← Semua artikel

Muamalah

Barang Gadai: Bolehkah Dimanfaatkan Penerima Gadai?

Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H. · 20 Oktober 2026 · 12 menit baca

Seorang petani meminjam uang dua puluh juta rupiah kepada tetangganya. Sebagai jaminan, ia menyerahkan sawahnya. Selama utang belum lunas, tetangga itu menggarap sawah tersebut dan mengambil seluruh hasil panennya. Di kampung itu, cara ini disebut "gadai sawah" dan sudah turun-temurun. Hal serupa terjadi pada motor yang digadaikan lalu dipakai sehari-hari oleh pemberi utang. Bolehkah penerima gadai (murtahin) memanfaatkan barang gadai (marhûn)?

Para ulama sepakat bahwa barang gadai tetap milik orang yang menggadaikan (râhin), dan penerima gadai hanya berhak menahannya sebagai jaminan. Mereka berbeda tentang pemanfaatan barang itu oleh penerima gadai: apakah boleh dengan izin pemiliknya, apakah berbeda antara utang karena pinjaman (qardh) dan utang karena jual beli, dan bagaimana dengan hewan tunggangan dan hewan perahan. Tulisan ini menghimpun pendapat empat mazhab dari kitab-kitab mereka sendiri.

Hanafi: tidak boleh tanpa izin; dengan izin diperselisihkan

Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah menulis:

"وليس للمرتهن أن ينتفع بالرهن لا باستخدام، ولا بسكنى ولا لبس، إلا أن يأذن له المالك"؛ لأن له حق الحبس دون الانتفاع

"(Penerima gadai tidak boleh memanfaatkan barang gadai, baik dengan mempekerjakan, menempati, maupun memakainya, kecuali jika pemiliknya mengizinkan), karena ia hanya punya hak menahan, bukan hak memanfaatkan."

Al-Kâsânî (w. 587 H) dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ merincinya: "وَكَذَا لَيْسَ لِلْمُرْتَهِنِ أَنْ يَنْتَفِعَ بِالْمَرْهُونِ، حَتَّى لَوْ كَانَ ... دَابَّةً لَيْسَ لَهُ أَنْ يَرْكَبَهَا، وَإِنْ كَانَ ثَوْبًا لَيْسَ لَهُ أَنْ يَلْبَسَهُ، وَإِنْ كَانَ دَارًا لَيْسَ لَهُ أَنْ يَسْكُنَهَا", demikian pula penerima gadai tidak boleh memanfaatkan barang gadai: jika berupa hewan tunggangan, ia tidak boleh menungganginya; jika pakaian, tidak boleh memakainya; jika rumah, tidak boleh menempatinya. Jika ia tetap memanfaatkannya lalu barang itu rusak saat dipakai, "يَضْمَنُ كُلَّ قِيمَتِهِ؛ لِأَنَّهُ صَارَ غَاصِبًا", ia menanggung seluruh nilainya, karena ia menjadi perampas.

Bagaimana jika pemilik mengizinkan? Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H) dalam Radd al-Muḫtâr menukil pendapat ulama besar Samarkand:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْلَمَ السَّمَرْقَنْدِيِّ وَكَانَ مِنْ كِبَارِ عُلَمَاءِ سَمَرْقَنْدَ أَنَّهُ لَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَنْتَفِعَ بِشَيْءٍ مِنْهُ بِوَجْهٍ مِنْ الْوُجُوهِ وَإِنْ أَذِنَ لَهُ الرَّاهِنُ، لِأَنَّهُ أَذِنَ لَهُ فِي الرِّبَا لِأَنَّهُ يَسْتَوْفِي دَيْنَهُ كَامِلًا فَتَبْقَى لَهُ الْمَنْفَعَةُ فَضْلًا فَيَكُونُ رِبًا

"Dari ’Abdullâh bin Muḫammad bin Aslam as-Samarqandî, salah seorang ulama besar Samarkand: penerima gadai tidak halal memanfaatkan sedikit pun dari barang gadai dengan cara apa pun, walaupun pemiliknya mengizinkan, karena pemilik itu telah mengizinkannya melakukan riba. Sebab ia akan menerima pelunasan utangnya secara penuh, sehingga manfaat itu menjadi tambahan baginya, dan itulah riba."

