Menjamak Shalat karena Hujan atau Keperluan, Tanpa Safar
Hujan deras turun menjelang maghrib. Selesai shalat maghrib, imam masjid mengumumkan bahwa isya akan langsung dijamak. Sebagian jamaah bertanya-tanya: bukankah jamak hanya untuk musafir? Di tempat lain, seorang dokter bedah yang harus mengoperasi dari siang sampai sore bertanya: bolehkah ia menjamak zuhur dan asar karena pekerjaannya?
Masalah ini punya dua cabang: menjamak karena hujan, dan menjamak karena keperluan lain tanpa safar, hujan, atau sakit.
Peta pendapat: jamak karena hujan
Pendapat pertama: tidak boleh menjamak karena hujan. Inilah mazhab Hanafi, juga al-Muzanî dari kalangan Syafi’i. Dalam mazhab Hanafi, jamak hakiki bahkan tidak berlaku untuk musafir, kecuali di Arafah dan Muzdalifah. Ibnu al-Humâm (w. 861 H) dalam Fatḫ al-Qadîr menulis:
وَلَا يَجْمَعُ عِنْدَنَا فِي سَفَرٍ بِمَعْنَى أَنْ يُصَلِّيَ الْعَصْرَ مَعَ الظُّهْرِ فِي وَقْتِ إحْدَاهُمَا وَالْمَغْرِبَ مَعَ الْعِشَاءِ كَذَلِكَ خِلَافًا لِلشَّافِعِيِّ، بَلْ بِأَنْ يُؤَخِّرَ الْأُولَى إلَى آخِرِ وَقْتِهَا فَيَنْزِلُ فَيُصَلِّيهَا فِي آخِرِهِ وَيَفْتَتِحُ الْآتِيَةَ فِي أَوَّلِ وَقْتِهَا، وَهَذَا جَمْعٌ فِعْلًا لَا وَقْتًا
"Menurut kami, dalam safar tidak boleh menjamak dalam arti shalat asar bersama zuhur pada waktu salah satunya, atau maghrib bersama isya seperti itu, berbeda dengan asy-Syâfi’î. Yang boleh adalah mengakhirkan shalat pertama sampai akhir waktunya, lalu turun dan mengerjakannya di akhir waktu itu, kemudian memulai shalat berikutnya di awal waktunya. Ini jamak secara perbuatan, bukan jamak waktu."1
Ibnu Qudâmah mencatat bahwa jamak karena hujan "وَلَمْ يُجَوِّزْهُ أَصْحَابُ الرَّأْيِ", tidak dibolehkan para ulama Hanafi.2 An-Nawawî juga mencatat: "وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَالْمُزَنِيُّ وَآخَرُونَ لَا يَجُوزُ مُطْلَقًا".3
Pendapat kedua: boleh, tetapi hanya antara maghrib dan isya. Inilah mazhab Maliki dan Hanbali. Pendapat ini dinukil dari Ibnu ’Umar, Abân bin ’Utsmân, para fuqaha yang tujuh di Madinah, dan ’Umar bin ’Abd al-’Azîz. Al-Khurasyî (w. 1101 H) mensyarah Mukhtashar Khalîl:
(وَفِي جَمْعِ الْعِشَاءَيْنِ فَقَطْ بِكُلِّ مَسْجِدٍ لِمَطَرٍ، أَوْ طِينٍ مَعَ ظُلْمَةٍ لَا لِطِينٍ، أَوْ ظُلْمَةٍ) ... وَلَا يَجْمَعُ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ لِعَدَمِ الْمَشَقَّةِ فِيهِمَا غَالِبًا
"(Diberi keringanan menjamak dua shalat malam saja di setiap masjid karena hujan, atau lumpur bersama gelap, bukan karena lumpur saja atau gelap saja) ... Zuhur dan asar tidak dijamak, karena pada umumnya tidak ada kesulitan pada keduanya."4
Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî menulis: "وَيَجُوزُ الْجَمْعُ لِأَجْلِ الْمَطَرِ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ. وَيُرْوَى ذَلِكَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ، وَفَعَلَهُ أَبَانُ بْنُ عُثْمَانَ فِي أَهْلِ الْمَدِينَةِ. وَهُوَ قَوْلُ الْفُقَهَاءِ السَّبْعَةِ، وَمَالِكٍ، وَالْأَوْزَاعِيِّ، وَالشَّافِعِيِّ، وَإِسْحَاقَ".5 Tentang zuhur dan asar ia menulis "فَأَمَّا الْجَمْعُ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، فَغَيْرُ جَائِزٍ", menjamak zuhur dan asar tidak boleh, walaupun ia mencatat Abû al-Ḫasan at-Tamîmî menyebut dua pendapat dalam mazhab dan Abû al-Khaththâb membolehkannya.6
Pendapat ketiga: boleh untuk zuhur-asar dan maghrib-isya. Inilah mazhab Syafi’i, juga Abû Tsaur. An-Nawawî (w. 676 H) dalam al-Majmû’ menulis: "قَدْ ذَكَرْنَا أَنَّ مَذْهَبَنَا جَوَازُهُ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَبَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَبِهِ قَالَ أَبُو ثَوْرٍ وَجَمَاعَةٌ".7 Menurut an-Nawawî, orang yang shalat di rumahnya atau jalannya ke masjid tidak terkena hujan tidak boleh menjamak: "بَلْ الْأَصَحُّ مَنْعُ الْجَمْعِ".8
Peta pendapat: jamak karena keperluan tanpa uzur
Pendapat pertama: tidak boleh. Inilah pendapat keempat mazhab dan jumhur. An-Nawawî menulis: "مَذْهَبُنَا وَمَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَالِكٍ وَأَحْمَدَ وَالْجُمْهُورِ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ".9 Ibnu Qudâmah menulis: "وَلَا يَجُوزُ الْجَمْعُ لِغَيْرِ مَنْ ذَكَرْنَا", tidak boleh menjamak selain bagi orang-orang yang telah kami sebutkan.10 Orang-orang yang ia sebutkan itu termasuk orang sakit; jamak karena sakit dibolehkan mazhab Hanbali dan Maliki: "وَيَجُوزُ الْجَمْعُ لِأَجْلِ الْمَرَضِ، وَهُوَ قَوْلُ عَطَاءٍ، وَمَالِكٍ. وَقَالَ أَصْحَابُ الرَّأْيِ وَالشَّافِعِيُّ: لَا يَجُوزُ".11
Pendapat kedua: boleh karena keperluan, selama tidak dijadikan kebiasaan. Pendapat ini dipegang Ibnu Sîrîn, Rabî’ah, Ibnu Syubrumah, Ibnu al-Mundzir, dan al-Qaffâl al-Kabîr, serta dinukil dari sekelompok ahli hadis. An-Nawawî menulis:
وَقَالَ ابْنُ الْمُنْذِرِ مِنْ أَصْحَابِنَا يَجُوزُ الْجَمْعُ فِي الْحَضَرِ مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ وَلَا مَرَضٍ وَحَكَاهُ الْخَطَّابِيُّ فِي مَعَالِمِ السُّنَنِ عَنْ الْقَفَّالِ الْكَبِيرِ الشَّاشِيِّ عَنْ أَبِي اسحق الْمَرْوَزِيِّ قَالَ الْخَطَّابِيُّ وَهُوَ قَوْلُ جَمَاعَةٍ مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ
"Ibnu al-Mundzir dari kalangan ulama mazhab kami berkata: boleh menjamak ketika mukim tanpa takut, hujan, atau sakit. Al-Khaththâbî dalam Ma’âlim as-Sunan menukilnya dari al-Qaffâl al-Kabîr asy-Syâsyî dari Abû Isḫâq al-Marwazî. Al-Khaththâbî berkata: ini pendapat sekelompok ahli hadis."12
Ibnu Qudâmah menukil Ibnu Syubrumah: "يَجُوزُ إذَا كَانَتْ حَاجَةٌ أَوْ شَيْءٌ، مَا لَمْ يَتَّخِذْهُ عَادَةً", boleh jika ada keperluan atau sesuatu, selama tidak dijadikan kebiasaan.13 Asy-Syaukânî menukil dari Fatḫ al-Bârî: "وممن قال به ابن سيرين وربيعة وابن المنذر والقفَّال الكبير".14
