab kami bahwa "walinya berpuasa atas namanya" berarti memberi makan sebagai ganti puasa, itu takwil yang batil.

Hanbali: Ramadhan dibayar fidyah dari harta pokok; puasa nadzar boleh dipuasakan wali

Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî menulis tentang orang yang meninggal setelah sempat mengqadha:

الْحَالُ الثَّانِي، أَنْ يَمُوتَ بَعْدَ إمْكَانِ الْقَضَاءِ، فَالْوَاجِبُ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُ لِكُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينٌ. وَهَذَا قَوْلُ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ

"Keadaan kedua: ia meninggal setelah memungkinkan untuk mengqadha. Yang wajib adalah memberi makan atas namanya untuk setiap hari seorang miskin. Ini pendapat kebanyakan ulama."

Mazhab Hanbali membedakan puasa Ramadhan dari puasa nadzar. Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ menulis untuk qadha Ramadhan: "(وَلَا يُصَامُ عَنْهُ؛ لِأَنَّ الصَّوْمَ الْوَاجِبَ بِأَصْلِ الشَّرْعِ لَا يُقْضَى عَنْهُ)", tidak dipuasakan atas namanya, karena puasa yang wajib dengan asal syariat tidak diqadha atas namanya, dan fidyahnya diambil "(وَالْإِطْعَامِ مِنْ رَأْسِ مَالِهِ أَوْصَى بِهِ أَوْ لَا) كَسَائِرِ الدُّيُونِ", dari harta pokoknya, baik ia berwasiat maupun tidak, seperti utang-utang lainnya. Untuk puasa nadzar, al-Buhûtî menulis: "(وَإِنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صَوْمٌ مَنْذُورٌ فِي الذِّمَّةِ ... وَلَمْ يَصُمْ مِنْهُ شَيْئًا مَعَ إمْكَانِهِ فَفُعِلَ عَنْهُ أَجْزَأَ عَنْهُ)", jika ia meninggal dengan tanggungan puasa nadzar dan tidak berpuasa sedikit pun padahal mampu, lalu puasa itu dikerjakan atas namanya, hal itu mencukupinya.

Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menegaskan kedua hukum itu: fidyah Ramadhan "الْإِطْعَامُ يَكُونُ مِنْ رَأْسِ الْمَالِ، أَوْصَى بِهِ أَوْ لَمْ يُوصِ", dan puasa nadzar "فَعَلَهُ عَنْهُ وَلِيُّهُ عَلَى الصَّحِيحِ مِنْ الْمَذْهَبِ، نَصَّ عَلَيْهِ، وَعَلَيْهِ الْأَصْحَابُ ... وَهُوَ مِنْ الْمُفْرَدَاتِ", dikerjakan walinya atas namanya menurut pendapat yang sahih dalam mazhab, dinyatakan tegas oleh Aḫmad dan dipegang para ulama mazhab, dan termasuk kekhasan mazhab Hanbali.

Dalil mazhab Hanbali. Ibnu Qudâmah menyebut hadis ’Â’isyah yang dipegang pendapat lain, lalu berdalil dengan hadis Ibnu ’Umar "«مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ، فَلْيُطْعِمْ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا» . قَالَ التِّرْمِذِيُّ: الصَّحِيحُ عَنْ ابْنِ عُمَرَ مَوْقُوفٌ", dengan fatwa ’Â’isyah sendiri "يُطْعَمُ عَنْهُ فِي قَضَاءِ رَمَضَانَ، وَلَا يُصَامُ عَنْهُ", dan dengan fatwa Ibnu ’Abbâs yang membedakan keduanya:

أَمَّا رَمَضَانُ فَلْيُطْعَمْ عَنْهُ، وَأَمَّا النَّذْرُ، فَيُصَامُ عَنْهُ. رَوَاهُ الْأَثْرَمُ فِي (السُّنَنِ) . وَلِأَنَّ الصَّوْمَ لَا تَدْخُلُهُ النِّيَابَةُ حَالَ الْحَيَاةِ، فَكَذَلِكَ بَعْدَ الْوَفَاةِ، كَالصَّلَاةِ

"Adapun Ramadhan, hendaklah diberi makan atas namanya; adapun nadzar, dipuasakan atas namanya. Diriwayatkan al-Atsram dalam as-Sunan. Dan karena puasa tidak bisa diwakilkan semasa hidup, maka demikian pula setelah wafat, seperti shalat."

