← Semua artikel

Munakahat

Talak Saat Istri Haid: Jatuh atau Tidak?

Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H. · 21 Oktober 2026 · 8 menit baca

Seorang suami bertengkar hebat dengan istrinya, lalu mengucapkan "Kamu saya talak." Belakangan ia menyesal dan baru tahu bahwa saat itu istrinya sedang haid. Ia bertanya: apakah talak yang diucapkan pada waktu terlarang itu tetap jatuh, atau dianggap tidak ada?

Para ulama sepakat bahwa menalak istri yang sudah digauli ketika ia haid hukumnya haram dan termasuk talak bid’ah. Mereka berbeda tentang akibatnya: apakah talak itu jatuh walaupun pelakunya berdosa, atau tidak jatuh sama sekali.

Peta pendapat

Pendapat pertama: talak jatuh, dan pelakunya berdosa. Inilah pendapat keempat mazhab dan jumhur ulama.

Dalam mazhab Hanafi, al-Marghînânî (w. 593 H) menulis dalam al-Hidâyah:

"وإذا طلق الرجل امرأته في حالة الحيض وقع الطلاق" لأن النهي عنه لمعنى في غيره وهو ما ذكرناه فلا ينعدم مشروعيته "ويستحب له أن يراجعها" ... ثم الاستحباب قول بعض المشايخ والأصح أنه واجب

"(Jika seorang laki-laki menalak istrinya dalam keadaan haid, talaknya jatuh,) karena larangan itu disebabkan sesuatu di luar talak itu sendiri, yaitu yang telah kami sebutkan, sehingga keabsahannya tidak hilang. (Ia dianjurkan merujuknya) ... Pendapat 'dianjurkan' adalah pendapat sebagian masyayikh, sedangkan yang lebih sahih: rujuk itu wajib."1

Dalam mazhab Maliki, al-Mudawwanah menukil Imam Mâlik: "مَنْ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ وَهِيَ نُفَسَاءُ أَوْ حَائِضٌ أُجْبِرَ عَلَى رَجْعَتِهَا", siapa yang menalak istrinya ketika nifas atau haid dipaksa merujuknya. Talak itu tetap dihitung: "وَيَحْسُبُ عَلَيْهَا مَا طَلَّقَهَا فِي دَمِ النِّفَاسِ أَوْ فِي دَمِ الْحَيْضِ".2 Al-Khurasyî (w. 1101 H) menjelaskan bahwa jika suami menolak rujuk, hakim mengancamnya dengan penjara, lalu memenjarakannya, lalu mengancam dengan pukulan, lalu memukulnya, "فَإِنْ تَمَادَى أَلْزَمَهُ الرَّجْعَةَ وَيَرْتَجِعُهَا لَهُ بِأَنْ يَقُولَ: ارْتَجَعْتُ لَك زَوْجَتَك", jika ia tetap menolak, hakim menetapkan rujuk itu dan merujukkan untuknya dengan berkata "aku merujukkan istrimu untukmu".3

Dalam mazhab Syafi’i, al-Minhâj dan syarahnya menegaskan "(وَيَحْرُمُ الْبِدْعِيُّ)", talak bid’ah haram.4 Ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj menulis: "(وَمَنْ) (طَلَّقَ بِدْعِيًّا) وَلَمْ يَسْتَوْفِ عَدَدَ طَلَاقِهَا (سُنَّ لَهُ) ... (الرَّجْعَةُ) بَلْ يُكْرَهُ تَرْكُهَا", siapa yang menalak secara bid’ah dan belum menghabiskan jumlah talaknya, disunnahkan merujuk, bahkan makruh meninggalkannya.5 An-Nawawî (w. 676 H) dalam Syarḫ Shaḫîḫ Muslim menulis:

