Syarat Muzakki: Siapa yang Wajib Mengeluarkan Zakat?
Seorang anak yatim berusia sepuluh tahun mewarisi tabungan dan emas dari almarhum ayahnya, jumlahnya jauh melebihi nisab. Pamannya yang menjadi wali bertanya: apakah harta ini wajib dizakati setiap tahun, padahal pemiliknya belum baligh? Pertanyaan serupa muncul untuk harta orang yang hilang akal, dan untuk harta orang yang murtad lalu kembali masuk Islam.
Para ulama sepakat bahwa zakat wajib atas muslim yang merdeka. Mereka berbeda pada dua hal: apakah baligh dan berakal juga menjadi syarat, dan bagaimana hukum harta orang yang murtad.
Hanafi: muslim, merdeka, baligh, dan berakal
Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah membuka kitab zakat dengan:
(الزَّكَاةُ وَاجِبَةٌ عَلَى الْحُرِّ الْعَاقِلِ الْبَالِغِ الْمُسْلِمِ إذَا مَلَكَ نِصَابًا مِلْكًا تَامًّا وَحَالَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ)
"(Zakat wajib atas orang yang merdeka, berakal, baligh, dan muslim, jika ia memiliki satu nisab dengan kepemilikan penuh dan telah berlalu satu tahun atasnya.)"
Lalu ia menegaskan: "(وَلَيْسَ عَلَى الصَّبِيِّ وَالْمَجْنُونِ زَكَاةٌ) خِلَافًا لِلشَّافِعِيِّ", tidak ada zakat atas anak kecil dan orang gila, berbeda dengan asy-Syâfi’î. Ad-Durr al-Mukhtâr, yang disyarah Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H) dalam Radd al-Muḫtâr, merumuskan hal yang sama: "(وَشَرْطُ افْتِرَاضِهَا عَقْلٌ وَبُلُوغٌ وَإِسْلَامٌ وَحُرِّيَّةٌ)", syarat wajibnya zakat adalah berakal, baligh, Islam, dan merdeka.
Tentang orang murtad, Ibnu ’Âbidîn menulis: "فَلَا زَكَاةَ عَلَى كَافِرٍ لِعَدَمِ خِطَابِهِ بِالْفُرُوعِ سَوَاءٌ كَانَ أَصْلِيًّا أَوْ مُرْتَدًّا", tidak ada zakat atas orang kafir, baik kafir asli maupun murtad, karena ia tidak dibebani cabang-cabang syariat. Bahkan, zakat yang sudah wajib pun gugur jika pemiliknya murtad.
Ada pengecualian: zakat fitrah (menurut Abû Ḫanîfah dan Abû Yûsuf) dan zakat hasil bumi (’usyr) tetap dikeluarkan dari harta anak kecil. Al-Kâsânî menjelaskan bahwa zakat fitrah "فَتَجِبُ بِوَصْفِ الْمُؤْنَةِ لَا بِوَصْفِ الْعِبَادَةِ وَهُوَ الْجَوَابُ عَنْ الْعُشْرِ", wajib karena sifatnya sebagai beban tanggungan, bukan karena sifatnya sebagai ibadah, dan itu pula jawaban tentang ’usyr.
Dalil mazhab Hanafi. Al-Kâsânî (w. 587 H) dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ berdalil bahwa zakat adalah ibadah, dan anak kecil tidak dibebani ibadah:
وَلَنَا قَوْلُ النَّبِيِّ ﷺ: «بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ ...» وَمَا بُنِيَ عَلَيْهِ الْإِسْلَامُ يَكُونُ عِبَادَةً وَالْعِبَادَاتُ الَّتِي تَحْتَمِلُ السُّقُوطَ تُقَدَّرُ فِي الْجُمْلَةِ، فَلَا تَجِبُ عَلَى الصِّبْيَانِ كَالصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ
"Dalil kami adalah sabda Nabi ﷺ: Islam dibangun di atas lima perkara ... Apa yang menjadi bangunan Islam adalah ibadah, dan ibadah semacam itu tidak wajib atas anak-anak, sebagaimana puasa dan shalat."
