← Semua artikel

Shalat

Shalat Witir: Wajib atau Sunnah, dan Berapa Rakaat?

Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H. · 18 Oktober 2026 · 9 menit baca

Selepas tarawih di sebuah masjid, imam mengerjakan witir tiga rakaat dengan satu salam. Seorang jamaah yang biasa shalat di masjid lain bertanya-tanya, karena di masjidnya witir dikerjakan dua rakaat, salam, lalu satu rakaat lagi. Ada pula temannya yang pulang lebih dulu dan berkata, "Witir kan sunnah, nanti saja di rumah, satu rakaat pun cukup."

Ketiganya punya dasar dalam mazhab. Para imam berbeda dalam dua hal: apakah witir wajib atau sunnah, dan bagaimana cara serta jumlah rakaatnya.

Hanafi: wajib, tiga rakaat dengan satu salam

Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah membuka bab witir dengan: "(الْوِتْرُ وَاجِبٌ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ ... وَقَالَا سُنَّةٌ)", witir wajib menurut Abû Ḫanîfah, sedangkan kedua muridnya (Abû Yûsuf dan Muḫammad) berkata: sunnah.

Wajib di sini bukan fardhu. Al-Kâsânî (w. 587 H) dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ menjelaskan bahwa ada tiga riwayat dari Abû Ḫanîfah, lalu menyimpulkan:

إنَّهَا لَيْسَتْ بِفَرْضٍ وَلَكِنَّهَا وَاجِبَةٌ وَهِيَ آخِرُ أَقْوَالِ أَبِي حَنِيفَةَ

"Witir bukan fardhu, tetapi wajib, dan inilah pendapat terakhir Abû Ḫanîfah."

Ia menukil kisah Yûsuf bin Khâlid as-Samtî yang mengira Abû Ḫanîfah menambah shalat fardhu menjadi enam, lalu Abû Ḫanîfah menjawab bahwa ia "أَعْرِفُ الْفَرْقَ بَيْنَ الْوَاجِبِ وَالْفَرْضِ كَفَرْقِ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ", mengetahui perbedaan antara wajib dan fardhu seperti jauhnya langit dan bumi.

Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H) dalam Radd al-Muḫtâr menjelaskan konsekuensinya: karena witir wajib, orang yang mengingkarinya tidak dikafirkan, tetapi witir yang tertinggal "يُقْضَى", wajib diqadha, dan "وَلَا يَصِحُّ قَاعِدًا وَلَا رَاكِبًا اتِّفَاقًا", tidak sah dikerjakan sambil duduk atau di atas kendaraan, menurut kesepakatan ulama mazhab.

Tentang jumlah rakaat, al-Hidâyah menulis: "(الْوِتْرُ ثَلَاثُ رَكَعَاتٍ لَا يُفْصَلُ بَيْنهنَّ بِسَلَامٍ)", witir tiga rakaat yang tidak dipisah dengan salam. Ad-Durr al-Mukhtâr menambahkan: "(وَهُوَ ثَلَاثُ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيمَةٍ) كَالْمَغْرِبِ", tiga rakaat dengan satu salam, seperti shalat maghrib, tetapi "(يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ مِنْهُ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً) احْتِيَاطًا", membaca al-Fâtiḫah dan surat di setiap rakaatnya, sebagai kehati-hatian.

Dalil mazhab Hanafi. Al-Kâsânî berdalil dengan hadis Khârijah bin Ḫudzâfah:

«إنَّ اللَّهَ تَعَالَى زَادَكُمْ صَلَاةً أَلَا وَهِيَ الْوِتْرُ فَصَلُّوهَا مَا بَيْنَ الْعِشَاءِ إلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ» وَالِاسْتِدْلَالُ بِهِ مِنْ وَجْهَيْنِ: أَحَدُهُمَا أَنَّهُ أَمَرَ بِهَا وَمُطْلَقُ الْأَمْرِ لِلْوُجُوبِ، وَالثَّانِي أَنَّهُ سَمَّاهَا زِيَادَةً وَالزِّيَادَةُ عَلَى الشَّيْءِ لَا تُتَصَوَّرُ إلَّا مِنْ جِنْسِهِ

