← Semua tulisan

Perbandingan Mazhab

Najis Anjing: Kenapa Ada Mazhab yang Menganggapnya Suci?

Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H. · 17 Oktober 2026 · 10 menit baca

Di Indonesia, anjing hampir otomatis identik dengan najis mughallazhah, najis berat yang harus dicuci tujuh kali, salah satunya dengan tanah. Begitu yang kita hafal sejak madrasah. Maka banyak yang kaget ketika mendengar bahwa Imam Mâlik memandang anjing hidup itu suci, dan mazhab Hanafi cukup mencuci bekas jilatannya tiga kali.

Bagaimana bisa satu hadis yang sama melahirkan jawaban sejauh itu? Mari kita buka kitab-kitab empat mazhab.

Hadis yang menjadi pangkal

Semua mazhab berangkat dari hadis Abû Hurairah tentang anjing yang menjilat bejana. Salah satu redaksinya dinukil ar-Ramlî dalam Nihâyat al-Muḫtâj:

طَهُورُ إنَاءِ أَحَدِكُمْ إذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

"Cara menyucikan bejana kalian jika dijilat anjing adalah mencucinya tujuh kali, yang pertama dengan tanah."

Pertanyaannya: perintah mencuci itu karena anjing najis, atau sekadar ibadah yang tidak perlu dicari alasannya? Dari sinilah jalan keempat mazhab mulai bercabang.

Maliki: anjing suci, cucian tujuh kali adalah ibadah

Imam Mâlik (w. 179 H) bersikap paling longgar. Dalam al-Mudawwanah, ketika ditanya tentang air dalam bejana yang dijilat anjing lalu dipakai berwudhu, ia menjawab: "إنْ تَوَضَّأَ بِهِ وَصَلَّى أَجْزَأَهُ", jika ia berwudhu dengannya lalu shalat, shalatnya sah. Bahkan susu yang dijilat anjing pun, katanya, boleh diminum.

Ketika ditanya tentang hadis tujuh kali cucian, jawabannya jujur sekali:

قَدْ جَاءَ هَذَا الْحَدِيثُ وَمَا أَدْرِي مَا حَقِيقَتُهُ، قَالَ: وَكَأَنَّهُ كَانَ يَرَى أَنَّ الْكَلْبَ كَأَنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ وَلَيْسَ كَغَيْرِهِ مِنْ السِّبَاعِ

"Hadis ini memang ada, dan aku tidak tahu apa hakikatnya." Perawinya menambahkan: "Seakan-akan beliau memandang anjing itu seperti penghuni rumah, tidak seperti binatang buas lainnya."

Ulama Maliki generasi berikutnya merumuskan sikap ini dengan rapi. Ad-Dardîr (w. 1201 H) dalam asy-Syarḫ al-Kabîr menjelaskan bahwa yang dianjurkan hanyalah:

(وَنُدِبَ غَسْلُ إنَاءِ مَاءٍ وَيُرَاقُ) ذَلِكَ الْمَاءُ نَدْبًا (لَا) إنَاءِ (طَعَامٍ) فَلَا يُنْدَبُ غَسْلُهُ وَلَا إرَاقَتُهُ بَلْ يَحْرُمُ لِمَا فِيهِ مِنْ إضَاعَةِ الْمَالِ ... (تَعَبُّدًا) ... (سَبْعًا)

"Dianjurkan mencuci bejana air dan membuang airnya, bukan bejana makanan. Bejana makanan tidak dianjurkan dicuci dan makanannya tidak dianjurkan dibuang, bahkan haram dibuang karena menyia-nyiakan harta ... dicuci tujuh kali sebagai ibadah."

Al-Khurasyî (w. 1101 H) dalam syarahnya atas Mukhtashar Khalîl menyebut alasannya terang-terangan: "تَعَبُّدًا عَلَى الْمَشْهُورِ لِطَهَارَةِ الْكَلْبِ", sebagai ibadah menurut pendapat masyhur, karena anjing itu suci. Ia juga mencatat dua pendapat lain dalam mazhab: karena kotornya, atau karena najisnya.

