Bersedekap atau Melepas Tangan Saat Berdiri dalam Shalat?
Seorang mahasiswa Indonesia yang belajar di Afrika Utara heran ketika shalat di masjid setempat: hampir seluruh jamaah berdiri dengan kedua tangan terlepas lurus di samping badan. Di kampungnya, ia terbiasa melihat orang bersedekap, tangan kanan di atas tangan kiri. Di masjid lain yang ia kunjungi, ada jamaah yang meletakkan tangan di dada, ada yang di bawah pusar. Ia bertanya: mana yang sesuai sunnah?
Masalah ini terdiri atas dua pertanyaan. Pertama, apakah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri (qabdh atau wadh’) itu sunnah, atau yang lebih utama melepas tangan (sadl atau irsâl)? Kedua, jika bersedekap, di mana letak kedua tangan? Tulisan ini menghimpun pendapat empat mazhab dari kitab-kitab mereka sendiri.
Hanafi: bersedekap di bawah pusar
Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah menulis:
"ويعتمد بيده اليمنى على اليسرى تحت السرة" لقوله عليه الصلاة والسلام "إن من السنة وضع اليمين على الشمال تحت السرة" وهو حجة على مالك رحمه الله تعالى في الإرسال وعلى الشافعي رحمه الله تعالى في الوضع على الصدر لأن الوضع تحت السرة أقرب إلى التعظيم وهو المقصود
"(Ia meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri, di bawah pusar), berdasarkan sabda Nabi ﷺ: Termasuk sunnah adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah pusar. Ini menjadi hujah atas Mâlik dalam hal melepas tangan, dan atas asy-Syâfi’î dalam hal meletakkannya di dada, karena meletakkan di bawah pusar lebih dekat kepada pengagungan, dan itulah yang dimaksud."
Al-Marghînânî juga menjelaskan kapan tangan diletakkan: "والأصل أن كل قيام فيه ذكر مسنون يعتمد فيه ومالا فلا", kaidahnya, setiap berdiri yang di dalamnya ada zikir yang disunnahkan, tangan diletakkan; jika tidak ada, tidak. Karena itu tangan diletakkan ketika qunut dan shalat jenazah, dan dilepas ketika i’tidal dan di antara takbir shalat Id.
As-Sarakhsî (w. 483 H) dalam al-Mabsûth menegaskan hukumnya: "وَأَصْلُ الِاعْتِمَادِ سُنَّةٌ إلَّا عَلَى قَوْلِ الْأَوْزَاعِيِّ، فَإِنَّهُ كَانَ يَقُولُ يَتَخَيَّرُ الْمُصَلِّي بَيْنَ الِاعْتِمَادِ وَالْإِرْسَالِ", meletakkan tangan pada dasarnya sunnah, kecuali menurut al-Auzâ’î yang berpendapat orang yang shalat boleh memilih antara meletakkan dan melepas. Tentang caranya, ia menukil cara yang dipilih banyak ulama mazhab untuk menggabungkan lafaz "memegang" dan "meletakkan" dalam hadis: "بِأَنْ يَضَعَ بَاطِنَ كَفِّهِ الْيُمْنَى عَلَى ظَاهِرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى وَيُحَلِّقَ بِالْخِنْصَرِ وَالْإِبْهَامِ عَلَى الرُّسْغِ", yaitu meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung telapak tangan kiri, dan melingkarkan jari kelingking dan ibu jari pada pergelangan tangan.
Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H) dalam Radd al-Muḫtâr menukil dari ad-Durr al-Mukhtâr bahwa letak di bawah pusar ini khusus bagi laki-laki: "(وَوَضْعُ يَمِينِهِ عَلَى يَسَارِهِ) وَكَوْنُهُ (تَحْتَ السُّرَّةِ) لِلرِّجَالِ", meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, dan letaknya di bawah pusar bagi laki-laki.
