← Semua artikel

Makanan & Sembelihan

Lupa atau Sengaja Tidak Membaca Basmalah saat Menyembelih: Halalkah Dagingnya?

Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H. · 19 Oktober 2026 · 10 menit baca

Menjelang Iduladha, panitia kurban di sebuah masjid menyembelih puluhan kambing dalam satu pagi. Di tengah kesibukan, salah seorang penyembelih tersadar bahwa ia tidak ingat apakah tadi membaca bismillâh pada kambing terakhir. Panitia lain bertanya-tanya: apakah daging kambing itu masih halal, atau harus dibuang sebagai bangkai? Bagaimana pula dengan daging ayam potong di pasar yang tidak kita ketahui apakah penyembelihnya membaca basmalah?

Membaca nama Allah ketika menyembelih disebut tasmiyah. Para ulama sepakat bahwa tasmiyah disyariatkan. Mereka berbeda tentang kedudukannya: syarat halalnya sembelihan, wajib hanya ketika ingat, atau sunnah. Perbedaan itu menentukan nasib sembelihan yang tidak dibacakan basmalah, baik karena lupa maupun sengaja.

Hanafi: sengaja meninggalkan menjadikannya bangkai, lupa dimaafkan

Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah menulis:

وإن ترك الذابح التسمية عمدا فالذبيحة ميتة لا تؤكل وإن تركها ناسيا أكل

"Jika penyembelih sengaja meninggalkan tasmiyah, sembelihan itu bangkai dan tidak boleh dimakan. Jika ia meninggalkannya karena lupa, sembelihan itu dimakan."

Al-Marghînânî menambahkan bahwa sembelihan yang sengaja ditinggalkan tasmiyahnya "لا يسع فيه الاجتهاد", bukan wilayah ijtihad, sehingga "ولو قضى القاضي بجواز بيعه لا ينفذ", seandainya hakim memutuskan bolehnya menjual sembelihan itu, putusannya tidak berlaku.

Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H) dalam Radd al-Muḫtâr menegaskan hal yang sama, dan menambahkan bahwa hukum ini berlaku bagi penyembelih muslim maupun ahli kitab:

أَيْ وَلَا تَحِلُّ ذَبِيحَةُ مَنْ تَعَمَّدَ تَرْكَ التَّسْمِيَةِ مُسْلِمًا أَوْ كِتَابِيًّا لِنَصِّ الْقُرْآنِ وَلِانْعِقَادِ الْإِجْمَاعِ مِمَّنْ قَبْلَ الشَّافِعِيِّ عَلَى ذَلِكَ، وَإِنَّمَا الْخِلَافُ كَانَ فِي النَّاسِي

"Maksudnya, tidak halal sembelihan orang yang sengaja meninggalkan tasmiyah, baik muslim maupun ahli kitab, karena nas Al-Qur’an dan karena telah terjadi ijmak sebelum asy-Syâfi’î atas hal itu. Perbedaan pendapat hanya ada pada orang yang lupa."

Al-Kâsânî (w. 587 H) dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ menjelaskan mengapa orang yang lupa dimaafkan: orang yang lupa pada hakikatnya tidak meninggalkan nama Allah, karena "وَالذِّكْرُ قَدْ يَكُونُ بِاللِّسَانِ وَقَدْ يَكُونُ بِالْقَلْبِ", zikir itu kadang dengan lisan dan kadang dengan hati.

Dalil mazhab Hanafi. Al-Marghînânî berdalil dengan tiga hal. Pertama, ayat "﴿وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرْ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ﴾" (QS. al-An’âm: 121), larangan yang bermakna haram. Kedua, ijmak sebelum asy-Syâfi’î tentang haramnya sembelihan yang sengaja ditinggalkan tasmiyahnya. Ketiga, hadis ’Adî bin Ḫâtim: "فإنك إنما سميت على كلبك ولم تسم على كلب غيرك", engkau hanya menyebut nama Allah atas anjingmu, bukan atas anjing orang lain; di sini Nabi ﷺ menjadikan tidak adanya tasmiyah sebagai sebab haram. Adapun orang yang lupa dimaafkan karena "لأن الإنسان كثير النسيان والحرج مدفوع", manusia sering lupa dan kesulitan itu diangkat. Al-Kâsânî menambahkan hadis Râsyid bin Sa’d: "«ذَبِيحَةُ الْمُسْلِمِ حَلَالٌ سَمَّى أَوْ لَمْ يُسَمِّ مَا لَمْ يَتَعَمَّدْ»", sembelihan seorang muslim halal, baik ia menyebut nama Allah atau tidak, selama ia tidak sengaja; dan atsar Ibnu ’Abbâs tentang orang yang lupa: "اسْمُ اللَّهِ ﷿ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ فَلْيَأْكُلْ", nama Allah ada di hati setiap muslim, maka makanlah.

