← Semua artikel

Haji & Umrah

Umrah: Wajib Seperti Haji atau Hanya Sunnah?

Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H. · 18 Oktober 2026 · 9 menit baca

Seorang bapak sudah menunaikan haji bertahun-tahun lalu. Waktu itu ia berhaji ifrâd, tanpa umrah, karena ikut rombongan yang langsung berangkat ke Arafah. Kini anaknya bertanya: "Pak, kata ustadz di pengajian, umrah itu wajib sekali seumur hidup. Berarti Bapak masih punya utang umrah?" Sang bapak bingung, karena ustadz lain pernah berkata umrah hanya sunnah.

Keduanya sama-sama punya dasar. Para imam mazhab memang berbeda pendapat tentang hukum umrah yang pertama kali, bagi orang yang mampu.

Hanafi: sunnah muakkadah, sebagian menyebutnya wajib

Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah menulis singkat: "(وَالْعُمْرَةُ سُنَّةٌ)", umrah itu sunnah. Ibnu al-Humâm (w. 861 H) dalam Fatḫ al-Qadîr menjelaskan maksudnya:

أَيْ مَنْ أَتَى بِهَا مَرَّةً فِي الْعُمُرِ فَقَدْ أَقَامَ السُّنَّةَ غَيْرَ مُقَيَّدٍ بِوَقْتٍ غَيْرَ مَا ثَبَتَ النَّهْيُ عَنْهَا فِيهِ، إلَّا أَنَّهَا فِي رَمَضَانَ أَفْضَلُ

"Artinya, siapa yang mengerjakannya sekali seumur hidup, ia telah menegakkan sunnah. Waktunya tidak dibatasi, kecuali waktu yang ada larangan padanya. Hanya saja, umrah di bulan Ramadhan lebih utama."

Ia juga mencatat pendapat lain di kalangan Hanafi: "وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ مِنْ مَشَايِخِ بُخَارَى: فَرْضُ كِفَايَةٍ، وَقِيلَ هِيَ وَاجِبَةٌ", Muḫammad bin al-Fadhl, salah seorang guru di Bukhara, berkata: fardhu kifayah, dan ada yang berkata: wajib.

Al-Kâsânî (w. 587 H) dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ justru memilih istilah wajib, dengan makna khas mazhab Hanafi, yaitu satu tingkat di bawah fardhu:

قَالَ أَصْحَابُنَا: إنَّهَا وَاجِبَةٌ كَصَدَقَةِ الْفِطْرِ وَالْأُضْحِيَّةِ وَالْوِتْرِ، وَمِنْهُمْ مَنْ أَطْلَقَ اسْمَ السُّنَّةِ، وَهَذَا الْإِطْلَاقُ لَا يُنَافِي الْوَاجِبَ وَقَالَ الشَّافِعِيُّ: إنَّهَا فَرِيضَةٌ

"Ulama kami berkata: umrah itu wajib, seperti zakat fitrah, kurban, dan witir. Sebagian mereka menyebutnya sunnah, dan sebutan itu tidak bertentangan dengan wajib. Asy-Syâfi’î berkata: umrah itu fardhu."

Pendapat yang dipegang mazhab dicatat dalam ad-Durr al-Mukhtâr yang disyarah Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H) dalam Radd al-Muḫtâr: "(وَالْعُمْرَةُ) فِي الْعُمُرِ (مَرَّةً سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ) عَلَى الْمَذْهَبِ وَصَحَّحَ فِي الْجَوْهَرَةِ وُجُوبَهَا", umrah sekali seumur hidup adalah sunnah muakkadah menurut pendapat mazhab, sedangkan pengarang al-Jauharah mensahihkan pendapat yang mewajibkannya.

