← Semua tulisan

Shalat

Qunut Subuh: Sunnah Rutin atau Hanya Saat Musibah?

Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H. · 17 Oktober 2026 · 8 menit baca

Di banyak masjid di Indonesia, rakaat kedua shalat Subuh selalu diwarnai doa "Allâhummahdinî fî man hadait" dengan tangan terangkat dan makmum mengaminkan. Tetapi seorang jamaah yang pernah shalat Subuh di Masjidil Haram akan mendapati imam langsung sujud setelah i’tidal, tanpa qunut. Di sebagian masjid lain, qunut hanya terdengar ketika umat Islam ditimpa musibah besar.

Ketiganya ternyata punya pijakan dalam kitab-kitab empat mazhab.

Hanafi: tidak ada qunut Subuh, kecuali saat musibah

Mazhab Hanafi hanya mengenal qunut dalam shalat witir. Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah, yang dicetak bersama Fatḫ al-Qadîr karya Ibnu al-Humâm (w. 861 H), menulis setelah membahas qunut witir:

(وَلَا يَقْنُتُ فِي صَلَاةٍ غَيْرِهَا) خِلَافًا لِلشَّافِعِيِّ ... فِي الْفَجْرِ

"(Tidak berqunut dalam shalat selain witir), berbeda dengan asy-Syâfi’î ... dalam shalat Subuh."

Al-Kâsânî (w. 587 H) dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ bahkan menyebut makmum Hanafi tidak mengikuti imam yang berqunut Subuh, karena qunut Subuh baginya sudah dihapus: "أَوْ بِمَنْ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ ... لَا يُتَابِعُهُ لِظُهُورِ خَطَئِهِ بِيَقِينٍ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ مَنْسُوخٌ", atau di belakang imam yang berqunut Subuh ... ia tidak mengikutinya, karena kekeliruannya sudah jelas, sebab semua itu telah dihapus.

Tetapi "dihapus" di sini bukan berarti qunut Subuh tidak pernah boleh sama sekali. Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H) dalam Radd al-Muḫtâr menukil ath-Thaḫâwî:

إنَّمَا لَا يَقْنُتُ عِنْدَنَا فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ مِنْ غَيْرِ بَلِيَّةٍ، فَإِنْ وَقَعَتْ فِتْنَةٌ أَوْ بَلِيَّةٌ فَلَا بَأْسَ بِهِ

"Menurut kami, tidak berqunut dalam shalat Subuh hanyalah ketika tidak ada musibah. Jika terjadi fitnah atau musibah, tidak mengapa berqunut."

Lalu ia menyimpulkan bahwa yang dihapus adalah "نَسْخُ عُمُومِ الْحُكْمِ لَا نَسْخُ أَصْلِهِ", keberlakuan umumnya, bukan pokok hukumnya.

Dalil mazhab Hanafi. Ibnu al-Humâm membawakan riwayat Ibnu Mas’ûd dari al-Bazzâr, Ibnu Abî Syaibah, ath-Thabrânî, dan ath-Thaḫâwî:

لَمْ يَقْنُتْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الصُّبْحِ إلَّا شَهْرًا ثُمَّ تَرَكَهُ لَمْ يَقْنُتْ قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ

"Rasulullah ﷺ tidak berqunut dalam shalat Subuh kecuali selama sebulan, kemudian beliau meninggalkannya. Beliau tidak berqunut sebelum maupun sesudahnya."

Ia jujur mengakui bahwa perawinya, Abû Ḫamzah al-Qashshâb, dilemahkan. Tetapi ia membalas bahwa Abû Ja’far ar-Râzî, perawi hadis Anas yang dipakai mazhab Syafi’i, juga dilemahkan oleh banyak ulama. Ia lalu membawakan riwayat lain dari Anas sendiri ketika diberi tahu ada orang yang mengatakan Nabi terus berqunut Subuh: "كَذَبُوا إنَّمَا قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ شَهْرًا وَاحِدًا يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْمُشْرِكِينَ", mereka keliru; Rasulullah ﷺ hanya berqunut sebulan, mendoakan keburukan atas beberapa kabilah musyrik.