Maliki: wajib ketika ingat dan mampu

Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H) dalam al-Kâfî menulis:

ومن نسي أن يسمي على الذبيحة لم يضره ذلك ولا بأس بأكلها وإن ترك التسمية عامدا لم تؤكل عند مالك

"Siapa yang lupa membaca tasmiyah atas sembelihan, hal itu tidak merugikannya dan tidak mengapa memakannya. Jika ia sengaja meninggalkan tasmiyah, sembelihan itu tidak dimakan menurut Mâlik."

Ibnu Abî Zaid al-Qairawânî (w. 386 H) dalam ar-Risâlah (dengan syarah an-Nafrâwî, al-Fawâkih ad-Dawânî) menulis hal yang sama: "وَمَنْ نَسِيَ التَّسْمِيَةَ فِي ذَبْحِ أُضْحِيَّةٍ أَوْ غَيْرِهَا فَإِنَّهَا تُؤْكَلُ. وَإِنْ تَعَمَّدَ تَرْكَ التَّسْمِيَةِ لَمْ تُؤْكَلْ". Khalîl dalam al-Mukhtashar merumuskannya dengan "وَتَسْمِيَةٌ إنْ ذَكَرَ", wajib tasmiyah jika ingat, dan al-Khurasyî (w. 1101 H) menjelaskan:

يَعْنِي أَنَّ التَّسْمِيَةَ أَيْضًا وَاجِبَةٌ مَعَ الذِّكْرِ فِي الذَّكَاةِ مِنْ حَيْثُ هِيَ فَيَقُولُ بِاسْمِ اللَّهِ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ عِنْدَ الذَّبْحِ وَعِنْدَ النَّحْرِ وَعِنْدَ الْإِرْسَالِ فِي الْعَقْرِ

"Maksudnya, tasmiyah juga wajib ketika ingat dalam setiap penyembelihan. Ia mengucapkan bismillâh wallâhu akbar ketika menyembelih, ketika menusuk leher unta (naḫr), dan ketika melepas hewan pemburu."

Al-Khurasyî menambahkan bahwa syarat "ingat" ini berarti "أَنَّهُ لَوْ تَرَكَهَا مَعَهُ لَمْ تُؤْكَلْ سَوَاءٌ كَانَ جَاهِلًا أَوْ لَا", jika ia meninggalkannya padahal ingat, sembelihan tidak dimakan, baik ia tidak tahu hukumnya maupun tahu. Al-’Adawî (w. 1189 H) dalam Ḫâsyiyah atas Kifâyat ath-Thâlib menyamakan orang yang meremehkan dengan orang yang sengaja: "وَمِنْهُ مَنْ يَكْثُرُ نِسْيَانُهُ لَهَا وَالْحُكْمُ أَنَّهَا لَا تُؤْكَلُ كَتَرْكِهَا عَمْدًا", termasuk di dalamnya orang yang sering lupa tasmiyah; hukumnya tidak dimakan seperti meninggalkannya dengan sengaja.

Di dalam mazhab Maliki ada pendapat lain. Al-Qarâfî (w. 684 H) dalam adz-Dzakhîrah menukil dari Ibnu Rusyd dalam al-Muqaddimât bahwa "وَالتَّسْمِيَةُ سُنَّةٌ", tasmiyah itu sunnah, lalu menukil dari penulis al-Ikmâl: "الْمَشْهُورُ وُجُوبُهَا مَعَ الذِّكْرِ دُونَ النسان", pendapat yang masyhur: wajib ketika ingat, tidak ketika lupa.

