← Semua artikel

Munakahat

Talak Tiga dalam Satu Ucapan: Jatuh Satu atau Tiga?

Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H. · 18 Oktober 2026 · 9 menit baca

Dalam pertengkaran yang memuncak, seorang suami berkata kepada istrinya, "Kamu saya talak tiga!" Esok harinya, setelah amarahnya reda, ia menyesal dan ingin rujuk. Seorang kawan berkata, "Tenang, talak tiga sekaligus itu dihitung satu." Kawan lain berkata, "Tidak bisa, istrimu sudah tidak halal sampai ia menikah dengan laki-laki lain."

Ada dua pertanyaan di sini. Pertama, apakah menjatuhkan tiga talak sekaligus itu dosa? Kedua, berapa talak yang jatuh? Untuk pertanyaan kedua, keempat mazhab memberi jawaban yang sama. Untuk pertanyaan pertama, mereka berbeda.

Hanafi: haram (bid’ah), tetapi jatuh tiga

Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah menulis:

(وَطَلَاقُ الْبِدْعَةِ أَنْ يُطَلِّقَهَا ثَلَاثًا بِكَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ أَوْ ثَلَاثًا فِي طُهْرٍ وَاحِدٍ، فَإِذَا فَعَلَ ذَلِكَ وَقَعَ الطَّلَاقُ وَكَانَ عَاصِيًا)

"(Talak bid’ah adalah menalak istri tiga sekaligus dalam satu ucapan, atau tiga kali dalam satu masa suci. Jika ia melakukannya, talak itu jatuh, dan ia berdosa.)"

Al-Kâsânî (w. 587 H) dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ menjelaskan bahwa talak bid’ah dari sisi jumlah adalah "إيقَاعُ الثَّلَاثِ أَوْ الثِّنْتَيْنِ فِي طُهْرٍ وَاحِدٍ لَا جِمَاعَ فِيهِ سَوَاءٌ كَانَ عَلَى الْجَمْعِ بِأَنْ أَوْقَعَ الثَّلَاثَ جُمْلَةً وَاحِدَةً أَوْ عَلَى التَّفَارِيقِ", menjatuhkan tiga atau dua talak dalam satu masa suci, baik sekaligus maupun satu per satu.

Tentang jumlah yang jatuh, Ibnu al-Humâm (w. 861 H) dalam Fatḫ al-Qadîr menyebut adanya pendapat bahwa yang jatuh hanya satu, lalu menegaskan: "وَذَهَبَ جُمْهُورُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ إلَى أَنَّهُ يَقَعُ ثَلَاثًا", mayoritas sahabat, tabi’in, dan para imam sesudah mereka berpendapat bahwa yang jatuh tiga. Ia bahkan berkata: "لَوْ حَكَمَ حَاكِمٌ بِأَنَّ الثَّلَاثَ بِفَمٍ وَاحِدٍ وَاحِدَةٌ لَمْ يَنْفُذْ حُكْمُهُ", jika seorang hakim memutuskan bahwa tiga talak dalam satu ucapan dihitung satu, putusannya tidak berlaku. Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H) menukil pernyataan ini dalam Radd al-Muḫtâr.

Dalil mazhab Hanafi. Al-Kâsânî berdalil bahwa menggabungkan talak itu terlarang dengan firman Allah:

وقَوْله تَعَالَى: ﴿الطَّلاقُ مَرَّتَانِ﴾ أَيْ دَفْعَتَانِ ... فَصَارَ كَأَنَّهُ ﷾ قَالَ طَلِّقُوهُنَّ مَرَّتَيْنِ إذَا أَرَدْتُمْ الطَّلَاقَ وَالْأَمْرُ بِالتَّفْرِيقِ نَهْيٌ عَنْ الْجَمْعِ

"Firman Allah: 'Talak itu dua kali' (QS. al-Baqarah: 229), artinya dua kali kesempatan yang terpisah ... Seakan-akan Allah berfirman: talaklah mereka dua kali jika kalian hendak menalak. Perintah untuk memisahkan adalah larangan untuk menggabungkan."