Ibnu ’Âbidîn mencatat bahwa pendapat ini menyelisihi kebanyakan kitab mu’tamad yang membolehkan dengan izin, lalu menyebut jalan tengah dari Jawâhir al-Fatâwâ: "إذَا كَانَ مَشْرُوطًا صَارَ قَرْضًا فِيهِ مَنْفَعَةٌ وَهُوَ رِبًا وَإِلَّا فَلَا بَأْسَ", jika pemanfaatan itu disyaratkan, ia menjadi pinjaman yang membawa manfaat, dan itu riba; jika tidak disyaratkan, tidak mengapa. Ibnu ’Âbidîn menilai jalan tengah ini "يَصْلُحُ لِلتَّوْفِيقِ وَهُوَ وَجِيهٌ", layak untuk menggabungkan kedua pendapat dan kuat. Ia juga menukil catatan ath-Thahthâwî tentang kebiasaan masyarakat:

وَالْغَالِبُ مِنْ أَحْوَالِ النَّاسِ أَنَّهُمْ إنَّمَا يُرِيدُونَ عِنْدَ الدَّفْعِ الِانْتِفَاعَ، وَلَوْلَاهُ لَمَا أَعْطَاهُ الدَّرَاهِمَ وَهَذَا بِمَنْزِلَةِ الشَّرْطِ، لِأَنَّ الْمَعْرُوفَ كَالْمَشْرُوطِ

"Yang biasa terjadi pada manusia, mereka memberikan uang itu justru karena menginginkan manfaat barang gadai. Seandainya tidak ada manfaat itu, ia tidak akan memberinya uang. Ini sama dengan syarat, karena sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sama dengan yang disyaratkan."

Dalil mazhab Hanafi. Al-Marghînânî dan al-Kâsânî berdalil dengan hakikat akad gadai: "لِأَنَّ عَقْدَ الرَّهْنِ يُفِيدُ مِلْكَ الْحَبْسِ لَا مِلْكَ الِانْتِفَاعِ", akad gadai memberikan hak menahan, bukan hak memanfaatkan. Untuk melarang pemanfaatan yang disyaratkan, Radd al-Muḫtâr bersandar pada kaidah bahwa pinjaman yang membawa manfaat adalah riba, dan menyamakannya dengan hadiah dari orang yang berutang: "إنْ كَانَتْ بِشَرْطٍ كُرِهَ وَإِلَّا فَلَا", jika dengan syarat makruh, jika tidak, tidak.

Maliki: boleh disyaratkan dalam utang jual beli, tidak dalam pinjaman

Ibnu Abî Zaid al-Qairawânî (w. 386 H) dalam ar-Risâlah menulis tentang hasil barang gadai: "وَثَمَرَةُ النَّخْلِ الرَّهْنِ لِلرَّاهِنِ وَكَذَلِكَ غَلَّةُ الدُّورِ", buah kurma yang digadaikan milik orang yang menggadaikan, demikian pula hasil sewa rumah.

Mazhab Maliki membolehkan penerima gadai mensyaratkan manfaat barang gadai untuk dirinya dengan dua syarat. Al-Khurasyî (w. 1101 H) dalam Syarḫ Mukhtashar Khalîl menjelaskan:

أَنْ يَشْتَرِطَ مَنْفَعَةَ الرَّهْنِ لِنَفْسِهِ مَجَّانًا بِشَرْطَيْنِ الْأَوَّلُ أَنْ تَكُونَ مُؤَقَّتَةً بِمُدَّةٍ مُعَيَّنَةٍ لِلْخُرُوجِ مِنْ الْجَهَالَةِ فِي الْإِجَارَةِ الثَّانِي أَنْ يَكُونَ الرَّهْنُ فِي عَقْدِ بَيْعٍ لَا فِي عَقْدِ قَرْضٍ؛ لِأَنَّهُ فِي الْبَيْعِ بَيْعٌ وَإِجَارَةٌ وَهُوَ جَائِزٌ وَفِي الْقَرْضِ سَلَفٌ وَإِجَارَةٌ وَهُوَ لَا يَجُوزُ

"(Penerima gadai boleh) mensyaratkan manfaat barang gadai untuk dirinya secara cuma-cuma dengan dua syarat. Pertama, manfaat itu dibatasi dengan masa tertentu, agar terhindar dari ketidakjelasan dalam sewa-menyewa. Kedua, gadai itu terjadi dalam akad jual beli, bukan dalam akad pinjaman. Sebab dalam jual beli, ia menjadi gabungan jual beli dan sewa, dan itu boleh; sedangkan dalam pinjaman, ia menjadi gabungan pinjaman dan sewa, dan itu tidak boleh."