Pendapat asy-Syaukânî: hadis itu adalah jamak shûrî. Asy-Syaukânî (w. 1250 H) tidak membolehkan jamak hakiki karena keperluan. Ia memahami hadis Ibnu ’Abbâs sebagai jamak shûrî, yaitu mengakhirkan shalat pertama sampai akhir waktunya dan menyegerakan shalat kedua di awal waktunya, sebagaimana jamak menurut Hanafi. Ia berdalil dengan riwayat an-Nasâ’î dari Ibnu ’Abbâs, lalu berkata: "فهذا ابن عباس راوي حديث الباب قد صرّح بأن ما رواه من الجمع المذكور هو الجمع الصوري", inilah Ibnu ’Abbâs, perawi hadis bab ini, menegaskan bahwa jamak yang ia riwayatkan adalah jamak shûrî.15
Dalil masing-masing pendapat
Dalil yang menolak jamak karena hujan (Hanafi). Ibnu al-Humâm berdalil dengan hadis Ibnu Mas’ûd dalam ash-Shaḫîḫain: "مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ صَلَّى صَلَاةً لِغَيْرِ وَقْتِهَا إلَّا بِجَمْعٍ", aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ shalat di luar waktunya kecuali di Muzdalifah, dan hadis Muslim tentang malam ta’rîs: "لَيْسَ فِي النَّوْمِ تَفْرِيطٌ، إنَّمَا التَّفْرِيطُ فِي الْيَقَظَةِ أَنْ يُؤَخِّرَ الصَّلَاةَ حَتَّى يَدْخُلَ وَقْتُ صَلَاةٍ أُخْرَى", tidur itu bukan kelalaian; kelalaian adalah ketika terjaga, yaitu mengakhirkan shalat sampai masuk waktu shalat lain.16
Dalil yang membolehkan maghrib-isya saja (Maliki, Hanbali).
- Ucapan Abû Salamah bin ’Abd ar-Raḫmân. Ibnu Qudâmah membawakan: "إنَّ مِنْ السُّنَّةِ إذَا كَانَ يَوْمٌ مَطِيرٌ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ. رَوَاهُ الْأَثْرَمُ. وَهَذَا يَنْصَرِفُ إلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ", termasuk sunnah, jika hari hujan, menjamak maghrib dan isya; ungkapan ini kembali kepada sunnah Rasulullah ﷺ.17
- Amalan penduduk Madinah. Ibnu Qudâmah menukil Hisyâm bin ’Urwah yang melihat Abân bin ’Utsmân menjamak maghrib dan isya pada malam hujan, diikuti ’Urwah bin az-Zubair, Abû Salamah, dan Abû Bakr bin ’Abd ar-Raḫmân: "لَا يُنْكِرُونَهُ. وَلَا يُعْرَفُ لَهُمْ فِي عَصْرِهِمْ مُخَالِفٌ، فَكَانَ إجْمَاعًا", mereka tidak mengingkarinya dan tidak diketahui ada yang menyelisihi mereka pada masa itu, sehingga menjadi ijma’.18
- Kesulitan khusus waktu malam. Tentang zuhur dan asar, Ibnu Qudâmah berkata riwayat jamak zuhur-asar karena hujan "غَيْرُ صَحِيحٍ؛ فَإِنَّهُ غَيْرُ مَذْكُورٍ فِي الصِّحَاحِ وَالسُّنَنِ", lalu: "وَلَا يَصِحُّ الْقِيَاسُ عَلَى الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ؛ لِمَا فِيهِمَا مِنْ الْمَشَقَّةِ لِأَجْلِ الظُّلْمَةِ وَالْمَضَرَّةِ", tidak sah mengqiyaskannya kepada maghrib dan isya, karena pada keduanya ada kesulitan akibat gelap dan bahaya.19