Argumen terkuat Ibnu al-Humâm justru argumen nalar. Seandainya qunut Subuh dilakukan setiap hari sampai Nabi wafat, tentu tidak akan diperselisihkan:

انْقَطَعَ بِأَنَّ الْقُنُوتَ لَمْ يَكُنْ سُنَّةً رَاتِبَةً ... بَلْ كَانَ سَبِيلُهُ أَنْ يُنْقَلَ كَنَقْلِ جَهْرِ الْقِرَاءَةِ وَمُخَافَتَتِهَا وَأَعْدَادِ الرَّكَعَاتِ

"Pastilah qunut itu bukan sunnah rutin ... Seandainya rutin, jalannya adalah dinukil secara luas, seperti dinukilnya bacaan keras dan pelan serta jumlah rakaat."

Maliki: sunnah, dibaca pelan sebelum rukuk

Mazhab Maliki menganggap qunut Subuh sunnah, dengan dua ciri: dibaca pelan dan sebelum rukuk. Dalam al-Mudawwanah tertulis:

وَقَالَ مَالِكٌ فِي الْقُنُوتِ فِي الصُّبْحِ: كُلُّ ذَلِكَ وَاسِعٌ قَبْلَ الرُّكُوعِ وَبَعْدَ الرُّكُوعِ، قَالَ مَالِكٌ: وَاَلَّذِي آخُذُ بِهِ فِي خَاصَّةِ نَفْسِي قَبْلَ الرُّكُوعِ

"Mâlik berkata tentang qunut Subuh: semuanya lapang, sebelum maupun sesudah rukuk. Mâlik berkata: yang aku amalkan untuk diriku sendiri adalah sebelum rukuk."

Masih dalam al-Mudawwanah, Mâlik menegaskan bahwa orang yang lupa qunut "لَا سَهْوَ عَلَيْهِ", tidak perlu sujud sahwi, dan "لَيْسَ فِي الْقُنُوتِ دُعَاءٌ مَعْرُوفٌ وَلَا وُقُوفٌ مُوَقَّتٌ", tidak ada doa qunut yang baku, tidak pula lama berdiri yang ditentukan.

Al-Khurasyî (w. 1101 H) dalam syarahnya atas Mukhtashar Khalîl merangkum: "(وَقُنُوتٍ سِرًّا بِصُبْحٍ فَقَطْ وَقَبْلَ الرُّكُوعِ)", dan (disunnahkan) qunut dengan suara pelan, khusus pada Subuh, sebelum rukuk. Tentang posisi sebelum rukuk ia menjelaskan: "وَيُنْدَبُ أَيْضًا أَنْ يَكُونَ قَبْلَ الرُّكُوعِ لِمَا فِيهِ مِنْ الرِّفْقِ", dianjurkan pula sebelum rukuk karena lebih memberi kelonggaran. Ad-Dasûqî (w. 1230 H) dalam Ḫâsyiyah-nya atas asy-Syarḫ al-Kabîr karya ad-Dardîr (w. 1201 H) menjelaskan mengapa dibaca pelan:

وَإِنَّمَا نُدِبَ الْإِسْرَارُ بِهِ لِأَنَّهُ دُعَاءٌ وَهُوَ يُنْدَبُ الْإِسْرَارُ بِهِ حَذَرًا مِنْ الرِّيَاءِ

"Qunut disunnahkan dibaca pelan karena ia doa, dan doa disunnahkan dibaca pelan untuk menghindari riya."

Dalil mazhab Maliki. Al-Mudawwanah membawakan riwayat Ibnu Wahb tentang sejumlah sahabat dan tabi’in:

وَإِنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ وَالْحَسَنَ وَأَبَا مُوسَى الْأَشْعَرِيَّ وَأَبَا بَكْرَةَ وَابْنَ عَبَّاسٍ وَعَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي لَيْلَى قَالُوا: الْقُنُوتُ فِي الْفَجْرِ سُنَّةٌ مَاضِيَةٌ

"Ibnu Mas’ûd, al-Ḫasan, Abû Mûsâ al-Asy’arî, Abû Bakrah, Ibnu ’Abbâs, dan ’Abdurraḫmân bin Abî Lailâ berkata: qunut Subuh adalah sunnah yang terus berlaku."

Riwayat yang sama menyebut bahwa Ibnu Sîrîn, ar-Rabî’ bin Khutsaim, ’Abîdah as-Salmânî, dan al-Barâ’ bin ’Âzib berqunut sebelum rukuk. Riwayat-riwayat ini sejalan dengan pilihan Mâlik untuk berqunut sebelum rukuk.

