Makmum Wajib Baca Al-Fatihah atau Cukup Diam?
Perhatikan jamaah shalat Maghrib di masjid yang ramai. Saat imam membaca Al-Fatihah dengan suara keras, sebagian makmum ikut komat-kamit membaca Al-Fatihah. Sebagian lain diam mendengarkan. Ada juga yang menunggu imam selesai, lalu membaca Al-Fatihah ketika imam sedang membaca surah.
Mana yang benar? Ternyata ketiganya punya dasar dalam kitab-kitab mazhab. Mari kita urai.
Dua dalil yang tampak berbenturan
Di satu sisi, ada hadis "لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ", tidak sah shalat orang yang tidak membaca Al-Fatihah. Di sisi lain, Allah berfirman dalam QS Al-A’râf: 204, ﴿وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾, "Apabila dibacakan Al-Qur’an, dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat."
Apakah makmum termasuk dalam hadis pertama, atau ia diperintahkan diam oleh ayat kedua? Setiap mazhab punya cara sendiri untuk mendamaikan keduanya.
Hanafi: makmum diam, bacaan imam sudah mencukupi
Mazhab Hanafi paling tegas. Dalam ad-Durr al-Mukhtâr, yang dicetak bersama Radd al-Muḫtâr karya Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H), tertulis:
(وَالْمُؤْتَمُّ لَا يَقْرَأُ مُطْلَقًا) وَلَا الْفَاتِحَةَ فِي السَّرِيَّةِ اتِّفَاقًا ... (فَإِنْ قَرَأَ كُرِهَ تَحْرِيمًا) وَتَصِحُّ فِي الْأَصَحِّ
"(Makmum tidak membaca sama sekali), tidak pula Al-Fatihah, bahkan dalam shalat yang bacaannya pelan, menurut kesepakatan (ulama Hanafi) ... (Jika ia membaca, hukumnya makruh tahrim), tetapi shalatnya tetap sah menurut pendapat yang paling sahih."
Al-Kâsânî (w. 587 H) dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ menjelaskan cara Hanafi memahami hadis "tidak sah shalat tanpa Al-Fatihah":
وَصَلَاةُ الْمُقْتَدِي لَيْسَتْ بِصَلَاةٍ بِدُونِ قِرَاءَةٍ أَصْلًا، بَلْ هِيَ صَلَاةٌ بِقِرَاءَةٍ وَهِيَ قِرَاءَةُ الْإِمَامِ
"Shalat makmum bukanlah shalat tanpa bacaan sama sekali. Ia adalah shalat dengan bacaan, yaitu bacaan imam."
Dalilnya adalah hadis "مَنْ كَانَ لَهُ إمَامٌ فَقِرَاءَةُ الْإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ", siapa yang punya imam, bacaan imam adalah bacaan baginya. Hadis ini diperselisihkan. Ibnu al-Humâm (w. 861 H) dalam Fatḫ al-Qadîr mengakui bahwa ad-Dâraquthnî, al-Baihaqî, dan Ibnu ’Adî menilai yang sahih adalah jalur mursal-nya. Tetapi ia membela bahwa hadis mursal adalah hujah bagi kebanyakan ulama, lalu menunjukkan jalur bersambung dari Jâbir melalui Abû Ḫanîfah dan Aḫmad bin Manî’, dan berkata:
وَإِسْنَادُ حَدِيثِ جَابِرٍ الْأَوَّلِ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ
"Sanad hadis Jâbir yang pertama sahih menurut syarat Muslim."
Dalil mazhab Hanafi. Al-Kâsânî dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ berdalil dengan ayat Al-A’râf, dan menjelaskan mengapa makmum tetap diam walaupun imam membaca pelan:
(وَلَنَا) قَوْله تَعَالَى: ﴿وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾ [الأعراف: ٢٠٤] أَمْرٌ بِالِاسْتِمَاعِ وَالْإِنْصَاتِ، وَالِاسْتِمَاعُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُمْكِنًا عِنْدَ الْمُخَافَتَةِ بِالْقِرَاءَةِ فَالْإِنْصَاتُ مُمْكِنٌ فَيَجِبُ بِظَاهِرِ النَّصِّ
"Dalil kami adalah firman Allah, 'Apabila dibacakan Al-Qur’an, dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat' (QS Al-A’râf: 204). Ini perintah untuk mendengarkan dan diam. Mendengarkan memang tidak mungkin ketika bacaan dipelankan, tetapi diam tetap mungkin. Maka diam wajib berdasarkan zahir nas."
