← Semua artikel

Munakahat

Mahar Paling Sedikit: Adakah Batas Minimalnya?

Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H. · 20 Oktober 2026 · 10 menit baca

Sepasang calon pengantin ingin menikah secara sederhana. Calon istri berkata kepada calon suaminya: "Cukup maharnya seperangkat alat shalat dan uang lima puluh ribu rupiah, aku rela." Keluarganya ragu: apakah mahar sekecil itu sah? Ada yang mendengar bahwa mahar paling sedikit harus sekian dirham, ada pula yang mendengar bahwa cincin besi pun boleh.

Para ulama sepakat bahwa mahar tidak ada batas maksimalnya, dan bahwa akad nikah tetap sah walaupun mahar tidak disebutkan. Mereka berbeda tentang batas minimalnya: ada mazhab yang menetapkan kadar tertentu, ada yang tidak. Tulisan ini menghimpun pendapat empat mazhab dari kitab-kitab mereka sendiri.

Hanafi: paling sedikit sepuluh dirham

Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah menulis:

"وأقل المهر عشرة دراهم" وقال الشافعي رحمه الله ما يجوز أن يكون ثمنا في البيع يجوز أن يكون مهرا لها لأنه حقها فيكون التقدير إليها

"(Mahar paling sedikit sepuluh dirham.) Asy-Syâfi’î berkata: apa saja yang boleh menjadi harga dalam jual beli boleh menjadi mahar bagi perempuan, karena mahar adalah haknya, sehingga penentuan kadarnya diserahkan kepadanya."

Jika mahar yang disebutkan kurang dari sepuluh dirham, akadnya tetap sah dan maharnya disempurnakan: "ولو سمي أقل من عشرة فلها العشرة" عندنا, jika disebutkan kurang dari sepuluh, ia berhak atas sepuluh menurut kami. Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H) dalam Radd al-Muḫtâr menukil ukurannya dari ad-Durr al-Mukhtâr: "(أَقَلُّهُ عَشَرَةُ دَرَاهِمَ) لِحَدِيثِ الْبَيْهَقِيّ وَغَيْرِهِ «لَا مَهْرَ أَقَلُّ مِنْ عَشَرَةِ دَرَاهِمَ» وَرِوَايَةُ الْأَقَلِّ تُحْمَلُ عَلَى الْمُعَجَّلِ (فِضَّةً وَزْنُ سَبْعَةٍ) مَثَاقِيلَ", paling sedikit sepuluh dirham, berdasarkan hadis al-Baihaqî dan lainnya "tidak ada mahar yang kurang dari sepuluh dirham", sedangkan riwayat yang menyebut kurang dari itu dibawa kepada bagian mahar yang dibayar di muka; sepuluh dirham perak itu seberat tujuh mitsqal.

Al-Kâsânî (w. 587 H) dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ menjelaskan bahwa mahar sedikit dalam hadis tidak bertentangan dengan pendapat mazhab: "وَعِنْدَنَا الِاسْتِحْلَالُ صَحِيحٌ ثَابِتٌ؛ لِأَنَّ النِّكَاحَ صَحِيحٌ ثَابِتٌ ... إلَّا أَنَّ الْمُسَمَّى إذَا كَانَ دُونَ الْعَشَرَةِ تُكَمَّلُ عَشَرَةً", menurut kami pernikahan itu sah dan tetap ... hanya saja jika yang disebutkan kurang dari sepuluh, disempurnakan menjadi sepuluh.

Dalil mazhab Hanafi. Al-Marghînânî berdalil dengan hadis "ولا مهر أقل من عشرة" dan qiyas: "ولأنه حق الشرع وجوبا إظهارا لشرف المحل فيتقدر بماله خطر وهو العشرة استدلالا بنصاب السرقة", karena mahar diwajibkan sebagai hak syariat untuk menampakkan kemuliaan perempuan, sehingga kadarnya ditentukan dengan sesuatu yang bernilai, yaitu sepuluh dirham, berdasarkan nisab pencurian. Al-Kâsânî menambahkan ayat "﴿وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ﴾ [النساء: ٢٤] شَرَطَ سبحانه وتعالى أَنْ يَكُونَ الْمَهْرُ مَالًا", Allah mensyaratkan mahar berupa harta, hadis Jâbir "«لَا مَهْرَ دُونَ عَشَرَةِ دَرَاهِمَ»", dan atsar ’Umar, ’Alî, dan Ibnu ’Umar bahwa mahar tidak kurang dari sepuluh dirham, lalu menyatakan "لِأَنَّهُ بَابٌ لَا يُوصَلُ إلَيْهِ بِالِاجْتِهَادِ وَالْقِيَاسِ", karena ini perkara yang tidak bisa dicapai dengan ijtihad dan qiyas, sehingga ucapan para sahabat itu dianggap berasal dari Nabi ﷺ.