Dalil yang membolehkan keduanya (Syafi’i). Mazhab ini berdalil dengan hadis Ibnu ’Abbâs bahwa Nabi ﷺ menjamak di Madinah "مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ". An-Nawawî menukil bahwa Imam Mâlik dan asy-Syâfi’î menafsirkannya sebagai jamak karena hujan: "وَقَوْلُهُ قَالَ مَالِكٌ أُرَى ذَلِكَ - هُوَ بِضَمِّ الْهَمْزَةِ - أَيْ أَظُنُّهُ ... وَقَالَ الشَّافِعِيُّ أَيْضًا مِثْلَهُ", Mâlik berkata "aku kira itu (karena hujan)", dan asy-Syâfi’î berkata seperti itu juga. An-Nawawî juga menukil al-Baihaqî bahwa ucapan Ibnu ’Abbâs "أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ قَدْ يُحْمَلُ عَلَى الْمَطَرِ", beliau ingin tidak memberatkan umatnya, dapat dibawa kepada keadaan hujan.20 Riwayat lain berbunyi "مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ". Ulama Syafi’i memberi beberapa jawaban, misalnya Abû Ḫâmid: "مَعْنَاهُ وَلَا مَطَرٍ كَثِيرٍ", maksudnya tanpa hujan lebat. An-Nawawî menilai jawaban-jawaban itu tidak kuat dan memilih jawaban al-Baihaqî, yaitu riwayat jamaah perawi, "مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ", lebih terpelihara: "وَهَذِهِ التَّأْوِيلَاتُ كُلُّهَا لَيْسَتْ ظَاهِرَةً وَالْمُخْتَارُ مَا أَجَابَ بِهِ الْبَيْهَقِيُّ".21
Dalil yang membolehkan jamak karena keperluan. Mereka berpegang pada zahir hadis Ibnu ’Abbâs dalam riwayat Muslim: Nabi ﷺ menjamak "مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ"; ketika Ibnu ’Abbâs ditanya alasannya, ia menjawab "أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ".22 An-Nawawî menegaskan bahwa riwayat "ولا مطر" ini dari Ḫabîb bin Abî Tsâbit, "وَهُوَ إمَامٌ مُتَّفَقٌ عَلَى تَوْثِيقِهِ وَعَدَالَتِهِ وَالِاحْتِجَاجِ بِهِ", imam yang disepakati ketepercayaannya.23
Dalil yang menolak jamak karena keperluan.
- Hadis-hadis waktu shalat. Ibnu Qudâmah: "وَلَنَا، عُمُومُ أَخْبَارِ التَّوْقِيتِ، وَحَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ حَمَلْنَاهُ عَلَى حَالَةِ الْمَرَضِ", dalil kami adalah keumuman hadis-hadis waktu shalat, sedangkan hadis Ibnu ’Abbâs kami bawa kepada keadaan sakit.24 An-Nawawî menyebut di antara dalil mazhab: "حَدِيثُ الْمَوَاقِيتِ وَلَا يَجُوزُ مُخَالَفَتُهُ إلَّا بِصَرِيحٍ", hadis waktu-waktu shalat tidak boleh diselisihi kecuali dengan dalil yang tegas.25
- Tidak ada yang mengamalkannya. Ibnu al-Humâm menulis tentang hadis Ibnu ’Abbâs: "وَلَمْ يَقُلْ مِنَّا وَمِنْهُمْ بِجَوَازِ الْجَمْعِ لِذَلِكَ أَحَدٌ", tidak ada seorang pun dari kami maupun dari mereka yang membolehkan jamak karena alasan itu.26
Jawaban dan tarjih.
- Penafsiran "karena sakit" dikritik Ibnu Ḫajar, sebagaimana dinukil asy-Syaukânî: "لأنه لو كان جمعه ﷺ بين الصلاتين لعارض المرض لما صلى معه إلا من له نحو ذلك العذر", seandainya jamak itu karena sakit, tentu yang ikut shalat bersama beliau hanya orang yang punya uzur serupa.27
- Penafsiran jamak shûrî ditolak an-Nawawî: "وهذا احتمال ضعيف أو باطل لأنه مخالف للظاهر مخالفة لا تحتمل", ini kemungkinan yang lemah atau batil, karena menyalahi zahir hadis.28 Asy-Syaukânî membelanya dengan riwayat an-Nasâ’î dari Ibnu ’Abbâs: "صليت مع النبيّ ﷺ الظهر والعصر جميعًا، والمغرب والعشاء جميعًا، أخر الظهر وعجل العصر، وأخر المغرب وعجل العشاء", dan dengan dialog ’Amr bin Dînâr dan Abû asy-Sya’tsâ’, perawi hadis itu, yang keduanya menduga jamak itu demikian.29
Mengapa berbeda?