Dalil mazhab Hanafi. Al-Kâsânî berdalil bahwa ayat kewajiban haji tidak menyebut umrah:

وَلَنَا عَلَى الشَّافِعِيِّ قَوْله تَعَالَى ﴿وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا﴾ وَلَمْ يَذْكُرْ الْعُمْرَةَ؛ لِأَنَّ مُطْلَقَ اسْمِ الْحَجِّ لَا يَقَعُ عَلَى الْعُمْرَةِ فَمَنْ قَالَ: إنَّهَا فَرِيضَةٌ فَقَدْ زَادَ عَلَى النَّصِّ، فَلَا يَجُوزُ إلَّا بِدَلِيلٍ

"Dalil kami atas asy-Syâfi’î adalah firman Allah: 'Mengerjakan haji ke Baitullah adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana' (QS. Âli ’Imrân: 97). Allah tidak menyebut umrah, karena kata haji tidak mencakup umrah. Siapa yang berkata umrah itu fardhu, ia telah menambah atas nas, dan itu tidak boleh kecuali dengan dalil."

Ia juga berdalil dengan hadis orang Arab badui yang bertanya tentang syariat Islam, lalu Nabi ﷺ menjawab "لَا إلَّا أَنْ تَطَوَّعَ", tidak ada (kewajiban lain), kecuali jika engkau ingin bersukarela, padahal umrah tidak disebut dalam daftar itu. Adapun ayat "وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ", menurutnya ayat itu memerintahkan menyempurnakan umrah, "وَإِتْمَامُ الشَّيْءِ يَكُونُ بَعْدَ الشُّرُوعِ", dan menyempurnakan sesuatu baru berlaku setelah memulainya. Ia juga menyebut qiraah yang membaca "وَالْعُمْرَةُ لِلَّهِ" dengan rafa’, sehingga menjadi kalimat berita tersendiri.

Ibnu al-Humâm menukil dalil al-Hidâyah: "وَلَنَا قَوْلُهُ ... «الْحَجُّ فَرِيضَةٌ وَالْعُمْرَةُ تَطَوُّعٌ»؛ وَلِأَنَّهَا غَيْرُ مُؤَقَّتَةٍ بِوَقْتٍ", dalil kami adalah sabda Nabi: haji itu fardhu dan umrah itu sukarela, dan karena umrah tidak ditentukan waktunya.

Maliki: sunnah muakkadah, lebih kuat dari witir

Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H) dalam al-Kâfî menulis:

العمرة عند مالك وأصحابه غير مفترضة وهي عنده واجبة وجوب سنة لا يجوز لأحد قدر عليها تركها وهي أوكد من الوتر ومن أهل المدينة جماعة يرونها مفترضة كالحج وهو قول ابن عمر وابن عباس

"Umrah menurut Mâlik dan murid-muridnya tidak difardhukan. Menurutnya umrah itu wajib dalam arti sunnah yang ditekankan; tidak boleh bagi orang yang mampu meninggalkannya, dan ia lebih kuat daripada witir. Sekelompok ulama Madinah memandangnya fardhu seperti haji, dan itu pendapat Ibnu ’Umar dan Ibnu ’Abbâs."

Ad-Dardîr (w. 1201 H) dalam asy-Syarḫ al-Kabîr mensyarah matan Khalîl: "(وَسُنَّتْ الْعُمْرَةُ) عَيْنًا ... (مَرَّةً)", umrah disunnahkan atas setiap orang, sekali. Ad-Dasûqî (w. 1230 H) dalam Ḫâsyiyah-nya menambahkan: "وَفِي النَّوَادِرِ عَنْ مَالِكٍ أَنَّهَا سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ مِثْلُ الْوِتْرِ", dalam an-Nawâdir dinukil dari Mâlik bahwa umrah adalah sunnah muakkadah seperti witir.

Al-Ḫaththâb (w. 954 H) dalam Mawâhib al-Jalîl menukil perkataan Imam Mâlik dalam al-Muwaththa’: "الْعُمْرَةُ سُنَّةٌ وَلَا نَعْلَمُ أَحَدًا مِنْ الْمُسْلِمِينَ رَخَّصَ فِي تَرْكِهَا", umrah itu sunnah, dan kami tidak mengetahui seorang pun dari kaum muslimin yang memberi keringanan untuk meninggalkannya. Ia juga mencatat adanya pendapat lain di dalam mazhab: "وَقَالَ ابْنُ حَبِيبٍ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ الْجَهْمِ: هِيَ فَرْضٌ كَالْحَجِّ", Ibnu Ḫabîb dan Abû Bakr bin al-Jahm berkata: umrah itu fardhu seperti haji.

