Belanja di Minimarket Tanpa Ijab Kabul: Sah?
Coba ingat kapan terakhir kali Anda berbelanja di minimarket. Ambil keranjang, pilih barang, taruh di meja kasir. Kasir memindai, layar menampilkan angka, Anda menempelkan kartu atau memindai QRIS. Struk keluar, Anda pulang. Tidak ada yang berkata "saya jual" atau "saya beli".
Padahal di pesantren kita belajar bahwa jual beli punya rukun shîghah: ijâb dari penjual dan qabûl dari pembeli. Lalu bagaimana status belanja tanpa kata-kata itu? Para ulama menyebutnya bai’ al-mu’âthâh (atau at-ta’âthî): jual beli dengan saling memberi, tanpa ucapan. Empat mazhab punya jawaban yang berbeda.
Hanafi: inti jual beli justru "saling memberi"
Bagi mazhab Hanafi, ucapan "saya jual" dan "saya beli" bukan inti jual beli. Ucapan itu hanya tanda. Al-Kâsânî (w. 587 H) dalam Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ menjelaskan:
لِأَنَّ الْبَيْعَ فِي اللُّغَةِ وَالشَّرْعِ اسْمٌ لِلْمُبَادَلَةِ، وَهِيَ مُبَادَلَةُ شَيْءٍ مَرْغُوبٍ بِشَيْءٍ مَرْغُوبٍ، وَحَقِيقَةُ الْمُبَادَلَةِ بِالتَّعَاطِي وَهُوَ الْأَخْذُ وَالْإِعْطَاءُ، وَإِنَّمَا قَوْلُ الْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ دَلِيلٌ عَلَيْهِمَا
"Karena jual beli, secara bahasa maupun syariat, adalah nama bagi pertukaran, yaitu menukar sesuatu yang diinginkan dengan sesuatu yang diinginkan. Hakikat pertukaran itu terwujud dengan saling memberi, yaitu mengambil dan menyerahkan. Ucapan 'jual' dan 'beli' hanyalah petunjuk atas keduanya."
Al-Kâsânî juga mencatat ada pendapat dalam mazhab, dari al-Qudûrî, yang membatasi ta’âthî untuk barang murah saja. Tetapi ia menegaskan:
وَرِوَايَةُ الْجَوَازِ فِي الْأَصْلِ مُطْلَقٌ عَنْ هَذَا التَّفْصِيلِ وَهِيَ الصَّحِيحَةُ
"Riwayat yang membolehkan dalam kitab al-Ashl bersifat mutlak tanpa rincian ini, dan itulah yang sahih."
Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah, yang dicetak bersama syarahnya Fatḫ al-Qadîr karya Ibnu al-Humâm (w. 861 H), merumuskannya dalam satu kalimat:
وَلِهَذَا يَنْعَقِدُ بِالتَّعَاطِي فِي النَّفِيسِ وَالْخَسِيسِ هُوَ الصَّحِيحُ لِتَحَقُّقِ الْمُرَاضَاةِ
"Karena itu, jual beli sah dengan saling memberi, baik pada barang mahal maupun murah, menurut pendapat yang sahih, karena kerelaan kedua pihak sudah terwujud."
Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H) dalam Radd al-Muḫtâr menjelaskan apa yang dimaksud barang mahal dan murah:
النَّفِيسُ مَا كَثُرَ ثَمَنُهُ كَالْعَبْدِ وَالْخَسِيسُ مَا قَلَّ ثَمَنُهُ كَالْخُبْزِ
"Barang mahal adalah yang harganya tinggi seperti budak, dan barang murah adalah yang harganya rendah seperti roti."
Ia juga menukil bahwa pembatasan pada barang murah adalah pendapat al-Karkhî, sedangkan pendapat yang dipegang adalah yang mutlak. Jadi dalam mazhab Hanafi, membeli roti maupun membeli motor tanpa ucapan sama-sama sah.