Ia lalu menukil atsar Ubay bin Ka’b: ketika ayat ini turun, para sahabat meninggalkan bacaan di belakang imam, padahal imam mereka adalah Rasulullah ﷺ, "فَالظَّاهِرُ أَنَّهُ كَانَ بِأَمْرِهِ", sehingga yang tampak, itu atas perintah beliau. Dalil berikutnya adalah hadis "إنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ ... وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا", imam itu dijadikan untuk diikuti ... dan jika ia membaca, diamlah. Kata al-Kâsânî, hadis ini "أَمْرٌ بِالسُّكُوتِ عِنْدَ قِرَاءَةِ الْإِمَامِ", perintah untuk diam ketika imam membaca.
Maliki: diam saat imam keras, membaca saat imam pelan
Imam Mâlik (w. 179 H) berpegang pada atsar sahabat Jâbir bin ’Abdillâh. Dalam al-Mudawwanah, atsar itu diriwayatkan Mâlik sendiri:
مَنْ صَلَّى رَكْعَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَلَمْ يُصَلِّ إلَّا وَرَاءَ إمَامٍ
"Siapa yang shalat satu rakaat tanpa membaca Ummul Qur’an, berarti ia belum shalat, kecuali di belakang imam."
Dalam bab yang sama, Ibnu al-Qâsim menukil Mâlik berkata, "حَدِيثُ جَابِرٍ هُوَ الَّذِي آخُذُ بِهِ", "hadis Jâbir itulah yang aku pegang."
Ulama Maliki kemudian merincinya. Ad-Dardîr (w. 1201 H) dalam asy-Syarḫ al-Kabîr menjelaskan bahwa termasuk sunnah adalah:
(إنْصَاتُ مُقْتَدٍ) لِقِرَاءَةِ إمَامِهِ فِي صَلَاةٍ جَهْرِيَّةٍ (وَلَوْ سَكَتَ إمَامُهُ) ... فَتُكْرَهُ قِرَاءَتُهُ وَلَوْ لَمْ يَسْمَعْهُ (وَنُدِبَتْ) قِرَاءَتُهُ (إنْ أَسَرَّ) الْإِمَامُ
"(Diamnya makmum) mendengarkan bacaan imamnya dalam shalat jahr, (walaupun imamnya diam sejenak) ... maka makruh ia membaca, walaupun tidak mendengar imam. (Dan disunnahkan) ia membaca (jika imam membaca pelan)."
Ad-Dasûqî (w. 1230 H) dalam Ḫâsyiyah-nya menambahkan catatan yang menyejukkan. Kemakruhan membaca dalam shalat jahr itu berlaku:
مَا لَمْ يَقْصِدْ بِهَا الْخُرُوجَ مِنْ خِلَافِ الشَّافِعِيِّ وَإِلَّا فَلَا كَرَاهَةَ
"Selama ia tidak bermaksud keluar dari perbedaan pendapat dengan asy-Syâfi’î. Jika bermaksud demikian, tidak makruh."
Al-Ḫaththâb (w. 954 H) dalam Mawâhib al-Jalîl membahas kasus makmum yang terlalu jauh hingga tidak mendengar imam dalam shalat jahr. Ia menukil Ibnu Farḫûn yang membolehkan makmum seperti itu membaca, dan Ibnu al-’Arabî yang berkata bahwa makmum yang tidak mendengar imam "فَحُكْمُهُ حُكْمُ الصَّلَاةِ السِّرِّيَّةِ", hukumnya seperti dalam shalat yang bacaannya pelan.
Dalil mazhab Maliki. Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H) dalam al-Kâfî fî Fiqh Ahl al-Madînah merangkum dalil mazhabnya dalam dua bagian. Pertama, imam menanggung bacaan makmum:
وأما المأموم فالإمام يحمل عنه القراءة لإجماعهم على أنه إذا أدركه راكعا أنه يكبر ويركع ولا يقرأ شيئا
"Adapun makmum, imam menanggung bacaannya, karena para ulama sepakat bahwa jika makmum mendapati imam sedang rukuk, ia bertakbir lalu rukuk tanpa membaca apa pun."
Kedua, makmum diam ketika imam membaca keras, dengan dalil ayat Al-A’râf: 204, sabda Nabi ﷺ "ما لي أنازع القرآن", "Pantas saja aku seperti ditarik-tarik dalam membaca Al-Qur’an," dan sabda beliau tentang imam, "فإذا قرأ فأنصتوا", "Jika ia membaca, diamlah." Sementara dalam shalat sirr, Ibnu ’Abd al-Barr menulis bahwa tidak sepatutnya makmum meninggalkan bacaan; jika ia meninggalkannya, ia telah berbuat kurang baik, tetapi shalatnya tidak batal menurut Mâlik dan para muridnya.