Untuk puasa nadzar, al-Buhûtî berdalil dengan hadis ash-Shaḫîḫain tentang seorang perempuan yang bertanya: "إنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ نَذْرٍ أَفَأَصُومُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ", ibuku meninggal dan menanggung puasa nadzar, bolehkah aku berpuasa atas namanya? Nabi ﷺ menjawab: ya. Ia menambahkan alasan "وَهُوَ أَخَفُّ حُكْمًا مِنْ الْوَاجِبِ بِأَصْلِ الشَّرْعِ لِإِيجَابِهِ مِنْ نَفْسِهِ", nadzar lebih ringan hukumnya daripada yang wajib dengan asal syariat, karena ia mewajibkannya atas dirinya sendiri.

Mengapa berbeda?

  1. Hadis ’Â’isyah "walinya berpuasa atas namanya". Pendapat lama Syafi’i mengamalkannya secara lahir untuk semua puasa wajib. Hanbali membatasinya pada puasa nadzar berdasarkan fatwa Ibnu ’Abbâs dan ’Â’isyah. Hanafi dan Maliki memalingkannya kepada fidyah, berdasarkan atsar Ibnu ’Umar dan ayat an-Najm 39.
  2. Fidyah: utang atau wasiat? Hanafi memandang fidyah sebagai ibadah yang menuntut pilihan, sehingga hanya wajib jika diwasiatkan dan diambil dari sepertiga harta. Maliki juga mengaitkannya dengan wasiat dan sepertiga harta. Syafi’i dan Hanbali memandangnya seperti utang, sehingga wajib dari harta peninggalan walaupun tanpa wasiat.
  3. Bolehkah ibadah badan diwakilkan? Mazhab yang menolak puasa wali berqiyas kepada shalat, yang tidak bisa diwakilkan semasa hidup maupun setelah mati. Pendapat lama Syafi’i mendahulukan hadis yang sahih atas qiyas tersebut.

Ringkasnya

MazhabWali berpuasa atas nama mayitFidyah qadha RamadhanSumber fidyah
HanafiTidak sahWajib jika mayit berwasiat; tanpa wasiat, boleh disumbangkan ahli warisSepertiga harta
MalikiTidak sah, baik puasa Ramadhan maupun nadzarDianjurkan; wajib dilaksanakan jika diwasiatkanSepertiga harta, didahulukan atas wasiat lain
Syafi’iJadîd: tidak sah. Qadîm: sah, dan inilah yang dipilih an-NawawîWajib salah satu (fidyah atau puasa wali) jika ada harta peninggalanHarta peninggalan, satu mud per hari
HanbaliTidak untuk Ramadhan; sah untuk puasa nadzarWajibHarta pokok, dengan atau tanpa wasiat

Pelajaran untuk kita

  1. Jika ayah dalam kisah di atas sakit terus sampai wafat, tidak ada kewajiban apa pun menurut keempat mazhab, baik puasa maupun fidyah.
  2. Karena ia sempat sembuh dan tidak mengqadha, menurut mazhab Syafi’i keluarga boleh memilih: membayar fidyah satu mud untuk setiap hari dari harta peninggalannya, atau salah seorang kerabat berpuasa atas namanya. Pilihan kedua ini adalah pendapat lama asy-Syâfi’î yang dipilih an-Nawawî. Menurut Hanbali, fidyah wajib diambil dari harta pokoknya sebelum warisan dibagi.
  3. Menurut Hanafi dan Maliki, puasa atas nama mayit tidak sah. Yang ada hanya fidyah, yang wajib dilaksanakan jika mayit berwasiat dan diambil dari sepertiga hartanya.
  4. Orang yang masih hidup dan punya utang puasa dapat mengambil pelajaran dari al-Kâfî: ia hendaknya berwasiat agar fidyahnya dibayarkan, karena menurut Hanafi dan Maliki kewajiban fidyah atas ahli waris bergantung pada wasiat.