Dalil mazhab Hanafi. Setelah menyatakan bahwa hakikat jual beli adalah saling memberi, al-Kâsânî berdalil dengan Al-Qur’an:
وَالدَّلِيلُ عَلَيْهِ قَوْلُهُ ... ﴿إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ﴾ [النساء: ٢٩] ، وَالتِّجَارَةُ عِبَارَةٌ عَنْ جَعْلِ الشَّيْءِ لِلْغَيْرِ بِبَدَلٍ وَهُوَ تَفْسِيرُ التَّعَاطِي
"Dalilnya adalah firman Allah, 'kecuali dengan perniagaan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu' (QS an-Nisâ’: 29). Perniagaan adalah menjadikan sesuatu milik orang lain dengan imbalan, dan itulah pengertian saling memberi."
Jadi bagi mazhab Hanafi, ayat ini tidak menyebut ucapan sama sekali. Yang disebut hanya perniagaan dan kerelaan, dan keduanya sudah terwujud ketika barang dan uang berpindah tangan dengan rela.
Maliki: apa saja yang menunjukkan rela
Mazhab Maliki berangkat dari kaidah yang sangat lapang. Matan Mukhtashar Khalîl dibuka dengan kalimat: "يَنْعَقِدُ الْبَيْعُ بِمَا يَدُلُّ عَلَى الرِّضَا، وَإِنْ بِمُعَاطَاةٍ", jual beli sah dengan apa saja yang menunjukkan kerelaan, walaupun dengan saling memberi.
Ad-Dardîr (w. 1201 H) dalam asy-Syarḫ al-Kabîr menggambarkan bentuknya, persis seperti di minimarket:
بِأَنْ يَأْخُذَ الْمُشْتَرِي الْمَبِيعَ وَيَدْفَعَ لِلْبَائِعِ الثَّمَنَ أَوْ يَدْفَعَ الْبَائِعُ الْمَبِيعَ فَيَدْفَعَ لَهُ الْآخَرُ ثَمَنَهُ مِنْ غَيْرِ تَكَلُّمٍ وَلَا إشَارَةٍ، وَلَوْ فِي غَيْرِ الْمُحَقِّرَاتِ
"Yaitu pembeli mengambil barang dan menyerahkan harganya kepada penjual, atau penjual menyerahkan barang lalu pihak lain menyerahkan harganya, tanpa berbicara dan tanpa isyarat, walaupun pada barang yang tidak remeh."
Al-Ḫaththâb (w. 954 H) dalam Mawâhib al-Jalîl menjelaskan alasannya:
يَعْنِي أَنَّ الدَّلَالَةَ عَلَى الرِّضَا يَكْفِي فِيهَا الْفِعْلُ؛ لِأَنَّهُ يَدُلُّ عَلَى الرِّضَا فِي كَثِيرٍ مِنْ الْأُمُورِ دَلَالَةً عُرْفِيَّةً
"Maksudnya, untuk menunjukkan kerelaan cukup dengan perbuatan, karena dalam banyak urusan perbuatan menunjukkan kerelaan menurut kebiasaan."
Al-Ḫaththâb lalu menukil ucapan Ibnu ’Arafah, ulama Maliki Tunisia abad ke-8 H, yang terasa sangat akrab: "وَبِيَاعَاتُ زَمَانِنَا فِي الْأَسْوَاقِ إنَّمَا هِيَ بِالْمُعَاطَاةِ", jual beli di pasar-pasar zaman kami hanyalah dengan mu’âthâh. Ternyata transaksi tanpa kata sudah lumrah sejak enam abad lalu.
Al-Khurasyî (w. 1101 H) dalam syarahnya atas Mukhtashar Khalîl memasukkan mu’âthâh sebagai salah satu cara menunjukkan rela, yaitu petunjuk berdasarkan kebiasaan: "وَالْعُرْفِيَّةُ كَالْمُعَاطَاةِ".