Syafi’i: sunnah setiap Subuh, setelah bangkit dari rukuk

Mazhab Syafi’i menganggap qunut Subuh sunnah yang dilakukan setiap hari. Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H) dalam Tuḫfat al-Muḫtâj menulis:

(وَيُسَنُّ) ... (الْقُنُوتُ فِي اعْتِدَالِ ثَانِيَةِ الصُّبْحِ) لِلْخَبَرِ الصَّحِيحِ عَنْ أَنَسٍ «مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا»

"(Disunnahkan) ... (qunut ketika i’tidal rakaat kedua shalat Subuh), berdasarkan hadis sahih dari Anas: 'Rasulullah ﷺ senantiasa berqunut dalam shalat Subuh hingga beliau meninggalkan dunia.'"

Ia menambahkan "وَنَقَلَ الْبَيْهَقِيُّ الْعَمَلَ بِمُقْتَضَاهُ عَنْ الْخُلَفَاءِ الْأَرْبَعَةِ", al-Baihaqî menukil pengamalannya dari empat khalifah. Posisinya harus setelah rukuk. Ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj menjelaskan alasannya:

وَلَا يُجْزِي الْقُنُوتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ وَإِنْ صَحَّ أَنَّهُ ﷺ قَنَتَ قَبْلَهُ أَيْضًا، لِأَنَّ رُوَاةَ الْقُنُوتِ بَعْدَهُ أَكْثَرُ وَأَحْفَظُ

"Qunut sebelum rukuk tidak mencukupi, walaupun benar Nabi ﷺ pernah berqunut sebelumnya juga, karena perawi qunut sesudah rukuk lebih banyak dan lebih kuat hafalannya."

Karena itu Ibnu Ḫajar menegaskan: "فَلَوْ قَنَتَ شَافِعِيٌّ قَبْلَهُ لَمْ يُجْزِهِ وَيَسْجُدُ لِلسَّهْوِ", seandainya pengikut Syafi’i berqunut sebelum rukuk, itu tidak mencukupi, dan ia sujud sahwi.

Dalil mazhab Syafi’i. An-Nawawî (w. 676 H) dalam al-Majmû’ berpegang pada hadis Anas: Nabi ﷺ berqunut sebulan mendoakan keburukan atas mereka lalu meninggalkannya, "فَأَمَّا فِي الصُّبْحِ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا", adapun pada shalat Subuh, beliau terus berqunut hingga meninggalkan dunia. Ia menilai:

حَدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَاهُ جَمَاعَةٌ مِنْ الْحُفَّاظِ وَصَحَّحُوهُ

"Hadis sahih, diriwayatkan oleh sejumlah huffâzh dan mereka mensahihkannya." Di antaranya, sebut an-Nawawî, al-Ḫâkim dan al-Baihaqî.

Lalu bagaimana dengan riwayat "kemudian beliau meninggalkannya"? An-Nawawî menjawab:

فَالْمُرَادُ تَرَكَ الدُّعَاءَ عَلَى أُولَئِكَ الْكُفَّارِ وَلَعْنَتَهُمْ فَقَطْ لَا تَرَكَ جَمِيعَ الْقُنُوتِ أَوْ تَرَكَ الْقُنُوتَ فِي غَيْرِ الصُّبْحِ

"Yang dimaksud adalah beliau meninggalkan doa keburukan dan laknat atas orang-orang kafir itu saja, bukan meninggalkan seluruh qunut, atau meninggalkan qunut pada selain Subuh." Ia menambahkan bahwa penafsiran ini wajib ditempuh agar kedua hadis bisa dipadukan, dan menukil ’Abdurraḫmân bin Mahdî: "إنَّمَا تَرَكَ اللَّعْنَ", yang beliau tinggalkan hanyalah laknat.

Hanbali: makruh dirutinkan, sunnah saat musibah

Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî menulis:

وَلَا يُسَنُّ الْقُنُوتُ فِي الصُّبْحِ، وَلَا غَيْرِهَا مِنْ الصَّلَوَاتِ، سِوَى الْوِتْرِ

"Qunut tidak disunnahkan dalam shalat Subuh maupun shalat lainnya, selain witir."

Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menegaskan pendapat resmi mazhab: "الصَّحِيحُ مِنْ الْمَذْهَبِ: أَنَّهُ يُكْرَهُ الْقُنُوتُ فِي الْفَجْرِ كَغَيْرِهَا، وَعَلَيْهِ الْجُمْهُورُ", pendapat yang sahih dalam mazhab: makruh berqunut Subuh seperti shalat lainnya, dan ini dipegang mayoritas. Tetapi ia juga menukil ucapan Imam Aḫmad yang patut dicatat: "لَا أُعَنِّفُ مَنْ يَقْنُتُ", aku tidak mencela orang yang berqunut.