Dalil mazhab Maliki. Al-Ḫaththâb menukil dari Mansak Ibnu al-Ḫâjj:

وَالْمَشْهُورُ الْأَوَّلُ؛ لِقَوْلِهِ ...: «الْحَجُّ جِهَادٌ وَالْعُمْرَةُ تَطَوُّعٌ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ، وَفِي بَعْضِ الرِّوَايَاتِ: حَسَنٌ صَحِيحٌ وَنَازَعَهُ النَّوَوِيُّ فِي تَصْحِيحِهِ؛ وَلِأَنَّهَا نُسُكٌ غَيْرُ مُؤَقَّتٍ فَلَا تَكُونُ وَاجِبَةً كَطَوَافِ التَّطَوُّعِ وَلِعَدَمِ ذِكْرِهَا فِي حَدِيثِ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ

"Pendapat yang masyhur adalah yang pertama (sunnah), berdasarkan sabda Nabi: Haji itu jihad dan umrah itu sukarela, diriwayatkan at-Tirmidzî dan ia berkata: hadis hasan, dalam sebagian riwayat: hasan sahih, dan an-Nawawî membantah penshahihannya. Juga karena umrah adalah ibadah yang tidak ditentukan waktunya, sehingga tidak wajib, seperti tawaf sunnah. Juga karena umrah tidak disebut dalam hadis Islam dibangun di atas lima perkara."

Tentang ayat "وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ", dinukil pula bahwa kata "وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ" adalah "كَلَامٌ مُؤْتَنَفٌ وَقَدْ قُرِئَتْ بِالرَّفْعِ، وَقِيلَ: إنَّمَا أُمِرَ بِإِتْمَامِهَا مَنْ دَخَلَ فِيهَا", kalimat baru, dan memang ada yang membacanya rafa’; ada pula yang berkata perintah menyempurnakan itu hanya untuk orang yang sudah memulainya.

Syafi’i: fardhu, menurut qaul jadid

An-Nawawî (w. 676 H) dalam Minhâj ath-Thâlibîn menulis tentang haji: "هو فرض وكذا العمرة في الأظهر", haji itu fardhu, demikian pula umrah menurut pendapat yang lebih kuat.

Dalam al-Majmû’ ia merinci bahwa ada dua pendapat asy-Syâfi’î:

(الصَّحِيحُ) بِاتِّفَاقِ الْأَصْحَابِ أَنَّهَا فَرْضٌ وَهُوَ الْمَنْصُوصُ فِي الْجَدِيدِ (وَالْقَدِيمُ) أَنَّهَا سُنَّةٌ مُسْتَحَبَّةٌ لَيْسَتْ بِفَرْضٍ

"(Yang sahih) dengan kesepakatan ulama mazhab adalah bahwa umrah itu fardhu, dan itulah yang dinyatakan dalam qaul jadid. (Qaul qadim) menyatakan umrah itu sunnah yang dianjurkan, bukan fardhu."

Ia lalu mencatat siapa saja yang sependapat: "وَبِهِ قَالَ عُمَرُ وَابْنُ عَبَّاسٍ وَابْنُ عُمَرَ وَجَابِرٌ" hingga "وَالثَّوْرِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَاقُ", sedangkan "وَقَالَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَأَبُو ثَوْرٍ هِيَ سُنَّةٌ لَيْسَتْ وَاجِبَةً", Mâlik, Abû Ḫanîfah, dan Abû Tsaur berkata: umrah itu sunnah, tidak wajib.

Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H) dalam Tuḫfat al-Muḫtâj menambahkan bahwa haji tidak mencukupi dari umrah, "لِأَنَّ كُلًّا أَصْلٌ قُصِدَ مِنْهُ مَا لَمْ يُقْصَدْ مِنْ الْآخَرِ", karena masing-masing adalah ibadah pokok yang memiliki tujuan yang tidak ada pada yang lain, dan keduanya "لَا يَجِبَانِ بِأَصْلِ الشَّرْعِ فِي الْعُمْرِ إلَّا مَرَّةً وَهُمَا عَلَى التَّرَاخِي", tidak wajib menurut asal syariat kecuali sekali seumur hidup, dan boleh ditunda.