Ia juga menukil atsar ’Umar: "أَنَّهُ كَانَ لَا يُؤْتَى بِرَجُلٍ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ ثَلَاثًا إلَّا أَوْجَعَهُ ضَرْبًا وَأَجَازَ ذَلِكَ عَلَيْهِ", setiap kali didatangkan kepadanya lelaki yang menalak istrinya tiga sekaligus, ’Umar memukulnya dengan keras dan memberlakukan talak tiga itu atasnya, di hadapan para sahabat. Untuk jatuhnya tiga, Ibnu al-Humâm menukil riwayat Ibnu ’Umar: "«قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ لَوْ طَلَّقَهَا ثَلَاثًا؟ قَالَ: إذًا قَدْ عَصَيْتَ رَبَّكَ وَبَانَتْ مِنْكَ امْرَأَتُكَ»", aku bertanya: wahai Rasulullah, bagaimana jika aku menalaknya tiga? Beliau menjawab: kalau begitu engkau telah durhaka kepada Tuhanmu, dan istrimu telah lepas darimu.

Maliki: terlarang, tetapi jatuh tiga

Al-Mudawwanah menukil Imam Mâlik tentang orang yang menalak tiga istrinya yang sedang hamil dalam satu majelis: "قَالَ مَالِكٌ: يَلْزَمُهُ ذَلِكَ وَكَرِهَ لَهُ مَالِكٌ أَنْ يُطَلِّقَهَا هَذَا الطَّلَاقَ", Mâlik berkata: talak itu berlaku atasnya, dan Mâlik tidak menyukai ia menalak dengan cara itu.

Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H) dalam al-Kâfî menegaskan bahwa para fuqaha sepakat dalam hal ini:

ولم يختلف فقهاء الأمصار وأئمة الهدى فيمن طلق ثلاثا في طهر مس فيه أو لم يمس فيه أو في حيض أنه يلزمه طلاقه ولا تحل له امرأته بعد زوج

"Para fuqaha berbagai negeri dan para imam petunjuk tidak berselisih tentang orang yang menalak tiga, baik dalam masa suci yang ia campuri atau tidak, atau dalam masa haid, bahwa talaknya berlaku dan istrinya tidak halal baginya (kecuali) setelah menikah dengan suami lain."

Ia juga menyebut bahwa siapa yang "أوقع عليها ثلاث تطليقات مجتمعات لم يكن مطلقا للسنة عند مالك", menjatuhkan tiga talak sekaligus, tidak menalak sesuai sunnah menurut Mâlik.

Al-Ḫaththâb (w. 954 H) dalam Mawâhib al-Jalîl mencatat bahwa lafal al-Mudawwanah adalah makruh, tetapi ar-Rajrâjî berkata "مُرَادُهُ بِالْكَرَاهَةِ التَّحْرِيمُ", maksud makruh di situ adalah haram. Ia juga menukil dari al-Muqaddimât karya Ibnu Rusyd: "وَكَذَلِكَ لَا يَجُوزُ عِنْدَ مَالِكٍ أَنْ يُطَلِّقَهَا ثَلَاثًا فِي كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ فَإِنْ فَعَلَ لَزِمَهُ", menurut Mâlik tidak boleh menalak tiga dalam satu ucapan; jika ia melakukannya, talak itu berlaku.

Dalil mazhab Maliki. Al-Mudawwanah membawakan riwayat Sa’îd bin al-Musayyib tentang seorang lelaki dari Bani Aslam yang menalak istrinya tiga pada masa Nabi ﷺ, lalu istrinya datang kepada beliau:

فَقَالَتْ: إنَّ زَوْجِي طَلَّقَنِي ثَلَاثَ تَطْلِيقَاتٍ فِي كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: قَدْ بِنْتِ مِنْهُ وَلَا مِيرَاثَ بَيْنَكُمَا

"Ia berkata: suamiku menalakku tiga talak dalam satu ucapan. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: engkau telah lepas darinya, dan tidak ada lagi saling mewarisi di antara kalian."