Ketika musibah menimpa umat, hukumnya berubah. Ibnu Qudâmah menulis: "فَإِنْ نَزَلَ بِالْمُسْلِمِينَ نَازِلَةٌ، فَلِلْإِمَامِ أَنْ يَقْنُتَ فِي صَلَاةِ الصُّبْحِ", jika umat Islam ditimpa musibah besar, imam boleh berqunut dalam shalat Subuh. Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ bahkan menyatakan makmum tetap mengikuti imam yang berqunut:

(فَإِنْ ائْتَمَّ بِمَنْ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ أَوْ فِي النَّازِلَةِ تَابَعَهُ) ... (وَأَمَّنَ) الْمَأْمُومُ (إنْ كَانَ يَسْمَعُ)

"(Jika ia bermakmum kepada imam yang berqunut Subuh atau qunut nazilah, ia mengikutinya) ... (dan makmum mengaminkan jika ia mendengar)."

Dalil mazhab Hanbali. Ibnu Qudâmah berdalil dengan hadis riwayat Muslim bahwa Nabi ﷺ "قَنَتَ شَهْرًا، يَدْعُو عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ، ثُمَّ تَرَكَهُ", berqunut sebulan mendoakan keburukan atas salah satu kabilah Arab, kemudian meninggalkannya. Lalu hadis Abû Mâlik al-Asyja’î:

قُلْت لِأَبِي: يَا أَبَتِ، إنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ هَاهُنَا بِالْكُوفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ، أَكَانُوا يَقْنُتُونَ؟ قَالَ: أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ

"Aku bertanya kepada ayahku: Wahai ayah, engkau pernah shalat di belakang Rasulullah ﷺ, Abû Bakr, ’Umar, ’Utsmân, dan ’Alî di Kufah ini sekitar lima tahun. Apakah mereka berqunut? Ia menjawab: Wahai anakku, itu hal baru." Ibnu Qudâmah menukil at-Tirmidzî bahwa hadis ini ḫasan shaḫîḫ.

Tentang hadis Anas, al-Buhûtî menawarkan dua tafsiran: "فَيُحْمَلُ عَلَى أَنَّهُ أَرَادَ طُولَ الْقِيَامِ فَإِنَّهُ يُسَمَّى قُنُوتًا أَوْ أَنَّهُ كَانَ يَقْنُتُ إذَا دَعَا لِقَوْمٍ، أَوْ دَعَا عَلَيْهِمْ", maksudnya adalah lama berdiri, karena itu juga disebut qunut, atau beliau berqunut ketika mendoakan kebaikan atau keburukan untuk suatu kaum.

Mengapa berbeda? Satu kata "taraka"

Semua mazhab mengakui bahwa Nabi ﷺ pernah berqunut sebulan lalu taraka (meninggalkan). Perbedaannya ada pada apa yang ditinggalkan. Bagi Hanafi dan Hanbali, yang ditinggalkan adalah qunut itu sendiri, kecuali ketika musibah. Bagi Syafi’i, yang ditinggalkan hanya doa keburukan atas kabilah tertentu, sedangkan qunut Subuh terus berjalan berdasarkan hadis Anas. Maliki sejalan dengan Syafi’i dalam kesunnahannya, tetapi memilih posisi sebelum rukuk berdasarkan riwayat para sahabat.

Menariknya, nama Ibnu Mas’ûd muncul di kedua kubu. Mazhab Hanafi membawakan riwayat darinya bahwa Nabi hanya berqunut sebulan, sedangkan al-Mudawwanah membawakan riwayat bahwa ia berkata qunut Subuh adalah sunnah yang terus berlaku.

Ringkasnya

MazhabQunut Subuh setiap hariPosisiSaat musibah (nâzilah)
HanafiTidak disyariatkan (dihapus)–Boleh, menurut ath-Thaḫâwî
MalikiSunnah, dibaca pelanSebelum rukuk (sesudah rukuk juga boleh)–
Syafi’iSunnahI’tidal rakaat kedua; sebelum rukuk tidak mencukupi–
HanbaliMakruh–Sunnah bagi imam

Pelajaran untuk kita

  1. Makmum di belakang imam yang berbeda mazhab. Al-Buhûtî dari mazhab Hanbali menegaskan makmum tetap mengikuti imam yang berqunut dan mengaminkannya. Pandangan ini menenangkan bagi jamaah yang shalat di masjid dengan tradisi berbeda.
  2. Posisi qunut punya konsekuensi berbeda. Dalam al-Mudawwanah, Mâlik berkata orang yang lupa qunut tidak perlu sujud sahwi. Dalam mazhab Syafi’i, qunut sebelum rukuk tidak dihitung, dan menurut Ibnu Ḫajar pelakunya sujud sahwi.
  3. Imam Aḫmad memberi teladan adab berbeda pendapat. Walaupun mazhabnya memakruhkan qunut Subuh, ia berkata, "Aku tidak mencela orang yang berqunut."

