Khiyar Majelis: Masih Bisa Membatalkan Sebelum Berpisah?
Seorang pembeli sepakat membeli sepeda motor bekas di rumah penjualnya. Harga sudah disepakati, kata "jual" dan "beli" sudah diucapkan. Tetapi sebelum ia beranjak dari kursi, istrinya menelepon dan mengingatkan bahwa uang itu untuk biaya sekolah anak. Bolehkah ia membatalkan jual beli itu, padahal akadnya sudah terjadi dan keduanya masih duduk di tempat yang sama?
Inilah yang disebut khiyâr al-majlis: hak memilih antara melanjutkan atau membatalkan akad selama penjual dan pembeli belum berpisah dari tempat akad. Ada hadis sahih tentangnya, tetapi para imam berbeda dalam mengamalkannya.
Hanafi: tidak ada, akad langsung mengikat
Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah, yang disyarah Ibnu al-Humâm (w. 861 H) dalam Fatḫ al-Qadîr, menulis:
وَإِذَا حَصَلَ الْإِيجَابُ وَالْقَبُولُ لَزِمَ الْبَيْعُ وَلَا خِيَارَ لِوَاحِدٍ مِنْهُمَا إلَّا مِنْ عَيْبٍ أَوْ عَدَمِ رُؤْيَةٍ
"Jika ijab dan kabul telah terjadi, jual beli itu mengikat, dan tidak ada khiyar bagi salah satu dari keduanya kecuali karena cacat atau karena barang belum dilihat."
Al-Kâsânî (w. 587 H) dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ menyebut bahwa syarat mengikatnya jual beli hanya satu, yaitu bebas dari empat khiyar (khiyar ta’yin, syarat, cacat, dan melihat barang), lalu menegaskan: "وَلَقَبُ الْمَسْأَلَةِ أَنَّ خِيَارَ الْمَجْلِسِ لَيْسَ بِثَابِتٍ عِنْدَنَا، وَعِنْدَهُ ثَابِتٌ", inti masalahnya: khiyar majelis tidak ada menurut kami, dan ada menurut asy-Syâfi’î.
Dalam ad-Durr al-Mukhtâr yang disyarah Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H) dalam Radd al-Muḫtâr juga ditegaskan: "(وَإِذَا وُجِدَا لَزِمَ الْبَيْعُ) بِلَا خِيَارٍ إلَّا لِعَيْبٍ أَوْ رُؤْيَةٍ خِلَافًا لِلشَّافِعِيِّ", jika ijab dan kabul terjadi, jual beli mengikat tanpa khiyar, kecuali karena cacat atau melihat barang, berbeda dengan asy-Syâfi’î. Ibnu ’Âbidîn mencatat dari Fatḫ al-Qadîr bahwa Aḫmad sependapat dengan asy-Syâfi’î, sedangkan Mâlik sependapat dengan mazhab Hanafi.
Dalil mazhab Hanafi. Al-Kâsânî berdalil dengan ayat tentang perdagangan atas dasar saling rela:
(وَلَنَا) ظَاهِرُ قَوْلِهِ ﷿: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ﴾ أَبَاحَ اللَّهُ ... الْأَكْلَ بِالتِّجَارَةِ عَنْ تَرَاضٍ مُطْلَقًا عَنْ قَيْدِ التَّفَرُّقِ عَنْ مَكَانِ الْعَقْدِ
"Dalil kami adalah zahir firman Allah: 'Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan cara batil, kecuali dengan perdagangan atas dasar saling rela di antara kalian' (QS. an-Nisâ’: 29). Allah membolehkan memakan harta melalui perdagangan yang saling rela, tanpa dibatasi oleh berpisahnya keduanya dari tempat akad."
Ia juga berdalil bahwa membatalkan akad secara sepihak berarti "تَصَرُّفًا فِي الْعَقْدِ الثَّابِتِ بِتَرَاضِيهِمَا ... مِنْ غَيْرِ رِضَا الْآخَرِ، وَهَذَا لَا يَجُوزُ", bertindak atas akad yang sudah ditetapkan dengan kerelaan keduanya, tanpa kerelaan pihak lain, dan itu tidak boleh.