Dalil mazhab Syafi’i. Ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj berdalil dengan ayat dan hadis:

(وَكَذَا الْعُمْرَةُ) فَرْضٌ (فِي الْأَظْهَرِ) لِقَوْلِهِ تَعَالَى ﴿وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ﴾ أَيْ ائْتُوا بِهِمَا تَامَّيْنِ، وَلِخَبَرِ «عَائِشَةَ قَالَتْ: قُلْت يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ؟ قَالَ: نَعَمْ جِهَادٌ لَا قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ» رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَالْبَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُمَا

"(Demikian pula umrah) fardhu (menurut pendapat yang lebih kuat), berdasarkan firman Allah: 'Sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah' (QS. al-Baqarah: 196), artinya kerjakanlah keduanya dengan sempurna; dan berdasarkan hadis ’Âisyah: Aku bertanya, wahai Rasulullah, apakah perempuan wajib berjihad? Beliau menjawab: Ya, jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya, yaitu haji dan umrah. Diriwayatkan Ibnu Mâjah, al-Baihaqî, dan lainnya."

Ibnu Ḫajar menambahkan hadis Abû Razîn, "لِلْخَبَرِ الصَّحِيحِ «حُجَّ عَنْ أَبِيك وَاعْتَمِرْ»", berdasarkan hadis sahih: Berhajilah untuk ayahmu dan berumrahlah. Adapun hadis Jâbir yang menyatakan umrah tidak wajib, an-Nawawî dalam al-Majmû’ menolak penilaian at-Tirmidzî: "فَقَدْ اتَّفَقَ الْحُفَّاظُ عَلَى أَنَّهُ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ", para hafiz telah sepakat bahwa hadis itu lemah, karena "مَدَارَهُ عَلَى الْحَجَّاجِ بْنِ أَرْطَاةَ", porosnya ada pada al-Ḫajjâj bin Arthâh.

Hanbali: wajib, menurut pendapat yang sahih

Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî menulis:

وَتَجِبُ الْعُمْرَةُ عَلَى مَنْ يَجِبُ عَلَيْهِ الْحَجُّ، فِي إحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ ... وَالرِّوَايَةُ الثَّانِيَةُ، لَيْسَتْ وَاجِبَةً

"Umrah wajib atas orang yang wajib haji, menurut salah satu dari dua riwayat ... Riwayat kedua: umrah tidak wajib."

Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menegaskan riwayat mana yang dipegang:

وَالصَّحِيحُ مِنْ الْمَذْهَبِ: أَنَّهَا تَجِبُ مُطْلَقًا، وَعَلَيْهِ جَمَاهِيرُ الْأَصْحَابِ

"Pendapat yang sahih dalam mazhab: umrah itu wajib secara mutlak, dan inilah pendapat mayoritas ulama mazhab."

Ia juga mencatat dua riwayat lain dari Aḫmad: "وَعَنْهُ أَنَّهَا سُنَّةٌ، اخْتَارَهُ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ", riwayat bahwa umrah itu sunnah, yang dipilih Ibnu Taimiyah; dan "وَعَنْهُ تَجِبُ عَلَى الْآفَاقِيِّ دُونَ الْمَكِّيِّ", riwayat bahwa umrah wajib bagi orang yang datang dari luar, bukan penduduk Makkah. Riwayat terakhir ini yang dipilih Ibnu Qudâmah dalam al-Mughnî.

Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ mengikuti pendapat mazhab: "(وَتَجِبُ) الْعُمْرَةُ (عَلَى الْمَكِّيِّ كَغَيْرِهِ)", umrah wajib atas penduduk Makkah seperti atas selainnya.