Dalil mazhab Maliki. Al-Ḫaththâb dalam Mawâhib al-Jalîl merangkum dalil kedua pihak, Syafi’iyyah dan Malikiyyah:
وَاحْتَجَّ الشَّافِعِيَّةُ بِأَنَّ الْفِعْلَ لَا دَلَالَةَ لَهُ بِالْوَضْعِ، فَلَا يَنْعَقِدُ بِهِ الْبَيْعُ، وَاحْتَجَّ الْمَالِكِيَّةُ بِمَا تَقَدَّمَ مِنْ أَنَّ الْأَفْعَالَ، وَإِنْ انْتَفَتْ مِنْهَا الدَّلَالَةُ الْوَضْعِيَّةُ فَفِيهَا دَلَالَةٌ عُرْفِيَّةٌ، وَهِيَ كَافِيَةٌ إذْ الْمَقْصُودُ مِنْ التِّجَارَةِ إنَّمَا هُوَ أَخْذُ مَا فِي يَدِ غَيْرِكَ بِدَفْعِ عِوَضٍ عَنْ طِيبِ نَفْسٍ مِنْكُمَا فَتَكْفِي دَلَالَةُ الْعُرْفِ
"Syafi’iyyah berdalil bahwa perbuatan tidak punya makna bawaan bahasa, sehingga jual beli tidak sah dengannya. Malikiyyah berdalil bahwa perbuatan, walaupun tidak punya makna bawaan bahasa, tetap punya makna menurut kebiasaan, dan itu sudah cukup. Sebab tujuan perniagaan hanyalah mengambil apa yang ada di tangan orang lain dengan menyerahkan imbalan, atas kerelaan kedua belah pihak. Maka petunjuk kebiasaan sudah memadai."
Syafi’i: pendapat resmi tidak sah, tetapi an-Nawawî memilih sah
Di sinilah pembahasan menjadi menarik, karena mazhab yang dianut kebanyakan muslim Indonesia ternyata yang paling ketat.
Asy-Syîrâzî (w. 476 H) dalam al-Muhadzdzab, yang disyarah an-Nawawî (w. 676 H) dalam al-Majmû’, menulis:
ولا ينعقد البيع إلا بالايجاب والقبول فاما المعاطاة فلا ينعقد بها البيع لان اسم البيع لا يقع عليه
"Jual beli tidak sah kecuali dengan ijab dan kabul. Adapun mu’âthâh, jual beli tidak sah dengannya, karena nama jual beli tidak berlaku atasnya."
An-Nawawî menegaskan bahwa ini pendapat masyhur mazhab: "وَلَا تَصِحُّ الْمُعَاطَاةُ فِي قَلِيلٍ وَلَا كَثِيرٍ", mu’âthâh tidak sah, baik pada barang sedikit maupun banyak. Ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj dan Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H) dalam Tuḫfat al-Muḫtâj menjelaskan alasannya dengan redaksi yang hampir sama. Kutipan berikut dari Nihâyat al-Muḫtâj:
وَالرِّضَا أَمْرٌ خَفِيٌّ لَا اطِّلَاعَ لَنَا عَلَيْهِ، فَجُعِلَتْ الصِّيغَةُ دَلِيلًا عَلَى الرِّضَا فَلَا يَنْعَقِدُ بِالْمُعَاطَاةِ
"Kerelaan adalah urusan hati yang tidak bisa kita lihat. Maka shîghah (ucapan ijab kabul) dijadikan bukti kerelaan. Karena itu, jual beli tidak sah dengan mu’âthâh."
Tetapi an-Nawawî sendiri, ulama yang pendapatnya menjadi pegangan utama mazhab Syafi’i, punya pilihan berbeda. Setelah menukil pendapat sebagian ulama Syafi’iyyah yang membolehkan, ia berkata dalam al-Majmû’:
وَهَذَا هُوَ الْمُخْتَارُ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَحَلَّ الْبَيْعَ وَلَمْ يَثْبُتْ فِي الشَّرْعِ لَفْظٌ لَهُ فَوَجَبَ الرُّجُوعُ إلَى العرف فكلما عَدَّهُ النَّاسُ بَيْعًا كَانَ بَيْعًا
"Inilah pendapat yang terpilih, karena Allah ta’ala menghalalkan jual beli, dan tidak ada ketetapan syariat tentang lafaz tertentu untuknya. Maka wajib kembali kepada kebiasaan. Apa saja yang dianggap orang sebagai jual beli, itulah jual beli."
Ar-Ramlî dan Ibnu Ḫajar mencatat pilihan ini dengan jujur:
وَاخْتَارَ الْمُصَنِّفُ كَجَمْعِ انْعِقَادِهِ بِهَا فِي كُلِّ مَا يَعُدُّهُ النَّاسُ بِهَا بَيْعًا وَآخَرُونَ فِي مُحَقَّرٍ كَرَغِيفٍ
"Penulis (an-Nawawî), seperti sejumlah ulama, memilih sahnya jual beli dengan mu’âthâh pada semua yang oleh orang-orang dianggap jual beli. Ulama lain memilih sah pada barang remeh saja seperti sepotong roti."