أَجْمَعَتِ الْأُمَّةُ عَلَى تَحْرِيمِ طَلَاقِ الْحَائِضِ الْحَائِلِ بِغَيْرِ رِضَاهَا فَلَوْ طَلَّقَهَا أَثِمَ وَوَقَعَ طَلَاقُهُ ويؤمر بالرجعة لحديث بن عُمَرَ الْمَذْكُورِ فِي الْبَابِ وَشَذَّ بَعْضُ أَهْلِ الظَّاهِرِ فَقَالَ لَا يَقَعُ

"Umat sepakat tentang haramnya menalak perempuan haid yang tidak hamil tanpa kerelaannya. Jika ia menalaknya, ia berdosa dan talaknya jatuh, dan ia diperintahkan merujuk, berdasarkan hadis Ibnu ’Umar dalam bab ini. Sebagian ahli zhahir menyendiri dengan berkata: tidak jatuh."6

Dalam mazhab Hanbali, al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menulis: "الصَّحِيحُ مِنْ الْمَذْهَبِ: أَنَّ طَلَاقَهَا فِي حَيْضِهَا أَوْ طُهْرٍ أَصَابَهَا فِيهِ: مُحَرَّمٌ، وَيَقَعُ. نَصَّ عَلَيْهِمَا. وَعَلَيْهِ الْأَصْحَابُ", pendapat yang sahih dalam mazhab: menalaknya ketika haid atau dalam masa suci yang telah digauli itu haram dan jatuh; Aḫmad menegaskan keduanya, dan para ulama mazhab memegangnya.7 Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ menukil: "قَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ وَابْنُ عَبْدَ الْبَرِّ لَمْ يُخَالِفْ فِي ذَلِكَ إلَّا أَهْلُ الْبِدَعِ وَالضَّلَال", Ibnu al-Mundzir dan Ibnu ’Abd al-Barr berkata: tidak ada yang menyelisihi hal ini kecuali ahli bid’ah dan kesesatan.8 Menurut mazhab Hanbali, rujuknya sunnah.

Pendapat kedua: talak itu tidak jatuh. Pendapat ini dipegang Ibnu Ḫazm (w. 456 H) dari mazhab Zhahiri, dinukil dari Ibnu ’Umar, Thâwus, dan Khilâs bin ’Amr, lalu dipilih Ibnu Taimiyyah (w. 728 H), Ibnu al-Qayyim (w. 751 H), dan asy-Syaukânî (w. 1250 H).

Ibnu Ḫazm dalam al-Muḫallâ menulis:

فَإِنْ طَلَّقَهَا طَلْقَةً أَوْ طَلْقَتَيْنِ فِي طُهْرٍ وَطِئَهَا فِيهِ، أَوْ فِي حَيْضَتِهَا: لَمْ يَنْفُذْ ذَلِكَ الطَّلَاقُ وَهِيَ امْرَأَتُهُ كَمَا كَانَتْ، إلَّا أَنْ يُطَلِّقَهَا كَذَلِكَ ثَالِثَةً أَوْ ثَلَاثَةً مَجْمُوعَةً فَيَلْزَمُ

"Jika ia menalaknya sekali atau dua kali dalam masa suci yang telah ia gauli, atau ketika haidnya, talak itu tidak berlaku dan perempuan itu tetap istrinya seperti semula, kecuali jika ia menalaknya demikian untuk ketiga kalinya atau tiga sekaligus, maka talak itu berlaku."9

Ibnu Ḫazm menukil atsar dari Ibnu ’Umar tentang orang yang menalak istrinya ketika haid: "لَا يُعْتَدُّ لِذَلِكَ", talak itu tidak dihitung, dan dari Thâwus "أَنَّهُ كَانَ لَا يَرَى طَلَاقًا مَا خَالَفَ وَجْهَ الطَّلَاقِ، وَوَجْهَ الْعِدَّةِ", ia tidak menganggap sebagai talak apa yang menyalahi cara talak dan cara iddah.10 Dari Khilâs bin ’Amr: "لَا يُعْتَدُّ بِهَا".11