Al-Mudawwanah juga menukil atsar Ibnu ’Umar tentang lelaki yang menalak istrinya tiga dalam satu majelis: "عَصَى رَبَّهُ وَخَالَفَ السُّنَّةَ وَذَهَبَتْ امْرَأَتُهُ", ia durhaka kepada Tuhannya, menyalahi sunnah, dan istrinya lepas darinya. Ibnu ’Abd al-Barr menambahkan alasan logis: "وليس الطلاق من القربات التي لا تقع إلا على سنتها", talak bukan ibadah yang hanya sah jika sesuai sunnah, sehingga talak yang menyalahi sunnah pun tetap berlaku.

Syafi’i: tidak haram, dan jatuh tiga

Mazhab Syafi’i berbeda dalam soal dosanya. An-Nawawî (w. 676 H) dalam Minhâj ath-Thâlibîn menulis singkat: "ولا يحرم جمع الطلقات", menggabungkan talak tidak haram. Al-Kâsânî dalam Badâ’i’ juga menukil asy-Syâfi’î: "لَا أَعْرِفُ فِي عَدَدِ الطَّلَاقِ سُنَّةً وَلَا بِدْعَةً بَلْ هُوَ مُبَاحٌ", aku tidak mengenal sunnah atau bid’ah dalam jumlah talak; itu mubah.

Tentang jumlah yang jatuh, Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H) dalam Tuḫfat al-Muḫtâj menegaskan:

أَمَّا وُقُوعُهُنَّ مُعَلَّقَةً كَانَتْ أَوْ مُنَجَّزَةً فَلَا خِلَافَ فِيهِ يُعْتَدُّ بِهِ، وَقَدْ شَنَّعَ أَئِمَّةُ الْمَذَاهِبِ عَلَى مَنْ خَالَفَ فِيهِ

"Adapun jatuhnya ketiga talak itu, baik digantungkan pada syarat maupun langsung, tidak ada perbedaan pendapat yang patut diperhitungkan. Para imam mazhab mengecam keras orang yang menyelisihinya."

Ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj menambahkan bahwa walaupun tidak haram, "فَالْأَوْلَى تَفْرِيقُهَا عَلَى الْأَقْرَاءِ أَوْ الْأَشْهُرِ لِيُمْكِنَ تَدَارُكُ نَدَمِهِ إنْ وَقَعَ بِرَجْعَةٍ أَوْ تَجْدِيدٍ", yang lebih utama adalah memisahkannya pada masa suci atau bulan yang berbeda, agar penyesalan masih bisa diperbaiki dengan rujuk atau akad baru.

Dalil mazhab Syafi’i. Ar-Ramlî berdalil dengan kisah li’an ’Uwaimir al-’Ajlânî:

«لِأَنَّ عُوَيْمِرًا الْعَجْلَانَيَّ لَمَّا لَاعَنَ امْرَأَتَهُ طَلَّقَهَا ثَلَاثًا قَبْلَ أَنْ يُخْبِرَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِحُرْمَتِهَا عَلَيْهِ» . رَوَاهُ الشَّيْخَانِ، فَلَوْ حُرِّمَ لَنَهَاهُ عَنْهُ

"Karena ’Uwaimir al-’Ajlânî, ketika meli’an istrinya, menalaknya tiga sebelum Rasulullah ﷺ memberitahunya bahwa istrinya haram baginya (diriwayatkan al-Bukhârî dan Muslim). Seandainya hal itu haram, tentu beliau melarangnya."

Tentang riwayat Ibnu ’Abbâs dalam Shaḫîḫ Muslim bahwa talak tiga pada masa Nabi ﷺ, Abû Bakr, dan awal kekhalifahan ’Umar dihitung satu, Ibnu Ḫajar menukil jawaban yang dinilai an-Nawawî dan as-Subkî sebagai jawaban terbaik: riwayat itu "فِيمَنْ يُفَرِّقُ اللَّفْظَ فَكَانُوا أَوَّلًا يُصَدَّقُونَ فِي إرَادَةِ التَّأْكِيدِ لِدِيَانَتِهِمْ", tentang orang yang mengulang lafal talak (misalnya "kamu tertalak, kamu tertalak, kamu tertalak"), yang dahulu dipercaya jika mengaku hanya bermaksud menegaskan, karena keagamaan mereka. Ibnu Ḫajar sendiri tidak puas dengan jawaban itu dan mengajukan jawaban lain.