Lalu bagaimana dengan hadis "الْمُتَبَايِعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا"? Ibnu al-Humâm memahaminya sebagai khiyar sebelum akad sempurna: "وَالْحَدِيثُ مَحْمُولٌ عَلَى خِيَارِ الْقَبُولِ", hadis itu dimaksudkan untuk hak memilih menerima atau tidak menerima tawaran. Dalam ad-Durr al-Mukhtâr, "berpisah" di situ dipahami sebagai "تَفَرُّقِ الْأَقْوَالِ", berpisahnya ucapan, yaitu ketika salah satu pihak mengatakan "saya tidak jadi beli" atau penawar menarik tawarannya sebelum dijawab.
Maliki: tidak ada, karena amal penduduk Madinah
Mazhab Maliki sependapat dengan Hanafi. Ad-Dardîr (w. 1201 H) dalam asy-Syarḫ al-Kabîr mensyarah matan Khalîl "(إنَّمَا الْخِيَارُ بِشَرْطٍ)", khiyar hanya ada dengan syarat, "أَيْ لَا يَثْبُتُ إلَّا بِالشَّرْطِ أَيْ لَا بِالْمَجْلِسِ فَإِنَّهُ لَيْسَ مَعْمُولًا بِهِ عِنْدَنَا", artinya khiyar tidak ada kecuali dengan syarat, tidak dengan majelis, karena khiyar majelis tidak diamalkan dalam mazhab kami.
Al-Ḫaththâb (w. 954 H) dalam Mawâhib al-Jalîl menjelaskan bahwa Imam Mâlik mengetahui hadisnya, bahkan meriwayatkannya sendiri dalam al-Muwaththa’:
الْمُتَبَايِعَانِ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَلَى صَاحِبِهِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَفْتَرِقَا إلَّا بَيْعُ الْخِيَارِ
"Dua orang yang berjual beli, masing-masing dari keduanya memiliki hak khiyar atas yang lain selama keduanya belum berpisah, kecuali jual beli dengan khiyar (syarat)."
Lalu ia menulis bahwa Ibnu al-Ḫâjib menisbatkan hadis ini ke al-Muwaththa’ untuk menunjukkan "أَنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُقَالَ إنَّ مَالِكًا لَمْ يَبْلُغْهُ الْحَدِيثُ بَلْ عَلِمَهُ وَرَوَاهُ ... وَإِنَّمَا تَرَكَ الْعَمَلَ بِهِ لِمَا هُوَ أَرْجَحُ عِنْدَهُ", bahwa tidak pantas dikatakan Mâlik tidak mengetahui hadis itu; ia mengetahuinya dan meriwayatkannya, dan ia hanya meninggalkan pengamalannya karena ada yang lebih kuat menurutnya.
Al-Ḫaththâb juga mencatat bahwa ada ulama Maliki yang menerima khiyar majelis, yaitu Ibnu Ḫabîb dan, dari kalangan belakangan, ’Abd al-Ḫamîd ash-Shâ’igh. Al-’Adawî (w. 1189 H) dalam Ḫâsyiyah-nya atas Syarḫ al-Khurasyî menegaskan bahwa pendapat mereka "فَلَيْسَ مَعْمُولًا بِهِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ، وَاشْتِرَاطُهُ فِي الْعَقْدِ يُفْسِدُهُ لِأَنَّهُ مَجْهُولٌ", tidak diamalkan menurut pendapat yang dipegang, bahkan mensyaratkannya dalam akad merusak akad, karena jangka waktunya tidak jelas.
Dalil mazhab Maliki. Ad-Dasûqî (w. 1230 H) menjelaskan alasan Imam Mâlik meninggalkan hadis itu:
وَهَذَا الْحَدِيثُ، وَإِنْ كَانَ صَحِيحًا لَكِنَّ صِحَّتَهُ لَا تُنَافِي أَنَّهُ خَبَرُ آحَادٍ وَعَمَلُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مُقَدَّمٌ عَلَيْهِ عِنْدَ مَالِكٍ وَذَلِكَ؛ لِأَنَّ عَمَلَ أَهْلِ الْمَدِينَةِ كَالْمُتَوَاتِرِ
"Hadis ini, walaupun sahih, kesahihannya tidak menafikan bahwa ia hadis ahad, dan amal penduduk Madinah didahulukan atasnya menurut Mâlik, karena amal penduduk Madinah kedudukannya seperti mutawatir."