Syafi’i: wajib, di setiap rakaat
Mazhab Syafi’i mewajibkan makmum membaca Al-Fatihah, baik shalatnya jahr maupun sirr. An-Nawawî (w. 676 H) dalam al-Majmû’ menulis:
قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ مَذْهَبَنَا وُجُوبُ قِرَاءَةِ الْفَاتِحَةِ عَلَى الْمَأْمُومِ فِي كُلِّ الرَّكَعَاتِ مِنْ الصَّلَاةِ السِّرِّيَّةِ والجهرية
"Telah kami sebutkan bahwa mazhab kami mewajibkan makmum membaca Al-Fatihah di semua rakaat, dalam shalat sirr maupun jahr."
Dalil utamanya hadis ’Ubâdah bin ash-Shâmit, yang dinukil ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj:
كُنَّا خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ فَثَقُلَتْ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةُ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: لَعَلَّكُمْ تَقْرَءُونَ خَلْفِي؟ قُلْنَا نَعَمْ، قَالَ: لَا تَفْعَلُوا إلَّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَإِنَّهُ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِهَا
"Kami shalat Subuh di belakang Rasulullah ﷺ, lalu beliau merasa berat dalam membaca. Setelah selesai, beliau bersabda: 'Barangkali kalian membaca di belakangku?' Kami menjawab: 'Ya.' Beliau bersabda: 'Jangan lakukan, kecuali Al-Fatihah, karena tidak sah shalat orang yang tidak membacanya.'"
Bagaimana dengan perintah "jika imam membaca, diamlah"? Ar-Ramlî menjawab bahwa perintah itu berlaku untuk surah setelah Al-Fatihah: "وَخَبَرِ مُسْلِمٍ «وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا» مَحْمُولٌ عَلَى السُّورَةِ لِحَدِيثِ عُبَادَةَ وَغَيْرِهِ". Adapun hadis "bacaan imam adalah bacaan makmum", ar-Ramlî menilainya "ضَعِيفٌ عِنْدَ الْحُفَّاظِ كَمَا بَيَّنَهُ الدَّارَقُطْنِيّ وَغَيْرُهُ", lemah menurut para hafizh, sebagaimana dijelaskan ad-Dâraquthnî dan lainnya.
Satu pengecualian penting dicatat dalam Minhâj dan syarahnya, Tuḫfat al-Muḫtâj karya Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H): makmum masbûq, yang datang ketika imam sudah hampir rukuk. Ibnu Ḫajar menulis:
(إلَّا رَكْعَةَ مَسْبُوقٍ) فَلَا تَتَعَيَّنُ فِيهَا لِأَنَّهَا وَإِنْ وَجَبَتْ عَلَيْهِ يَتَحَمَّلُهَا الْإِمَامُ عَنْهُ بِشَرْطِهِ
"(Kecuali rakaat makmum masbuk), maka Al-Fatihah tidak menjadi keharusan di rakaat itu, karena walaupun wajib atasnya, imam menanggungnya dengan syarat-syaratnya."
Dalil mazhab Syafi’i. Selain hadis ’Ubâdah di atas, an-Nawawî dalam al-Majmû’ membela kesahihannya dari keberatan bahwa Ibnu Isḫâq seorang mudallis. Ia menunjukkan bahwa ad-Dâraquthnî dan al-Baihaqî meriwayatkannya dengan lafaz "ḫaddatsanî", dan dalam salah satu riwayatnya Nabi ﷺ bersabda tegas tentang shalat jahr:
لَا يَقْرَأَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إذَا جَهَرْتُ بِالْقِرَاءَةِ إلَّا بِأُمِّ الْقُرْآنِ
"Janganlah seorang pun dari kalian membaca ketika aku mengeraskan bacaan, kecuali Ummul Qur’an."
An-Nawawî menukil al-Baihaqî: "وَالْحَدِيثُ صَحِيحٌ عَنْ عبادة عن النبي", hadis ini sahih dari ’Ubâdah dari Nabi ﷺ, dan punya riwayat-riwayat penguat. Ia juga membawakan hadis Abû Hurairah: shalat tanpa Ummul Qur’an itu khidâj (kurang), lalu ketika ditanya, "Kami kadang shalat di belakang imam," Abû Hurairah menjawab:
اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ
"Bacalah ia dalam dirimu."