Ia juga berdalil: "لِأَنَّهُ مَرْفُوعُ الْقَلَمِ بِالْحَدِيثِ", karena pena (pencatat beban) diangkat dari anak kecil menurut hadis, dan wali tidak boleh mengeluarkan harta anak yatim kecuali dengan cara terbaik, sesuai firman Allah. Al-Kâsânî juga menukil pendapat ’Alî dan Ibnu ’Abbâs: "لَا تَجِبُ الزَّكَاةُ عَلَى الصَّبِيِّ حَتَّى تَجِبَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ", zakat tidak wajib atas anak kecil sampai shalat wajib atasnya.
Maliki: muslim dan merdeka, tanpa syarat baligh
Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H) dalam al-Kâfî menulis:
تجب الزكاة على كل مسلم حر تام الحرية إذا ملك المقدار الذي تجب فيه الزكاة حولا تاما والصغير والكبير والذكر والأنثى والعاقل والمعتوه عند مالك في ذلك سواء
"Zakat wajib atas setiap muslim yang merdeka sepenuhnya, jika ia memiliki kadar harta yang wajib dizakati selama setahun penuh. Anak kecil dan orang dewasa, laki-laki dan perempuan, orang berakal dan orang yang kurang akalnya, menurut Mâlik sama saja dalam hal ini."
Al-Mudawwanah menukil jawaban Imam Mâlik tentang harta anak kecil: "فِي أَمْوَالِهِمْ الصَّدَقَةُ وَفِي حُرُوثِهِمْ وَفِي نَاضِّهِمْ وَفِي مَاشِيَتِهِمْ وَفِيمَا يُدِيرُونَ لِلتِّجَارَةِ", pada harta mereka ada zakat, pada tanaman, uang tunai, ternak, dan barang dagangan mereka. Ibnu al-Qâsim menambahkan: "وَالْمَجَانِينُ عِنْدِي بِمَنْزِلَةِ الصِّبْيَانِ", orang gila menurutku sama dengan anak kecil.
Tentang syarat merdeka, ad-Dardîr (w. 1201 H) dalam asy-Syarḫ al-Kabîr menjelaskan bahwa zakat tidak wajib jika kepemilikan tidak sempurna, "كَمَالِ الْعَبْدِ وَمَنْ فِيهِ شَائِبَةُ رِقٍّ", seperti harta hamba sahaya dan orang yang masih memiliki unsur perbudakan.
Dalil mazhab Maliki. Al-Mudawwanah membawakan hadis dan praktik para sahabat:
قَالَ أَشْهَبُ عَنْ ابْنِ لَهِيعَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: «اضْرِبُوا بِأَمْوَالِ الْيَتَامَى» أَوْ قَالَ: «اتَّجِرُوا بِأَمْوَالِ الْيَتَامَى لَا تَأْكُلْهَا الزَّكَاةُ»
"Asyhab meriwayatkan dari Ibnu Lahî’ah, dari ’Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: Putarkanlah harta anak-anak yatim, atau Perdagangkanlah harta anak-anak yatim, agar tidak habis dimakan zakat."
Al-Mudawwanah juga menukil al-Qâsim bin Muḫammad: "كَانَتْ عَائِشَةُ تَلِينِي أَنَا وَأَخًا لِي يَتِيمَيْنِ فِي حِجْرِهَا فَكَانَتْ تُخْرِجُ مِنْ أَمْوَالِنَا الزَّكَاةَ", ’Âisyah mengasuh aku dan saudaraku sebagai anak yatim, dan ia mengeluarkan zakat dari harta kami. Hal yang sama dinukil dari Ibnu ’Umar, ’Umar, dan ’Alî.