Al-Ḫaththâb menukil komentar Mâlik sendiri setelah meriwayatkan hadis itu dalam al-Muwaththa’: "وَلَيْسَ لَهَا حَدٌّ مَعْرُوفٌ وَلَا أَمْرٌ مَعْمُولٌ بِهِ", tidak ada batasan yang diketahui untuk (perpisahan) itu dan tidak ada praktik yang mengamalkannya. Ibnu al-’Arabî menjelaskan maksudnya: waktu berpisah tidak diketahui, sehingga jual beli bergantung pada sesuatu yang tidak jelas, "فَيَكُونُ كَبَيْعِ الْمُلَامَسَةِ وَالْمُنَابَذَةِ وَكَالْبَيْعِ إلَى أَجَلٍ مَجْهُولٍ", seperti jual beli mulâmasah dan munâbadzah atau jual beli dengan tempo yang tidak jelas.
Syafi’i: ada, selama belum berpisah
Mazhab Syafi’i menetapkan khiyar majelis secara otomatis. An-Nawawî (w. 676 H) dalam Minhâj ath-Thâlibîn mengawali bab khiyar dengan:
باب الخيار يثبت خيار المجلس في أنواع البيع كالصرف والطعام بطعام والسلم والتولية والتشريك وصلح المعاوضة
"Bab khiyar. Khiyar majelis berlaku dalam berbagai jenis jual beli, seperti tukar-menukar mata uang, makanan dengan makanan, salam, tauliyah, tasyrik, dan perdamaian dengan imbalan."
Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H) dalam Tuḫfat al-Muḫtâj menjelaskan bahwa khiyar majelis didahulukan pembahasannya "لِقُوَّةِ ثُبُوتِهِ بِالشَّرْعِ بِلَا شَرْطٍ", karena kuatnya ketetapan syariat atasnya tanpa perlu disyaratkan. Ia berlaku "فِي كُلِّ مُعَاوَضَةٍ مَحْضَةٍ وَهِيَ مَا تَفْسُدُ بِفَسَادِ عِوَضِهِ", pada setiap akad tukar-menukar murni, yaitu akad yang rusak jika imbalannya rusak.
An-Nawawî dalam al-Majmû’ menyebut bahwa pendapat ini dipegang mayoritas ulama:
مَذْهَبُنَا ثُبُوتُهُ لِلْمُتَعَاقِدَيْنِ وَبِهِ قَالَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ مِنْ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ
"Mazhab kami: khiyar majelis berlaku bagi kedua pihak yang berakad. Inilah pendapat mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan generasi sesudahnya." Ia lalu menyebut, di antaranya, Ibnu ’Umar, Abû Barzah al-Aslamî, Sa’îd bin al-Musayyib, al-Ḫasan al-Bashrî, az-Zuhrî, al-Auzâ’î, Aḫmad, dan Isḫâq, dan bahwa "وَقَالَ مَالِكٌ وَأَبُو حَنِيفَةَ لَا يَثْبُتُ", Mâlik dan Abû Ḫanîfah berkata: tidak berlaku.
Dalil mazhab Syafi’i. An-Nawawî berdalil dengan hadis Ibnu ’Umar dalam berbagai jalurnya:
وَاحْتَجَّ أَصْحَابُنَا وَالْجُمْهُورُ بِحَدِيثِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ (قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْمُتَبَايِعَانِ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالْخِيَارِ عَلَى صَاحِبِهِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا إلَّا بَيْعَ الْخِيَارِ) رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
"Ulama kami dan mayoritas ulama berdalil dengan hadis Ibnu ’Umar: Rasulullah ﷺ bersabda: Dua orang yang berjual beli, masing-masing memiliki hak khiyar atas yang lain selama keduanya belum berpisah, kecuali jual beli dengan khiyar (diriwayatkan al-Bukhârî dan Muslim)."
Ia juga menukil riwayat Muslim tentang praktik Ibnu ’Umar sendiri, perawi hadis itu: "وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إذَا تَبَايَعَ الْبَيْعَ وَأَرَادَ أَنْ يَجِبَ مَشَى قَلِيلًا ثُمَّ رَجَعَ", jika Ibnu ’Umar berjual beli dan ingin akadnya mengikat, ia berjalan sedikit lalu kembali.