Rujukan

  1. Al-Marghînânî (w. 593 H). Al-Hidâyah fî Syarḫ Bidâyat al-Mubtadî. Juz 1, hlm. 124, Kitâb ash-Shaum, Fashl fî man Kâna Marîdhan fî Ramadhân. shamela.ws/book/11820/178
  2. As-Sarakhsî (w. 483 H). Al-Mabsûth. Juz 3, hlm. 89, Kitâb ash-Shaum. shamela.ws/book/5423/556
  3. Al-Kâsânî (w. 587 H). Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ fî Tartîb asy-Syarâ’i’. Juz 2, hlm. 103, Kitâb ash-Shaum, Fashl Ḫukm ash-Shaum al-Mu’aqqat idzâ Fâta. shamela.ws/book/8183/426
  4. Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H). Radd al-Muḫtâr ’alâ ad-Durr al-Mukhtâr (cet. al-Ḫalabî). Juz 2, hlm. 425, Kitâb ash-Shaum, Fashl fî al-’Awâridh. shamela.ws/book/21613/1081
  5. Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H). Al-Kâfî fî Fiqh Ahl al-Madînah. Juz 1, hlm. 338–339, Kitâb ash-Shiyâm, Bâb Shaum al-Musâfir wa al-Marîdh. shamela.ws/book/7367/245, shamela.ws/book/7367/246
  6. Saḫnûn (w. 240 H), riwayat dari Mâlik bin Anas (w. 179 H). Al-Mudawwanah. Juz 1, hlm. 280, Kitâb ash-Shiyâm, Jâmi’ ash-Shiyâm. shamela.ws/book/587/168
  7. Al-Ḫaththâb (w. 954 H). Mawâhib al-Jalîl fî Syarḫ Mukhtashar Khalîl. Juz 2, hlm. 544, Bâb al-Ḫajj. shamela.ws/book/569/1094
  8. Al-Qarâfî (w. 684 H). Adz-Dzakhîrah. Juz 2, hlm. 524, Kitâb ash-Shiyâm. shamela.ws/book/1717/905
  9. An-Nawawî (w. 676 H). Al-Majmû’ Syarḫ al-Muhadzdzab (cet. al-Munîriyyah). Juz 6, hlm. 367–368 dan 371, Kitâb ash-Shiyâm. shamela.ws/book/2186/3273, shamela.ws/book/2186/3274, shamela.ws/book/2186/3277
  10. Ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 3, hlm. 190, Fashl fî Fidyat ash-Shaum al-Wâjib. shamela.ws/book/3565/1238
  11. Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 3, hlm. 436, Fashl fî Bayân Fidyat ash-Shaum al-Wâjib. shamela.ws/book/9059/1434
  12. Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 3, hlm. 152, Kitâb ash-Shiyâm, masalah no. 2084. shamela.ws/book/8463/1111
  13. Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 3, hlm. 335–336, Bâb mâ Yukrah wa mâ Yustaḫabb wa Ḫukm al-Qadhâ’. shamela.ws/book/21609/1398, shamela.ws/book/21609/1399
  14. Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 2, hlm. 334–335, Kitâb ash-Shiyâm. shamela.ws/book/21642/838, shamela.ws/book/21642/839
Bagikan ke WhatsApp
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Dosen & Pengajar Fiqih · Profil

Artikel lainnya

Munakahat

Mahar Paling Sedikit: Adakah Batas Minimalnya?

20 Oktober 2026 · 10 menit baca
Muamalah

Barang Gadai: Bolehkah Dimanfaatkan Penerima Gadai?

20 Oktober 2026 · 12 menit baca
Shalat

Bersedekap atau Melepas Tangan Saat Berdiri dalam Shalat?

20 Oktober 2026 · 10 menit baca