Dalil mazhab Maliki. Al-Qarâfî berdalil untuk sembelihan yang sengaja ditinggalkan tasmiyahnya dengan "لِقَوْلِهِ تَعَالَى ﴿وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ﴾". Ia juga membawakan hadis al-Bukhârî tentang daging dari orang Arab badui yang tidak diketahui apakah disembelih dengan menyebut nama Allah, lalu Nabi ﷺ bersabda "سَمُّوا اللَّهَ وَكُلُوا", sebutlah nama Allah dan makanlah, dan menyatakan "وَهُوَ يَدُلُّ عَلَى عَدَمِ اشْتِرَاطِهَا", hadis ini menunjukkan bahwa tasmiyah bukan syarat. Al-Qarâfî lalu mencatat bahwa Mâlik menggugurkan kewajiban karena lupa dalam empat masalah yang serupa: "التَّسْمِيَةُ وَمُوَالَاةُ الطَّهَارَةِ وَإِزَالَةُ النَّجَاسَةِ وَتَرْتِيبُ الصَّلَاةِ الْفَائِتَةِ مَعَ الْحَاضِرَةِ", tasmiyah, berturut-turut dalam bersuci, menghilangkan najis, dan urutan shalat yang tertinggal dengan shalat yang sedang dikerjakan. Dalam Kifâyat ath-Thâlib, tasmiyah ketika berburu didasarkan pada ayat "﴿فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ﴾" (QS. al-Mâ’idah: 4).

Syafi’i: sunnah; tetap halal walaupun sengaja ditinggalkan

An-Nawawî (w. 676 H) dalam al-Majmû’ menulis:

يُسْتَحَبُّ أَنْ يُسَمِّيَ اللَّهَ تَعَالَى عِنْدَ الذَّبْحِ وَعِنْدَ إرْسَالِ الْكَلْبِ أَوْ السَّهْمِ إلَى الصَّيْدِ فَلَوْ تَرَكَ التَّسْمِيَةَ عَمْدًا أَوْ سَهْوًا حَلَّتْ الذَّبِيحَةُ وَالصَّيْدُ لَكِنْ فِي تَرْكِهَا عَمْدًا ثَلَاثَةُ أَوْجُهٍ (الصَّحِيحُ) أَنَّهُ مَكْرُوهٌ

"Dianjurkan menyebut nama Allah ketika menyembelih dan ketika melepas anjing atau anak panah kepada hewan buruan. Jika ia meninggalkan tasmiyah, sengaja atau lupa, sembelihan dan hewan buruan itu tetap halal. Tetapi tentang meninggalkannya dengan sengaja ada tiga pendapat dalam mazhab; yang sahih: makruh."

Ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj menulis hal yang sama: "وَيُكْرَهُ تَعَمُّدُ تَرْكِهَا، فَلَوْ تَرَكَهَا وَلَوْ عَمْدًا حَلَّ", makruh sengaja meninggalkannya; jika ia meninggalkannya, walaupun sengaja, sembelihan itu halal. An-Nawawî juga mencatat bahwa jumhur berbeda dengan mazhabnya: "وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ التَّسْمِيَةُ شَرْطٌ لِلْإِبَاحَةِ مَعَ الذِّكْرِ دُونَ النِّسْيَانِ وَهَذَا مَذْهَبُ جَمَاهِيرِ الْعُلَمَاءِ", Abû Ḫanîfah berpendapat tasmiyah adalah syarat halal ketika ingat, tidak ketika lupa, dan ini mazhab mayoritas ulama.