Hanbali: diam saat imam keras, membaca di sela-selanya
Mazhab Hanbali dekat dengan Maliki, dengan satu tambahan khas: makmum dianjurkan membaca di jeda-jeda diamnya imam. Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî menukil ucapan Imam Aḫmad yang kuat:
مَا سَمِعْنَا أَحَدًا مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ يَقُولُ: إنَّ الْإِمَامَ إذَا جَهَرَ بِالْقِرَاءَةِ لَا تُجْزِئُ صَلَاةُ مَنْ خَلْفَهُ إذَا لَمْ يَقْرَأْ
"Kami belum pernah mendengar seorang pun dari kalangan umat Islam berkata bahwa jika imam mengeraskan bacaan, shalat makmum yang tidak membaca menjadi tidak sah."
Ibnu Qudâmah juga membawakan hadis dari al-Muwaththa’: Nabi ﷺ selesai shalat lalu bertanya, "هَلْ قَرَأَ مَعِي أَحَدٌ مِنْكُمْ؟", "Adakah di antara kalian yang membaca bersamaku?" Seseorang menjawab ya. Nabi ﷺ bersabda, "مَا لِي أُنَازَعُ الْقُرْآنَ", "Pantas saja aku seperti ditarik-tarik dalam membaca Al-Qur’an." Setelah itu, kata perawinya, orang-orang berhenti membaca bersama Nabi ﷺ dalam shalat jahr. Ibnu Qudâmah menukil bahwa at-Tirmidzî menilai hadis ini ḫasan.
Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf merangkum posisi mazhab:
يَتَحَمَّلُ الْإِمَامُ عَنْ الْمَأْمُومِ قِرَاءَةَ الْفَاتِحَةِ ... قَوْلُهُ (وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَقْرَأَ فِي سَكَتَاتِ الْإِمَامِ) هَذَا الْمَذْهَبُ، وَعَلَيْهِ الْجُمْهُورُ
"Imam menanggung bacaan Al-Fatihah dari makmum ... (Dan dianjurkan makmum membaca pada jeda-jeda diamnya imam): inilah mazhab, dan dipegang mayoritas ulama Hanbali."
Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ merinci kasus-kasus kecilnya. Makmum yang tidak mendengar imam karena jauh disunnahkan membaca. Jika imam tidak punya jeda diam, makruh bagi makmum membaca. Bahkan jika makmum hanya mendengar dengungan suara imam:
(فَلَوْ سَمِعَ) الْمَأْمُومُ (هَمْهَمَتَهُ وَلَمْ يَفْهَمْ مَا يَقُولُ) الْإِمَامُ (لَمْ يَقْرَأْ)؛ لِأَنَّهُ سَامِعٌ لِقِرَاءَةِ إمَامِهِ
"(Jika makmum mendengar dengungan suaranya tetapi tidak paham apa yang dibaca) imam, (ia tidak membaca), karena ia tetap terhitung mendengar bacaan imamnya."
Dalil mazhab Hanbali. Ibnu Qudâmah dalam al-Mughnî memulai dengan ayat Al-A’râf dan riwayat tentang sebab turunnya:
وَقَالَ زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ، وَأَبُو الْعَالِيَةِ: كَانُوا يَقْرَءُونَ خَلْفَ الْإِمَامِ، فَنَزَلَتْ: ﴿وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾ [الأعراف: ٢٠٤]
"Zaid bin Aslam dan Abû al-’Âliyah berkata: dahulu mereka membaca di belakang imam, lalu turunlah ayat, 'Apabila dibacakan Al-Qur’an, dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.'"
Imam Aḫmad, dalam riwayat Abû Dâwud, bahkan berkata: "أَجْمَعَ النَّاسُ عَلَى أَنَّ هَذِهِ الْآيَةَ فِي الصَّلَاةِ", orang-orang sepakat bahwa ayat ini tentang shalat. Ibnu Qudâmah lalu menambahkan qiyâs dengan makmum masbuk:
وَلِأَنَّهَا قِرَاءَةٌ لَا تَجِبُ عَلَى الْمَسْبُوقِ، فَلَا تَجِبُ عَلَى غَيْرِهِ، كَقِرَاءَةِ السُّورَةِ
"Dan karena ia adalah bacaan yang tidak wajib atas makmum masbuk, maka tidak wajib pula atas makmum lainnya, seperti bacaan surah."