Dalam mazhab Hanbali sendiri, al-Inshâf mencatat: "وَقَالَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ، وَتِلْمِيذُهُ ابْنُ الْقَيِّمِ رَحِمَهُمَا اللَّهُ: لَا يَقَعُ الطَّلَاقُ فِيهِمَا. قَالَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ: اخْتَارَ طَائِفَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ رحمه الله: عَدَمَ الْوُقُوعِ فِي الطَّلَاقِ الْمُحَرَّمِ", Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnu al-Qayyim berkata talak itu tidak jatuh; Ibnu Taimiyyah berkata sekelompok ulama mazhab Aḫmad memilih tidak jatuhnya talak yang haram.12 Ibnu al-Qayyim dalam Zâd al-Ma’âd menolak klaim ijma’: "فَإِنَّ الْخِلَافَ فِي وُقُوعِ الطَّلَاقِ الْمُحَرَّمِ لَمْ يَزَلْ ثَابِتًا بَيْنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ، وَقَدْ وَهِمَ مَنِ ادَّعَى الْإِجْمَاعَ عَلَى وُقُوعِهِ", perbedaan pendapat tentang jatuhnya talak yang haram selalu ada di kalangan salaf dan khalaf, dan keliru orang yang mengklaim ijma’ bahwa talak itu jatuh.13

Asy-Syaukânî dalam Nail al-Authâr, setelah menimbang riwayat-riwayat, menulis: "ولا شكّ أن رواية عدم الاعتداد بتلك الطلقة أرجح من رواية الاعتداد المتقدمة", tidak diragukan bahwa riwayat yang tidak menghitung talak itu lebih kuat daripada riwayat yang menghitungnya. Ia juga menyebut kemungkinan menggabungkan kedua riwayat dengan penafsiran Ibnu ’Abd al-Barr: "ويمكن أن يجمع بما ذكره ابن عبد البرّ ومن معه".14

Dalil masing-masing pendapat

Dalil pendapat pertama.

  1. Perintah rujuk dalam hadis Ibnu ’Umar. Al-Buhûtî berdalil "لِأَنَّهُ ﷺ أَمَرَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ بِالْمُرَاجَعَةِ وَهِيَ لَا تَكُونُ إلَّا بَعْدَ وُقُوعِ الطَّلَاقِ", karena Nabi ﷺ memerintahkan Ibnu ’Umar merujuk, dan rujuk hanya ada setelah talak jatuh. Ia menambahkan riwayat Nâfi’: "وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ طَلَّقَهَا تَطْلِيقَةً فَحُسِبَتْ مِنْ طَلَاقِهِ", Ibnu ’Umar menalaknya sekali, lalu talak itu dihitung sebagai talaknya.15
  2. Riwayat bahwa talak itu dihitung satu. Asy-Syaukânî menukil riwayat ad-Dâraquthnî bahwa Nabi ﷺ bersabda "هي واحدة", dan Ibnu Ḫajar berkata "وهذا نصُّ في محل النزاع يجب المصير إليه", ini nas pada titik sengketa yang wajib diikuti.16 Juga riwayat ad-Dâraquthnî bahwa ’Umar bertanya "يا رسول الله أفتحتسب بتلك التطليقة؟ قال: نعم", wahai Rasulullah, apakah talak itu dihitung? Beliau menjawab: ya.17
  3. Larangan tidak menghapus keabsahan. Al-Marghînânî beralasan larangan itu karena sesuatu di luar talak (memperpanjang iddah), sehingga keabsahannya tetap, seperti telah dikutip. Al-Buhûtî menambahkan qiyas: "وَلِأَنَّهُ طَلَاقٌ مِنْ مُكَلَّفٍ فِي مَحَلِّهِ فَوَقَعَ كَطَلَاقِ الْحَامِلِ وَلِأَنَّهُ لَيْسَ بِقُرْبَةٍ فَيُعْتَبَرُ لِوُقُوعِهِ مُوَافَقَةَ السُّنَّةِ بَلْ هُوَ إزَالَةُ عِصْمَةٍ وَقَطْعُ مِلْكٍ فَإِيقَاعُهُ فِي زَمَنِ الْبِدْعَةِ أَوْلَى تَغْلِيظًا عَلَيْهِ وَعُقُوبَةً لَهُ", karena talak itu dilakukan orang mukallaf pada tempatnya sehingga jatuh seperti talak perempuan hamil; talak bukan ibadah yang jatuhnya disyaratkan sesuai sunnah, melainkan pemutusan ikatan, sehingga menjatuhkannya pada waktu bid’ah lebih layak sebagai pemberatan dan hukuman baginya.18

Dalil pendapat kedua.

