← Semua artikel

Muamalah

Harga Kredit Lebih Mahal dari Harga Tunai: Riba atau Jual Beli yang Sah?

Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H. · 19 Oktober 2026 · 10 menit baca

Seorang karyawan ingin membeli sepeda motor. Di dealer tertulis dua harga: Rp20 juta jika dibayar tunai, atau Rp24 juta jika dicicil selama dua tahun. Temannya mengingatkan: "Selisih empat juta itu riba, karena kamu membayar lebih hanya karena waktu." Teman lain menjawab: "Itu jual beli biasa, harganya sudah disepakati sejak awal."

Pertanyaan ini sudah dibahas para fuqaha sejak lama dengan nama al-bai’ bi ats-tsaman al-mu’ajjal (jual beli dengan harga tangguh) dan hadis larangan bai’atân fî bai’ah (dua jual beli dalam satu akad). Tulisan ini menghimpun pendapat empat mazhab dari kitab-kitab mereka sendiri tentang dua hal: bolehkah harga tangguh lebih tinggi dari harga tunai, dan kapan penawaran "tunai sekian, kredit sekian" menjadi terlarang.

Hanafi: tempo boleh menambah harga, asalkan satu harga dipastikan

Kitab-kitab Hanafi menyebut tambahan harga karena tempo sebagai hal yang wajar dalam jual beli. Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah membahas seseorang yang membeli barang secara tangguh lalu menjualnya kembali secara murâbaḫah (dengan menyebutkan modal dan keuntungan) tanpa menjelaskan bahwa ia membelinya secara tangguh. Pembeli kedua berhak memilih, karena:

لأن للأجل شبها بالمبيع؛ ألا يرى أنه يزاد في الثمن لأجل الأجل

"Karena tempo memiliki kemiripan dengan barang yang dijual. Tidakkah engkau lihat bahwa harga ditambah karena adanya tempo?"

Al-Kâsânî (w. 587 H) dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ menulis alasan yang sama: "لِأَنَّ لِلْأَجَلِ شُبْهَةَ الْمَبِيعِ ... أَلَا تَرَى أَنَّ الثَّمَنَ قَدْ يُزَادُ لِمَكَانِ الْأَجَلِ", karena tempo memiliki kemiripan dengan barang yang dijual; tidakkah engkau lihat bahwa harga kadang ditambah karena adanya tempo.

Yang dilarang adalah akad yang belum memastikan satu harga. As-Sarakhsî (w. 483 H) dalam al-Mabsûth menulis:

الْعَقْدَ عَلَى أَنَّهُ إلَى أَجَلِ كَذَا بِكَذَا وَبِالنَّقْدِ بِكَذَا أَوْ قَالَ إلَى شَهْرٍ بِكَذَا أَوْ إلَى شَهْرَيْنِ بِكَذَا فَهُوَ فَاسِدٌ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يُعَاطِهِ عَلَى ثَمَنٍ مَعْلُومٍ

"(Jika ia mengadakan) akad dengan ketentuan: dengan tempo sekian harganya sekian, dan tunai harganya sekian; atau ia berkata: sebulan harganya sekian, dua bulan harganya sekian, maka akad itu fasid, karena ia tidak bertransaksi dengan harga yang jelas."

Lalu as-Sarakhsî menjelaskan jalan keluarnya:

وَهَذَا إذَا افْتَرَقَا عَلَى هَذَا فَإِنْ كَانَ يَتَرَاضَيَانِ بَيْنَهُمَا وَلَمْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى قَاطَعَهُ عَلَى ثَمَنٍ مَعْلُومٍ، وَأَتَمَّا الْعَقْدَ عَلَيْهِ فَهُوَ جَائِزٌ

"Ini jika keduanya berpisah dalam keadaan seperti itu. Jika keduanya saling rela dan belum berpisah sampai ia menetapkan satu harga yang jelas, lalu keduanya menyempurnakan akad dengan harga itu, maka hukumnya boleh."