Dalil mazhab Hanbali. Ibnu Qudâmah berdalil dengan ayat al-Baqarah:

وَلَنَا، قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ﴾ . وَمُقْتَضَى الْأَمْرِ الْوُجُوبُ، ثُمَّ عَطَفَهَا عَلَى الْحَجِّ، وَالْأَصْلُ التَّسَاوِي بَيْنَ الْمَعْطُوفِ وَالْمَعْطُوفِ عَلَيْهِ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: إنَّهَا لَقَرِينَةُ الْحَجِّ فِي كِتَابِ اللَّهِ

"Dalil kami adalah firman Allah: 'Sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah.' Perintah menunjukkan wajib. Lalu umrah disambungkan dengan haji, dan pada asalnya dua hal yang disambungkan itu setara hukumnya. Ibnu ’Abbâs berkata: umrah benar-benar pasangan haji dalam Kitab Allah."

Ia juga berdalil dengan hadis Abû Razîn: "إنَّ أَبِي شَيْخٌ كَبِيرٌ، لَا يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ، وَلَا الْعُمْرَةَ، وَلَا الظَّعْنَ. قَالَ: حُجَّ عَنْ أَبِيك، وَاعْتَمِرْ", ayahku sudah tua renta, tidak mampu berhaji, berumrah, dan bepergian. Beliau bersabda: berhajilah untuk ayahmu dan berumrahlah, dan dengan atsar ash-Shubay bin Ma’bad yang berkata kepada ’Umar, "وَإِنِّي وَجَدْت الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ مَكْتُوبَيْنِ عَلَيَّ", aku dapati haji dan umrah diwajibkan atasku, lalu ’Umar membenarkannya. Al-Buhûtî menambahkan hadis ’Âisyah tentang "جِهَادٌ لَا قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ".

Tentang hadis Jâbir, Ibnu Qudâmah menukil penilaian asy-Syâfi’î melalui at-Tirmidzî: "هُوَ ضَعِيفٌ، لَا تَقُومُ بِمِثْلِهِ الْحُجَّةُ", hadis itu lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Mengapa berbeda?

Perbedaannya berpusat pada dua dalil:

  1. Ayat "وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ". Mazhab Syafi’i dan Hanbali membacanya sebagai perintah mengerjakan umrah, setara dengan haji. Mazhab Hanafi dan Maliki membacanya sebagai perintah menyempurnakan umrah yang sudah dimulai, dan menyebut qiraah rafa’ yang menjadikannya kalimat tersendiri.
  2. Hadis Jâbir dan hadis "umrah itu sukarela". Mazhab Hanafi dan Maliki berpegang padanya. Mazhab Syafi’i dan Hanbali menilainya lemah, lalu berpegang pada hadis ’Âisyah dan Abû Razîn.

Mazhab Hanafi punya kekhususan: ada perbedaan istilah antara fardhu dan wajib. Karena itu sebagian ulama Hanafi menyebut umrah wajib, sebagian sunnah muakkadah, dan al-Kâsânî menilai keduanya tidak bertentangan.

Ringkasnya

MazhabHukum umrah pertamaCatatan
HanafiSunnah muakkadahPendapat mazhab menurut ad-Durr al-Mukhtâr; al-Kâsânî menyebutnya wajib (di bawah fardhu)
MalikiSunnah muakkadahLebih kuat dari witir; Ibnu Ḫabîb dan Ibnu al-Jahm berpendapat fardhu
Syafi’iFardhuQaul jadid; qaul qadim: sunnah
HanbaliWajibPendapat yang sahih; ada riwayat sunnah dan riwayat wajib bagi selain penduduk Makkah

Pelajaran untuk kita

  1. Menurut mazhab Syafi’i yang banyak diikuti di Indonesia, umrah wajib sekali seumur hidup bagi yang mampu, dan kewajiban ini boleh ditunda. Haji tidak menggugurkan umrah, sehingga orang yang berhaji ifrâd tanpa umrah masih berkewajiban umrah.
  2. Haji tamattu’ dan qirân sudah mencakup umrah. Ibnu Qudâmah menyebut umrah tamattu’ mencukupi dari umrah wajib tanpa ada perbedaan yang ia ketahui, dan umrah qirân juga mencukupi menurut pendapat yang ia pilih. Jamaah haji Indonesia umumnya berhaji tamattu’.
  3. Menurut mazhab Hanafi dan Maliki, umrah tidak wajib, tetapi sangat ditekankan. Imam Mâlik berkata tidak ada seorang muslim pun yang memberi keringanan untuk meninggalkannya. Jadi, siapa pun yang mampu sebaiknya tidak meremehkannya.