  1. Riwayat Abû az-Zubair: "ولم يرها شيئا". Asy-Syaukânî membawakan riwayat Abû Dâwud dari Ibnu ’Umar: "قال عبد الله: فردّها عليّ ولم يرها شيئًا", Nabi ﷺ mengembalikannya kepadaku dan tidak menganggapnya sebagai apa pun, lalu menukil Ibnu Ḫajar: "وإسناد هذه الزيادة على شرط الصحيح", sanad tambahan ini sesuai syarat kitab sahih.19
  2. Atsar Ibnu ’Umar sendiri. Asy-Syaukânî menyebut riwayat Ibnu Ḫazm dari Ibnu ’Umar "لا يعتدّ بذلك" dan berkata "وهذا إسناد صحيح".20
  3. Bid’ah tidak bisa diberlakukan. Ibnu Ḫazm berkata jumhur sendiri mengakui talak itu bid’ah yang dilarang, "فَكَيْفَ يَسْتَجِيزُونَ الْحُكْمَ بِتَجْوِيزِ الْبِدْعَةِ الَّتِي يُقِرُّونَ أَنَّهَا بِدْعَةٌ وَضَلَالَةٌ؟", bagaimana mereka membolehkan pemberlakuan bid’ah yang mereka akui sebagai bid’ah dan kesesatan?21
  4. Makna rujuk. Asy-Syaukânî menukil jawaban Ibnu al-Qayyim bahwa kata rujuk dalam sabda Nabi ﷺ dipakai untuk tiga makna, salah satunya "إلى الحالة الأولى التي كانت عليها أولًا", mengembalikan kepada keadaan semula, sehingga perintah rujuk tidak memastikan talak telah jatuh.22

Jawaban atas dalil-dalil itu.

  1. Tentang riwayat Abû az-Zubair, Abû Dâwud berkata "روي هذا الحديث عن ابن عمر جماعة وأحاديثهم على خلاف ما قال أبو الزبير", dan Ibnu ’Abd al-Barr menyebutnya "منكر، لم يقله غير أبي الزبير"; seandainya sahih, maknanya "ولم يرها شيئًا مستقيمًا لكونها لم تكن على السنة", tidak menganggapnya lurus karena tidak sesuai sunnah.23 Asy-Syaukânî menjawab: "بأنَّ أبا الزبير غير مدفوعٍ في الحفظ والعدالة، وإنما يخشى من تدليسه، فإذا قال: سمعت أو حدثني زال ذلك، وقد صرَّح هنا بالسماع", hafalan dan keadilan Abû az-Zubair tidak diragukan; yang dikhawatirkan hanya tadlisnya, dan di sini ia menegaskan mendengar langsung.24
  2. Tentang riwayat "dihitung", Ibnu Ḫazm menjawab bahwa Ibnu ’Umar tidak menyebut siapa yang menghitungnya. Ibnu Ḫajar membantah: "كان احتمال أن يكون الذي حسبها عليه غير النبيّ ﷺ بعيدًا جدًّا", kemungkinan yang menghitungnya bukan Nabi ﷺ sangat jauh.25
  3. Tentang makna rujuk, ada riwayat ad-Dâraquthnî bahwa Ibnu ’Umar memahaminya sebagai rujuk setelah talak: "إنه أمر ابن عمر أن يراجعها بطلاق بقي له". Asy-Syaukânî menanggapi: "لأن مجرّد فهم ابن عمر لا يكون حجة", pemahaman Ibnu ’Umar semata bukan hujah.26

Mengapa berbeda?