Dalil mazhab Hanafi. As-Sarakhsî berdalil dengan "وَلِنَهْيِ النَّبِيِّ ﷺ عَنْ شَرْطَيْنِ فِي بِيَعٍ وَهَذَا هُوَ تَفْسِيرُ الشَّرْطَيْنِ فِي بِيَعٍ", larangan Nabi ﷺ dari dua syarat dalam satu jual beli, dan inilah tafsir dua syarat dalam satu jual beli, serta kaidah "وَمُطْلَقُ النَّهْيِ يُوجِبُ الْفَسَادَ فِي الْعُقُودِ الشَّرْعِيَّةِ", larangan yang mutlak menyebabkan rusaknya akad syar’i. Alasan logisnya adalah ketidakjelasan harga. Adapun bolehnya tambahan harga karena tempo didasarkan pada qiyas al-Marghînânî dan al-Kâsânî: tempo itu sendiri bernilai dan diinginkan, sehingga wajar jika ada bagian harga yang menjadi imbalannya.

Maliki: terlarang jika mengikat dengan salah satu dari dua harga

Dalam al-Mudawwanah, riwayat Saḫnûn (w. 240 H) dari Ibnu al-Qâsim dari Mâlik, Ibnu al-Qâsim menjelaskan makna bai’atân fî bai’ah:

إنَّمَا الْبَيْعَتَانِ فِي بَيْعَةٍ إذَا مَلَكَ الرَّجُلُ السِّلْعَةَ بِثَمَنَيْنِ عَاجِلٍ وَآجِلٍ

"Dua jual beli dalam satu jual beli itu hanyalah jika seseorang memiliki barang dengan dua harga: tunai dan tangguh."

Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H) dalam al-Kâfî merinci bentuk yang terlarang: menjual barang "بخمسة نقدا أو عشرة إلى أجل قد وجب البيع بأحد الثمنين", dengan lima tunai atau sepuluh tangguh, sementara jual beli sudah mengikat dengan salah satu dari dua harga itu. Hukumnya "فهذا بيع فاسد إن أدرك فسخ", jual beli fasid; jika masih bisa, dibatalkan. Kemudian ia menyebut bentuk yang boleh: jika pembeli diberi hak memilih (khiyâr) dan belum terikat, "فذلك جائز وليس من باب بيعتين في بيعة", hukumnya boleh dan tidak termasuk dua jual beli dalam satu akad.

An-Nafrâwî (w. 1126 H) dalam al-Fawâkih ad-Dawânî menjelaskan alasan larangannya, sekaligus menyebut satu bentuk yang justru dibolehkan:

وَإِنَّمَا مُنِعَ ذَلِكَ لِلْغَرَرِ؛ لِأَنَّ الْبَائِعَ لَا يَدْرِي بِمَ بَاعَ، وَالْمُشْتَرِي لَا يَدْرِي مَا اشْتَرَى، وَلِذَلِكَ لَوْ عُكِسَ التَّصْوِيرُ كَأَنْ يَبِيعَهَا بِعَشَرَةٍ نَقْدًا أَوْ بِخَمْسَةٍ لِأَجَلٍ لَجَازَ لِعَدَمِ التَّرَدُّدِ حِينَئِذٍ

"Hal itu dilarang hanya karena gharar (ketidakpastian): penjual tidak tahu dengan harga berapa ia menjual, dan pembeli tidak tahu dengan harga berapa ia membeli. Karena itu, jika gambarannya dibalik, misalnya ia menjual seharga sepuluh tunai atau lima tangguh, hukumnya boleh, karena tidak ada keraguan lagi."

Maksudnya, orang yang berakal pasti memilih harga tangguh yang lebih murah, sehingga harga yang berlaku sudah pasti. An-Nafrâwî menambahkan: "وَمَفْهُومُ قَدْ لَزِمَتْهُ أَنَّ الْعَقْدَ لَوْ وَقَعَ عَلَى الْخِيَارِ لَجَازَ", pemahaman dari kata "sudah mengikat" adalah bahwa jika akad terjadi dengan hak memilih, hukumnya boleh.