Dalil mazhab Hanafi. As-Sarakhsî berdalil dengan sabda Nabi ﷺ: "«إنَّا مَعْشَرَ الْأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا أَنْ نَأْخُذَ شَمَائِلَنَا بِأَيْمَانِنَا فِي الصَّلَاةِ»", kami para nabi diperintahkan memegang tangan kiri kami dengan tangan kanan dalam shalat, dan dengan ucapan ’Alî "إنَّ مِنْ السُّنَّةِ أَنْ يَضَعَ الْمُصَلِّي يَمِينَهُ عَلَى شِمَالِهِ تَحْتَ السُّرَّةِ فِي الصَّلَاةِ", termasuk sunnah adalah orang yang shalat meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri di bawah pusar. Ia menjelaskan "وَالسُّنَّةُ إذَا أُطْلِقَتْ تَنْصَرِفُ إلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ", kata "sunnah" jika disebut secara mutlak berarti sunnah Rasulullah ﷺ, lalu menambahkan alasan: "ثُمَّ الْوَضْعُ تَحْتَ السُّرَّةِ أَبْعَدُ عَنْ التَّشَبُّهِ بِأَهْلِ الْكِتَابِ وَأَقْرَبُ إلَى سِتْرِ الْعَوْرَةِ", meletakkan di bawah pusar lebih jauh dari menyerupai ahli kitab dan lebih dekat kepada menutup aurat. Ibnu ’Âbidîn menyebut hikmah tidak melepas tangan: "وَلِخَوْفِ اجْتِمَاعِ الدَّمِ. رُءُوسِ الْأَصَابِعِ", karena dikhawatirkan darah berkumpul di ujung jari.
Maliki: yang masyhur melepas tangan
Dalam al-Mudawwanah, Ibnu al-Qâsim menukil jawaban Mâlik:
وَقَالَ مَالِكٌ: فِي وَضْعِ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى فِي الصَّلَاةِ؟ قَالَ: لَا أَعْرِفُ ذَلِكَ فِي الْفَرِيضَةِ وَكَانَ يَكْرَهُهُ وَلَكِنْ فِي النَّوَافِلِ إذَا طَالَ الْقِيَامُ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ يُعِينُ بِهِ نَفْسَهُ
"Mâlik berkata tentang meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat: Aku tidak mengenal hal itu dalam shalat fardhu, dan ia memakruhkannya. Tetapi dalam shalat sunnah, jika berdirinya lama, tidak mengapa, untuk membantu dirinya."
Khalîl dalam al-Mukhtashar menjadikannya ketentuan mazhab: "وَسَدْلُ يَدَيْهِ". Al-Khurasyî (w. 1101 H) menjelaskan:
أَيْ يُنْدَبُ لِكُلِّ مُصَلٍّ عَلَى الْمَشْهُورِ سَدْلُ أَيْ إرْسَالُ يَدَيْهِ إلَى جَنْبَيْهِ مِنْ حِينِ يُكَبِّرُ لِلْإِحْرَامِ ظَاهِرُهُ فِي الْفَرْضِ وَالنَّفَلِ وَيُكْرَهُ الْقَبْضُ فِي الْفَرْضِ
"Maksudnya, menurut pendapat yang masyhur, dianjurkan bagi setiap orang yang shalat untuk melepas kedua tangannya ke samping badan sejak takbiratul ihram. Lahirnya berlaku dalam shalat fardhu dan sunnah, dan bersedekap dalam shalat fardhu makruh."
Namun Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H) dalam al-Kâfî menyebut kedua cara sama-sama sunnah: "ووضع اليمنى منهما على اليسرى أو إرسالهما كل ذلك سنة في الصلاة", meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri atau melepas keduanya, semua itu sunnah dalam shalat. Al-Ḫaththâb (w. 954 H) dalam Mawâhib al-Jalîl mencatat tiga pendapat dalam mazhab: "قِيلَ: إنَّهُ يَجُوزُ فِي الْفَرْضِ وَالنَّفَلِ، وَقِيلَ: يُمْنَعُ فِيهِمَا قَالَهُ الْعِرَاقِيُّونَ، وَقِيلَ: يُكْرَهُ فِي الْفَرْضِ وَيَجُوزُ فِي النَّفْلِ وَهُوَ ظَاهِرُ الْمُدَوَّنَةِ", ada yang berkata boleh dalam shalat fardhu dan sunnah, ada yang berkata terlarang pada keduanya, dan ada yang berkata makruh dalam shalat fardhu dan boleh dalam shalat sunnah, dan inilah lahir al-Mudawwanah.