Rujukan

  1. Al-Kâsânî (w. 587 H). Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ fî Tartîb asy-Syarâ’i’. Juz 1, hlm. 278, Fashl Bayân Qadr Shalât al-’Îdain. shamela.ws/book/8183/277
  2. Al-Marghînânî (w. 593 H), al-Hidâyah, dicetak bersama Ibnu al-Humâm (w. 861 H), Fatḫ al-Qadîr (cet. al-Ḫalabî). Juz 1, hlm. 430–431 dan 434, Bâb Shalât al-Witr. shamela.ws/book/21744/428, shamela.ws/book/21744/429, shamela.ws/book/21744/432
  3. Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H). Radd al-Muḫtâr ’alâ ad-Durr al-Mukhtâr (cet. al-Ḫalabî). Juz 2, hlm. 11, Bâb al-Witr wa an-Nawâfil. shamela.ws/book/21613/667
  4. Mâlik bin Anas (w. 179 H). Al-Mudawwanah, riwayat Saḫnûn. Juz 1, hlm. 192–193, al-Qunût fî ash-Shubḫ wa ad-Du’â’ fî ash-Shalâh. shamela.ws/book/587/80, shamela.ws/book/587/81
  5. Ad-Dardîr (w. 1201 H), asy-Syarḫ al-Kabîr, bersama Ḫâsyiyat ad-Dasûqî (w. 1230 H). Juz 1, hlm. 248, Mandûbât ash-Shalâh. shamela.ws/book/21604/247
  6. Al-Khurasyî (w. 1101 H). Syarḫ al-Khurasyî ’alâ Mukhtashar Khalîl. Juz 1, hlm. 282, Fashl fî Farâ’idh ash-Shalâh. shamela.ws/book/91/281
  7. An-Nawawî (w. 676 H). Al-Majmû’ Syarḫ al-Muhadzdzab (cet. al-Munîriyyah). Juz 3, hlm. 504–505, Kitâb ash-Shalâh. shamela.ws/book/2186/1634, shamela.ws/book/2186/1635
  8. Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 2, hlm. 64, Bâb Shifat ash-Shalâh. shamela.ws/book/9059/569
  9. Syamsuddîn ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 1, hlm. 503, ar-Rukn as-Sâdis: al-I’tidâl. shamela.ws/book/3565/501
  10. Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 2, hlm. 114–115, fasal no. 1081–1082. shamela.ws/book/8463/562, shamela.ws/book/8463/563
  11. Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 2, hlm. 174, Bâb Shalât at-Tathawwu’. shamela.ws/book/21609/669
  12. Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 1, hlm. 421, Bâb Shalât at-Tathawwu’. shamela.ws/book/21642/414
Bagikan ke WhatsApp
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Dosen & Pengajar Fiqih · Profil

Tulisan lainnya

Zakat

Zakat Fitrah dengan Uang: Sah atau Harus Makanan Pokok?

Setiap akhir Ramadhan, panitia zakat di masjid biasanya menyediakan dua meja: satu menerima beras, satu lagi menerima uang. Banyak keluarga di kota memilih uang karena lebih praktis, dan…

17 Oktober 2026 · 9 menit baca
Thaharah

Menyentuh Kemaluan Sendiri: Wudhu Batal atau Tetap Sah?

Pertanyaan ini hampir pasti pernah terlintas. Selesai berwudhu, lalu memakai sarung atau merapikan celana, tangan tanpa sengaja menyentuh kemaluan. Atau seorang ibu yang sudah berwudhu…

17 Oktober 2026 · 8 menit baca
Shalat

Makmum Wajib Baca Al-Fatihah atau Cukup Diam?

Perhatikan jamaah shalat Maghrib di masjid yang ramai. Saat imam membaca Al-Fatihah dengan suara keras, sebagian makmum ikut komat-kamit membaca Al-Fatihah. Sebagian lain diam mendengarkan…

17 Oktober 2026 · 9 menit baca