Maliki: paling sedikit seperempat dinar atau tiga dirham

Ibnu Abî Zaid al-Qairawânî (w. 386 H) dalam ar-Risâlah menulis: "وَأَقَلُّ الصَّدَاقِ رُبُعُ دِينَارٍ", mahar paling sedikit seperempat dinar. An-Nafrâwî (w. 1126 H) dalam al-Fawâkih ad-Dawânî menjelaskan: "مِنْ خَالِصِ الذَّهَبِ وَهُوَ وَزْنُ ثَمَانَ عَشَرَةَ حَبَّةً مِنْ مُتَوَسِّطِ الشَّعِيرِ أَوْ ثَلَاثَةِ دَرَاهِمَ، وَأَمَّا أَكْثَرُهُ فَلَا حَدَّ لَهُ", dari emas murni, yaitu seberat delapan belas butir jelai ukuran sedang, atau tiga dirham; adapun batas maksimalnya tidak ada.

Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H) dalam al-Kâfî menulis:

إلا أن مالكا وأصحابه يجيزون في أقله ربع دينار من الذهب أو ثلاثة دراهم كيلا من الورق أو عرضا يساوي أحدهما ... وأكثر أهل العلم بالمدينة وغيرها لا يحدون في أقل الصداق شيئا ... وبه يقول ابن وهب من بين أصحاب مالك

"Hanya saja Mâlik dan para pengikutnya membolehkan mahar paling sedikit seperempat dinar emas, atau tiga dirham perak, atau barang yang senilai salah satunya ... Kebanyakan ulama di Madinah dan lainnya tidak membatasi mahar paling sedikit dengan kadar apa pun ... Pendapat ini juga dipegang Ibnu Wahb di antara para pengikut Mâlik."

Dalam al-Mudawwanah, Ibnu al-Qâsim ditanya tentang mahar dua dirham. Ia menjawab: "أَرَى النِّكَاحَ جَائِزًا وَيَبْلُغُ بِهِ رُبْعَ دِينَارٍ إنْ رَضِيَ بِذَلِكَ الزَّوْجُ، وَإِنْ أَبَى فُسِخَ النِّكَاحُ إنْ لَمْ يَكُنْ دَخَلَ بِهَا، وَإِنْ دَخَلَ بِهَا أَكْمَلَ لَهَا رُبْعَ دِينَارٍ", aku berpendapat pernikahannya boleh, dan maharnya disempurnakan menjadi seperempat dinar jika suami rela; jika ia menolak, pernikahan dibatalkan bila belum bercampur; jika sudah bercampur, ia wajib menyempurnakan seperempat dinar. Ibnu al-Qâsim juga berkata: "وَلَا أَرَى لِأَحَدٍ أَنْ يَتَزَوَّجَ بِأَقَلَّ مِنْ رُبْعِ دِينَارٍ", aku berpendapat tidak boleh seorang pun menikah dengan mahar kurang dari seperempat dinar.

Dalil mazhab Maliki. An-Nafrâwî menjelaskan dasar penetapan kadar ini: "وَاعْتَمَدَ مَالِكٌ رضي الله عنه فِي كَوْنِ أَقَلِّهِ رُبُعَ دِينَارٍ عَلَى أَنَّهُ عِوَضٌ قِيَاسًا عَلَى إبَاحَةِ الْقَطْعِ فِي السَّرِقَةِ", Mâlik bersandar dalam menetapkan mahar paling sedikit seperempat dinar pada kenyataan bahwa mahar adalah imbalan (’iwadh), dengan qiyas kepada kadar yang membolehkan potong tangan dalam pencurian. Ibnu al-Qâsim dalam al-Mudawwanah mengakui adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini: "لِاخْتِلَافِ النَّاسِ فِي هَذَا الصَّدَاقِ؛ لِأَنَّ مِنْهُمْ مَنْ قَالَ ذَلِكَ الصَّدَاقُ جَائِزٌ وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ لَا يَجُوزُ", karena manusia berbeda pendapat tentang mahar ini; sebagian berkata boleh dan sebagian berkata tidak boleh. Karena itu ia tidak langsung membatalkan akad dengan mahar dua dirham.