Untuk hadis ’Ubâdah, Ibnu Qudâmah memahaminya berlaku bagi selain makmum, dengan dukungan riwayat Jâbir yang dibawakan al-Khallâl: "كُلُّ صَلَاةٍ لَا يُقْرَأُ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ، إلَّا أَنْ تَكُونَ وَرَاءَ الْإِمَامِ", setiap shalat yang tidak dibacakan Ummul Qur’an di dalamnya kurang, kecuali jika di belakang imam. Ia mencatat bahwa riwayat ini juga diriwayatkan secara mauqûf dari Jâbir.
Ringkasnya
| Mazhab | Shalat jahr (imam keras) | Shalat sirr (imam pelan) |
|---|---|---|
| Hanafi | Tidak membaca; makruh tahrim jika membaca | Tidak membaca |
| Maliki | Diam (sunnah); makruh membaca, kecuali berniat keluar dari khilaf | Sunnah membaca |
| Syafi’i | Wajib membaca Al-Fatihah | Wajib membaca Al-Fatihah |
| Hanbali | Diam; dianjurkan membaca pada jeda diam imam | Dianjurkan membaca |
Pelajaran untuk kita
- Dalam shalat sirr, tiga mazhab sepakat makmum membaca. Maliki dan Hanbali menganjurkan, Syafi’i mewajibkan. Hanya Hanafi yang meminta diam.
- Yang komat-kamit dan yang diam sama-sama punya dalil. Makmum bermazhab Syafi’i membaca karena hadis ’Ubâdah. Makmum bermazhab lain diam karena ayat Al-A’râf dan hadis "jika imam membaca, diamlah".
- Para ulama sendiri menghormati khilaf. Ad-Dasûqî dari mazhab Maliki menyatakan tidak makruh membaca jika tujuannya keluar dari perbedaan dengan mazhab Syafi’i. Al-Buhûtî dari mazhab Hanbali juga menyebut "خُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَهُ", keluar dari perbedaan dengan ulama yang mewajibkannya, sebagai salah satu alasan anjuran membaca.
Rujukan
- Al-Ḫashkafî, ad-Durr al-Mukhtâr, dan Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H), Radd al-Muḫtâr (cet. al-Ḫalabî). Juz 1, hlm. 544, Fashl fî al-Qirâ’ah. shamela.ws/book/21613/539
- Al-Kâsânî (w. 587 H). Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ fî Tartîb asy-Syarâ’i’. Juz 1, hlm. 111, Fashl Arkân ash-Shalâh. shamela.ws/book/8183/110
- Al-Marghînânî (w. 593 H), al-Hidâyah, dicetak bersama Ibnu al-Humâm (w. 861 H), Fatḫ al-Qadîr (cet. al-Ḫalabî). Juz 1, hlm. 338, Fashl fî al-Qirâ’ah. shamela.ws/book/21744/336
- Mâlik bin Anas (w. 179 H). Al-Mudawwanah, riwayat Saḫnûn. Juz 1, hlm. 164–165, Tark al-Qirâ’ah fî ash-Shalâh. shamela.ws/book/587/52, shamela.ws/book/587/53
- Ad-Dardîr (w. 1201 H), asy-Syarḫ al-Kabîr, bersama Ḫâsyiyat ad-Dasûqî (w. 1230 H). Juz 1, hlm. 247, Mandûbât ash-Shalâh. shamela.ws/book/21604/246
- Al-Ḫaththâb (w. 954 H). Mawâhib al-Jalîl fî Syarḫ Mukhtashar Khalîl. Juz 1, hlm. 536, Fashl Farâ’idh ash-Shalâh. shamela.ws/book/569/535
- An-Nawawî (w. 676 H). Al-Majmû’ Syarḫ al-Muhadzdzab (cet. al-Munîriyyah). Juz 3, hlm. 365–366, Kitâb ash-Shalâh. shamela.ws/book/2186/1495, shamela.ws/book/2186/1496
- Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 2, hlm. 35, Bâb Shifat ash-Shalâh. shamela.ws/book/9059/540
- Syamsuddîn ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 1, hlm. 477, ar-Rukn ar-Râbi’: Qirâ’at al-Fâtiḫah. shamela.ws/book/3565/475
- Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 1, hlm. 404–405, Bâb Shifat ash-Shalâh. shamela.ws/book/8463/402, shamela.ws/book/8463/403
- Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 2, hlm. 229, Bâb Shalât al-Jamâ’ah. shamela.ws/book/21609/724
- Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 1, hlm. 464, Bâb Shalât al-Jamâ’ah. shamela.ws/book/21642/457
- Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H). Al-Kâfî fî Fiqh Ahl al-Madînah. Juz 1, hlm. 201–202, Bâb al-Qirâ’ah. shamela.ws/book/7367/75, shamela.ws/book/7367/76