Hanbali: ada, sampai berpisah secara fisik
Mazhab Hanbali sejalan dengan Syafi’i. Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî mensyarah matan al-Khiraqî:
(وَالْمُتَبَايِعَانِ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا بِأَبْدَانِهِمَا) ... أَنَّ الْبَيْعَ يَقَعُ جَائِزًا، وَلِكُلٍّ مِنْ الْمُتَبَايِعَيْنِ الْخِيَارُ فِي فَسْخِ الْبَيْعِ، مَا دَامَا مُجْتَمِعَيْنِ، لَمْ يَتَفَرَّقَا
"(Dua orang yang berjual beli, masing-masing memiliki khiyar selama keduanya belum berpisah dengan badannya) ... yaitu bahwa jual beli terjadi dalam keadaan belum mengikat, dan masing-masing pihak berhak membatalkannya selama keduanya masih bersama dan belum berpisah."
Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menegaskan matan al-Muqni’ "(أَحَدُهُمَا: خِيَارُ الْمَجْلِسِ. وَيَثْبُتُ فِي الْبَيْعِ)", salah satu jenis khiyar adalah khiyar majelis, dan ia berlaku dalam jual beli. Ia juga menjelaskan bahwa yang dimaksud berpisah "التَّفَرُّقَ الْعُرْفِيَّ. قَالَهُ الْأَصْحَابُ", adalah berpisah menurut kebiasaan setempat, sebagaimana dikatakan ulama mazhab.
Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ menulis bahwa khiyar ini "(فَيَثْبُتُ) خِيَارُ الْمَجْلِسِ (وَلَوْ لَمْ يَشْتَرِطْهُ) الْعَاقِدُ (فِي الْبَيْعِ)", berlaku walaupun tidak disyaratkan oleh pihak yang berakad.
Dalil mazhab Hanbali. Ibnu Qudâmah berdalil dengan hadis Ibnu ’Umar yang lebih rinci:
«إذَا تَبَايَعَ الرَّجُلَانِ فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالْخِيَارِ، مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، وَكَانَا جَمِيعًا، أَوْ يُخَيِّرُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ، فَإِنْ خَيَّرَ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ، فَتَبَايَعَا عَلَى ذَلِكَ، فَقَدْ وَجَبَ الْبَيْعُ، وَإِنْ تَفَرَّقَا بَعْدَ أَنْ تَبَايَعَا، وَلَمْ يَتْرُكْ أَحَدُهُمَا الْبَيْعَ، فَقَدْ وَجَبَ الْبَيْعُ» . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
"Jika dua orang berjual beli, masing-masing memiliki khiyar selama keduanya belum berpisah dan masih bersama, atau salah satu memberi pilihan kepada yang lain. Jika salah satu memberi pilihan kepada yang lain lalu keduanya berjual beli atas dasar itu, jual beli telah mengikat. Jika keduanya berpisah setelah berjual beli dan tidak ada yang membatalkan, jual beli telah mengikat." (Muttafaq ’alaih.)
Ibnu Qudâmah menolak tafsiran mazhab Hanafi bahwa yang dimaksud adalah "berpisahnya ucapan", dengan beberapa alasan, di antaranya: "أَنَّهُ قَالَ فِي الْحَدِيثِ: «إذَا تَبَايَعَ الرَّجُلَانِ، فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالْخِيَارِ» . فَجَعَلَ لَهُمَا الْخِيَارَ بَعْدَ تَبَايُعِهِمَا", Nabi ﷺ bersabda "jika dua orang telah berjual beli, masing-masing memiliki khiyar", sehingga khiyar itu diberikan setelah akad terjadi, bukan sebelumnya. Ia juga berdalil dengan praktik Ibnu ’Umar dan Abû Barzah, "وَهُمَا رَاوِيَا الْحَدِيثِ، وَأَعْلَمُ بِمَعْنَاهُ", keduanya perawi hadis itu dan paling tahu maknanya.
Mengapa berbeda? Hadis ahad dan amal penduduk Madinah
Hadis "الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا" diriwayatkan al-Bukhârî dan Muslim, dan ad-Dasûqî dari mazhab Maliki pun mengakui kesahihannya. Perbedaannya terletak pada dua hal:
- Makna "berpisah". Mazhab Syafi’i dan Hanbali memahaminya sebagai berpisah secara fisik dari tempat akad. Mazhab Hanafi memahaminya sebagai berpisahnya ucapan, yaitu sebelum akad sempurna.