Bagaimana jika tidak disyaratkan ketika akad, tetapi pemilik mengizinkannya kemudian? Al-Khurasyî menukil al-Lakhmî:

أَمَّا إنْ لَمْ تَكُنْ الْمَنَافِعُ مُشْتَرَطَةً فِي صُلْبِ الْعَقْدِ بَلْ أَبَاحَ الرَّاهِنُ لَهُ الِانْتِفَاعَ بِهِ بَعْدَ الْعَقْدِ فَإِنَّهُ لَا يَجُوزُ فِي بَيْعٍ، وَلَا قَرْضٍ؛ لِأَنَّهُ إنْ كَانَتْ بِغَيْرِ عِوَضٍ فَهَدِيَّةُ مِدْيَانٍ وَإِنْ كَانَتْ بِعِوَضٍ جَرَى عَلَى مُبَايَعَةِ الْمِدْيَانِ

"Adapun jika manfaat itu tidak disyaratkan dalam akad, tetapi pemilik membolehkan penerima gadai memanfaatkannya setelah akad, hal itu tidak boleh, baik dalam utang jual beli maupun pinjaman. Sebab jika tanpa imbalan, ia menjadi hadiah dari orang yang berutang; dan jika dengan imbalan, ia mengikuti hukum transaksi dengan orang yang berutang."

Dalil mazhab Maliki. Ibnu Rusyd al-Jadd (w. 520 H) dalam al-Muqaddimât al-Mumahhidât berdalil dengan hadis "«الرهن ممن رهنه له غنمه وعليه غرمه»", barang gadai menjadi tanggungan orang yang menggadaikannya; keuntungannya untuknya dan kerugiannya atasnya. Ia menjelaskan: "فغنمه نماؤه وزيادته، وغرمه تلفه ونقصانه؛ فأما النماء والزيادة، فلا خلاف أنها للراهن على ما ورد في الحديث", keuntungannya adalah pertumbuhan dan tambahannya, dan kerugiannya adalah rusak dan berkurangnya; pertumbuhan dan tambahan itu, tanpa perbedaan pendapat, milik orang yang menggadaikan sebagaimana disebut dalam hadis. Tentang hadis "الرهن محلوب ومركوب بنفقته", ia menulis "فالذي تأوله عليه أصحابنا على المذهب أن الراهن الذي له الرقبة هو يركبه ويحلبه", ulama mazhab kami menafsirkannya bahwa yang menunggangi dan memerah adalah orang yang menggadaikan, pemilik barangnya. Larangan dalam pinjaman didasarkan pada larangan menggabungkan pinjaman dan sewa, sebagaimana alasan al-Khurasyî di atas.

Syafi’i: syarat manfaat bagi penerima gadai batal

Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H) dalam Tuḫfat al-Muḫtâj mensyarah ucapan an-Nawawî dalam al-Minhâj:

(وَإِنْ نَفَعَ) الشَّرْطُ (الْمُرْتَهِنَ وَضَرَّ الرَّاهِنَ كَشَرْطِ مَنْفَعَتِهِ) مِنْ غَيْرِ تَقْيِيدٍ (لِلْمُرْتَهِنِ بَطَلَ الشَّرْطُ وَكَذَا الرَّهْنُ) يَبْطُلُ (فِي الْأَظْهَرِ) لِمَا فِيهِ مِنْ تَغَيُّرِ قَضِيَّةِ الْعَقْدِ

"(Jika) syarat itu (menguntungkan penerima gadai dan merugikan orang yang menggadaikan, seperti mensyaratkan manfaat barang gadai) tanpa batas waktu (untuk penerima gadai, syarat itu batal, dan demikian pula akad gadainya) batal (menurut pendapat yang lebih kuat), karena syarat itu mengubah konsekuensi akad."