Syafi’i: muslim dan merdeka; zakat ada pada harta anak
An-Nawawî (w. 676 H) dalam Minhâj ath-Thâlibîn menulis:
شرط وجوب زكاة المال الإسلام والحرية وتلزم المرتد إن أبقينا ملكه دون المكاتب وتجب في مال الصبي والمجنون
"Syarat wajib zakat harta adalah Islam dan merdeka. Zakat tetap wajib atas orang murtad jika kita memandang kepemilikannya masih ada, tetapi tidak atas budak mukâtab. Zakat juga wajib pada harta anak kecil dan orang gila."
Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H) dalam Tuḫfat al-Muḫtâj menjelaskan siapa yang bertanggung jawab: "وَالْوَلِيُّ مُخَاطَبٌ بِإِخْرَاجِهَا مِنْهُ وُجُوبًا", walilah yang wajib mengeluarkannya dari harta itu. An-Nawawî dalam al-Majmû’ menambahkan bahwa jika wali tidak mengeluarkannya, "وَجَبَ عَلَى الصَّبِيِّ وَالْمَجْنُونِ بَعْدَ الْبُلُوغِ وَالْإِفَاقَةِ إخْرَاجُ زَكَاةِ مَا مَضَى بِاتِّفَاقِ الْأَصْحَابِ", anak itu wajib mengeluarkan zakat tahun-tahun yang lalu setelah ia baligh, dan orang gila setelah ia sembuh, menurut kesepakatan ulama mazhab.
Untuk syarat Islam, ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj berdalil dengan surat Abû Bakr tentang zakat: "هَذِهِ فَرِيضَةُ الصَّدَقَةِ الَّتِي فَرَضَهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى الْمُسْلِمِينَ", inilah kewajiban zakat yang diwajibkan Rasulullah ﷺ atas kaum muslimin.
Dalil mazhab Syafi’i. An-Nawawî menukil dalil asy-Syîrâzî dalam al-Muhadzdzab:
وَتَجِبُ فِي مَالِ الصَّبِيِّ وَالْمَجْنُونِ لِمَا رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ " ابْتَغُوا فِي مَالِ الْيَتَامَى لَا تَأْكُلُهَا الزَّكَاةُ " وَلِأَنَّ الزَّكَاةَ تُرَادُ لِثَوَابِ الْمُزَكَّى وَمُوَاسَاةِ الْفَقِيرِ وَالصَّبِيُّ وَالْمَجْنُونُ مِنْ أَهْلِ الثَّوَابِ وَمِنْ أَهْلِ الْمُوَاسَاةِ
"Zakat wajib pada harta anak kecil dan orang gila, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: Kembangkanlah harta anak-anak yatim, agar tidak habis dimakan zakat. Juga karena zakat dimaksudkan untuk pahala bagi pemberinya dan untuk membantu orang miskin, sedangkan anak kecil dan orang gila termasuk orang yang bisa mendapat pahala dan bisa memberi bantuan."
An-Nawawî jujur tentang kualitas hadis itu: "هَذَا الْحَدِيثُ ضَعِيفٌ", hadis ini lemah dari jalur al-Mutsannâ bin ash-Shabbâḫ, tetapi diriwayatkan asy-Syâfi’î dan al-Baihaqî "بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ عَنْ النَّبِيِّ ﷺ مُرْسَلًا", dengan sanad sahih dari Yûsuf bin Mâhak secara mursal, dan dikuatkan dengan atsar ’Umar yang sanadnya dinilai sahih oleh al-Baihaqî. Hadis "رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ" dijawabnya: "فَالْمُرَادُ رُفِعَ الْإِثْمُ وَالْوُجُوبُ ... بَلْ يَجِبُ فِي مَالِهِمَا", yang diangkat adalah dosa dan kewajiban atas diri mereka, tetapi zakat wajib pada harta mereka.