Dalil mazhab Maliki. Al-Ḫaththâb dalam Mawâhib al-Jalîl menjelaskan mengapa perintah mencuci tujuh kali tidak dipahami sebagai kewajiban karena najis:

هُنَا قَرِينَةٌ صَارِفَةٌ لِلْأَمْرِ عَنْ ظَاهِرِهِ وَهِيَ قِيَامُ الدَّلِيلِ عَلَى طَهَارَةِ الْكَلْبِ

"Di sini ada petunjuk yang memalingkan perintah dari makna zahirnya, yaitu adanya dalil tentang sucinya anjing."

Salah satu dalil itu disebut al-Ḫaththâb ketika menukil al-Qâdhî ’Iyâdh tentang maksud Imam Mâlik "melemahkan" hadis tujuh kali. Menurut satu penafsiran:

أَرَادَ تَضْعِيفَ الْحَدِيثَ؛ لِأَنَّهُ خَبَرُ وَاحِدٍ ظَاهِرُهُ نَجَاسَةُ الْكَلْبِ وَعَارَضَ قَوْله تَعَالَى ﴿فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ﴾ [المائدة: ٤]

"Beliau bermaksud melemahkan hadis itu, karena ia hadis ahad yang zahirnya menunjukkan najisnya anjing, padahal bertentangan dengan firman Allah, 'Maka makanlah dari apa yang ditangkap (binatang pemburu) untukmu' (QS al-Mâ’idah: 4)."

Maksudnya, ayat itu menghalalkan buruan yang ditangkap dengan mulut anjing pemburu, sehingga zahir hadis tentang najisnya anjing dinilai berbenturan dengannya. Al-Ḫaththâb juga mencatat dengan jujur bahwa penafsiran ini dikritik dalam mazhab, karena hadisnya sahih dan ayat itu bisa dipahami berlaku setelah buruan dicuci. ’Iyâdh sendiri lebih condong bahwa yang dilemahkan Mâlik adalah sisi wajibnya, bukan hadisnya.

Hanafi: liurnya najis, cukup tiga kali

Mazhab Hanafi menolak tafsir ibadah ala Maliki. Al-Kâsânî (w. 587 H) dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ membantahnya dengan logika yang sederhana:

وَالْأَمْرُ بِالْغَسْلِ لَمْ يَكُنْ تَعَبُّدًا، إذْ لَا قُرْبَةَ تَحْصُلُ بِغَسْلِ الْأَوَانِي؛ أَلَا تَرَى أَنَّهُ لَوْ لَمْ يَقْصِدْ صَبَّ الْمَاءِ فِيهِ فِي الْمُسْتَقْبَلِ لَا يَلْزَمُهُ الْغَسْلُ، فَعُلِمَ أَنَّهُ لِنَجَاسَتِهِ

"Perintah mencuci itu bukan ibadah, karena mencuci bejana tidak mendatangkan pahala ibadah. Bukankah jika ia tidak bermaksud memakai bejana itu lagi, ia tidak wajib mencucinya? Maka diketahuilah bahwa perintah itu karena najisnya."

Tetapi berapa kali? Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah menulis: "(وَسُؤْرُ الْكَلْبِ نَجِسٌ) وَيُغْسَلُ الْإِنَاءُ مِنْ وُلُوغِهِ ثَلَاثًا", sisa minum anjing najis, dan bejana dicuci tiga kali karena jilatannya.

Mengapa tiga, padahal hadisnya menyebut tujuh? Ibnu al-Humâm (w. 861 H) dalam Fatḫ al-Qadîr menjawab dengan dua alasan. Pertama, Abû Hurairah sendiri, perawi hadis tujuh kali, diriwayatkan mencuci tiga kali. Ibnu al-Humâm menyebut bahwa ad-Dâraquthnî meriwayatkan amalan Abû Hurairah ini dengan sanad yang sahih secara mauqûf. Kedua, perintah tujuh kali berasal dari masa awal ketika Nabi ﷺ bersikap sangat keras terhadap anjing:

لِلْعِلْمِ بِمَا كَانَ مِنْ التَّشْدِيدِ فِي أَمْرِ الْكِلَابِ أَوَّلَ الْأَمْرِ حَتَّى أَمَرَ بِقَتْلِهَا، وَالتَّشْدِيدُ فِي سُؤْرِهَا يُنَاسَبُ كَوْنِهِ إذْ ذَاكَ وَقَدْ ثَبَتَ نَسْخُ ذَلِكَ

"Karena diketahui adanya sikap keras terhadap anjing di masa awal, sampai-sampai diperintahkan membunuhnya. Sikap keras terhadap sisa minumnya sesuai dengan masa itu, dan telah tetap bahwa perintah itu kemudian dihapus."