Dalil mazhab Syafi’i. An-Nawawî menyebut tiga dalil. Pertama, ayat "إلا ما ذكيتم" (QS. al-Mâ’idah: 3): Allah membolehkan hewan yang disembelih tanpa menyebut syarat tasmiyah. Kedua, ayat "وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ" (QS. al-Mâ’idah: 5); ar-Ramlî menjelaskan bahwa Allah membolehkan sembelihan ahli kitab "وَهُمْ لَا يَذْكُرُونَهَا", padahal mereka tidak membaca tasmiyah. Ketiga, hadis ’Â’isyah tentang daging dari kaum yang baru masuk Islam, ketika Nabi ﷺ bersabda "سَمُّوا وَكُلُوا"; an-Nawawî menilainya "حَدِيثٌ صَحِيحٌ رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ" dan berkata "فَهَذَا الْحَدِيثُ هُوَ الْمُعْتَمَدُ فِي الْمَسْأَلَةِ", inilah hadis yang menjadi pegangan dalam masalah ini. Ayat "وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ" dibawa kepada sembelihan untuk berhala, dengan alasan: "وَقَدْ أَجْمَعَتْ الْأُمَّةُ عَلَى أَنَّ مَنْ أَكَلَ مَتْرُوكَ التَّسْمِيَةِ لَيْسَ بِفَاسِقٍ", umat telah sepakat bahwa orang yang memakan sembelihan tanpa tasmiyah tidak fasik, sedangkan ayat itu menyebut memakannya sebagai kefasikan. Adapun hadis "ذَبِيحَةُ الْمُسْلِمِ حَلَالٌ ذَكَرَ اسْمَ اللَّهِ أَوْ لَمْ يَذْكُرْ", an-Nawawî menyebutnya "حَدِيثٌ مُرْسَلٍ", dan hadis Abû Hurairah tentang orang yang lupa ia nilai "حَدِيثٌ مُنْكَرٌ مُجْمَعٌ عَلَى ضَعْفِهِ".

Hanbali: syarat ketika ingat, gugur karena lupa

Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî menulis:

وَأَمَّا الذَّبِيحَةُ فَالْمَشْهُورُ مِنْ مَذْهَبِ أَحْمَدَ، أَنَّهَا شَرْطٌ مَعَ الذِّكْرِ، وَتَسْقُطُ بِالسَّهْوِ. وَرُوِيَ ذَلِكَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ. وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ، وَالثَّوْرِيُّ، وَأَبُو حَنِيفَةَ، وَإِسْحَاقُ

"Adapun sembelihan, pendapat yang masyhur dari mazhab Aḫmad: tasmiyah adalah syarat ketika ingat dan gugur karena lupa. Ini diriwayatkan dari Ibnu ’Abbâs, dan merupakan pendapat Mâlik, ats-Tsaurî, Abû Ḫanîfah, dan Isḫâq."

Ibnu Qudâmah juga mencatat riwayat lain dari Aḫmad: "أَنَّهَا مُسْتَحَبَّةٌ غَيْرُ وَاجِبَةٍ فِي عَمْدٍ وَلَا سَهْوٍ", tasmiyah itu sunnah, tidak wajib, baik ketika sengaja maupun lupa. Untuk hewan buruan, mazhab Hanbali lebih ketat: "وَمَنْ تَرَكَ التَّسْمِيَةَ عَلَى الصَّيْدِ عَامِدًا أَوْ سَاهِيًا، لَمْ يُؤْكَلْ", siapa yang meninggalkan tasmiyah atas hewan buruan, sengaja atau lupa, hewan itu tidak dimakan.

Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menegaskan bahwa pendapat yang masyhur itulah mazhab: "هَذَا الْمَذْهَبُ فِيهِمَا. وَذَكَرَهُ ابْنُ جَرِيرٍ إجْمَاعًا فِي سُقُوطِهَا سَهْوًا", inilah mazhab dalam kedua keadaan, dan Ibnu Jarîr menyebutnya ijmak dalam hal gugurnya tasmiyah karena lupa. Ia juga mencatat riwayat ketiga: "وَعَنْهُ: لَا تُبَاحُ فِيهِمَا", tidak halal dalam kedua keadaan.

Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ menyamakan orang yang tidak tahu hukum dengan orang yang sengaja:

(فَإِنْ تَرَكَ) الْمُذَكِّي (التَّسْمِيَةَ عَمْدًا أَوْ جَهْلًا) مِنْهُ بِاعْتِبَارِهَا (لَمْ تُبَحْ) الذَّبِيحَةُ

"(Jika) penyembelih (meninggalkan tasmiyah dengan sengaja atau karena tidak tahu) bahwa tasmiyah itu disyaratkan, (sembelihan itu tidak halal)."