- Hadis waktu shalat dan hadis jamak. Hanafi mendahulukan hadis-hadis waktu shalat dan hadis Ibnu Mas’ûd; mazhab lain mengkhususkannya dengan hadis-hadis jamak.
- Penafsiran hadis Ibnu ’Abbâs. Hadis ini dibawa kepada hujan (Mâlik, asy-Syâfi’î), sakit (Ibnu Qudâmah), jamak shûrî (asy-Syaukânî), atau dibiarkan menurut zahirnya sebagai keringanan karena keperluan (Ibnu Sîrîn, Ibnu al-Mundzir).
- Kesulitan yang diperhitungkan. Maliki dan Hanbali memandang kesulitan hujan khusus pada malam hari karena gelap; Syafi’i menyamakan siang dan malam.
Ringkasnya
| Masalah | Pendapat | Pemegang | Dalil utama |
|---|---|---|---|
| Jamak karena hujan | Tidak boleh | Hanafi; al-Muzanî | Hadis Ibnu Mas’ûd; hadis malam ta’rîs |
| Jamak karena hujan | Maghrib-isya saja | Maliki, Hanbali; Ibnu ’Umar, Abân, fuqaha tujuh | Ucapan Abû Salamah; amalan penduduk Madinah |
| Jamak karena hujan | Zuhur-asar dan maghrib-isya | Syafi’i, Abû Tsaur | Hadis Ibnu ’Abbâs ditafsirkan karena hujan |
| Jamak karena keperluan | Tidak boleh | Keempat mazhab, jumhur | Hadis waktu shalat |
| Jamak karena keperluan | Boleh selama tidak menjadi kebiasaan | Ibnu Sîrîn, Rabî’ah, Ibnu Syubrumah, Ibnu al-Mundzir, al-Qaffâl | Zahir hadis Ibnu ’Abbâs "agar tidak memberatkan umatnya" |
| Jamak karena keperluan | Hadisnya jamak shûrî | Asy-Syaukânî | Riwayat an-Nasâ’î dari Ibnu ’Abbâs |
Pelajaran untuk kita
- Jamak maghrib-isya karena hujan lebat di masjid dibolehkan tiga mazhab: Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Hanafi tidak membolehkannya.
- Jamak zuhur-asar karena hujan hanya dibolehkan mazhab Syafi’i. Maliki dan Hanbali membatasinya pada maghrib dan isya.
- Hujan yang dimaksud adalah hujan yang menyulitkan. Ibnu Qudâmah menyebut hujan yang membasahi pakaian, dan al-Khurasyî menyebut hujan lebat yang membuat orang menutup kepala.
- Menjamak karena keperluan tanpa uzur tidak dibolehkan keempat mazhab. Pendapat yang membolehkan, seperti Ibnu Sîrîn dan Ibnu al-Mundzir, mensyaratkan tidak dijadikan kebiasaan.
- Jamak shûrî berbeda dari jamak hakiki. Dalam jamak shûrî, zuhur dikerjakan di akhir waktunya dan asar di awal waktunya, sehingga tiap shalat tetap di waktunya sendiri. Inilah bentuk jamak yang dibolehkan Ibnu al-Humâm bagi musafir, dan dengan bentuk inilah asy-Syaukânî memahami hadis Ibnu ’Abbâs.