Hanbali: haram menurut pendapat mazhab, dan jatuh tiga

Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî mencatat dua riwayat dari Imam Aḫmad tentang hukum menggabungkan tiga talak: "فَرُوِيَ عَنْهُ أَنَّهُ غَيْرُ مُحَرَّمٍ. اخْتَارَهُ الْخِرَقِيِّ ... وَالرِّوَايَةُ الثَّانِيَةُ، أَنَّ جَمْعَ الثَّلَاثِ طَلَاقُ بِدْعَةٍ، مُحَرَّمٌ", satu riwayat menyatakan tidak haram, dipilih al-Khiraqî; riwayat kedua menyatakan menggabungkan tiga talak adalah talak bid’ah yang haram.

Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menegaskan riwayat yang dipegang: "إحْدَاهُمَا: يَحْرُمُ. وَهُوَ الْمَذْهَبُ ... وَعَلَيْهِ جَمَاهِيرُ الْأَصْحَابِ", salah satunya: haram, dan itulah pendapat mazhab serta mayoritas ulama mazhab. Tentang jumlah yang jatuh:

وَإِنْ طَلَّقَهَا ثَلَاثًا مَجْمُوعَةً قَبْلَ رَجْعَةٍ وَاحِدَةٍ: طَلُقَتْ ثَلَاثًا، وَإِنْ لَمْ يَنْوِهَا. عَلَى الصَّحِيحِ مِنْ الْمَذْهَبِ. نَصَّ عَلَيْهِ مِرَارًا. وَعَلَيْهِ الْأَصْحَابُ، بَلْ الْأَئِمَّةُ الْأَرْبَعَةُ وَأَصْحَابُهُمْ فِي الْجُمْلَةِ

"Jika ia menalaknya tiga sekaligus sebelum ada rujuk, istrinya tertalak tiga, walaupun ia tidak berniat tiga. Ini pendapat yang sahih dalam mazhab, dinyatakan Aḫmad berkali-kali, dan dipegang ulama mazhab, bahkan keempat imam dan murid-murid mereka secara umum."

Al-Mardâwî lalu mencatat bahwa Ibnu Taimiyah (asy-Syaikh Taqiyyuddîn) berpendapat lain: "وَأَوْقَعَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ ... مِنْ ثَلَاثٍ مَجْمُوعَةٍ، أَوْ مُتَفَرِّقَةٍ، قَبْلَ رَجْعَةٍ: طَلْقَةً وَاحِدَةً", Ibnu Taimiyah memberlakukan tiga talak yang digabung, atau yang dipisah sebelum rujuk, sebagai satu talak. Pendapat ini juga dipilih muridnya, Ibnu al-Qayyim. Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ tetap berpegang pada pendapat mazhab: "(ثَلَاثًا بِكَلِمَةٍ) حُرِّمَتْ نَصًّا وَوَقَعَتْ", talak tiga dalam satu ucapan haram menurut nas Aḫmad, dan jatuh.

Dalil mazhab Hanbali. Ibnu Qudâmah berdalil dengan ayat-ayat dalam surat ath-Thalâq:

وَوَجْهُ ذَلِكَ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى ﴿يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ﴾ إلَى قَوْلِهِ ﴿لا تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا﴾ . ثُمَّ قَالَ بَعْدَ ذَلِكَ ﴿وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا﴾ ... وَمَنْ جَمَعَ الثَّلَاثَ لَمْ يَبْقَ لَهُ أَمْرٌ يَحْدُثُ، وَلَا يَجْعَلُ اللَّهُ لَهُ مَخْرَجًا

"Dasarnya adalah firman Allah: 'Wahai Nabi, apabila kalian menceraikan istri-istri kalian, ceraikanlah mereka pada waktu mereka dapat menjalani idahnya' hingga 'Engkau tidak mengetahui, barangkali setelah itu Allah mengadakan suatu ketentuan yang baru' (QS. ath-Thalâq: 1), lalu 'Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar' (QS. ath-Thalâq: 2). Siapa yang menggabungkan tiga talak, tidak tersisa lagi baginya ketentuan baru, dan Allah tidak memberinya jalan keluar."