Dalil mazhab Hanbali. Al-Buhûtî berdalil untuk sembelihan yang sengaja ditinggalkan tasmiyahnya dengan ayat "﴿وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ﴾", dan untuk orang yang lupa dengan hadis "«ذَبِيحَةُ الْمُسْلِمِ حَلَالٌ وَإِنْ لَمْ يُسَمِّ إذَا لَمْ يَتَعَدَّ» رَوَاهُ سَعِيدٌ". Ibnu Qudâmah menambahkan atsar Ibnu ’Abbâs "مَنْ نَسِيَ التَّسْمِيَةَ فَلَا بَأْسَ", siapa yang lupa tasmiyah, tidak mengapa, dan menyatakan bahwa tidak diketahui ada sahabat yang menyelisihinya. Ayat tadi menurutnya "مَحْمُولٌ عَلَى مَا تُرِكَتْ التَّسْمِيَةُ عَلَيْهِ عَمْدًا، بِدَلِيلِ قَوْلِهِ: ﴿وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ﴾", dibawa kepada yang sengaja ditinggalkan tasmiyahnya, dengan dalil firman-Nya "dan sesungguhnya itu kefasikan", sedangkan memakan sembelihan yang lupa dibacakan tasmiyah bukan kefasikan. Untuk daging yang tidak diketahui apakah dibacakan tasmiyah, al-Buhûtî menyatakan "فَالذَّبِيحَةُ (حَلَالٌ)", sembelihan itu halal, berdasarkan hadis ’Â’isyah riwayat al-Bukhârî: "سَمُّوا أَنْتُمْ وَكُلُوا".

Mengapa berbeda?

  1. Makna ayat al-An’âm 121. Hanafi, Maliki, dan Hanbali memahami "janganlah kalian memakan sembelihan yang tidak disebut nama Allah atasnya" sebagai larangan memakan sembelihan tanpa tasmiyah. Syafi’i memahaminya sebagai sembelihan untuk berhala, karena ayat yang sama menyebutnya kefasikan, padahal memakan sembelihan tanpa tasmiyah tidak membuat orang fasik.
  2. Hadis ’Â’isyah "sebutlah nama Allah dan makanlah." Syafi’i menjadikannya pegangan utama bahwa tasmiyah bukan syarat. Mazhab lain memakainya untuk daging yang tidak diketahui keadaannya: hukum asalnya halal, karena seorang muslim diduga telah membaca tasmiyah.
  3. Lupa sebagai uzur. Ketiga mazhab yang mewajibkan tasmiyah menggugurkannya karena lupa, dengan alasan kesulitan dan atsar Ibnu ’Abbâs. Karena itu mereka membedakan orang yang lupa dari orang yang sengaja, bahkan sebagian dari mereka menyamakan orang yang meremehkan atau tidak tahu hukum dengan orang yang sengaja.

Perlu diperhatikan juga bahwa al-Hidâyah dan Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ menisbatkan kepada Mâlik pendapat bahwa sembelihan yang lupa dibacakan tasmiyah tidak dimakan. Kitab-kitab Maliki sendiri, seperti al-Kâfî, ar-Risâlah, dan Mukhtashar Khalîl, menetapkan bahwa sembelihan itu tetap dimakan.

Ringkasnya

MazhabHukum tasmiyahLupaSengaja
HanafiSyarat ketika ingatHalalBangkai, haram dimakan
MalikiWajib ketika ingat dan mampuHalalTidak dimakan; sering lupa dan meremehkan disamakan dengan sengaja
Syafi’iSunnahHalalHalal, tetapi makruh meninggalkannya
HanbaliSyarat ketika ingat (pendapat masyhur)HalalTidak halal; tidak tahu hukum disamakan dengan sengaja

Pelajaran untuk kita

  1. Sembelihan yang lupa dibacakan basmalah tetap halal menurut keempat mazhab. Kambing kurban dalam kisah di atas boleh dimakan dan dibagikan.
  2. Sengaja tidak membaca basmalah menjadikan sembelihan haram menurut tiga mazhab, dan makruh menurut mazhab Syafi’i. Penyembelih hendaknya membiasakan membaca bismillâh wallâhu akbar pada setiap hewan.
  3. Mazhab Maliki dan Hanbali tidak memberi uzur kepada orang yang meremehkan atau tidak tahu hukum. Panitia kurban dan juru sembelih perlu diajari bahwa tasmiyah diucapkan pada setiap hewan, bukan sekali untuk banyak hewan. Kasysyâf al-Qinâ’ menyebutkan bahwa jika seseorang membaca tasmiyah atas satu kambing lalu menyembelih kambing lain dengan tasmiyah itu, kambing kedua tidak halal.
  4. Daging yang tidak diketahui apakah disembelih dengan basmalah, seperti daging di pasar milik penjual muslim, hukumnya halal. Pembeli cukup menyebut nama Allah ketika memakannya, sesuai hadis ’Â’isyah yang dijadikan dalil oleh keempat mazhab.