- Kedudukan hadis ahad di hadapan amal penduduk Madinah. Imam Mâlik meriwayatkan hadis itu, tetapi tidak mengamalkannya karena tidak sesuai dengan praktik penduduk Madinah, yang menurutnya setara dengan riwayat mutawatir.
Ringkasnya
| Mazhab | Khiyar majelis | Catatan |
|---|---|---|
| Hanafi | Tidak ada | Akad mengikat sejak ijab kabul; hadis dipahami sebagai "berpisahnya ucapan" |
| Maliki | Tidak ada | Mâlik meriwayatkan hadisnya, tetapi mendahulukan amal penduduk Madinah; mensyaratkannya merusak akad |
| Syafi’i | Ada, otomatis | Berlaku dalam semua akad tukar-menukar murni |
| Hanbali | Ada, otomatis | Berakhir dengan berpisah secara fisik menurut kebiasaan |
Pelajaran untuk kita
- Dalam mazhab Syafi’i yang banyak diikuti di Indonesia, pembeli dan penjual masih boleh membatalkan akad selama belum berpisah dari tempat transaksi, tanpa perlu alasan apa pun. Begitu salah satu pergi, akad mengikat.
- Menurut mazhab Hanafi dan Maliki, akad langsung mengikat setelah ijab kabul. Jika ingin punya waktu berpikir, keempat mazhab menyediakan jalan lain: khiyar syarat, yaitu mensyaratkan hak membatalkan dalam jangka waktu tertentu.
- Akhlak yang baik melampaui perbedaan ini. Mengabulkan permintaan pembatalan dari orang yang menyesal (iqâlah) adalah kebaikan dalam semua mazhab.
Rujukan
- Al-Kâsânî (w. 587 H). Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ fî Tartîb asy-Syarâ’i’. Juz 5, hlm. 228, Fashl fî Syarâ’ith Luzûm al-Bai’. shamela.ws/book/8183/1361
- Al-Marghînânî (w. 593 H), al-Hidâyah, dicetak bersama Ibnu al-Humâm (w. 861 H), Fatḫ al-Qadîr (cet. al-Ḫalabî). Juz 6, hlm. 257, Kitâb al-Buyû’. shamela.ws/book/21744/2831
- Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H). Radd al-Muḫtâr ’alâ ad-Durr al-Mukhtâr (cet. al-Ḫalabî). Juz 4, hlm. 528, Kitâb al-Buyû’. shamela.ws/book/21613/2659
- Ad-Dardîr (w. 1201 H), asy-Syarḫ al-Kabîr, bersama Ḫâsyiyat ad-Dasûqî (w. 1230 H). Juz 3, hlm. 91, Fashl fî Aḫkâm al-Khiyâr. shamela.ws/book/21604/1174
- Al-Ḫaththâb (w. 954 H). Mawâhib al-Jalîl fî Syarḫ Mukhtashar Khalîl. Juz 4, hlm. 409–410, Fashl: Innamâ al-Khiyâr bi Syarth. shamela.ws/book/569/2058, shamela.ws/book/569/2059
- Al-Khurasyî (w. 1101 H). Syarḫ Mukhtashar Khalîl, bersama Ḫâsyiyat al-’Adawî (w. 1189 H). Juz 5, hlm. 109, Fashl Bai’ al-Khiyâr. shamela.ws/book/91/1379
- An-Nawawî (w. 676 H). Minhâj ath-Thâlibîn wa ’Umdat al-Muftîn. Hlm. 99, Bâb al-Khiyâr. shamela.ws/book/12096/119
- Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 4, hlm. 332, Bâb al-Khiyâr. shamela.ws/book/9059/1813
- An-Nawawî (w. 676 H). Al-Majmû’ Syarḫ al-Muhadzdzab (cet. al-Munîriyyah). Juz 9, hlm. 184–185, Kitâb al-Buyû’. shamela.ws/book/2186/4649, shamela.ws/book/2186/4650
- Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 3, hlm. 482–483, masalah no. 2752–2753. shamela.ws/book/8463/1441, shamela.ws/book/8463/1442
- Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 4, hlm. 363 dan 368, Bâb al-Khiyâr fî al-Bai’. shamela.ws/book/21609/1987, shamela.ws/book/21609/1992
- Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 3, hlm. 198, Bâb Aqsâm al-Khiyâr fî al-Bai’. shamela.ws/book/21642/1231