Ia juga menukil hadis riwayat an-Nasâ’î dari Maḫmûd bin Labîd: ketika Nabi ﷺ diberi tahu ada lelaki yang menalak istrinya tiga sekaligus, beliau marah dan bersabda "«أَيُلْعَبُ بِكِتَابِ اللَّهِ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟»", apakah Kitab Allah hendak dipermainkan, padahal aku masih berada di tengah-tengah kalian? Untuk jatuhnya tiga, ia berdalil bahwa "النِّكَاحَ مِلْكٌ يَصِحُّ إزَالَتُهُ مُتَفَرِّقًا، فَصَحَّ مُجْتَمِعًا، كَسَائِرِ الْأَمْلَاكِ", nikah adalah kepemilikan yang sah dilepas secara terpisah, maka sah pula dilepas sekaligus, seperti kepemilikan lainnya. Tentang riwayat Ibnu ’Abbâs dari jalur Thâwus, ia menukil jawaban Imam Aḫmad: "أَدْفَعُهُ بِرِوَايَةِ النَّاسِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ مِنْ وُجُوهٍ خِلَافَهُ", aku menolaknya dengan riwayat banyak orang dari Ibnu ’Abbâs melalui berbagai jalur yang menyelisihinya.

Mengapa berbeda?

  1. Tentang dosanya. Mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali (pendapat mazhab) memahami ayat "الطَّلاقُ مَرَّتَانِ" dan surat ath-Thalâq sebagai perintah memisahkan talak, sehingga menggabungkannya terlarang. Mazhab Syafi’i berpegang pada kisah ’Uwaimir yang menalak tiga di hadapan Nabi ﷺ tanpa diingkari.
  2. Tentang jumlah yang jatuh. Keempat mazhab sepakat jatuh tiga, berdasarkan keputusan ’Umar yang tidak diingkari para sahabat dan fatwa para sahabat sesudahnya. Riwayat Ibnu ’Abbâs dalam Shaḫîḫ Muslim dijawab dengan berbagai cara. Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Qayyim mengambil riwayat itu secara zahir dan memberlakukannya sebagai satu talak.

Ringkasnya

MazhabHukum menjatuhkan tiga sekaligusJumlah yang jatuh
HanafiHaram (talak bid’ah), pelakunya berdosaTiga
MalikiTerlarang (lafal al-Mudawwanah: makruh, dimaknai haram)Tiga
Syafi’iTidak haram, tetapi lebih utama dipisahTiga
HanbaliHaram menurut pendapat mazhab; ada riwayat tidak haramTiga (Ibnu Taimiyah: satu)

Pelajaran untuk kita

  1. Menurut keempat mazhab, talak tiga dalam satu ucapan jatuh tiga. Istri tidak halal lagi bagi suaminya sampai ia menikah dengan laki-laki lain. Pendapat bahwa yang jatuh hanya satu adalah pendapat Ibnu Taimiyah dan Ibnu al-Qayyim, di luar pendapat resmi keempat mazhab.
  2. Tiga mazhab memandang perbuatan itu dosa. Bahkan menurut mazhab Syafi’i yang tidak mengharamkannya, memisahkan talak tetap lebih utama.
  3. Cara yang dianjurkan adalah satu talak, lalu dibiarkan sampai idah selesai. Ibnu Qudâmah menyebut "وَلَا خِلَافَ بَيْنَ الْجَمِيعِ فِي أَنَّ الِاخْتِيَارَ وَالْأَوْلَى أَنْ يُطَلِّقَ وَاحِدَةً، ثُمَّ يَدَعَهَا حَتَّى تَنْقَضِيَ عِدَّتُهَا", tidak ada perbedaan bahwa yang terbaik adalah menalak satu kali lalu membiarkannya sampai idahnya habis. Dengan begitu, jika menyesal, ia masih bisa rujuk atau menikahinya kembali.