Syafi’i: tidak ada batas minimal; yang penting bernilai harta

Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H) dalam Tuḫfat al-Muḫtâj mensyarah ucapan an-Nawawî dalam al-Minhâj:

(وَمَا صَحَّ مَبِيعًا) يَعْنِي ثَمَنًا إذْ هُوَ الْمُشَبَّهُ بِهِ الصَّدَاقُ بِأَنْ وُجِدَتْ فِيهِ شُرُوطُهُ السَّابِقَةُ (صَحَّ صَدَاقًا) فَتَلْغُو تَسْمِيَةُ غَيْرِ مُتَمَوَّلٍ وَمَا لَا يُقَابَلُ بِمُتَمَوَّلٍ كَنَوَاةٍ وَتَرْكِ شُفْعَةٍ وَحَدِّ قَذْفٍ

"(Apa saja yang sah dijual), yakni sah menjadi harga, karena harga itulah yang diserupakan dengan mahar, dengan terpenuhinya syarat-syaratnya yang telah lalu, (sah menjadi mahar). Maka penyebutan sesuatu yang bukan harta, dan sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan harta, seperti biji kurma, melepaskan hak syuf’ah, dan hukuman qadzaf, tidak dianggap."

Walaupun tidak ada batas minimal, mazhab Syafi’i menganjurkan agar mahar tidak kurang dari sepuluh dirham. Ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj menulis:

وَيُسَنُّ أَنْ لَا يَنْقُصَ فِي الْعَقْدِ عَنْ عَشَرَةِ دَرَاهِمَ فِضَّةً خَالِصَةً لِأَنَّ أَبَا حَنِيفَةَ رضي الله عنه لَا يُجَوِّزُ أَقَلَّ مِنْهَا وَتَرَكَ الْمُغَالَاةَ فِيهِ، وَأَنْ لَا يَزِيدَ عَلَى خَمْسِمِائَةِ دِرْهَمٍ فِضَّةٍ خَالِصَةٍ. أَصْدِقَةُ أَزْوَاجِهِ مَا سِوَى أُمِّ حَبِيبَةَ وَبَنَاتِهِ ﷺ

"Disunnahkan agar mahar dalam akad tidak kurang dari sepuluh dirham perak murni, karena Abû Ḫanîfah tidak membolehkan yang kurang dari itu, dan disunnahkan tidak berlebih-lebihan dalam mahar, serta tidak melebihi lima ratus dirham perak murni, yaitu mahar para istri Nabi ﷺ selain Ummu Ḫabîbah dan mahar putri-putri beliau."

Dalil mazhab Syafi’i. Imam asy-Syâfi’î (w. 204 H) sendiri dalam al-Umm meriwayatkan hadis Sahl bin Sa’d tentang laki-laki yang ingin menikahi perempuan yang menyerahkan dirinya kepada Nabi ﷺ, ketika beliau bersabda "الْتَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ", carilah walaupun hanya cincin besi. Lalu asy-Syâfi’î berkata:

فَالْخَاتَمُ مِنْ الْحَدِيدِ لَا يَسْوَى دِرْهَمًا وَلَا قَرِيبًا مِنْهُ وَلَكِنْ لَهُ ثَمَنٌ قَدْرُ مَا يَتَبَايَعُ بِهِ النَّاسُ

"Cincin besi itu tidak senilai satu dirham, bahkan tidak mendekatinya. Tetapi ia punya harga sesuai yang diperjualbelikan orang."