"Sesungguhnya Allah telah menambahkan satu shalat untuk kalian, yaitu witir, maka kerjakanlah antara isya hingga terbit fajar. Hadis ini menjadi dalil dari dua sisi. Pertama, Nabi memerintahkannya, dan perintah yang mutlak menunjukkan wajib. Kedua, beliau menyebutnya tambahan, dan tambahan atas sesuatu hanya bisa berupa sesuatu yang sejenis dengannya (yaitu shalat yang wajib)."

Ia juga menyebut hadis "«الْوِتْرُ حَقٌّ وَاجِبٌ فَمَنْ لَمْ يُوتِرْ فَلَيْسَ مِنَّا»", witir itu hak yang wajib; siapa yang tidak berwitir, bukan golongan kami, dan berkata "وَمُطْلَقُ الْأَمْرِ لِلْوُجُوبِ، وَكَذَا التَّوَعُّدُ عَلَى التَّرْكِ دَلِيلُ الْوُجُوبِ", perintah mutlak menunjukkan wajib, demikian pula ancaman bagi yang meninggalkannya. Untuk tiga rakaat dengan satu salam, Ibnu al-Humâm (w. 861 H) dalam Fatḫ al-Qadîr menukil hadis riwayat al-Ḫâkim dari ’Âisyah: "«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُوتِرُ بِثَلَاثٍ لَا يُسَلِّمُ إلَّا فِي آخِرِهِنَّ»", Rasulullah ﷺ berwitir tiga rakaat dan tidak salam kecuali di akhirnya.

Maliki: sunnah paling kuat, satu rakaat setelah dua rakaat

Khalîl dalam al-Mukhtashar menulis, sebagaimana disyarah ad-Dardîr (w. 1201 H) dalam asy-Syarḫ al-Kabîr: "(وَالْوَتْرُ) ... (سُنَّةٌ آكَدُ) السُّنَنِ", witir adalah sunnah yang paling kuat di antara sunnah-sunnah.

Tentang jumlahnya, al-Mudawwanah menukil Imam Mâlik:

وَقَالَ مَالِكٌ: الْوِتْرُ وَاحِدَةٌ ... وَقَالَ مَالِكٌ: لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ لَيْسَ قَبْلَهَا شَيْءٌ لَا فِي حَضَرٍ وَلَا فِي سَفَرٍ، وَلَكِنْ يُصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يُسَلِّمُ ثُمَّ يُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ

"Mâlik berkata: witir itu satu rakaat ... Mâlik berkata: tidak sepatutnya seseorang berwitir satu rakaat tanpa didahului shalat apa pun, baik saat mukim maupun safar. Hendaknya ia shalat dua rakaat, salam, lalu berwitir satu rakaat."

Al-Khurasyî (w. 1101 H) dalam Syarḫ Mukhtashar Khalîl menegaskan bahwa "يُسْتَحَبُّ الْفَصْلُ بَيْنَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ بِسَلَامٍ وَيُكْرَهُ وَصْلُهُ مَعَ الشَّفْعِ مِنْ غَيْرِ سَلَامٍ", dianjurkan memisahkan dua rakaat (syaf’) dari witir dengan salam, dan makruh menyambungnya tanpa salam. Tetapi orang yang bermakmum kepada imam yang menyambung, "كَمَذْهَبِ الْحَنَفِيِّ فَإِنَّهُ لَا يُطْلَبُ مِنْهُ انْفِصَالُهُ بِسَلَامٍ بَلْ يَتْبَعُهُ", seperti imam bermazhab Hanafi, tidak dituntut memisah dengan salam, melainkan mengikuti imamnya.

Witir yang tertinggal tidak diqadha. Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H) dalam al-Kâfî menulis: "ولا يقضي أحد الوتر ولا يصليها بعد صلاة الصبح", tidak ada yang mengqadha witir dan tidak boleh mengerjakannya setelah shalat subuh.