Dalil mazhab Maliki. An-Nafrâwî berdalil dengan hadis dalam al-Muwaththa’: "«نَهْيِهِ ﵊ عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ»", larangan Nabi ﷺ dari dua jual beli dalam satu jual beli, yang menurut Mâlik dibawa kepada dua bentuk, salah satunya bentuk "tunai sekian atau tangguh sekian" yang sudah mengikat. Al-Mudawwanah juga menukil penjelasan Rabî’ah: jika barang sudah wajib dibeli dengan salah satu harga, "فَكَأَنَّهُ إنَّمَا بِيعَ أَحَدُ الثَّمَنَيْنِ بِالْآخَرِ ... فَهَذَا مِمَّا يُقَارِبُ الرِّبَا", seakan-akan salah satu harga dijual dengan harga yang lain, dan ini mendekati riba. Alasan pokoknya adalah gharar, yang dilarang dalam jual beli.

Syafi’i: batal jika belum ditentukan; tempo memang punya bagian dari harga

An-Nawawî (w. 676 H) dalam al-Majmû’ mensyarah ucapan asy-Syîrâzî "وان قال بعتك بألف نقد أو بألفين نسيئة فالبيع باطل لانه لم يعقد على ثمن بعينه", jika ia berkata "aku jual kepadamu seharga seribu tunai atau dua ribu tangguh", jual belinya batal karena tidak diakadkan atas harga tertentu. An-Nawawî menulis:

وَفَسَّرَ الشَّافِعِيُّ وَغَيْرُهُ مِنْ الْعُلَمَاءِ الْبَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ تَفْسِيرَيْنِ (أَحَدُهُمَا) أَنْ يَقُولَ بِعْتُكَ هَذَا بِعَشَرَةٍ نَقْدًا أَوْ بِعِشْرِينَ نَسِيئَةً (وَالثَّانِي) أَنْ يَقُولَ بِعْتُكَهُ بِمِائَةٍ مَثَلًا عَلَى أَنْ تَبِيعَنِي دَارَك بِكَذَا وَكَذَا

"Asy-Syâfi’î dan ulama lainnya menafsirkan dua jual beli dalam satu jual beli dengan dua tafsiran. Pertama, ia berkata: aku jual ini kepadamu seharga sepuluh tunai atau dua puluh tangguh. Kedua, ia berkata: aku jual ini kepadamu seharga seratus, misalnya, dengan syarat engkau menjual rumahmu kepadaku seharga sekian."

Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H) dalam Tuḫfat al-Muḫtâj menjelaskan bahwa yang membatalkan adalah pilihan yang dibiarkan menggantung: "بِعْتُك بِأَلْفٍ نَقْدًا أَوْ أَلْفَيْنِ إلَى سَنَةٍ فَخُذْ بِأَيِّهِمَا شِئْت أَنْتَ أَوْ أَنَا أَوْ شَاءَ فُلَانٌ لِلْجَهَالَةِ", aku jual kepadamu seharga seribu tunai atau dua ribu sampai setahun, ambillah dengan harga mana saja yang engkau, aku, atau si fulan kehendaki; batal karena ketidakjelasan. Ia membedakannya dari bentuk yang sah: "بِخِلَافِ نِصْفَهُ بِأَلْفٍ وَنِصْفَهُ بِأَلْفَيْنِ", berbeda dengan "separuhnya seribu dan separuhnya dua ribu".

Bahwa tempo memang mendapat bagian dari harga ditegaskan ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj. Dalam bab murâbaḫah, ia mewajibkan penjual memberitahukan tempo pembeliannya, karena "إذْ الْأَجَلُ يُقَابِلُهُ قِسْطٌ مِنْ الثَّمَنِ", tempo itu diimbangi oleh sebagian dari harga.