Asy-Syâfi’î juga meriwayatkan dari Anas bahwa ’Abd ar-Raḫmân bin ’Auf menikah "عَلَى وَزْنِ نَوَاةٍ", dengan mahar seberat satu nawâh. Dalil kesunnahan tidak melebihi lima ratus dirham adalah riwayat ’Â’isyah dalam al-Umm: "كَانَ صَدَاقُهُ لِأَزْوَاجِهِ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أُوقِيَّةً وَنَشَّ ... فَذَلِكَ خَمْسُمِائَةِ دِرْهَمٍ", mahar beliau untuk istri-istrinya dua belas uqiyah dan satu nasy ... itulah lima ratus dirham. Ar-Ramlî juga menukil ucapan ’Umar yang sahih: "لَا تُغَالُوا بِصُدُقِ النِّسَاءِ فَإِنَّهَا لَوْ كَانَتْ مَكْرُمَةً فِي الدُّنْيَا أَوْ تَقْوَى عِنْدَ اللَّهِ كَانَ أَوْلَى بِهَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ", janganlah berlebih-lebihan dalam mahar perempuan; seandainya itu kemuliaan di dunia atau ketakwaan di sisi Allah, Rasulullah ﷺ lebih berhak melakukannya.

Hanbali: tidak ada batas minimal

Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî menulis:

أَنَّ الصَّدَاقَ غَيْرُ مُقَدَّرٍ، لَا أَقَلُّهُ وَلَا أَكْثَرُهُ، بَلْ كُلُّ مَا كَانَ مَالًا جَازَ أَنْ يَكُونَ صَدَاقًا. وَبِهَذَا قَالَ الْحَسَنُ وَعَطَاءٌ، وَعَمْرُو بْنُ دِينَارٍ، وَابْنُ أَبِي لَيْلَى، وَالثَّوْرِيُّ، وَالْأَوْزَاعِيُّ، وَاللَّيْثُ، وَالشَّافِعِيُّ

"Mahar tidak dibatasi kadarnya, baik minimal maupun maksimal. Segala sesuatu yang berupa harta boleh menjadi mahar. Inilah pendapat al-Ḫasan, ’Athâ’, ’Amr bin Dînâr, Ibnu Abî Lailâ, ats-Tsaurî, al-Auzâ’î, al-Laits, dan asy-Syâfi’î."

Ia juga mencatat bahwa Sa’îd bin al-Musayyib menikahkan putrinya "بِدِرْهَمَيْنِ، وَقَالَ: لَوْ أَصْدَقَهَا سَوْطًا لَحَلَّتْ", dengan dua dirham, dan berkata: seandainya ia memberinya mahar sebuah cambuk, perempuan itu halal baginya. Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menegaskan: "(وَلَا يَتَقَدَّرُ أَقَلُّهُ وَلَا أَكْثَرُهُ، بَلْ كُلُّ مَا جَازَ أَنْ يَكُونَ ثَمَنًا أَوْ أُجْرَةً: جَازَ أَنْ يَكُونَ صَدَاقًا) . هَذَا الْمَذْهَبُ. وَعَلَيْهِ الْأَصْحَابُ. وَقَطَعُوا بِهِ", mahar tidak dibatasi minimal maupun maksimalnya; segala yang boleh menjadi harga atau upah boleh menjadi mahar; inilah mazhab, dipegang dan dipastikan para ulama mazhab. Ia mencatat syarat tambahan dari al-Khiraqî: "أَنْ يَكُونَ لَهُ نِصْفٌ يَحْصُلُ. فَلَا يَجُوزُ عَلَى فَلْسٍ وَنَحْوِهِ", mahar harus punya separuh yang bernilai, sehingga tidak boleh dengan satu fals dan semisalnya.

Seperti Syafi’i, mazhab Hanbali menganjurkan kadar tertentu. Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ menulis: "(وَيُسْتَحَبُّ أَنْ لَا يَنْقُصَ عَنْ عَشَرَةِ دَرَاهِمَ) خُرُوجًا مِنْ خِلَاف مَنْ قَدَّرَ أَقَلَّهُ بِذَلِكَ", dianjurkan tidak kurang dari sepuluh dirham, untuk keluar dari perbedaan pendapat dengan ulama yang menetapkan batas minimalnya sebesar itu, dan "(وَيُسَنُّ أَنْ يَكُونَ مِنْ أَرْبَعمِائَةٍ إلَى خَمْسِمِائَةٍ)", disunnahkan antara empat ratus dan lima ratus dirham.