Rujukan

  1. Al-Kâsânî (w. 587 H). Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ fî Tartîb asy-Syarâ’i’. Juz 3, hlm. 94–95, Fashl fî Thalâq al-Bid’ah. shamela.ws/book/8183/756, shamela.ws/book/8183/757
  2. Al-Marghînânî (w. 593 H), al-Hidâyah, dicetak bersama Ibnu al-Humâm (w. 861 H), Fatḫ al-Qadîr (cet. al-Ḫalabî). Juz 3, hlm. 468–470, Bâb Thalâq as-Sunnah. shamela.ws/book/21744/1518, shamela.ws/book/21744/1519, shamela.ws/book/21744/1520
  3. Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H). Radd al-Muḫtâr ’alâ ad-Durr al-Mukhtâr (cet. al-Ḫalabî). Juz 3, hlm. 233, Kitâb ath-Thalâq. shamela.ws/book/21613/1515
  4. Mâlik bin Anas (w. 179 H), riwayat Saḫnûn. Al-Mudawwanah. Juz 2, hlm. 4–5, Kitâb Thalâq as-Sunnah. shamela.ws/book/587/507, shamela.ws/book/587/508
  5. Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H). Al-Kâfî fî Fiqh Ahl al-Madînah. Juz 2, hlm. 572–573, Bâb Ḫukm ath-Thalâq wa Sunnatih. shamela.ws/book/7367/518, shamela.ws/book/7367/519
  6. Al-Ḫaththâb (w. 954 H). Mawâhib al-Jalîl fî Syarḫ Mukhtashar Khalîl. Juz 4, hlm. 39, Fashl fî Thalâq as-Sunnah. shamela.ws/book/569/1688
  7. An-Nawawî (w. 676 H). Minhâj ath-Thâlibîn wa ’Umdat al-Muftîn. Hlm. 236, Kitâb ath-Thalâq. shamela.ws/book/12096/265
  8. Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 8, hlm. 82–83, Fashl fî Bayân ath-Thalâq as-Sunnî wa al-Bid’î. shamela.ws/book/9059/3432, shamela.ws/book/9059/3433
  9. Ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 7, hlm. 8, Fashl fî Bayân ath-Thalâq as-Sunnî wa al-Bid’î. shamela.ws/book/3565/2960
  10. Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 7, hlm. 368–370, masalah no. 5819 dan fasal no. 5820. shamela.ws/book/8463/3178, shamela.ws/book/8463/3179, shamela.ws/book/8463/3180
  11. Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 8, hlm. 451–454, Bâb Sunnat ath-Thalâq wa Bid’atih. shamela.ws/book/21609/3994, shamela.ws/book/21609/3996, shamela.ws/book/21609/3997
  12. Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 5, hlm. 240–241, Bâb Sunnat ath-Thalâq wa Bid’atih. shamela.ws/book/21642/2406, shamela.ws/book/21642/2407
Bagikan ke WhatsApp
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Dosen & Pengajar Fiqih · Profil

Artikel lainnya

Puasa

Ibu Hamil dan Menyusui yang Tidak Berpuasa: Qadha, Fidyah, atau Keduanya?

Seorang ibu sedang menyusui bayinya yang berusia lima bulan ketika Ramadhan tiba. Dokter menyarankan agar ia tidak berpuasa dulu, karena ASI-nya berkurang dan berat badan bayinya tidak…

18 Oktober 2026 · 8 menit baca
Shalat

Shalat Witir: Wajib atau Sunnah, dan Berapa Rakaat?

Selepas tarawih di sebuah masjid, imam mengerjakan witir tiga rakaat dengan satu salam. Seorang jamaah yang biasa shalat di masjid lain bertanya-tanya, karena di masjidnya witir dikerjakan…

18 Oktober 2026 · 9 menit baca
Haji & Umrah

Umrah: Wajib Seperti Haji atau Hanya Sunnah?

Seorang bapak sudah menunaikan haji bertahun-tahun lalu. Waktu itu ia berhaji ifrâd, tanpa umrah, karena ikut rombongan yang langsung berangkat ke Arafah. Kini anaknya bertanya: "Pak, kata…

18 Oktober 2026 · 9 menit baca