Dalil mazhab Syafi’i. An-Nawawî berdalil dengan hadis Abû Hurairah "(أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ نَهَى عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ) رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ", dan menyatakan bahwa kedua bentuk itu "دَاخِلَتَانِ فِي النَّهْيِ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ", termasuk dalam larangan jual beli gharar. Untuk riwayat Abû Dâwud "مَنْ بَاعَ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ فَلَهُ أَوْكَسُهُمَا أَوْ الرِّبَا", siapa yang melakukan dua jual beli dalam satu akad, baginya harga yang lebih rendah atau riba, an-Nawawî menukil penjelasan al-Khaththâbî dengan sebuah contoh: seseorang memesan satu takar gandum dengan tempo sebulan; ketika jatuh tempo, ia berkata kepada pemesan, "بِعْنِي الْقَفِيزَ الَّذِي لَك عَلَيَّ إلَى شَهْرَيْنِ بِقَفِيزَيْنِ", juallah kepadaku satu takar yang menjadi hakmu atasku dengan dua takar sampai dua bulan lagi. Jika keduanya melakukan akad kedua ini sebelum akad pertama dibatalkan, "كَانَا قَدْ دَخَلَا فِي الرِّبَا", keduanya telah masuk ke dalam riba.

Hanbali: batal jika berpisah tanpa menentukan, sah jika memilih salah satunya

Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî menulis:

وَقَدْ رُوِيَ فِي تَفْسِيرِ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ وَجْهٌ آخَرُ وَهُوَ أَنْ يَقُولَ بِعْتُك هَذَا الْعَبْدَ بِعَشَرَةٍ نَقْدًا أَوْ بِخَمْسَةَ عَشَرَ نَسِيئَةً ... وَهُوَ أَيْضًا بَاطِلٌ وَهُوَ قَوْلُ الْجُمْهُورِ

"Diriwayatkan pula tafsir lain tentang dua jual beli dalam satu jual beli, yaitu ia berkata: aku jual budak ini kepadamu seharga sepuluh tunai atau lima belas tangguh ... Ini juga batal, dan inilah pendapat jumhur."

Ibnu Qudâmah lalu menukil pendapat sebagian tabi’in: "وَقَدْ رُوِيَ عَنْ طَاوُسٍ وَالْحَكَمِ وَحَمَّادٍ أَنَّهُمْ قَالُوا لَا بَأْسَ أَنْ يَقُولَ أَبِعْك بِالنَّقْدِ بِكَذَا وَبِالنَّسِيئَةِ بِكَذَا فَيَذْهَبُ عَلَى أَحَدِهِمَا", diriwayatkan dari Thâwus, al-Ḫakam, dan Ḫammâd bahwa tidak mengapa ia berkata "aku jual kepadamu tunai sekian dan tangguh sekian", lalu pembeli memilih salah satunya. Ibnu Qudâmah membawa pendapat ini kepada keadaan ketika pembeli kemudian berkata "أَنَا آخُذُهُ بِالنَّسِيئَةِ بِكَذَا", aku ambil dengan harga tangguh sekian, lalu penjual menyetujuinya, "فَيَكُونُ عَقْدًا كَافِيًا", sehingga itu menjadi akad yang cukup.

Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ menetapkan hal ini sebagai mazhab:

(أَوْ) بَاعَهُ (بِعَشْرَةٍ نَقْدًا، أَوْ عِشْرِينَ نَسِيئَةً لَمْ يَصِحَّ) الْبَيْعُ لِعَدَمِ الْجَزْمِ بِأَحَدِهِمَا ... مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا عَلَى أَحَدِهِمَا فَإِنْ تَفَرَّقَا ... عَلَى النَّقْدِ أَوْ النَّسِيئَةِ فِي الثَّانِيَةِ صَحَّ؛ لِانْتِفَاءِ الْمَانِعِ بِالتَّعْيِينِ

"(Atau) ia menjualnya (seharga sepuluh tunai atau dua puluh tangguh, jual belinya tidak sah) karena tidak dipastikan salah satunya ... selama keduanya tidak berpisah dengan memilih salah satunya. Jika keduanya berpisah ... dengan memilih harga tunai atau harga tangguh, jual belinya sah, karena penghalangnya hilang dengan adanya penentuan."

Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menegaskan: "يَعْنِي: مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا عَلَى أَحَدِهِمَا. وَهُوَ الْمَذْهَبُ. نُصَّ عَلَيْهِ", maksudnya selama keduanya tidak berpisah dengan memilih salah satunya; inilah mazhab, dan Aḫmad menyatakannya secara tegas. Ia juga mencatat kemungkinan pendapat yang mengesahkannya walaupun belum ditentukan: "وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَصِحَّ. وَهُوَ لِأَبِي الْخَطَّابِ".

Dalil mazhab Hanbali. Ibnu Qudâmah menyebut tiga alasan batalnya akad yang belum ditentukan: "لِأَنَّهُ لَمْ يَجْزِمْ لَهُ بِبَيْعٍ وَاحِدٍ فَأَشْبَهَ مَا لَوْ قَالَ بِعْتُك هَذَا أَوْ هَذَا، وَلِأَنَّ الثَّمَنَ مَجْهُولٌ فَلَمْ يَصِحَّ كَالْبَيْعِ بِالرَّقْمِ الْمَجْهُولِ وَلِأَنَّ أَحَدَ الْعِوَضَيْنِ غَيْرُ مُعَيَّنٍ وَلَا مَعْلُومٍ", karena ia tidak memastikan satu jual beli, sehingga serupa dengan ucapan "aku jual ini atau itu"; karena harganya tidak diketahui, seperti jual beli dengan kode harga yang tidak diketahui; dan karena salah satu dari dua barang tukar tidak tertentu dan tidak diketahui. Al-Buhûtî menambahkan bahwa sekelompok ulama menafsirkan "حَدِيثَ النَّهْيِ عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ بِذَلِكَ", hadis larangan dua jual beli dalam satu jual beli dengan bentuk ini.

Mengapa berbeda?

Pada pokok masalahnya, keempat mazhab tidak berbeda: harga tangguh boleh lebih tinggi dari harga tunai, dan akad yang dibiarkan menggantung di antara dua harga terlarang. Perbedaan mereka ada pada rincian:

  1. Kapan akad dianggap menggantung. Hanafi dan Hanbali membolehkan penentuan harga sebelum kedua pihak berpisah dari majelis akad. Maliki memusatkan larangan pada akad yang sudah mengikat dengan salah satu dari dua harga; jika masih ada hak memilih, hukumnya boleh. Syafi’i menyebut batal jika pilihan dibiarkan kepada salah satu pihak atau orang lain.
  2. Bentuk yang dibalik. Maliki secara khusus membolehkan "tunai sepuluh atau tangguh lima", karena tidak ada keraguan bahwa pembeli pasti memilih yang lebih murah.
  3. Penamaan larangan. Hanafi menyebutnya "dua syarat dalam satu jual beli". Mazhab lain menyebutnya "dua jual beli dalam satu jual beli". Alasan yang mereka sebut sama: harga tidak jelas dan gharar.

Ringkasnya

MazhabHarga tangguh lebih tinggi"Tunai sekian atau kredit sekian" tanpa menentukanSetelah memilih salah satu
HanafiBoleh; tempo menambah harga (al-Hidâyah, al-Badâ’i’)FasidSah jika ditentukan sebelum berpisah
MalikiBolehFasid jika sudah mengikat dengan salah satu hargaSah; juga sah jika dengan hak memilih
Syafi’iBoleh; tempo diimbangi sebagian harga (Nihâyat al-Muḫtâj)BatalSah jika akad dengan satu harga tertentu
HanbaliBolehTidak sahSah jika berpisah dengan memilih salah satunya (nas Aḫmad)