Dalil mazhab Hanbali. Ibnu Qudâmah berdalil dengan hadis cincin besi yang muttafaq ’alaih, hadis ’Âmir bin Rabî’ah tentang perempuan Bani Fazârah yang menikah dengan mahar sepasang sandal, ketika Nabi ﷺ bertanya "أَرَضِيَتْ مِنْ نَفْسِكِ وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. فَأَجَازَهُ", apakah engkau rela atas dirimu dan hartamu dengan sepasang sandal? Ia menjawab: ya. Maka beliau membolehkannya, yang menurut at-Tirmidzî "حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ". Ia juga berdalil dengan hadis Jâbir "«لَوْ أَنَّ رَجُلًا أَعْطَى امْرَأَةً صَدَاقًا مِلْءَ يَدِهِ طَعَامًا، كَانَتْ لَهُ حَلَالًا»" dan keumuman ayat "بِأَمْوَالِكُمْ" yang "يَدْخُلُ فِيهِ الْقَلِيلُ وَالْكَثِيرُ", mencakup yang sedikit dan yang banyak. Hadis "tidak ada mahar kurang dari sepuluh dirham" ia nilai "غَيْرُ صَحِيحٍ، رَوَاهُ مُبَشِّرُ بْنُ عُبَيْدٍ، وَهُوَ ضَعِيفٌ، عَنْ الْحَجَّاجِ بْنِ أَرْطَاةَ، وَهُوَ مُدَلِّسٌ", tidak sahih, diriwayatkan Mubasysyir bin ’Ubaid yang lemah, dari al-Ḫajjâj bin Arthâh yang mudallis. Qiyas kepada pencurian juga ia tolak: "فَإِنَّ النِّكَاحَ اسْتِبَاحَةُ الِانْتِفَاعِ بِالْجُمْلَةِ، وَالْقَطْعُ إتْلَافُ عُضْوٍ دُونَ اسْتِبَاحَتِهِ، وَهُوَ عُقُوبَةٌ وَحَدٌّ، وَهَذَا عِوَضٌ، فَقِيَاسُهُ عَلَى الْأَعْوَاضِ أَوْلَى", karena nikah adalah penghalalan pemanfaatan seluruh diri, sedangkan potong tangan adalah perusakan anggota tubuh tanpa penghalalan; potong tangan itu hukuman dan had, sedangkan mahar itu imbalan, sehingga qiyas mahar kepada imbalan-imbalan lain lebih tepat.

Mengapa berbeda?

  1. Hadis "tidak ada mahar kurang dari sepuluh dirham". Hanafi berpegang padanya bersama atsar para sahabat. Hanbali menilainya tidak sahih karena perawinya lemah dan mudallis.
  2. Hadis cincin besi dan sepasang sandal. Syafi’i dan Hanbali memahaminya sebagai dalil bahwa mahar sedikit pun sah. Hanafi membawa mahar sedikit dalam hadis-hadis itu kepada bagian yang dibayar di muka, atau tetap mengesahkan akad tetapi menyempurnakan maharnya menjadi sepuluh dirham.
  3. Qiyas kepada nisab pencurian. Hanafi dan Maliki mengqiyaskan mahar kepada kadar harta curian yang membolehkan potong tangan, karena keduanya berkaitan dengan anggota tubuh. Karena nisab pencurian menurut Hanafi sepuluh dirham dan menurut Maliki seperempat dinar, batas mahar mereka pun berbeda. Hanbali menolak qiyas ini karena mahar adalah imbalan, bukan hukuman.

Ringkasnya

MazhabBatas minimal maharJika kurang dari batasAnjuran
Hanafi10 dirham perak (seberat 7 mitsqal)Akad sah, mahar disempurnakan menjadi 10 dirham—
Maliki¼ dinar emas atau 3 dirham perak, atau barang senilaiDisempurnakan jika suami rela; jika menolak dan belum bercampur, akad dibatalkanIbnu Wahb dan kebanyakan ulama Madinah tidak membatasi
Syafi’iTidak ada; segala yang sah menjadi harga—Tidak kurang dari 10 dirham dan tidak lebih dari 500 dirham
HanbaliTidak ada; segala yang sah menjadi harga atau upah—Tidak kurang dari 10 dirham; antara 400–500 dirham