Dalil mazhab Maliki. Kitab-kitab Maliki menjelaskan alasan kemakruhan bersedekap dalam shalat fardhu dengan tiga penafsiran. Al-Khurasyî menulis bahwa sebagian ulama beralasan "لِلِاعْتِمَادِ إذْ هُوَ شَبِيهٌ بِالْمُسْتَنِدِ وَهُوَ لِلْقَاضِي عَبْدِ الْوَهَّابِ", karena bertumpu, sebab ia serupa dengan orang yang bersandar, dan ini penafsiran al-Qâdhî ’Abd al-Wahhâb. Dasarnya adalah ucapan Mâlik dalam al-Mudawwanah bahwa bersandar ke dinding dalam shalat fardhu "فَلَا يُعْجِبُنِي وَأَمَّا فِي النَّافِلَةِ فَلَا أَرَى بِهِ بَأْسًا", tidak aku sukai, sedangkan dalam shalat sunnah tidak mengapa. Penafsiran kedua: "خِيفَةَ أَنْ يَعْتَقِدَ وُجُوبَهُ الْجُهَّالُ وَهُوَ لِلْبَاجِيِّ وَابْنِ رُشْدٍ", karena khawatir orang awam menganggapnya wajib, dan ini penafsiran al-Bâjî dan Ibnu Rusyd. Penafsiran ketiga: "خِيفَةَ إظْهَارِ خُشُوعٍ لَيْسَ فِي الْبَاطِنِ ... وَهُوَ لِعِيَاضٍ", karena khawatir menampakkan kekhusyukan yang tidak ada di dalam hati, dan ini penafsiran al-Qâdhî ’Iyâdh. Al-Mudawwanah sendiri juga meriwayatkan hadis tentang bersedekap: "أَنَّهُمْ رَأَوْا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَاضِعًا يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى فِي الصَّلَاةِ", bahwa beberapa sahabat melihat Rasulullah ﷺ meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri dalam shalat.
Syafi’i: bersedekap di bawah dada, di atas pusar
An-Nawawî (w. 676 H) dalam al-Majmû’ menulis:
قَالَ أَصْحَابُنَا السُّنَّةُ أَنْ يَحُطَّ يَدَيْهِ بَعْدَ التَّكْبِيرِ وَيَضَعَ الْيُمْنَى عَلَى اليسرى ويقبض بكف المينى كُوعَ الْيُسْرَى وَبَعْضَ رُسْغِهَا وَسَاعِدِهَا ... وَيَجْعَلُهُمَا تَحْتَ صَدْرِهِ وَفَوْقَ سُرَّتِهِ هَذَا هُوَ الصَّحِيحُ المنصوص
"Ulama mazhab kami berkata: sunnahnya, ia menurunkan kedua tangannya setelah takbir, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, memegang dengan telapak tangan kanan pergelangan tangan kiri, sebagian pergelangan, dan lengan bawahnya ... dan meletakkan keduanya di bawah dada dan di atas pusar. Inilah pendapat yang sahih dan dinyatakan oleh asy-Syâfi’î."
Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H) dalam Tuḫfat al-Muḫtâj menyebutnya sunnah berdasarkan praktik Nabi ﷺ: "(وَجَعْلُ يَدَيْهِ تَحْتَ صَدْرِهِ) وَفَوْقَ سُرَّتِهِ (آخِذًا بِيَمِينِهِ يَسَارَهُ) لِلِاتِّبَاعِ الثَّابِتِ مِنْ مَجْمُوعِ رِوَايَةِ الشَّيْخَيْنِ وَغَيْرِهِمَا", meletakkan kedua tangan di bawah dada dan di atas pusar sambil memegang tangan kiri dengan tangan kanan, karena mengikuti praktik Nabi ﷺ yang tetap dari gabungan riwayat al-Bukhârî, Muslim, dan lainnya. An-Nawawî juga mencatat pendapat Mâlik: "وَرَوَى ابْنُ عَبْدِ الْحَكَمِ عَنْ مَالِكٍ الْوَضْعَ وَرَوَى عَنْهُ ابْنُ الْقَاسِمِ الْإِرْسَالَ وَهُوَ الْأَشْهَرُ", Ibnu ’Abd al-Ḫakam meriwayatkan dari Mâlik bersedekap, dan Ibnu al-Qâsim meriwayatkan darinya melepas tangan, dan inilah yang lebih masyhur.