Hanbali: muslim dan merdeka; zakat ada pada harta anak
Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ menulis bahwa zakat tidak wajib "(إلَّا بِشُرُوطٍ خَمْسَةٍ: الْإِسْلَامُ وَالْحُرِّيَّةُ", kecuali dengan lima syarat, dua yang pertama adalah Islam dan merdeka. Tentang orang murtad: "(وَلَوْ) كَانَ الْكَافِرُ (مُرْتَدًّا)", zakat tidak wajib atas orang kafir walaupun ia murtad, berdalil dengan sabda Nabi ﷺ "«الْإِسْلَامُ يَجُبُّ مَا قَبْلَهُ»", Islam menghapus apa yang sebelumnya. Lalu: "(وَتَجِبُ) الزَّكَاةُ (فِي مَالِ الصَّبِيِّ وَالْمَجْنُونِ)".
Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menegaskan: "تَجِبُ الزَّكَاةُ فِي مَالِ الصَّبِيِّ وَالْمَجْنُونِ، بِلَا خِلَافٍ عِنْدَنَا", zakat wajib pada harta anak kecil dan orang gila, tanpa perbedaan dalam mazhab kami.
Dalil mazhab Hanbali. Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî berdalil dengan hadis dan qiyas:
وَلِأَنَّ مِنْ وَجَبَ الْعُشْرُ فِي زَرْعِهِ وَجَبَ رُبْعُ الْعُشْرِ فِي وَرِقِهِ، كَالْبَالِغِ الْعَاقِلِ ... وَالزَّكَاةُ حَقٌّ يَتَعَلَّقُ بِالْمَالِ، فَأَشْبَهَ نَفَقَةَ الْأَقَارِبِ وَالزَّوْجَاتِ، وَأُرُوشَ الْجِنَايَات، وَقِيَمَ الْمُتْلَفَاتِ
"Siapa yang wajib zakat sepersepuluh pada tanamannya, wajib pula zakat seperempat puluh pada peraknya, seperti orang baligh yang berakal ... Zakat adalah hak yang terkait dengan harta, sehingga serupa dengan nafkah kerabat dan istri, ganti rugi tindak pidana, dan nilai barang yang dirusak."
Ia menjawab hadis "رُفِعَ الْقَلَمُ": "وَالْحَدِيثُ أُرِيدَ بِهِ رَفْعُ الْإِثْمِ وَالْعِبَادَاتِ الْبَدَنِيَّةِ، بِدَلِيلِ وُجُوبِ الْعُشْرِ وَصَدَقَةِ الْفِطْرِ", maksud hadis itu adalah diangkatnya dosa dan ibadah badan, buktinya zakat pertanian dan zakat fitrah tetap wajib atas mereka, termasuk menurut mazhab Hanafi. Al-Buhûtî menambahkan dalil dari hadis Mu’âdz: "«تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ»", lalu berkata "وَلَفْظَةُ \" الْأَغْنِيَاءِ \" تَشْمَلُ الصَّغِيرَ وَالْمَجْنُونَ كَمَا شَمَلَتْهُمْ لَفْظَةُ الْفُقَرَاءِ", kata "orang-orang kaya" mencakup anak kecil dan orang gila, sebagaimana kata "orang-orang miskin" juga mencakup mereka.
Mengapa berbeda?
- Zakat itu ibadah badan atau hak pada harta? Mazhab Hanafi menekankan sisi ibadah, sehingga mensyaratkan baligh dan berakal seperti shalat dan puasa. Tiga mazhab lain menekankan sisi hak harta, seperti nafkah dan ganti rugi, yang tetap wajib atas harta anak kecil.
- Makna hadis "pena diangkat dari tiga orang". Mazhab Hanafi memahaminya sebagai gugurnya beban secara umum. Tiga mazhab lain memahaminya sebagai gugurnya dosa dan ibadah badan saja.
- Orang murtad. Mazhab Hanafi dan Hanbali menggugurkan zakatnya karena kekafirannya. Mazhab Syafi’i mengaitkannya dengan status kepemilikannya selama murtad.