Ibnu Ḫajar lalu menyebut pengecualian yang sama dengan Maliki: "أَمَّا لَوْ قَيَّدَهَا بِسَنَةٍ مَثَلًا وَكَانَ الرَّهْنُ مَشْرُوطًا فِي بَيْعٍ فَهُوَ جَمْعٌ بَيْنَ بَيْعٍ وَإِجَارَةٍ فَيَصِحَّانِ", adapun jika manfaat itu dibatasi, misalnya setahun, dan gadai itu disyaratkan dalam jual beli, maka itu gabungan jual beli dan sewa, dan keduanya sah.

Hak memanfaatkan barang gadai ada pada pemiliknya. Ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj menulis: "(وَلَهُ) أَيْ لِلرَّاهِنِ (كُلُّ انْتِفَاعٍ لَا يَنْقُصُهُ) أَيْ الْمَرْهُونَ ... (كَالرُّكُوبِ) وَالِاسْتِخْدَامِ", orang yang menggadaikan boleh melakukan setiap pemanfaatan yang tidak mengurangi nilai barang gadai, seperti menungganginya dan mempekerjakannya.

Dalil mazhab Syafi’i. Untuk utang pinjaman, ar-Ramlî menjelaskan bahwa setiap syarat yang menguntungkan pemberi pinjaman, termasuk "أَوْ رَهْنِهِ بِدَيْنٍ آخَرَ", membuat akad pinjaman rusak, "لِخَبَرِ فُضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ رضي الله عنه «كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً» أَيْ شَرَطَ فِيهِ مَا يَجُرُّ إلَى الْمُقْرِضِ مَنْفَعَةً \" فَهُوَ رِبًا \"", berdasarkan atsar Fadhâlah bin ’Ubaid: setiap pinjaman yang membawa manfaat, yakni yang disyaratkan di dalamnya sesuatu yang membawa manfaat bagi pemberi pinjaman, adalah riba. Tentang statusnya, ar-Ramlî menulis "وَرُوِيَ مَرْفُوعًا بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ، لَكِنْ صَحَّحَ الْإِمَامُ وَالْغَزَالِيُّ رَفْعَهُ، وَرَوَى الْبَيْهَقِيُّ مَعْنَاهُ عَنْ جَمْعٍ مِنْ الصَّحَابَةِ", ia diriwayatkan secara marfu’ dengan sanad lemah, tetapi al-Imâm (al-Juwainî) dan al-Ghazâlî menshahihkan kemarfu’annya, dan al-Baihaqî meriwayatkan maknanya dari sejumlah sahabat. Lalu ia menyebut hikmahnya: "وَالْمَعْنَى فِيهِ أَنَّ مَوْضُوعَ الْقَرْضِ الْإِرْفَاقُ، فَإِذَا شَرَطَ فِيهِ لِنَفْسِهِ حَقًّا خَرَجَ عَنْ مَوْضُوعِهِ", maknanya, pinjaman pada dasarnya untuk menolong; jika pemberi pinjaman mensyaratkan hak untuk dirinya, pinjaman itu keluar dari tujuannya.

Hanbali: boleh menunggangi dan memerah sebanding nafkah; selebihnya haram dalam pinjaman

Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî mensyarah ucapan al-Khiraqî "(وَلَا يَنْتَفِعُ الْمُرْتَهِنُ مِنْ الرَّهْنِ بِشَيْءِ، إلَّا مَا كَانَ مَرْكُوبًا أَوْ مَحْلُوبًا، فَيَرْكَبُ وَيَحْلُبُ بِقَدْرِ الْعَلَفِ)", penerima gadai tidak boleh memanfaatkan barang gadai sedikit pun, kecuali hewan tunggangan atau perahan; ia boleh menunggangi dan memerahnya sebanding makanannya. Tentang barang yang tidak memerlukan biaya perawatan, seperti rumah dan perabot, ia menulis:

فَلَا يَجُوزُ لِلْمُرْتَهِنِ الِانْتِفَاعُ بِهِ بِغَيْرِ إذْنِ الرَّاهِنِ بِحَالٍ. لَا نَعْلَمُ فِي هَذَا خِلَافًا ... فَإِنْ أَذِنَ الرَّاهِنُ لِلْمُرْتَهِنِ فِي الِانْتِفَاعِ بِغَيْرِ عِوَضٍ، وَكَانَ دَيْنُ الرَّهْنِ مِنْ قَرْضٍ، لَمْ يَجُزْ؛ لِأَنَّهُ يُحَصِّلُ قَرْضًا يَجُرُّ مَنْفَعَةً، وَذَلِكَ حَرَامٌ

"Tidak boleh bagi penerima gadai memanfaatkannya tanpa izin orang yang menggadaikan dalam keadaan apa pun. Kami tidak mengetahui ada perbedaan pendapat dalam hal ini ... Jika orang yang menggadaikan mengizinkan penerima gadai memanfaatkannya tanpa imbalan, dan utangnya berasal dari pinjaman, hal itu tidak boleh, karena menghasilkan pinjaman yang membawa manfaat, dan itu haram."

Ibnu Qudâmah menukil ucapan Aḫmad yang keras: "أَكْرَهُ قَرْضَ، الدُّورِ، وَهُوَ الرِّبَا الْمَحْضُ. يَعْنِي: إذَا كَانَتْ الدَّارُ رَهْنًا فِي قَرْضٍ يَنْتَفِعُ بِهَا الْمُرْتَهِنُ", aku membenci pinjaman dengan jaminan rumah, itu riba murni; maksudnya, jika rumah menjadi barang gadai dalam pinjaman lalu penerima gadai memanfaatkannya. Sebaliknya, "وَإِنْ كَانَ الرَّهْنُ بِثَمَنِ مَبِيعٍ، أَوْ أَجْرِ دَارٍ، أَوْ دَيْنٍ غَيْرِ الْقَرْضِ، فَأَذِنَ لَهُ الرَّاهِنُ فِي الِانْتِفَاعِ، جَازَ ذَلِكَ", jika gadai itu untuk harga barang yang dibeli, sewa rumah, atau utang selain pinjaman, lalu pemiliknya mengizinkan, hal itu boleh. Jika penerima gadai menyewanya dengan sewa yang wajar tanpa potongan, "جَازَ فِي الْقَرْضِ وَغَيْرِهِ، لِكَوْنِهِ مَا انْتَفَعَ بِالْقَرْضِ، بَلْ بِالْإِجَارَةِ", hukumnya boleh dalam pinjaman maupun utang lain, karena ia memanfaatkannya bukan karena pinjaman, tetapi karena sewa.

Hewan tunggangan dan hewan perahan dikecualikan. Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ menulis:

(وَإِذَا كَانَ الرَّهْنُ مَرْكُوبًا أَوْ مَحْلُوبًا فَلَهُ) أَيْ: الْمُرْتَهِنُ (أَنْ يَرْكَبَ وَيَحْلِبَ حَيَوَانًا وَلَوْ أَمَةً مُرْضِعَةً بِغَيْرِ إذْنِ رَاهِنٍ بِقَدْرِ نَفَقَتِهِ نَصًّا)

"(Jika barang gadai berupa hewan tunggangan atau hewan perahan, maka) penerima gadai (boleh menunggangi dan memerahnya, walaupun tanpa izin orang yang menggadaikan, sebanding dengan biaya yang ia keluarkan untuk memberinya makan; ini dinyatakan tegas oleh Aḫmad)."

Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menegaskan: "وَهَذَا الْمَذْهَبُ بِلَا رَيْبٍ. وَعَلَيْهِ الْأَصْحَابُ ... وَهُوَ مِنْ مُفْرَدَاتِ الْمَذْهَبِ", inilah mazhab tanpa keraguan, dipegang para ulama mazhab, dan termasuk kekhasan mazhab Hanbali. Al-Buhûtî menambahkan bahwa selain hewan tunggangan dan perahan, penerima gadai tidak boleh memanfaatkannya sebagai imbalan nafkah, "قَصْرًا لِلنَّصِّ عَلَى مَوْرِدِهِ", karena nas dibatasi pada objek yang disebutkannya.