Dalil mazhab Syafi’i. An-Nawawî berdalil dengan hadis Sahl bin Sa’d riwayat al-Bukhârî: "كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ فِي الصَّلَاةِ", orang-orang diperintahkan agar seseorang meletakkan tangan kanannya di atas lengan bawahnya dalam shalat, dan hadis Wâ’il bin Ḫujr riwayat Muslim bahwa Nabi ﷺ "وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى". Untuk letaknya, ia berdalil dengan hadis Wâ’il: "صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ \" رَوَاهُ أَبُو بَكْرِ بْنُ خُزَيْمَةَ فِي صَحِيحِهِ", aku shalat bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya di dadanya, diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dalam Shaḫîḫ-nya. Atsar ’Alî yang dipegang Hanafi ia nilai lemah: "وَاتَّفَقُوا عَلَى تَضْعِيفِهِ لِأَنَّهُ مِنْ رِوَايَةِ عبد الرحمن بن اسحق الْوَاسِطِيِّ وَهُوَ ضَعِيفٌ بِاتِّفَاقِ أَئِمَّةِ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ". Tentang dalil Maliki dari hadis orang yang salah shalatnya, yang tidak menyebut bersedekap, an-Nawawî menjawab "فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ لَمْ يُعَلِّمْهُ إلَّا الْوَاجِبَاتِ فَقَطْ", Nabi ﷺ hanya mengajarinya yang wajib saja. Ia menambahkan alasan logis: "وَلِأَنَّ وَضْعَ الْيَدِ عَلَى الْيَدِ أَسْلَمُ لَهُ مِنْ الْعَبَثِ وَأَحْسَنُ فِي التَّوَاضُعِ وَالتَّضَرُّعِ وَالتَّذَلُّلِ", meletakkan tangan di atas tangan lebih menjaga dari perbuatan sia-sia dan lebih baik dalam ketundukan, kerendahan, dan merendahkan diri.
Hanbali: bersedekap di bawah pusar, menurut mazhab
Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî menulis tentang hukum bersedekap:
أَمَّا وَضْعُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى فِي الصَّلَاةِ، فَمِنْ سُنَّتِهَا فِي قَوْلِ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ ... وَحَكَاهُ ابْنُ الْمُنْذِرِ عَنْ مَالِكٍ. وَظَاهِرُ مَذْهَبِهِ الَّذِي عَلَيْهِ أَصْحَابُهُ إرْسَالُ الْيَدَيْنِ
"Adapun meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat, itu termasuk sunnah shalat menurut banyak ulama ... dan Ibnu al-Mundzir menukilnya dari Mâlik. Tetapi lahir mazhabnya yang dipegang para pengikutnya adalah melepas kedua tangan."
Tentang letaknya, Ibnu Qudâmah menyebut tiga riwayat dari Aḫmad: di bawah pusar, di atas pusar, dan boleh memilih, lalu berkata: "وَعَنْهُ أَنَّهُ مُخَيَّرٌ فِي ذَلِكَ؛ لِأَنَّ الْجَمِيعَ مَرْوِيٌّ، وَالْأَمْرُ فِي ذَلِكَ وَاسِعٌ", dan diriwayatkan darinya boleh memilih, karena semuanya diriwayatkan, dan perkara ini lapang. Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menetapkan pendapat mazhab:
قَوْلُهُ (وَيَجْعَلُهُمَا تَحْتَ سُرَّتِهِ) هَذَا الْمَذْهَبُ، وَعَلَيْهِ جَمَاهِيرُ الْأَصْحَابِ، وَعَنْهُ يَجْعَلُهُمَا تَحْتَ صَدْرِهِ، وَعَنْهُ يُخَيَّرُ ... وَعَنْهُ يُرْسِلُهُمَا مُطْلَقًا إلَى جَانِبَيْهِ، وَعَنْهُ يُرْسِلُهُمَا فِي النَّفْلِ دُونَ الْفَرْضِ
"Ucapannya (dan meletakkan keduanya di bawah pusar): inilah mazhab, dan dipegang mayoritas ulama mazhab. Diriwayatkan dari Aḫmad: meletakkan keduanya di bawah dada; dan diriwayatkan: boleh memilih ... dan diriwayatkan: melepas keduanya ke samping secara mutlak; dan diriwayatkan: melepasnya dalam shalat sunnah, tidak dalam shalat fardhu."
Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ menambahkan: "(وَيُكْرَهُ) جَعْلُ يَدَيْهِ (عَلَى صَدْرِهِ) نَصَّ عَلَيْهِ، مَعَ أَنَّهُ رَوَاهُ", makruh meletakkan kedua tangan di atas dada; Aḫmad menyatakannya, padahal ia sendiri meriwayatkan hadisnya.
Dalil mazhab Hanbali. Ibnu Qudâmah berdalil untuk sunnahnya bersedekap dengan hadis Hulb ath-Thâ’î: "«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَؤُمُّنَا فَيَأْخُذُ شِمَالَهُ بِيَمِينِهِ» ، رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ", hadis Sahl bin Sa’d riwayat al-Bukhârî, dan hadis Ibnu Mas’ûd riwayat Abû Dâwud bahwa Nabi ﷺ melihatnya meletakkan tangan kiri di atas tangan kanan, "فَأَخَذَ يَمِينَهُ فَوَضَعَهَا عَلَى شِمَالِهِ", lalu beliau mengambil tangan kanannya dan meletakkannya di atas tangan kirinya. Untuk letak di bawah pusar, ia berdalil dengan atsar ’Alî: "مِنْ السُّنَّةِ وَضْعُ الْيَمِينِ عَلَى الشِّمَالِ تَحْتَ السُّرَّةِ. رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ، وَأَبُو دَاوُد. وَهَذَا يَنْصَرِفُ إلَى سُنَّةِ النَّبِيِّ ﷺ". Al-Buhûtî menukil makna sikap ini dari Aḫmad: "أَنَّ فَاعِلَ ذَلِكَ ذُو (ذُلٍّ بَيْنَ يَدَيْ ذِي عِزٍّ)", orang yang melakukannya berada dalam kerendahan di hadapan Yang Mahaperkasa.
Mengapa berbeda?
- Amalan penduduk Madinah dan hadis. Hadis-hadis tentang bersedekap diriwayatkan dalam ash-Shaḫîḫain dan kitab lain, bahkan dalam al-Mudawwanah sendiri. Tetapi Mâlik berkata "aku tidak mengenal hal itu dalam shalat fardhu", dan ulama mazhabnya menjelaskan kemakruhan itu dengan tiga penafsiran: menyerupai orang bersandar, khawatir dianggap wajib, atau khawatir menampakkan kekhusyukan yang tidak ada di hati.
- Penilaian atsar ’Alî. Hanafi dan Hanbali menjadikan atsar "termasuk sunnah meletakkan tangan di bawah pusar" sebagai dasar letak tangan. An-Nawawî menyebut para ulama sepakat atas kelemahannya, dan berpegang pada hadis Wâ’il riwayat Ibnu Khuzaimah.
- Hikmah yang dipertimbangkan. Hanafi melihat letak di bawah pusar lebih dekat kepada pengagungan dan menutup aurat. Syafi’i melihat bersedekap lebih menjaga dari perbuatan sia-sia. Ibnu Qudâmah sendiri menyebut perkara letak tangan ini "وَاسِعٌ", lapang.