Dalil mazhab Maliki. Ibnu ’Abd al-Barr berdalil dengan praktik Nabi ﷺ:

وكان رسول الله ﷺ يتنفل على راحلته ويوتر على راحلته ويصلي المكتوبة بالأرض وفي هذا إبطال قول من جعل الوتر واجبا

"Rasulullah ﷺ biasa shalat sunnah di atas kendaraannya dan berwitir di atas kendaraannya, sedangkan shalat wajib beliau kerjakan di atas tanah. Ini membatalkan pendapat orang yang menjadikan witir wajib."

Untuk satu rakaat yang didahului shalat lain, ia menyebut "وكان رسول الله ﷺ يصلي من الليل إحدى عشرة ركعة يوتر منها بواحدة", Rasulullah ﷺ shalat malam sebelas rakaat dan berwitir satu rakaat darinya. Ia juga menjelaskan mengapa Mâlik tidak menyukai witir satu rakaat tanpa didahului shalat: "لأنه لم يحفظ أحد عن النبى ﷺ أنه أوتر بواحدة", karena tidak ada yang meriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau berwitir satu rakaat saja (tanpa shalat sebelumnya).

Syafi’i: sunnah muakkadah, satu sampai sebelas rakaat

An-Nawawî (w. 676 H) dalam Minhâj ath-Thâlibîn menulis:

ومنه الوتر وأقله ركعة وأكثره إحدى عشرة وقيل: ثلاث عشرة ولمن زاد على ركعة الفصل وهو أفضل والوصل بتشهد أو تشهدين في الآخرتين

"Di antara shalat sunnah adalah witir. Paling sedikit satu rakaat dan paling banyak sebelas, ada yang berkata tiga belas. Bagi yang mengerjakan lebih dari satu rakaat, boleh memisah (dengan salam setiap dua rakaat), dan itu lebih utama, atau menyambung dengan satu tasyahud atau dua tasyahud pada dua rakaat terakhir."

Dalam al-Majmû’ ia menegaskan hukumnya: "مَذْهَبُنَا أَنَّهُ لَيْسَ بِوَاجِبٍ بَلْ هُوَ سُنَّةٌ مُتَأَكِّدَةٌ وَبِهِ قَالَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ", mazhab kami: witir tidak wajib, melainkan sunnah yang sangat ditekankan, dan inilah pendapat mayoritas ulama. Ia menukil dari Ibnu al-Mundzir: "لَا أَعْلَمُ أَحَدًا وَافَقَ أَبَا حَنِيفَةَ فِي هَذَا", aku tidak mengetahui seorang pun yang sependapat dengan Abû Ḫanîfah dalam hal ini.

Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H) dalam Tuḫfat al-Muḫtâj menambahkan bahwa "وَأَدْنَى الْكَمَالِ ثَلَاثٌ", kesempurnaan minimal adalah tiga rakaat, "وَأَكْمَلُ مِنْهُ خَمْسٌ", dan yang lebih sempurna lagi lima.

Dalil mazhab Syafi’i. An-Nawawî berdalil dengan hadis Thalḫah bin ’Ubaidillâh:

واحتج اصحابنا والجمهور بحديث طلحة بن عبيد الله ... قَالَ جَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ فَقَالَ هَلْ عَلِيَّ غَيْرُهَا فَقَالَ لَا إلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ

"Ulama kami dan mayoritas ulama berdalil dengan hadis Thalḫah bin ’Ubaidillâh: seorang lelaki dari Najd datang bertanya tentang Islam. Rasulullah ﷺ bersabda: Lima shalat dalam sehari semalam. Ia bertanya: Apakah ada kewajiban lain atasku? Beliau menjawab: Tidak, kecuali jika engkau ingin bersukarela." (Diriwayatkan al-Bukhârî dan Muslim.)

Ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj menambahkan dalil dari al-Qur’an: witir tidak wajib "لِقَوْلِهِ تَعَالَى ﴿وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى﴾ إذْ لَوْ وَجَبَ لَمْ يَكُنْ لِلصَّلَوَاتِ وُسْطَى", berdasarkan firman Allah "dan shalat wustha (pertengahan)" (QS. al-Baqarah: 238), karena jika witir wajib, shalat wajib berjumlah enam dan tidak ada yang di tengah. Untuk jumlah rakaat, Ibnu Ḫajar berdalil dengan hadis sahih "«مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِرَكْعَةٍ وَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ»", siapa yang ingin berwitir satu rakaat, silakan, dan hadis ’Âisyah "«مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً»", Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat, baik di bulan Ramadhan maupun di luarnya.

Hanbali: sunnah muakkadah, boleh satu rakaat tersendiri

Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî menulis: "الْوِتْرُ غَيْرُ وَاجِبٍ وَبِهَذَا قَالَ مَالِكٌ، وَالشَّافِعِيُّ", witir tidak wajib, dan ini pendapat Mâlik dan asy-Syâfi’î. Walaupun begitu, Imam Aḫmad sangat menekankannya:

وَهُوَ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ، قَالَ أَحْمَدُ: مَنْ تَرَكَ الْوِتْرَ عَمْدًا فَهُوَ رَجُلُ سَوْءٍ، وَلَا يَنْبَغِي أَنْ تُقْبَلَ لَهُ شَهَادَةٌ

"Witir adalah sunnah muakkadah. Aḫmad berkata: siapa yang meninggalkan witir dengan sengaja, ia orang yang buruk, dan tidak sepatutnya kesaksiannya diterima."

Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menegaskan: "(وَلَيْسَ بِوَاجِبٍ) هَذَا الْمَذْهَبُ، وَعَلَيْهِ جَمَاهِيرُ الْأَصْحَابِ وَنَصَّ عَلَيْهِ، وَعَنْهُ أَنَّهُ وَاجِبٌ", witir tidak wajib; inilah pendapat mazhab dan mayoritas ulama mazhab, dan Aḫmad menyatakannya, tetapi ada juga riwayat darinya bahwa witir wajib. Tentang jumlah rakaat: "(وَأَقَلُّهُ رَكْعَةٌ، وَأَكْثَرُهُ إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً) هَذَا الْمَذْهَبُ", paling sedikit satu rakaat dan paling banyak sebelas.

Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ menegaskan bahwa satu rakaat "(وَلَا يُكْرَهُ) الْإِيتَارُ (بِهَا مُفْرَدَةً وَلَوْ بِلَا عُذْرٍ", tidak makruh dikerjakan tersendiri, walaupun tanpa uzur. Yang paling utama untuk tiga rakaat adalah "(بِسَلَامَيْنِ)", dengan dua salam, tetapi "(وَيَجُوزُ) أَنْ يُصَلِّيَ الثَّلَاثَ رَكَعَاتٍ (بِسَلَامٍ وَاحِدٍ", boleh juga tiga rakaat dengan satu salam.

Dalil mazhab Hanbali. Ibnu Qudâmah berdalil dengan hadis ’Ubâdah bin ash-Shâmit, yang mendustakan orang yang berkata witir wajib:

فَقَالَ عُبَادَةُ: كَذَبَ أَبُو مُحَمَّدٍ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى الْعِبَادِ»

"’Ubâdah berkata: Abû Muḫammad keliru. Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Lima shalat yang Allah wajibkan atas para hamba." (Diriwayatkan Abû Dâwûd dan Aḫmad.)