Lalu bagaimana dengan tubuh anjing? Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H) dalam Radd al-Muḫtâr menegaskan pendapat yang lebih kuat dalam mazhab:

مِنْ أَنَّهُ لَيْسَ بِنَجِسِ الْعَيْنِ، بَلْ هُوَ طَاهِرُ الظَّاهِرِ كَغَيْرِهِ مِنْ الْحَيَوَانَاتِ سِوَى الْخِنْزِيرِ

"Bahwa anjing tidak najis zatnya, bahkan bagian luarnya suci seperti hewan-hewan lain, selain babi."

Karena itu, dalam mazhab Hanafi, orang yang shalat sambil menggendong anjing yang mulutnya diikat tetap sah shalatnya, selama tidak ada liur yang menetes dalam kadar yang menghalangi sahnya shalat.

Dalil mazhab Hanafi. Al-Marghînânî dalam al-Hidâyah berdalil dengan hadis tiga kali, lalu dengan qiyâs aulâ:

لِقَوْلِهِ ... «يُغْسَلُ الْإِنَاءُ مِنْ وُلُوغِ الْكَلْبِ ثَلَاثًا» وَلِسَانُهُ يُلَاقِي الْمَاءَ دُونَ الْإِنَاءِ، فَلَمَّا تَنَجَّسَ الْإِنَاءُ فَالْمَاءُ أَوْلَى

"Berdasarkan sabda Nabi, 'Bejana dicuci tiga kali karena jilatan anjing.' Lidah anjing menyentuh air, bukan bejananya. Jika bejana saja menjadi najis, air lebih layak lagi."

وَلِأَنَّ مَا يُصِيبُهُ بَوْلُهُ يَطْهُرُ بِالثَّلَاثِ، فَمَا يُصِيبُهُ سُؤْرُهُ وَهُوَ دُونَهُ أَوْلَى

"Dan karena benda yang terkena air kencingnya suci dengan tiga kali cucian, maka benda yang terkena sisa minumnya, yang lebih ringan dari kencing, lebih layak lagi."

Ibnu al-Humâm dalam Fatḫ al-Qadîr tidak menutupi kelemahan riwayat marfû’-nya. Ia menukil ad-Dâraquthnî bahwa riwayat "tiga, lima, atau tujuh kali" "تَفَرَّدَ بِهِ عَبْدُ الْوَهَّابِ عَنْ إسْمَاعِيلَ وَهُوَ مَتْرُوكٌ", diriwayatkan sendirian oleh ’Abd al-Wahhâb dari Ismâ’îl, dan ia matrûk. Karena itu sandaran yang lebih kuat adalah amalan Abû Hurairah yang sahih secara mauqûf, seperti disebut di atas.

Syafi’i: najis berat, seluruh tubuhnya

Mazhab Syafi’i memegang zahir hadis secara penuh dan memperluasnya ke seluruh bagian anjing. Ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj menulis bahwa benda yang terkena anjing:

سَوَاءٌ أَكَانَ بِجُزْءٍ مِنْهُ أَمْ مِنْ فَضَلَاتِهِ ... وَسَوَاءٌ أَكَانَ جَافًّا وَلَاقَى رَطْبًا أَمْ عَكْسَهُ (غُسِلَ سَبْعًا إحْدَاهُنَّ) فِي غَيْرِ أَرْضٍ تُرَابِيَّةٍ (بِتُرَابٍ) وَلَوْ طِينًا رَطْبًا

"Baik terkena bagian tubuhnya maupun kotorannya ... baik bagian anjing yang kering mengenai benda basah maupun sebaliknya, (dicuci tujuh kali, salah satunya) selain pada tanah berdebu, (dengan tanah), walaupun berupa lumpur basah."

Alasannya disebut ar-Ramlî dengan qiyâs aulâ:

وَقَدْ أَمَرَ بِالْغَسْلِ مِنْ وُلُوغِهِ بِفَمِهِ وَهُوَ أَطْيَبُ أَجْزَائِهِ فَغَيْرُهُ مِنْ بَوْلِهِ وَعَرَقِهِ وَرَوْثِهِ وَنَحْوِهَا أَوْلَى

"Nabi memerintahkan mencuci karena jilatan mulutnya, padahal mulut adalah bagian tubuhnya yang paling bersih. Maka bagian lain, seperti air kencing, keringat, dan kotorannya, lebih layak lagi."