Pelajaran untuk kita

  1. Selisih antara harga tunai dan harga kredit pada dasarnya bukan riba menurut keempat mazhab, selama yang terjadi adalah jual beli barang dengan harga yang disepakati. Al-Hidâyah dan Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ menyebut bahwa harga memang bertambah karena tempo.
  2. Akad harus menetapkan satu harga. Daftar harga "tunai Rp20 juta, kredit Rp24 juta" hanyalah penawaran. Ketika akad, pembeli memilih salah satunya dan akad dilakukan dengan harga itu. Akad yang membiarkan harga menggantung di antara dua pilihan tidak sah menurut keempat mazhab.
  3. Harga yang sudah disepakati tidak bertambah karena penundaan. Contoh al-Khaththâbî yang dinukil an-Nawawî menunjukkan bahwa menambah utang sebagai imbalan perpanjangan tempo setelah jatuh tempo termasuk riba. Maka yang perlu diperiksa dalam akad kredit adalah klausul tambahan pembayaran karena keterlambatan dan perhitungan ulang harga.
  4. Murâbaḫah menuntut kejujuran tentang tempo. Penjual yang membeli barang secara tangguh lalu menjualnya dengan menyebut modal wajib menjelaskan tempo itu, karena menurut Hanafi dan Syafi’i tempo memiliki bagian dari harga.

Rujukan

  1. Al-Marghînânî (w. 593 H). Al-Hidâyah fî Syarḫ Bidâyat al-Mubtadî. Juz 3, hlm. 58, Kitâb al-Buyû’, Bâb al-Murâbaḫah wa at-Tauliyah. shamela.ws/book/11820/632
  2. Al-Kâsânî (w. 587 H). Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ fî Tartîb asy-Syarâ’i’. Juz 5, hlm. 224, Kitâb al-Buyû’, Fashl fî Bayân mâ Yajib Bayânuh fî al-Murâbaḫah. shamela.ws/book/8183/1357
  3. As-Sarakhsî (w. 483 H). Al-Mabsûth. Juz 13, hlm. 8, Kitâb al-Buyû’, Bâb al-Buyû’ al-Fâsidah. shamela.ws/book/5423/2706
  4. Saḫnûn (w. 240 H), riwayat dari Mâlik bin Anas (w. 179 H). Al-Mudawwanah. Juz 3, hlm. 20, Kitâb ash-Sharf. shamela.ws/book/587/1121
  5. Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H). Al-Kâfî fî Fiqh Ahl al-Madînah. Juz 2, hlm. 739–740, Bâb Aḫkâm mâ Warada an-Nahy ’anhu min al-Buyû’. shamela.ws/book/7367/737, shamela.ws/book/7367/738
  6. An-Nafrâwî (w. 1126 H). Al-Fawâkih ad-Dawânî ’alâ Risâlat Ibn Abî Zaid al-Qairawânî. Juz 2, hlm. 94–95, Bâb fî al-Buyû’. shamela.ws/book/21589/512, shamela.ws/book/21589/513
  7. An-Nawawî (w. 676 H). Al-Majmû’ Syarḫ al-Muhadzdzab (cet. al-Munîriyyah). Juz 9, hlm. 338, Bâb mâ Nahâ ’anhu min Bai’ al-Gharar. shamela.ws/book/2186/4803
  8. Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 4, hlm. 294, Bâb fî al-Buyû’ al-Manhiyy ’anhâ. shamela.ws/book/9059/1775
  9. Ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 4, hlm. 115, Kitâb al-Bai’, Bai’ al-Murâbaḫah. shamela.ws/book/3565/1648
  10. Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 4, hlm. 177, Kitâb al-Buyû’, fasal no. 3130. shamela.ws/book/8463/1640
  11. Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 4, hlm. 311, Kitâb al-Bai’. shamela.ws/book/21609/1935
  12. Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 3, hlm. 174, Kitâb al-Bai’, Fashl Syarth Kaun ats-Tsaman Ma’lûman. shamela.ws/book/21642/1207
Bagikan ke WhatsApp
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Dosen & Pengajar Fiqih · Profil

Artikel lainnya

Jenazah

Membaca Al-Qur’an untuk Orang yang Sudah Wafat: Sampaikah Pahalanya?

19 Oktober 2026 · 11 menit baca
Makanan & Sembelihan

Lupa atau Sengaja Tidak Membaca Basmalah saat Menyembelih: Halalkah Dagingnya?

19 Oktober 2026 · 10 menit baca
Zakat

Zakat Profesi: Menimbang Pendapat Yûsuf al-Qaradhâwî dengan Pendapat Empat Mazhab

19 Oktober 2026 · 14 menit baca · PDF