Catatan Kaki
- Ibnu al-Humâm (w. 861 H). Fatḫ al-Qadîr (cet. al-Ḫalabî). Juz 2, hlm. 48, Kitâb ash-Shalâh, Bâb Shalât al-Musâfir. shamela.ws/book/21744/568 ↑
- Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 2, hlm. 202, Bâb Shalât al-Musâfir, fasal no. 1254. shamela.ws/book/8463/650 ↑
- An-Nawawî (w. 676 H). Al-Majmû’ Syarḫ al-Muhadzdzab (cet. al-Munîriyyah). Juz 4, hlm. 384, Kitâb ash-Shalâh, Masâ’il Tata’allaq bi Jam’ al-Musâfir. shamela.ws/book/2186/2041 ↑
- Al-Khurasyî (w. 1101 H). Syarḫ al-Khurasyî ’alâ Mukhtashar Khalîl. Juz 2, hlm. 70, Fashl Shalât al-Musâfir, Asbâb Jam’ ash-Shalâh. shamela.ws/book/91/424 ↑
- Ibnu Qudâmah, al-Mughnî, juz 2, hlm. 202. shamela.ws/book/8463/650 ↑
- Ibnu Qudâmah, al-Mughnî, juz 2, hlm. 203, fasal no. 1255. shamela.ws/book/8463/651 ↑
- An-Nawawî, al-Majmû’, juz 4, hlm. 384. shamela.ws/book/2186/2041 ↑
- An-Nawawî, al-Majmû’, juz 4, hlm. 380. shamela.ws/book/2186/2037 ↑
- An-Nawawî, al-Majmû’, juz 4, hlm. 384. shamela.ws/book/2186/2041 ↑
- Ibnu Qudâmah, al-Mughnî, juz 2, hlm. 205, fasal no. 1263. shamela.ws/book/8463/653 ↑
- Ibnu Qudâmah, al-Mughnî, juz 2, hlm. 204, fasal no. 1260. shamela.ws/book/8463/652 ↑
- An-Nawawî, al-Majmû’, juz 4, hlm. 384. shamela.ws/book/2186/2041 ↑
- Ibnu Qudâmah, al-Mughnî, juz 2, hlm. 205. shamela.ws/book/8463/653 ↑
- Asy-Syaukânî (w. 1250 H). Nail al-Authâr Syarḫ Muntaqâ al-Akhbâr (taḫqîq Ḫallâq). Juz 6, hlm. 201, Abwâb al-Jam’ baina ash-Shalâtain, Bâb Jam’ al-Muqîm li Mathar au Ghairih. shamela.ws/book/1218/2779 ↑
- Asy-Syaukânî, Nail al-Authâr, juz 6, hlm. 203. shamela.ws/book/1218/2781 ↑
- Ibnu al-Humâm, Fatḫ al-Qadîr, juz 2, hlm. 48. shamela.ws/book/21744/568 ↑
- Ibnu Qudâmah, al-Mughnî, juz 2, hlm. 202. shamela.ws/book/8463/650 ↑
- Ibnu Qudâmah, al-Mughnî, juz 2, hlm. 203. shamela.ws/book/8463/651 ↑
- Ibnu Qudâmah, al-Mughnî, juz 2, hlm. 203. shamela.ws/book/8463/651 ↑
- An-Nawawî, al-Majmû’, juz 4, hlm. 379. shamela.ws/book/2186/2036 ↑
- An-Nawawî, al-Majmû’, juz 4, hlm. 380. shamela.ws/book/2186/2037 ↑
- Ibnu Qudâmah, al-Mughnî, juz 2, hlm. 205. shamela.ws/book/8463/653 ↑
- An-Nawawî, al-Majmû’, juz 4, hlm. 379. shamela.ws/book/2186/2036 ↑
- Ibnu Qudâmah, al-Mughnî, juz 2, hlm. 205. shamela.ws/book/8463/653 ↑
- An-Nawawî, al-Majmû’, juz 4, hlm. 384. shamela.ws/book/2186/2041 ↑
- Ibnu al-Humâm, Fatḫ al-Qadîr, juz 2, hlm. 48. shamela.ws/book/21744/568 ↑
- Asy-Syaukânî, Nail al-Authâr, juz 6, hlm. 202. shamela.ws/book/1218/2780 ↑
- Asy-Syaukânî, Nail al-Authâr, juz 6, hlm. 202. shamela.ws/book/1218/2780 ↑
- Asy-Syaukânî, Nail al-Authâr, juz 6, hlm. 203. shamela.ws/book/1218/2781 ↑