Pelajaran untuk kita

  1. Mahar seperangkat alat shalat dan uang lima puluh ribu rupiah sah menurut Syafi’i dan Hanbali, karena keduanya bernilai harta. Menurut Hanafi dan Maliki, sah atau tidaknya bergantung pada nilai mahar itu dibandingkan sepuluh dirham perak atau seperempat dinar emas pada saat akad.
  2. Mahar yang kurang dari batas Hanafi dan Maliki tidak membatalkan akad secara otomatis. Hanafi menyempurnakannya menjadi sepuluh dirham. Maliki menyempurnakannya menjadi seperempat dinar jika suami rela.
  3. Mazhab Syafi’i dan Hanbali menganjurkan mahar tidak kurang dari sepuluh dirham perak, untuk keluar dari perbedaan pendapat dengan Abû Ḫanîfah. Sepuluh dirham itu seberat tujuh mitsqal perak, menurut Radd al-Muḫtâr.
  4. Mahar yang berlebihan tidak dianjurkan. Syafi’i dan Hanbali menyebut mahar istri-istri Nabi ﷺ lima ratus dirham sebagai batas anjuran, dan menukil nasihat ’Umar agar tidak berlebih-lebihan dalam mahar.
  5. Mahar harus berupa sesuatu yang bernilai harta. Menurut Tuḫfat al-Muḫtâj, sesuatu yang bukan harta, seperti biji kurma, tidak sah menjadi mahar.

Rujukan

  1. Al-Marghînânî (w. 593 H). Al-Hidâyah fî Syarḫ Bidâyat al-Mubtadî. Juz 1, hlm. 198–199, Kitâb an-Nikâḫ, Bâb al-Mahr. shamela.ws/book/11820/272, shamela.ws/book/11820/273
  2. Al-Kâsânî (w. 587 H). Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ fî Tartîb asy-Syarâ’i’. Juz 2, hlm. 276, Kitâb an-Nikâḫ, Fashl Bayân Adnâ al-Miqdâr alladzî Yashluḫ Mahran. shamela.ws/book/8183/599
  3. Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H). Radd al-Muḫtâr ’alâ ad-Durr al-Mukhtâr (cet. al-Ḫalabî). Juz 3, hlm. 101, Bâb al-Mahr. shamela.ws/book/21613/1383
  4. An-Nafrâwî (w. 1126 H). Al-Fawâkih ad-Dawânî ’alâ Risâlat Ibn Abî Zaid al-Qairawânî. Juz 2, hlm. 5, Bâb fî an-Nikâḫ, Arkân an-Nikâḫ. shamela.ws/book/21589/423
  5. Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H). Al-Kâfî fî Fiqh Ahl al-Madînah. Juz 2, hlm. 551, Bâb al-Qaul fî ash-Shadâq. shamela.ws/book/7367/489
  6. Saḫnûn (w. 240 H), riwayat dari Mâlik bin Anas (w. 179 H). Al-Mudawwanah. Juz 2, hlm. 152, Kitâb an-Nikâḫ ats-Tsânî, an-Nikâḫ bi Shadâq Aqall min Rub’ Dînâr. shamela.ws/book/587/655
  7. Asy-Syâfi’î (w. 204 H). Al-Umm (cet. al-Fikr). Juz 5, hlm. 171, Kitâb an-Nikâḫ, mâ Jâ’a fî ash-Shadâq. shamela.ws/book/1655/1338
  8. Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 7, hlm. 375–376, Kitâb ash-Shadâq. shamela.ws/book/9059/3219, shamela.ws/book/9059/3220
  9. Ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 6, hlm. 335, Kitâb ash-Shadâq. shamela.ws/book/3565/2811
  10. Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 7, hlm. 210–211, Kitâb ash-Shadâq, masalah no. 5550. shamela.ws/book/8463/3020, shamela.ws/book/8463/3021
  11. Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 8, hlm. 229, Kitâb ash-Shadâq. shamela.ws/book/21609/3772
  12. Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 5, hlm. 129, Kitâb ash-Shadâq. shamela.ws/book/21642/2295
Bagikan ke WhatsApp
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Dosen & Pengajar Fiqih · Profil

Artikel lainnya

Muamalah

Barang Gadai: Bolehkah Dimanfaatkan Penerima Gadai?

20 Oktober 2026 · 12 menit baca
Shalat

Bersedekap atau Melepas Tangan Saat Berdiri dalam Shalat?

20 Oktober 2026 · 10 menit baca
Waris & Wasiat

Wasiat untuk Ahli Waris: Batal, atau Sah Jika Disetujui Ahli Waris Lain?

20 Oktober 2026 · 12 menit baca