Rujukan

  1. Al-Kâsânî (w. 587 H). Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ fî Tartîb asy-Syarâ’i’. Juz 2, hlm. 226–227, Fashl al-’Umrah. shamela.ws/book/8183/549, shamela.ws/book/8183/550
  2. Al-Marghînânî (w. 593 H), al-Hidâyah, dicetak bersama Ibnu al-Humâm (w. 861 H), Fatḫ al-Qadîr (cet. al-Ḫalabî). Juz 3, hlm. 139, Kitâb al-Ḫajj, Bâb al-Fawât. shamela.ws/book/21744/1189
  3. Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H). Radd al-Muḫtâr ’alâ ad-Durr al-Mukhtâr (cet. al-Ḫalabî). Juz 2, hlm. 472, Mathlab fî Aḫkâm al-’Umrah. shamela.ws/book/21613/1128
  4. Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H). Al-Kâfî fî Fiqh Ahl al-Madînah. Juz 1, hlm. 416, Bâb al-’Umrah. shamela.ws/book/7367/344
  5. Ad-Dardîr (w. 1201 H), asy-Syarḫ al-Kabîr, bersama Ḫâsyiyat ad-Dasûqî (w. 1230 H). Juz 2, hlm. 2, Bâb fî Aḫkâm al-Ḫajj wa al-’Umrah. shamela.ws/book/21604/552
  6. Al-Ḫaththâb (w. 954 H). Mawâhib al-Jalîl fî Syarḫ Mukhtashar Khalîl. Juz 2, hlm. 467, Bâb al-Ḫajj. shamela.ws/book/569/1017
  7. An-Nawawî (w. 676 H). Minhâj ath-Thâlibîn wa ’Umdat al-Muftîn. Hlm. 82, Kitâb al-Ḫajj. shamela.ws/book/12096/96
  8. Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 4, hlm. 4, Kitâb al-Ḫajj. shamela.ws/book/9059/1485
  9. Ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 3, hlm. 234, Kitâb al-Ḫajj. shamela.ws/book/3565/1282
  10. An-Nawawî (w. 676 H). Al-Majmû’ Syarḫ al-Muhadzdzab (cet. al-Munîriyyah). Juz 7, hlm. 4–7, Kitâb al-Ḫajj. shamela.ws/book/2186/3452, shamela.ws/book/2186/3454, shamela.ws/book/2186/3455
  11. Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 3, hlm. 218–220, fasal no. 2209 dan 2211. shamela.ws/book/8463/1177, shamela.ws/book/8463/1178
  12. Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 3, hlm. 387, Kitâb al-Manâsik. shamela.ws/book/21609/1450
  13. Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 2, hlm. 376, Kitâb al-Ḫajj. shamela.ws/book/21642/880
Bagikan ke WhatsApp
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Dosen & Pengajar Fiqih · Profil

Artikel lainnya

Muamalah

Khiyar Majelis: Masih Bisa Membatalkan Sebelum Berpisah?

Seorang pembeli sepakat membeli sepeda motor bekas di rumah penjualnya. Harga sudah disepakati, kata "jual" dan "beli" sudah diucapkan. Tetapi sebelum ia beranjak dari kursi, istrinya…

18 Oktober 2026 · 9 menit baca
Thaharah

Niat Wudhu: Syarat Sah atau Sekadar Sunnah?

Seseorang mandi di kolam renang atau berendam di sungai. Seluruh anggota wudhunya terkena air: wajah, tangan, kepala, dan kaki. Tetapi ia sama sekali tidak bermaksud berwudhu; ia hanya…

18 Oktober 2026 · 8 menit baca
Waris & Wasiat

Dzawil Arḫâm: Mendapat Warisan atau Diserahkan ke Baitul Mal?

Seorang lelaki tua wafat tanpa anak, tanpa istri, tanpa saudara, tanpa paman, dan tanpa sepupu dari pihak ayah. Kerabat yang tersisa hanyalah keponakan dari saudara perempuannya, cucu dari…

17 Oktober 2026 · 11 menit baca