  1. Apakah larangan membatalkan perbuatan? Jumhur memandang larangan itu karena sebab di luar talak, sehingga talak tetap sah walaupun berdosa. Ibnu Ḫazm memandang talak bid’ah tidak sesuai perintah Allah sehingga tidak berlaku.
  2. Riwayat hadis Ibnu ’Umar yang berbeda. Ada riwayat "dihitung satu talak" dan riwayat "tidak menganggapnya apa pun". Jumhur menguatkan yang pertama; asy-Syaukânî menguatkan yang kedua.
  3. Makna kata rujuk. Jumhur memahaminya sebagai rujuk setelah talak; Ibnu al-Qayyim memahaminya sebagai pengembalian kepada keadaan semula.

Ringkasnya

PendapatPemegangDalil utamaAkibat
Talak jatuh, pelaku berdosaHanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali (riwayat sahih), jumhurPerintah rujuk; riwayat "dihitung satu"; larangan karena sebab di luar talakRujuk wajib (Hanafi, al-asḫaḫ), dipaksa (Maliki), sunnah (Syafi’i, Hanbali)
Talak tidak jatuhIbnu Ḫazm; atsar Ibnu ’Umar, Thâwus, Khilâs; Ibnu Taimiyyah, Ibnu al-Qayyim; asy-SyaukânîRiwayat "tidak menganggapnya apa pun"; talak bid’ah tidak berlakuIstri tetap seperti semula; menurut Ibnu Ḫazm talak ketiga tetap jatuh

Pelajaran untuk kita

  1. Menalak istri saat haid haram menurut semua pendapat. Yang diperselisihkan hanya apakah talak itu jatuh.
  2. Menurut keempat mazhab, talak saat haid tetap jatuh dan dihitung. Suami diperintahkan merujuk: wajib menurut Hanafi, dipaksa oleh hakim menurut Maliki, dan sunnah menurut Syafi’i dan Hanbali.
  3. Pendapat yang tidak menjatuhkannya punya dasar riwayat dan dipegang ulama besar. Ibnu Ḫazm, Ibnu Taimiyyah, Ibnu al-Qayyim, dan asy-Syaukânî memegangnya, dan Ibnu al-Qayyim menolak klaim ijma’ atasnya.
  4. Jika talak sudah terucap saat haid, menurut keempat mazhab jalannya adalah rujuk, lalu menahan istri sampai suci, haid, dan suci lagi sebelum memutuskan, sebagaimana dalam hadis Ibnu ’Umar.