Bagaimana nasib orang yang terlanjur bertransaksi tanpa ijab kabul menurut pendapat yang tidak mengesahkan? Ar-Ramlî memberi jawaban yang menenangkan: "وَعَلَى الْأَصَحِّ لَا مُطَالَبَةَ بِهَا فِي الْآخِرَةِ: أَيْ مِنْ حَيْثُ الْمَالِ", menurut pendapat yang paling sahih, tidak ada tuntutan di akhirat atas hartanya.
An-Nawawî juga menjelaskan satu detail penting dalam al-Majmû’. Transaksi tetap disebut mu’âthâh walaupun salah satu pihak berbicara, selama pihak lain tidak:
أَنْ يُعْطِيَهُ دِرْهَمًا أَوْ غَيْرَهُ وَيَأْخُذَ مِنْهُ شَيْئًا فِي مقابلته وَلَا يُوجَدُ لَفْظٌ أَوْ يُوجَدُ لَفْظٌ مِنْ أَحَدِهِمَا دُونَ الْآخَرِ
"Seseorang memberinya satu dirham atau lainnya, lalu mengambil sesuatu sebagai gantinya, tanpa ada ucapan, atau ada ucapan dari salah satu pihak saja."
Jadi kasir yang menyebut "totalnya lima puluh ribu", lalu kita membayar tanpa berkata apa-apa, tetap masuk kategori mu’âthâh menurut mazhab Syafi’i.
Dalil mazhab Syafi’i. Kalimat ar-Ramlî yang dikutip di atas sebenarnya kelanjutan dari dalil yang ia sebutkan tepat sebelumnya:
لِقَوْلِهِ تَعَالَى ﴿إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ﴾ [النساء: ٢٩] مَعَ الْخَبَرِ الصَّحِيحِ «إنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ»
"Berdasarkan firman Allah, 'kecuali dengan perniagaan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu' (QS an-Nisâ’: 29), bersama hadis sahih, 'Jual beli itu hanyalah atas dasar saling rela.'"
Alur dalilnya: syariat mensyaratkan kerelaan; kerelaan adalah urusan hati yang tersembunyi; maka harus ada tanda lahir yang jelas, yaitu ucapan ijab kabul. Menariknya, ayat yang sama dipakai mazhab Hanafi untuk kesimpulan sebaliknya. Bagi Hanafi, perniagaan dalam ayat itu justru berupa saling memberi.
Hanbali: sah, bahkan tanpa penjual di tempat
Mazhab Hanbali paling lapang. Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî menyebut contoh mu’âthâh, seperti berkata "berikan aku roti seharga dinar ini" lalu penjual memberikannya, dan menegaskan: "فَهَذَا بَيْعٌ صَحِيحٌ", ini jual beli yang sah. Argumennya kuat:
وَلَوْ كَانَ الْإِيجَابُ وَالْقَبُولُ شَرْطًا فِي هَذِهِ الْعُقُودِ لَشَقَّ ذَلِكَ، وَلَكَانَتْ أَكْثَرُ عُقُودِ الْمُسْلِمِينَ فَاسِدَةً، وَأَكْثَرُ أَمْوَالِهِمْ مُحَرَّمَةً. وَلِأَنَّ الْإِيجَابَ وَالْقَبُولَ إنَّمَا يُرَادَانِ لِلدَّلَالَةِ عَلَى التَّرَاضِي، فَإِذَا وُجِدَ مَا يَدُلُّ عَلَيْهِ، مِنْ الْمُسَاوَمَةِ وَالتَّعَاطِي، قَامَ مَقَامَهُمَا
"Seandainya ijab dan kabul menjadi syarat dalam akad-akad ini, tentu hal itu memberatkan, dan sebagian besar akad kaum muslimin menjadi rusak serta sebagian besar harta mereka menjadi haram. Lagi pula, ijab dan kabul itu dimaksudkan hanya sebagai petunjuk kerelaan. Maka jika ada hal lain yang menunjukkannya, seperti tawar-menawar dan saling memberi, hal itu menggantikan keduanya."
Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf memastikan ini pendapat resmi mazhab:
الصَّحِيحُ مِنْ الْمَذْهَبِ: صِحَّةُ بَيْعِ الْمُعَاطَاةِ مُطْلَقًا. وَعَلَيْهِ جَمَاهِيرُ الْأَصْحَابِ. وَهُوَ الْمَعْمُولُ بِهِ فِي الْمَذْهَبِ
"Pendapat yang sahih dalam mazhab: jual beli mu’âthâh sah secara mutlak. Ini dipegang mayoritas ulama Hanbali, dan inilah yang diamalkan dalam mazhab."
Yang paling mengejutkan datang dari al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’. Ia memasukkan satu bentuk transaksi yang mirip warung kejujuran atau mesin penjual otomatis:
(أَوْ وَضَعَ ثَمَنَهُ) أَيْ: الْقَدْرِ الْمَعْلُومِ أَنَّهُ ثَمَنُهُ (عَادَةً) كَقِطَعِ الْحَلْوَى، وَحُزَمِ الْبَقْلِ (وَأَخَذَهُ) قَالَ فِي الْمُبْدِعِ وَشَرْحِ الْمُنْتَهَى: وَظَاهِرُهُ، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ الْمَالِكُ حَاضِرًا
"(Atau ia meletakkan harganya), yakni jumlah yang biasa diketahui sebagai harganya, seperti potongan manisan dan ikatan sayur, (lalu mengambilnya). Disebutkan dalam al-Mubdi’ dan Syarḫ al-Muntahâ: zahirnya, walaupun pemiliknya tidak hadir."
Al-Buhûtî juga memberi catatan: dalam mu’âthâh, penyerahan harus segera menyusul permintaan, tidak boleh ditunda-tunda.
Dalil mazhab Hanbali. Selain alasan kesulitan di atas, Ibnu Qudâmah dalam al-Mughnî mengajukan dalil dari praktik Nabi ﷺ dan para sahabat:
وَلَنَا، أَنَّ اللَّهَ أَحَلَّ الْبَيْعَ، وَلَمْ يُبَيِّنْ كَيْفِيَّتَهُ، فَوَجَبَ الرُّجُوعُ فِيهِ إلَى الْعُرْفِ ... وَلَمْ يُنْقَلْ عَنْ النَّبِيِّ ﷺ وَلَا عَنْ أَصْحَابِهِ، مَعَ كَثْرَةِ وُقُوعِ الْبَيْعِ بَيْنَهُمْ، اسْتِعْمَالُ الْإِيجَابِ وَالْقَبُولِ، وَلَوْ اسْتَعْمَلُوا ذَلِكَ فِي بِيَاعَاتِهِمْ لَنُقِلَ نَقْلًا شَائِعًا
"Dalil kami: Allah menghalalkan jual beli tanpa menjelaskan tata caranya, maka wajib kembali kepada kebiasaan ... Tidak pernah dinukil dari Nabi ﷺ maupun para sahabatnya, padahal jual beli sangat sering terjadi di antara mereka, bahwa mereka memakai ijab dan kabul. Seandainya mereka memakainya dalam jual beli, tentu akan dinukil secara luas."
Ia juga berdalil dengan hadiah. Ketika Salmân membawa kurma dan berkata itu hadiah, "فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: بِسْمِ اللَّهِ. وَأَكَلَ", Nabi ﷺ mengucapkan bismillâh lalu makan. Ibnu Qudâmah menegaskan: "وَلَمْ يُنْقَلْ قَبُولٌ وَلَا أَمْرٌ بِإِيجَابٍ", tidak dinukil adanya kabul, tidak pula perintah mengucapkan ijab. Terakhir, ia menyebut kesepakatan diam-diam umat:
وَلِأَنَّ النَّاسَ يَتَبَايَعُونَ فِي أَسْوَاقِهِمْ بِالْمُعَاطَاةِ فِي كُلِّ عَصْرٍ، وَلَمْ يُنْقَلْ إنْكَارُهُ مِنْ قِبَلِ مُخَالِفِينَا، فَكَانَ ذَلِكَ إجْمَاعًا
"Dan karena orang-orang berjual beli di pasar-pasar mereka dengan mu’âthâh di setiap masa, dan tidak pernah dinukil adanya pengingkaran dari pihak yang berbeda pendapat dengan kami, maka hal itu menjadi ijmak."