Dalil mazhab Hanbali. Al-Buhûtî berdalil dengan hadis Abû Hurairah riwayat al-Bukhârî: "«الظَّهْرُ يُرْكَبُ بِنَفَقَتِهِ إذَا كَانَ مَرْهُونًا وَلَبَنُ الدَّرِّ يُشْرَبُ بِنَفَقَتِهِ إذَا كَانَ مَرْهُونًا وَعَلَى الَّذِي يَرْكَبُ وَيَشْرَبُ: النَّفَقَةُ»", hewan tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan nafkahnya jika digadaikan, dan susu hewan perahan boleh diminum sebagai imbalan nafkahnya jika digadaikan, dan yang menunggangi dan meminum wajib memberi nafkah. Ia menolak penafsiran bahwa yang dimaksud adalah pemilik barang: "وَقَوْلُهُ \" بِنَفَقَتِهِ \" أَيْ: بِسَبَبِهَا إذْ الِانْتِفَاعُ عِوَضُ النَّفَقَةِ، وَذَلِكَ إنَّمَا يَأْتِي مِنْ الْمُرْتَهِنِ", sabdanya "dengan nafkahnya" artinya karena nafkah itu, sebab pemanfaatan itu imbalan nafkah, dan ini hanya cocok bagi penerima gadai. Untuk larangan dalam pinjaman, Ibnu Qudâmah beralasan pinjaman itu "يُحَصِّلُ قَرْضًا يَجُرُّ مَنْفَعَةً، وَذَلِكَ حَرَامٌ", menjadi pinjaman yang membawa manfaat, dan itu haram.

Mengapa berbeda?

  1. Hakikat akad gadai. Keempat mazhab sepakat bahwa gadai hanyalah jaminan, sehingga manfaat barang tetap milik orang yang menggadaikan. Karena itu tanpa izin, penerima gadai tidak boleh memanfaatkannya, kecuali pengecualian Hanbali pada hewan tunggangan dan perahan.
  2. Pinjaman yang membawa manfaat. Keempat mazhab memandang manfaat yang diperoleh pemberi pinjaman karena pinjamannya sebagai riba atau haram. Perbedaannya pada izin yang datang belakangan: Hanbali melarang dalam pinjaman walaupun dengan izin; Maliki melarang izin setelah akad karena termasuk hadiah orang yang berutang; Hanafi berbeda pendapat, dan jalan tengahnya adalah melarang jika disyaratkan, termasuk jika sudah menjadi kebiasaan.
  3. Hadis "hewan tunggangan ditunggangi dengan nafkahnya". Hanbali memahaminya untuk penerima gadai. Ibnu Rusyd menyebut ulama Maliki memahaminya untuk pemilik barang.
  4. Utang jual beli berbeda dari pinjaman. Maliki, Syafi’i, dan Hanbali sama-sama membedakan keduanya. Dalam jual beli, manfaat yang disyaratkan dengan masa tertentu dianggap sebagai sewa yang menjadi bagian dari harga, sehingga boleh.

Ringkasnya

MazhabTanpa izin pemilikDengan izin, utang pinjamanDisyaratkan dalam utang jual beliHewan tunggangan dan perahan
HanafiTidak boleh; jika rusak saat dipakai, wajib ganti penuhDiperselisihkan; jalan tengah Radd al-Muḫtâr: haram jika disyaratkan atau sudah menjadi kebiasaanTidak dirinci dalam nukilan di atasTidak boleh ditunggangi tanpa izin
MalikiTidak bolehTidak boleh, baik disyaratkan maupun diizinkan kemudianBoleh jika dibatasi masa tertentuManfaat untuk pemilik
Syafi’iTidak boleh; manfaat untuk pemilikSyaratnya membatalkan pinjaman (kullu qardhin jarra manfa’ah)Boleh jika dibatasi masa tertentu (gabungan jual beli dan sewa)Manfaat untuk pemilik
HanbaliTidak boleh, tanpa perbedaanHaram walaupun diizinkan, kecuali dengan sewa yang wajarBoleh dengan izinPenerima gadai boleh menunggangi dan memerah sebanding nafkah