Ringkasnya
| Mazhab | Syarat muzakki | Harta anak kecil dan orang gila | Orang murtad |
|---|---|---|---|
| Hanafi | Islam, merdeka, baligh, berakal | Tidak wajib zakat (kecuali ’usyr dan zakat fitrah) | Tidak wajib; yang sudah wajib pun gugur |
| Maliki | Islam, merdeka | Wajib zakat | Tidak dibahas di sini |
| Syafi’i | Islam, merdeka | Wajib, dikeluarkan wali | Wajib jika kepemilikannya dianggap tetap |
| Hanbali | Islam, merdeka (dan syarat harta) | Wajib, dikeluarkan wali | Tidak wajib |
Pelajaran untuk kita
- Menurut mayoritas ulama, termasuk mazhab Syafi’i, harta anak yatim wajib dizakati, dan walinya yang wajib mengeluarkan dengan niat atas nama anak itu. Jika wali lalai, anak itu wajib membayar zakat tahun-tahun yang lewat setelah ia baligh.
- Wali sebaiknya mengembangkan harta anak yatim, sebagaimana pesan hadis dan atsar ’Umar, agar harta itu tidak habis oleh zakat dan nafkah dari tahun ke tahun.
- Menurut mazhab Hanafi, harta anak kecil tidak dizakati kecuali zakat hasil bumi dan zakat fitrah. Pendapat ini dinukil al-Kâsânî dari ’Alî dan Ibnu ’Abbâs.
Rujukan
- Al-Kâsânî (w. 587 H). Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ fî Tartîb asy-Syarâ’i’. Juz 2, hlm. 4–5, Fashl Syarâ’ith Fardhiyyat az-Zakâh. shamela.ws/book/8183/327, shamela.ws/book/8183/328
- Al-Marghînânî (w. 593 H), al-Hidâyah, dicetak bersama Ibnu al-Humâm (w. 861 H), Fatḫ al-Qadîr (cet. al-Ḫalabî). Juz 2, hlm. 153 dan 156, Kitâb az-Zakâh. shamela.ws/book/21744/673, shamela.ws/book/21744/676
- Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H). Radd al-Muḫtâr ’alâ ad-Durr al-Mukhtâr (cet. al-Ḫalabî). Juz 2, hlm. 258–259, Kitâb az-Zakâh. shamela.ws/book/21613/914, shamela.ws/book/21613/915
- Mâlik bin Anas (w. 179 H), riwayat Saḫnûn. Al-Mudawwanah. Juz 1, hlm. 308, Zakât Mâl ash-Shibyân wa al-Majânîn. shamela.ws/book/587/196
- Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H). Al-Kâfî fî Fiqh Ahl al-Madînah. Juz 1, hlm. 284, Bâb Fardh az-Zakâh wa ’alâ Man Tajib. shamela.ws/book/7367/177
- Ad-Dardîr (w. 1201 H), asy-Syarḫ al-Kabîr, bersama Ḫâsyiyat ad-Dasûqî (w. 1230 H). Juz 1, hlm. 431, Bâb az-Zakâh. shamela.ws/book/21604/430
- An-Nawawî (w. 676 H). Minhâj ath-Thâlibîn wa ’Umdat al-Muftîn. Hlm. 71, Bâb Man Talzamuhu az-Zakâh. shamela.ws/book/12096/84
- Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 3, hlm. 330, Bâb Man Talzamuhu az-Zakâh. shamela.ws/book/9059/1328
- Ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 3, hlm. 125, Bâb Man Talzamuhu az-Zakâh. shamela.ws/book/3565/1173
- An-Nawawî (w. 676 H). Al-Majmû’ Syarḫ al-Muhadzdzab (cet. al-Munîriyyah). Juz 5, hlm. 329–331, Kitâb az-Zakâh. shamela.ws/book/2186/2642, shamela.ws/book/2186/2643
- Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 2, hlm. 465, Kitâb az-Zakâh. shamela.ws/book/8463/913
- Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 3, hlm. 4, Kitâb az-Zakâh. shamela.ws/book/21609/1067
- Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 2, hlm. 168–169, Kitâb az-Zakâh. shamela.ws/book/21642/672, shamela.ws/book/21642/673