Catatan Kaki

  1. Al-Marghînânî (w. 593 H). Al-Hidâyah fî Syarḫ Bidâyat al-Mubtadî. Juz 1, hlm. 223, Kitâb ath-Thalâq, Bâb Thalâq as-Sunnah. shamela.ws/book/11820/301 ↑
  2. Saḫnûn (w. 240 H), riwayat dari Mâlik bin Anas (w. 179 H). Al-Mudawwanah. Juz 2, hlm. 6, Kitâb Thalâq as-Sunnah, Thalâq an-Nufasâ’ wa al-Ḫâ’idh wa Raj’atuhâ. shamela.ws/book/587/509 ↑
  3. Al-Khurasyî (w. 1101 H). Syarḫ al-Khurasyî ’alâ Mukhtashar Khalîl. Juz 4, hlm. 29, Bâb ath-Thalâq, Fashl Thalâq as-Sunnah. shamela.ws/book/91/1081 ↑
  4. Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 8, hlm. 76, Fashl fî Bayân ath-Thalâq as-Sunnî wa al-Bid’î. shamela.ws/book/9059/3426 ↑
  5. Ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 7, hlm. 6, Fashl fî Bayân ath-Thalâq as-Sunnî wa al-Bid’î. shamela.ws/book/3565/2958 ↑
  6. An-Nawawî (w. 676 H). Al-Minhâj Syarḫ Shaḫîḫ Muslim bin al-Ḫajjâj. Juz 10, hlm. 60, Kitâb ath-Thalâq, Bâb Taḫrîm Thalâq al-Ḫâ’idh. shamela.ws/book/1711/2173 ↑
  7. Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 8, hlm. 448, Bâb Sunnat ath-Thalâq wa Bid’atihi. shamela.ws/book/21609/3991 ↑
  8. Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 5, hlm. 240, Bâb Sunnat ath-Thalâq wa Bid’atihi. shamela.ws/book/21642/2406 ↑
  9. Ibnu Ḫazm (w. 456 H). Al-Muḫallâ bi al-Âtsâr. Juz 9, hlm. 363, Kitâb ath-Thalâq, masalah no. 1945. shamela.ws/book/767/4105 ↑
  10. Ibnu Ḫazm, al-Muḫallâ, juz 9, hlm. 375. shamela.ws/book/767/4114 ↑
  11. Ibnu Ḫazm, al-Muḫallâ, juz 9, hlm. 377. shamela.ws/book/767/4115 ↑
  12. Al-Mardâwî, al-Inshâf, juz 8, hlm. 448. shamela.ws/book/21609/3991 ↑
  13. Ibnu al-Qayyim (w. 751 H). Zâd al-Ma’âd fî Hady Khair al-’Ibâd (cet. ar-Risâlah). Juz 5, hlm. 201, Hal Yaqa’ ath-Thalâq fî al-Ḫaidh. shamela.ws/book/21713/2089 ↑
  14. Asy-Syaukânî (w. 1250 H). Nail al-Authâr Syarḫ Muntaqâ al-Akhbâr (taḫqîq Ḫallâq). Juz 12, hlm. 385, Kitâb ath-Thalâq, Bâb an-Nahy ’an ath-Thalâq fî al-Ḫaidh. shamela.ws/book/1218/5851 ↑
  15. Al-Buhûtî, Kasysyâf al-Qinâ’, juz 5, hlm. 240. shamela.ws/book/21642/2406 ↑
  16. Asy-Syaukânî, Nail al-Authâr, juz 12, hlm. 381. shamela.ws/book/1218/5847 ↑
  17. Asy-Syaukânî, Nail al-Authâr, juz 12, hlm. 382. shamela.ws/book/1218/5848 ↑
  18. Al-Buhûtî, Kasysyâf al-Qinâ’, juz 5, hlm. 240. shamela.ws/book/21642/2406 ↑
  19. Asy-Syaukânî, Nail al-Authâr, juz 12, hlm. 384. shamela.ws/book/1218/5850 ↑
  20. Asy-Syaukânî, Nail al-Authâr, juz 12, hlm. 385. shamela.ws/book/1218/5851 ↑
  21. Ibnu Ḫazm, al-Muḫallâ, juz 9, hlm. 378. shamela.ws/book/767/4116 ↑
  22. Asy-Syaukânî, Nail al-Authâr, juz 12, hlm. 382. shamela.ws/book/1218/5848 ↑
  23. Asy-Syaukânî, Nail al-Authâr, juz 12, hlm. 384. shamela.ws/book/1218/5850 ↑
  24. Asy-Syaukânî, Nail al-Authâr, juz 12, hlm. 385. shamela.ws/book/1218/5851 ↑
  25. Asy-Syaukânî, Nail al-Authâr, juz 12, hlm. 381. shamela.ws/book/1218/5847 ↑
  26. Asy-Syaukânî, Nail al-Authâr, juz 12, hlm. 383. shamela.ws/book/1218/5849 ↑
Bagikan ke WhatsApp
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Dosen & Pengajar Fiqih · Profil

Artikel lainnya

Muamalah

Uang Muka Hangus Jika Batal Membeli (Bai’ al-’Urbûn): Boleh?

21 Oktober 2026 · 7 menit baca
Shalat

Menjamak Shalat karena Hujan atau Keperluan, Tanpa Safar

21 Oktober 2026 · 9 menit baca
Munakahat

Mahar Paling Sedikit: Adakah Batas Minimalnya?

20 Oktober 2026 · 10 menit baca