Pelajaran untuk kita

  1. "Gadai sawah" yang hasilnya diambil pemberi pinjaman selama utang belum lunas termasuk pinjaman yang membawa manfaat. Jika manfaat itu disyaratkan dalam akad pinjaman, hal itu terlarang menurut Maliki, Syafi’i, dan Hanbali; menurut Hanbali, tetap terlarang walaupun hanya diizinkan tanpa syarat. Menurut Radd al-Muḫtâr, jika manfaat itu memang tujuan dari pinjaman, sebagaimana lazim terjadi, hukumnya sama dengan disyaratkan dan termasuk riba.
  2. Izin pemilik tidak menghalalkan pemanfaatan dalam pinjaman menurut Hanbali, sebagaimana ucapan Aḫmad tentang rumah yang digadaikan: "itu riba murni".
  3. Jalan yang dibolehkan Hanbali adalah menyewa barang gadai dengan harga sewa yang wajar, tanpa potongan karena pinjaman.
  4. Motor atau barang lain yang dipakai pemberi pinjaman tanpa izin, lalu rusak, wajib diganti penuh menurut Badâ’i’ ash-Shanâ’i’, karena pemakainya dianggap perampas.
  5. Hewan gadai yang diberi makan oleh penerima gadai boleh ditunggangi atau diperah sebanding biaya makannya menurut Hanbali, berdasarkan hadis al-Bukhârî. Pengecualian ini tidak berlaku untuk barang lain seperti rumah, sawah, atau kendaraan.

Rujukan

  1. Al-Marghînânî (w. 593 H). Al-Hidâyah fî Syarḫ Bidâyat al-Mubtadî. Juz 4, hlm. 415, Kitâb ar-Rahn. shamela.ws/book/11820/1082
  2. Al-Kâsânî (w. 587 H). Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ fî Tartîb asy-Syarâ’i’. Juz 6, hlm. 146, Kitâb ar-Rahn, Fashl fî Ḫukm ar-Rahn. shamela.ws/book/8183/1588
  3. Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H). Radd al-Muḫtâr ’alâ ad-Durr al-Mukhtâr (cet. al-Ḫalabî). Juz 6, hlm. 482, Kitâb ar-Rahn. shamela.ws/book/21613/3924
  4. An-Nafrâwî (w. 1126 H). Al-Fawâkih ad-Dawânî ’alâ Risâlat Ibn Abî Zaid al-Qairawânî. Juz 2, hlm. 166–167, Bâb ar-Rahn. shamela.ws/book/21589/584, shamela.ws/book/21589/585
  5. Al-Khurasyî (w. 1101 H). Syarḫ Mukhtashar Khalîl. Juz 5, hlm. 250, Bâb ar-Rahn, mâ Takûn fîh al-Manfa’ah li al-Murtahin. shamela.ws/book/91/1520
  6. Ibnu Rusyd al-Jadd (w. 520 H). Al-Muqaddimât al-Mumahhidât. Juz 2, hlm. 363, Kitâb ar-Ruhûn. shamela.ws/book/21735/968
  7. Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 5, hlm. 52, Kitâb ar-Rahn. shamela.ws/book/9059/2025
  8. Ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 4, hlm. 230 dan 265, Fashl fî al-Qardh dan Kitâb ar-Rahn. shamela.ws/book/3565/1763, shamela.ws/book/3565/1798
  9. Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 4, hlm. 288–289, Kitâb ar-Rahn, masalah no. 3369. shamela.ws/book/8463/1751, shamela.ws/book/8463/1752
  10. Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 5, hlm. 172, Bâb ar-Rahn. shamela.ws/book/21609/2268
  11. Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 3, hlm. 355–356, Bâb ar-Rahn. shamela.ws/book/21642/1388, shamela.ws/book/21642/1389
Bagikan ke WhatsApp
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Dosen & Pengajar Fiqih · Profil

Artikel lainnya

Munakahat

Mahar Paling Sedikit: Adakah Batas Minimalnya?

20 Oktober 2026 · 10 menit baca
Shalat

Bersedekap atau Melepas Tangan Saat Berdiri dalam Shalat?

20 Oktober 2026 · 10 menit baca
Waris & Wasiat

Wasiat untuk Ahli Waris: Batal, atau Sah Jika Disetujui Ahli Waris Lain?

20 Oktober 2026 · 12 menit baca