Ia juga berdalil dengan perkataan ’Alî "أَنَّ الْوِتْرَ لَيْسَ بِخَتْمٍ، وَلَا كَصَلَوَاتِكُمْ الْمَكْتُوبَةِ", witir bukan keharusan dan tidak seperti shalat wajib kalian, dan dengan hadis Ibnu ’Umar bahwa Nabi ﷺ "«كَانَ يُوتِرُ عَلَى بَعِيرِهِ»", berwitir di atas untanya. Hadis-hadis yang memerintahkan witir dipahaminya sebagai penekanan: "ثُمَّ إنَّ الْمُرَادَ بِهَا تَأْكِيدُهُ وَفَضِيلَتُهُ، وَأَنَّهُ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ", maksudnya adalah menegaskan keutamaannya dan bahwa witir sunnah muakkadah. Untuk satu rakaat, ia menukil hadis riwayat Muslim "«صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ»", shalat malam itu dua rakaat dua rakaat; jika engkau khawatir masuk subuh, berwitirlah satu rakaat.

Mengapa berbeda?

  1. Hadis-hadis perintah witir. Mazhab Hanafi membaca perintah "أَوْتِرُوا" dan ancaman "فَلَيْسَ مِنَّا" sebagai tanda wajib. Tiga mazhab lain memahaminya sebagai penekanan, karena ada hadis yang membatasi shalat wajib pada lima waktu dan Nabi ﷺ berwitir di atas kendaraan.
  2. Istilah wajib dalam mazhab Hanafi. Wajib bagi mereka berada di bawah fardhu. Karena itu, Abû Ḫanîfah tidak dianggap menambah shalat fardhu menjadi enam.
  3. Riwayat jumlah rakaat yang beragam. Ada riwayat tiga rakaat tanpa salam di tengah, ada riwayat sebelas rakaat dengan witir satu rakaat, ada pula riwayat lima, tujuh, dan sembilan. Mazhab Hanafi memegang riwayat tiga rakaat, Mâlik memegang dua rakaat lalu satu, sedangkan Syafi’i dan Hanbali memberi pilihan antara satu sampai sebelas.

Ringkasnya

MazhabHukumJumlah dan caraDiqadha?
HanafiWajib (di bawah fardhu)Tiga rakaat, satu salamYa, wajib
MalikiSunnah paling kuatSatu rakaat setelah dua rakaat yang diakhiri salam; menyambung makruhTidak
Syafi’iSunnah muakkadahSatu sampai sebelas; memisah lebih utama; minimal sempurna tigaDianjurkan (sunnah)
HanbaliSunnah muakkadahSatu sampai sebelas; satu rakaat tersendiri tidak makruh; tiga dengan dua salam lebih utamaYa, diqadha bersama syaf’-nya

Pelajaran untuk kita

  1. Menurut mayoritas ulama, witir tidak wajib tetapi sangat ditekankan. Imam Aḫmad bahkan menyebut orang yang sengaja meninggalkannya sebagai orang yang buruk. Jadi, jangan jadikan status sunnah sebagai alasan untuk terbiasa meninggalkannya.
  2. Kedua cara tiga rakaat sah dalam mazhab Syafi’i dan Hanbali. Dua rakaat salam lalu satu rakaat lebih utama, tetapi tiga rakaat dengan satu salam juga boleh. Mazhab Maliki pun memerintahkan makmum untuk mengikuti imam yang menyambung.
  3. Bagi yang sempit waktunya, satu rakaat witir sudah mendapatkan sunnah witir menurut mazhab Syafi’i dan Hanbali. Menurut mazhab Maliki, sebaiknya didahului dua rakaat, misalnya sunnah ba’diyah isya.