Rujukan

  1. Al-Marghînânî (w. 593 H). Al-Hidâyah fî Syarḫ Bidâyat al-Mubtadî. Juz 4, hlm. 347, Kitâb adz-Dzabâ’iḫ. shamela.ws/book/11820/1002
  2. Al-Kâsânî (w. 587 H). Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ fî Tartîb asy-Syarâ’i’. Juz 5, hlm. 47, Kitâb adz-Dzabâ’iḫ wa ash-Shuyûd. shamela.ws/book/8183/1180
  3. Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H). Radd al-Muḫtâr ’alâ ad-Durr al-Mukhtâr (cet. al-Ḫalabî). Juz 6, hlm. 299, Kitâb adz-Dzabâ’iḫ. shamela.ws/book/21613/3741
  4. Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H). Al-Kâfî fî Fiqh Ahl al-Madînah. Juz 1, hlm. 428, Kitâb adz-Dzabâ’iḫ, Bâb adz-Dzakâh. shamela.ws/book/7367/359
  5. An-Nafrâwî (w. 1126 H). Al-Fawâkih ad-Dawânî ’alâ Risâlat Ibn Abî Zaid al-Qairawânî. Juz 1, hlm. 382, Bâb fî adh-Dhaḫâyâ wa adz-Dzabâ’iḫ. shamela.ws/book/21589/380
  6. Al-Khurasyî (w. 1101 H). Syarḫ Mukhtashar Khalîl. Juz 3, hlm. 15, Bâb adz-Dzakâh. shamela.ws/book/91/764
  7. Al-’Adawî (w. 1189 H). Ḫâsyiyat al-’Adawî ’alâ Kifâyat ath-Thâlib ar-Rabbânî. Juz 1, hlm. 575, Bâb fî adh-Dhaḫâyâ. shamela.ws/book/21597/573
  8. Al-Qarâfî (w. 684 H). Adz-Dzakhîrah. Juz 4, hlm. 134, Kitâb adz-Dzabâ’iḫ. shamela.ws/book/1717/1522
  9. An-Nawawî (w. 676 H). Al-Majmû’ Syarḫ al-Muhadzdzab (cet. al-Munîriyyah). Juz 8, hlm. 411–412, Bâb al-Udhḫiyyah, dan juz 9, hlm. 86, Bâb ash-Shaid wa adz-Dzabâ’iḫ. shamela.ws/book/2186/4380, shamela.ws/book/2186/4381, shamela.ws/book/2186/4551
  10. Ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 8, hlm. 119, Kitâb ash-Shaid wa adz-Dzabâ’iḫ. shamela.ws/book/3565/3537
  11. Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 9, hlm. 388, Kitâb ash-Shaid wa adz-Dzabâ’iḫ, masalah no. 7742. shamela.ws/book/8463/4302
  12. Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 10, hlm. 400–401, Bâb adz-Dzakâh. shamela.ws/book/21609/4932, shamela.ws/book/21609/4933
  13. Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 6, hlm. 209, Bâb adz-Dzakâh. shamela.ws/book/21642/2932
Bagikan ke WhatsApp
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Dosen & Pengajar Fiqih · Profil

Artikel lainnya

Jenazah

Membaca Al-Qur’an untuk Orang yang Sudah Wafat: Sampaikah Pahalanya?

19 Oktober 2026 · 11 menit baca
Muamalah

Harga Kredit Lebih Mahal dari Harga Tunai: Riba atau Jual Beli yang Sah?

19 Oktober 2026 · 10 menit baca
Zakat

Zakat Profesi: Menimbang Pendapat Yûsuf al-Qaradhâwî dengan Pendapat Empat Mazhab

19 Oktober 2026 · 14 menit baca · PDF