Perhatikan syaratnya: harus ada basah di salah satu pihak. An-Nawawî (w. 676 H) dalam al-Majmû’ menyebutnya jelas, "مَعَ رُطُوبَةِ أَحَدِهِمَا", disertai basah pada salah satunya. Menyentuh anjing yang kering dengan tangan kering tidak menajiskan.

Yang menarik, an-Nawawî sendiri punya catatan kritis. Untuk bagian tubuh selain jilatan, ia menukil pendapat yang cukup sekali cuci, lalu menilainya:

وَهَذَا الْوَجْهُ مُتَّجَهٌ وَقَوِيٌّ مِنْ حَيْثُ الدَّلِيلُ لِأَنَّ الْأَمْرَ بِالْغَسْلِ سَبْعًا مِنْ الولوغ انما كان لينفرهم عن مواكلة الْكَلْبِ وَهَذَا مَفْقُودٌ فِي غَيْرِ الْوُلُوغِ وَالْمَشْهُورُ فِي الْمَذْهَبِ أَنَّهُ يَجِبُ سَبْعًا مَعَ التُّرَابِ

"Pendapat ini terarah dan kuat dari sisi dalil, karena perintah mencuci tujuh kali karena jilatan hanyalah untuk menjauhkan mereka dari makan bersama anjing, dan alasan ini tidak ada pada selain jilatan. Namun yang masyhur dalam mazhab adalah wajib tujuh kali dengan tanah."

Bagaimana dengan buruan yang digigit anjing pemburu? Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H) dalam Tuḫfat al-Muḫtâj menjawab dengan praktis:

(وَ) الْأَصَحُّ (أَنَّهُ يَكْفِي غَسْلُهُ بِمَاءٍ) سَبْعًا (وَتُرَابٍ) فِي إحْدَاهُنَّ كَغَيْرِهِ (وَلَا يَجِبُ أَنْ يُقَوَّرَ، وَيُطْرَحَ)

"Menurut pendapat yang paling sahih, bekas gigitan itu cukup dicuci tujuh kali dengan air dan tanah pada salah satunya, seperti najis anjing lainnya, dan tidak wajib dipotong lalu dibuang."

Dalil mazhab Syafi’i. Ar-Ramlî dalam Nihâyat al-Muḫtâj berdalil dengan dua riwayat:

لِخَبَرِ الصَّحِيحَيْنِ «إذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيُرِقْهُ ثُمَّ لْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ» وَخَبَرِ مُسْلِمٍ «طَهُورُ إنَاءِ أَحَدِكُمْ إذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ» وَجْهُ الدَّلَالَةِ أَنَّ الْمَاءَ لَوْ لَمْ يَكُنْ نَجِسًا لَمَا أَمَرَنَا بِإِرَاقَتِهِ لِمَا فِيهِ مِنْ إتْلَافِ الْمَالِ

"Berdasarkan hadis dalam ash-Shaḫîḫain, 'Jika anjing menjilat bejana salah seorang dari kalian, hendaklah ia menumpahkan isinya, lalu mencucinya tujuh kali,' dan hadis Muslim, 'Cara menyucikan bejana kalian jika dijilat anjing adalah mencucinya tujuh kali, yang pertama dengan tanah.' Sisi pendalilannya: seandainya air itu tidak najis, Nabi tidak akan memerintahkan kita menumpahkannya, karena itu berarti menyia-nyiakan harta."

Hanbali: sama dengan Syafi’i, tapi sabun boleh menggantikan tanah

Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî menegaskan bahwa najis anjing dan babi:

لَا يَخْتَلِفُ الْمَذْهَبُ فِي أَنَّهُ يَجِبُ غَسْلُهَا سَبْعًا، إحْدَاهُنَّ بِالتُّرَابِ، وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ

"Tidak ada perbedaan dalam mazhab bahwa najis itu wajib dicuci tujuh kali, salah satunya dengan tanah, dan ini juga pendapat asy-Syâfi’î."

Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menegaskan bahwa anjing dan seluruh bagian tubuhnya najis menurut pendapat yang sahih dan dipegang mayoritas ulama Hanbali. Tetapi ia juga mencatat suara berbeda di dalam mazhab: "وَقِيلَ: يُغْسَلُ وُلُوغُهُ فَقَطْ تَعَبُّدًا، وِفَاقًا لِمَالِكٍ", ada yang berpendapat hanya jilatannya yang dicuci, sebagai ibadah, sejalan dengan Mâlik.

Lalu ada satu kemudahan yang khas Hanbali. Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ menulis:

(وَيَقُومُ أُشْنَانٌ وَصَابُونٌ وَنُخَالَةٌ وَنَحْوُهَا) مِنْ كُلِّ مَا لَهُ قُوَّةٌ فِي الْإِزَالَةِ (مَقَامَهُ) أَيْ: التُّرَابِ (وَلَوْ مَعَ وُجُودِهِ) ... لِأَنَّ نَصَّهُ عَلَى التُّرَابِ تَنْبِيهٌ عَلَى مَا هُوَ أَبْلَغُ مِنْهُ فِي التَّنْظِيفِ

"(Usynan, sabun, dedak, dan semisalnya), yaitu segala yang punya daya membersihkan, (dapat menggantikan) tanah, (walaupun tanah tersedia) ... karena penyebutan tanah dalam hadis adalah isyarat kepada sesuatu yang lebih kuat daya bersihnya."

Al-Buhûtî juga menolak tafsir ibadah ala Maliki. Kalau mencuci itu ibadah, katanya, "لَمَا اخْتَصَّ الْغَسْلُ بِمَوْضِعِ الْوُلُوغِ", tentu yang dicuci tidak terbatas pada tempat jilatan saja.

Dalil mazhab Hanbali. Ibnu Qudâmah dalam al-Mughnî berpegang pada hadis tujuh kali dan sekaligus menjawab dalil mazhab Hanafi:

وَلَنَا مَا رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «إذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعًا» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَلِمُسْلِمٍ، وَأَبِي دَاوُد: «أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ»

"Dalil kami adalah hadis Abû Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, 'Jika anjing menjilat bejana salah seorang dari kalian, hendaklah ia mencucinya tujuh kali' (muttafaq ’alaih). Dalam riwayat Muslim dan Abû Dâwud: 'yang pertama dengan tanah.'"

Tentang hadis "tiga, lima, atau tujuh kali" yang dipakai mazhab Hanafi, Ibnu Qudâmah berkata: "وَحَدِيثُهُمْ يَرْوِيهِ عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ الضَّحَّاكِ، وَهُوَ ضَعِيفٌ", hadis mereka diriwayatkan oleh ’Abd al-Wahhâb bin adh-Dhaḫḫâk, dan ia lemah. Ia juga mencatat bahwa perawi tepercaya lain meriwayatkannya dengan lafaz "tujuh kali".

Ringkasnya

MazhabStatus anjingCara menyucikan bekas jilatan
HanafiLiur dan sisa minumnya najis; tubuhnya tidak najis zatnya (pendapat terkuat)Cuci tiga kali
MalikiAnjing hidup suciBejana air dianjurkan dicuci tujuh kali sebagai ibadah; makanan tidak dibuang
Syafi’iNajis berat, seluruh bagian tubuh, bila ada basahTujuh kali, salah satunya dengan tanah (boleh lumpur basah)
HanbaliNajis berat, seluruh bagian tubuhTujuh kali, salah satunya dengan tanah; sabun dan sejenisnya boleh menggantikan tanah

Pelajaran untuk kita

  1. Kering bertemu kering tidak menajiskan. Ini berlaku bahkan dalam mazhab Syafi’i yang paling ketat. Anjing yang lewat dan menyenggol celana kering tidak membuat celana itu najis.
  2. Perbedaan ini lahir dari cara memahami alasan perintah. Apakah tujuh kali itu karena najis, karena ibadah, atau karena dulu Nabi ﷺ sedang bersikap keras terhadap anjing? Masing-masing jawaban punya dalilnya.
  3. Memelihara anjing tetap ada aturannya. Ibnu Ḫajar dalam Tuḫfat al-Muḫtâj menulis: "يَحْرُمُ اقْتِنَاءُ كَلْبٍ ضَارٍ، وَمَا لَا نَفْعَ فِيهِ مُطْلَقًا", haram memelihara anjing galak dan anjing yang tidak ada manfaatnya. Yang dibolehkan adalah anjing untuk berburu atau menjaga tanaman dan rumah.