Rujukan

  1. Al-Kâsânî (w. 587 H). Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ fî Tartîb asy-Syarâ’i’. Juz 1, hlm. 270–271, Fashl fî Anwâ’ ash-Shalât al-Wâjibah: Shalât al-Witr. shamela.ws/book/8183/269, shamela.ws/book/8183/270
  2. Al-Marghînânî (w. 593 H), al-Hidâyah, dicetak bersama Ibnu al-Humâm (w. 861 H), Fatḫ al-Qadîr (cet. al-Ḫalabî). Juz 1, hlm. 423 dan 426, Bâb Shalât al-Witr. shamela.ws/book/21744/421, shamela.ws/book/21744/424
  3. Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H). Radd al-Muḫtâr ’alâ ad-Durr al-Mukhtâr (cet. al-Ḫalabî). Juz 2, hlm. 4–5, Bâb al-Witr wa an-Nawâfil. shamela.ws/book/21613/660, shamela.ws/book/21613/661
  4. Mâlik bin Anas (w. 179 H), riwayat Saḫnûn. Al-Mudawwanah. Juz 1, hlm. 212, Man Nasiya al-Witr aw Nâma ’anhu. shamela.ws/book/587/100
  5. Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H). Al-Kâfî fî Fiqh Ahl al-Madînah. Juz 1, hlm. 257–261, Bâb Shalât at-Tathawwu’ wa as-Sunan. shamela.ws/book/7367/143, shamela.ws/book/7367/145, shamela.ws/book/7367/147
  6. Ad-Dardîr (w. 1201 H), asy-Syarḫ al-Kabîr, bersama Ḫâsyiyat ad-Dasûqî (w. 1230 H). Juz 1, hlm. 317, Fashl fî Ḫukm Shalât an-Nâfilah. shamela.ws/book/21604/316
  7. Al-Khurasyî (w. 1101 H). Syarḫ Mukhtashar Khalîl, bersama Ḫâsyiyat al-’Adawî (w. 1189 H). Juz 2, hlm. 11. shamela.ws/book/91/365
  8. An-Nawawî (w. 676 H). Minhâj ath-Thâlibîn wa ’Umdat al-Muftîn. Hlm. 36, Bâb Shalât an-Nafl. shamela.ws/book/12096/38
  9. Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 2, hlm. 225, Bâb fî Shalât an-Nafl. shamela.ws/book/9059/730
  10. Ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 2, hlm. 111, Bâb fî Shalât an-Nafl. shamela.ws/book/3565/661
  11. An-Nawawî (w. 676 H). Al-Majmû’ Syarḫ al-Muhadzdzab (cet. al-Munîriyyah). Juz 4, hlm. 19, Bâb Shalât at-Tathawwu’. shamela.ws/book/2186/1676
  12. Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 2, hlm. 110–111 dan 117–118, masalah no. 1075 dan fasal no. 1085–1086. shamela.ws/book/8463/558, shamela.ws/book/8463/559, shamela.ws/book/8463/565, shamela.ws/book/8463/566
  13. Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 2, hlm. 166–167, Bâb Shalât at-Tathawwu’. shamela.ws/book/21609/661, shamela.ws/book/21609/662
  14. Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 1, hlm. 415–417, Bâb Shalât at-Tathawwu’. shamela.ws/book/21642/408, shamela.ws/book/21642/409, shamela.ws/book/21642/410
Bagikan ke WhatsApp
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Dosen & Pengajar Fiqih · Profil

Artikel lainnya

Munakahat

Talak Tiga dalam Satu Ucapan: Jatuh Satu atau Tiga?

Dalam pertengkaran yang memuncak, seorang suami berkata kepada istrinya, "Kamu saya talak tiga!" Esok harinya, setelah amarahnya reda, ia menyesal dan ingin rujuk. Seorang kawan berkata…

18 Oktober 2026 · 9 menit baca
Puasa

Ibu Hamil dan Menyusui yang Tidak Berpuasa: Qadha, Fidyah, atau Keduanya?

Seorang ibu sedang menyusui bayinya yang berusia lima bulan ketika Ramadhan tiba. Dokter menyarankan agar ia tidak berpuasa dulu, karena ASI-nya berkurang dan berat badan bayinya tidak…

18 Oktober 2026 · 8 menit baca
Haji & Umrah

Umrah: Wajib Seperti Haji atau Hanya Sunnah?

Seorang bapak sudah menunaikan haji bertahun-tahun lalu. Waktu itu ia berhaji ifrâd, tanpa umrah, karena ikut rombongan yang langsung berangkat ke Arafah. Kini anaknya bertanya: "Pak, kata…

18 Oktober 2026 · 9 menit baca