Ringkasnya
| Mazhab | Hukum jual beli tanpa ijab kabul (mu’âthâh) |
|---|---|
| Hanafi | Sah, pada barang murah maupun mahal (pendapat sahih). |
| Maliki | Sah, karena yang dicari adalah apa saja yang menunjukkan kerelaan. |
| Syafi’i | Pendapat masyhur: tidak sah. An-Nawawî dan sejumlah ulama memilih sah pada semua yang dianggap jual beli oleh kebiasaan. |
| Hanbali | Sah secara mutlak, bahkan ketika penjual tidak hadir. |
Pelajaran untuk kita
- Belanja di minimarket sah menurut tiga mazhab, dan menurut pilihan an-Nawawî dalam mazhab Syafi’i. Harga terpampang, barang dipindai, uang dibayar, struk dicetak. Semua itu menunjukkan kerelaan dengan sangat jelas.
- Akar perbedaannya adalah soal kerelaan. Semua mazhab sepakat bahwa yang dicari adalah kerelaan. Mereka berbeda tentang cara membuktikannya: harus dengan ucapan, atau cukup dengan kebiasaan.
- Bagi yang ingin berhati-hati dalam mazhab Syafi’i, cukup ucapkan "saya beli" atau "jadi, Mbak" saat membayar. Ini saran penulis, bukan bagian dari kutipan kitab. Ringan di lidah, dan keluar dari perbedaan pendapat.
Catatan sumber: Al-Mudawwanah tidak memuat pembahasan mu’âthâh secara eksplisit di Syamilah, sehingga panel Maliki di artikel ini memakai Syarḫ al-Khurasyî sebagai kitab ketiga.
Rujukan
- Al-Kâsânî (w. 587 H). Badâ’i’ ash-Shanâ’i’ fî Tartîb asy-Syarâ’i’. Juz 5, hlm. 134, Kitâb al-Buyû’, Fashl fî Syarâ’ith Rukn al-Bai’. shamela.ws/book/8183/1267
- Al-Marghînânî (w. 593 H), al-Hidâyah, dicetak bersama Ibnu al-Humâm (w. 861 H), Fatḫ al-Qadîr (cet. al-Ḫalabî). Juz 6, hlm. 252, Kitâb al-Buyû’. shamela.ws/book/21744/2826
- Ibnu ’Âbidîn (w. 1252 H). Radd al-Muḫtâr ’alâ ad-Durr al-Mukhtâr (cet. al-Ḫalabî). Juz 4, hlm. 513, Kitâb al-Buyû’. shamela.ws/book/21613/2644
- Ad-Dardîr (w. 1201 H), asy-Syarḫ al-Kabîr, bersama Ḫâsyiyat ad-Dasûqî (w. 1230 H). Juz 3, hlm. 3, Bâb al-Bai’. shamela.ws/book/21604/1086
- Al-Ḫaththâb (w. 954 H). Mawâhib al-Jalîl fî Syarḫ Mukhtashar Khalîl. Juz 4, hlm. 228–229, Kitâb al-Buyû’. shamela.ws/book/569/1877, shamela.ws/book/569/1878
- Al-Khurasyî (w. 1101 H). Syarḫ al-Khurasyî ’alâ Mukhtashar Khalîl. Juz 5, hlm. 5, Bâb al-Bai’. shamela.ws/book/91/1275
- An-Nawawî (w. 676 H). Al-Majmû’ Syarḫ al-Muhadzdzab (cet. al-Munîriyyah). Juz 9, hlm. 162–163, Kitâb al-Buyû’. shamela.ws/book/2186/4627, shamela.ws/book/2186/4628
- Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 4, hlm. 216–217, Kitâb al-Bai’. shamela.ws/book/9059/1697, shamela.ws/book/9059/1698
- Syamsuddîn ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 3, hlm. 375, Kitâb al-Bai’. shamela.ws/book/3565/1423
- Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 3, hlm. 481–482, Kitâb al-Buyû’. shamela.ws/book/8463/1440, shamela.ws/book/8463/1441
- Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 4, hlm. 263, Kitâb al-Bai’. shamela.ws/book/21609/1887
- Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 3, hlm. 148–149, Kitâb al-Bai’. shamela.ws/book/21642/1181, shamela.ws/book/21642/1182