Rujukan

  1. Mâlik bin Anas (w. 179 H). Al-Mudawwanah, riwayat Saḫnûn. Juz 1, hlm. 115, Fî al-Wudhû’ bi Su’r ad-Dawâbb wa ad-Dajâj wa al-Kilâb. shamela.ws/book/587/3
  2. Ad-Dardîr (w. 1201 H), asy-Syarḫ al-Kabîr, bersama Ḫâsyiyat ad-Dasûqî (w. 1230 H). Juz 1, hlm. 83, Fashl Ḫukm Izâlat an-Najâsah. shamela.ws/book/21604/82
  3. Al-Khurasyî (w. 1101 H). Syarḫ al-Khurasyî ’alâ Mukhtashar Khalîl. Juz 1, hlm. 118, Fashl Izâlat an-Najâsah. shamela.ws/book/91/117
  4. Al-Kâsânî (w. 587 H). Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ fî Tartîb asy-Syarâ’i’. Juz 1, hlm. 64, Fashl fî ath-Thahârah al-Ḫaqîqiyyah. shamela.ws/book/8183/63
  5. Al-Marghînânî (w. 593 H), al-Hidâyah, dicetak bersama Ibnu al-Humâm (w. 861 H), Fatḫ al-Qadîr (cet. al-Ḫalabî). Juz 1, hlm. 109, Fashl fî al-As’âr. shamela.ws/book/21744/107
  6. Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H). Radd al-Muḫtâr ’alâ ad-Durr al-Mukhtâr (cet. al-Ḫalabî). Juz 1, hlm. 403, Bâb Syurûth ash-Shalâh. shamela.ws/book/21613/398
  7. An-Nawawî (w. 676 H). Al-Majmû’ Syarḫ al-Muhadzdzab (cet. al-Munîriyyah). Juz 2, hlm. 586, Bâb Izâlat an-Najâsah. shamela.ws/book/2186/1114
  8. Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 9, hlm. 331, Kitâb ash-Shaid. shamela.ws/book/9059/4168
  9. Syamsuddîn ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 1, hlm. 235 dan 252, Bâb an-Najâsah. shamela.ws/book/3565/233, shamela.ws/book/3565/250
  10. Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 1, hlm. 39–40, masalah no. 54. shamela.ws/book/8463/37, shamela.ws/book/8463/38
  11. Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 1, hlm. 310, Bâb Izâlat an-Najâsah. shamela.ws/book/21609/308
  12. Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 1, hlm. 182, Bâb Izâlat an-Najâsah al-Ḫukmiyyah. shamela.ws/book/21642/175
  13. Al-Ḫaththâb (w. 954 H). Mawâhib al-Jalîl fî Syarḫ Mukhtashar Khalîl. Juz 1, hlm. 175, Fashl Bayân Ḫukm an-Najâsah. shamela.ws/book/569/174
Bagikan ke WhatsApp
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Dosen & Pengajar Fiqih · Profil

Tulisan lainnya

Perbandingan Mazhab

Makmum Wajib Baca Al-Fatihah atau Cukup Diam?

Perhatikan jamaah shalat Maghrib di masjid yang ramai. Saat imam membaca Al-Fatihah dengan suara keras, sebagian makmum ikut komat-kamit membaca Al-Fatihah. Sebagian lain diam mendengarkan…

17 Oktober 2026 · 9 menit baca
Perbandingan Mazhab

Belanja di Minimarket Tanpa Ijab Kabul: Sah?

Coba ingat kapan terakhir kali Anda berbelanja di minimarket. Ambil keranjang, pilih barang, taruh di meja kasir. Kasir memindai, layar menampilkan angka, Anda menempelkan kartu atau…

17 Oktober 2026 · 10 menit baca
Perbandingan Mazhab

Bersentuhan Kulit dengan Lawan Jenis, Batal Wudhu atau Tidak?

Musim haji selalu menghadirkan pemandangan yang sama. Di pelataran Masjidil Haram, ribuan orang thawaf berdesakan. Bahu bersenggolan, tangan tak sengaja bersentuhan. Lalu seorang jamaah…

17 Oktober 2026 · 11 menit baca