Ringkasnya
| Mazhab | Hukum bersedekap | Letak tangan |
|---|---|---|
| Hanafi | Sunnah | Di bawah pusar (bagi laki-laki) |
| Maliki | Masyhur: melepas tangan dianjurkan; bersedekap makruh dalam shalat fardhu, boleh dalam shalat sunnah. Ibnu ’Abd al-Barr: keduanya sunnah | Jika bersedekap: di bawah dada dan di atas pusar (al-Khurasyî) |
| Syafi’i | Sunnah | Di bawah dada dan di atas pusar |
| Hanbali | Sunnah | Di bawah pusar (mazhab); riwayat lain: di bawah dada, atau boleh memilih |
Pelajaran untuk kita
- Tiga mazhab menyatakan bersedekap itu sunnah, berdasarkan hadis-hadis sahih yang mereka nukil. Mazhab Maliki yang masyhur melepas tangan dalam shalat fardhu, tetapi Ibnu ’Abd al-Barr menyebut kedua cara sama-sama sunnah.
- Jamaah yang melepas tangan, seperti di masjid-masjid Afrika Utara dalam kisah di atas, mengikuti pendapat masyhur mazhab Maliki. Perbedaan ini berkisar pada sunnah dan makruh, sebagaimana tampak dari kitab-kitab di atas.
- Letak tangan: menurut mazhab Syafi’i yang banyak diikuti di Indonesia, kedua tangan diletakkan di bawah dada dan di atas pusar. Menurut Hanafi dan Hanbali, di bawah pusar. Ibnu Qudâmah menyebut perkara ini lapang.
- Caranya menurut al-Majmû’: tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri dan sebagian lengan bawahnya, tidak sekadar ditempelkan.
Rujukan
- Al-Marghînânî (w. 593 H). Al-Hidâyah fî Syarḫ Bidâyat al-Mubtadî. Juz 1, hlm. 49, Kitâb ash-Shalâh, Bâb Shifat ash-Shalâh. shamela.ws/book/11820/60
- As-Sarakhsî (w. 483 H). Al-Mabsûth. Juz 1, hlm. 23–24, Kitâb ash-Shalâh. shamela.ws/book/5423/22, shamela.ws/book/5423/23
- Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H). Radd al-Muḫtâr ’alâ ad-Durr al-Mukhtâr (cet. al-Ḫalabî). Juz 1, hlm. 476, Bâb Shifat ash-Shalâh. shamela.ws/book/21613/471
- Saḫnûn (w. 240 H), riwayat dari Mâlik bin Anas (w. 179 H). Al-Mudawwanah. Juz 1, hlm. 169–170, Kitâb ash-Shalâh al-Awwal, al-I’timâd fî ash-Shalâh wa Wadh’ al-Yad ’alâ al-Yad. shamela.ws/book/587/57, shamela.ws/book/587/58
- Al-Khurasyî (w. 1101 H). Syarḫ Mukhtashar Khalîl. Juz 1, hlm. 286–287, Fashl fî Farâ’idh ash-Shalâh. shamela.ws/book/91/285, shamela.ws/book/91/286
- Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H). Al-Kâfî fî Fiqh Ahl al-Madînah. Juz 1, hlm. 206, Bâb Hai’at ash-Shalâh bi Kamâlihâ. shamela.ws/book/7367/81
- Al-Ḫaththâb (w. 954 H). Mawâhib al-Jalîl fî Syarḫ Mukhtashar Khalîl. Juz 1, hlm. 541, Fashl Farâ’idh ash-Shalâh. shamela.ws/book/569/540
- An-Nawawî (w. 676 H). Al-Majmû’ Syarḫ al-Muhadzdzab (cet. al-Munîriyyah). Juz 3, hlm. 310–313, Kitâb ash-Shalâh. shamela.ws/book/2186/1440, shamela.ws/book/2186/1442, shamela.ws/book/2186/1443
- Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 2, hlm. 102, Bâb Shifat ash-Shalâh. shamela.ws/book/9059/607
- Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 1, hlm. 341, Bâb Shifat ash-Shalâh, masalah no. 661–662. shamela.ws/book/8463/339
- Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 2, hlm. 46, Bâb Shifat ash-Shalâh. shamela.ws/book/21609/541
- Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 1, hlm. 333–334, Bâb Shifat ash-Shalâh. shamela.ws/book/21642/326, shamela.ws/book/21642/327