← Semua artikel

Muamalah

Uang Muka Hangus Jika Batal Membeli (Bai’ al-’Urbûn): Boleh?

Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H. · 21 Oktober 2026 · 7 menit baca

Seseorang memesan sebuah motor di dealer dan membayar uang muka. Penjual berkata: "Kalau jadi, uang muka ini dipotong dari harga. Kalau batal, uang muka hangus." Beberapa minggu kemudian pembeli berubah pikiran. Ia bertanya: halalkah penjual mengambil uang muka itu?

Transaksi seperti ini dalam kitab fiqih disebut bai’ al-’urbûn (atau ’urbân). Ibnu Qudâmah (w. 620 H) mendefinisikannya: "وَالْعُرْبُونُ فِي الْبَيْعِ هُوَ أَنْ يَشْتَرِيَ السِّلْعَةَ فَيَدْفَعَ إلَى الْبَائِعِ دِرْهَمًا أَوْ غَيْرَهُ عَلَى أَنَّهُ إنْ أَخَذَ السِّلْعَةَ احْتَسَبَ بِهِ مِنْ الثَّمَنِ، وَإِنْ لَمْ يَأْخُذْهَا فَذَلِكَ لِلْبَائِعِ", ’urbûn dalam jual beli adalah membeli barang lalu menyerahkan satu dirham atau lainnya kepada penjual, dengan ketentuan jika ia mengambil barang itu, uang tersebut dihitung sebagai bagian harga, dan jika tidak, uang itu menjadi milik penjual.1

Peta pendapat

Pendapat pertama: jual beli seperti ini tidak sah. Inilah mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’i, satu pilihan dalam mazhab Hanbali (Abû al-Khaththâb), dan pendapat yang dinukil dari Ibnu ’Abbâs dan al-Ḫasan. Asy-Syaukânî (w. 1250 H) juga memilihnya.

Dalam mazhab Maliki, Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H) dalam al-Kâfî menulis:

ومما نهى عنه بيع العربان وذلك أن يشتري الرجل السلعة ويعطي البائع من ثمنها بعضه قل أو كثر عربانا على أنه إن رضي ما اشترى أخذه وإن لم يرضه فالعربان للبائع فهذا لا يجوز والعربان مردود إلى صاحبه لأنه من أكل أموال الناس بالباطل

"Di antara yang dilarang adalah bai’ al-’urbân, yaitu seseorang membeli barang dan memberi penjual sebagian harganya, sedikit atau banyak, sebagai ’urbân, dengan ketentuan jika ia rela dengan barang yang dibelinya ia mengambilnya, dan jika tidak rela, ’urbân itu milik penjual. Ini tidak boleh, dan ’urbân itu dikembalikan kepada pemiliknya, karena termasuk memakan harta manusia dengan batil."2

Al-Qâdhî ’Abd al-Wahhâb (w. 422 H) dalam at-Talqîn menyebut dua bentuk: yang terlarang, yaitu uang muka "وإن كره لم يعد إليه فهذا من أكل المال بالباطل", tidak kembali jika pembeli tidak jadi, sehingga termasuk memakan harta dengan batil, dan yang boleh: "والآخر جائز وهو الاحتساب له به إذا أمضى ورده عليه إذا كره", uang muka dihitung sebagai harga jika jadi dan dikembalikan jika tidak jadi.3 Ibnu Rusyd al-Jadd (w. 520 H) dalam al-Muqaddimât menyebutnya "وذلك أيضا غرر بين", ini juga gharar yang jelas.4

Dalam mazhab Syafi’i, al-Minhâj menegaskan "(وَلَا يَصِحُّ بَيْعُ الْعُرْبُونِ)".5 Ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj menjelaskan bahwa yang batal adalah jika syarat itu disebut dalam akad: "وَقَدْ وَقَعَ الشَّرْطُ فِي صُلْبِ الْعَقْدِ عَلَى أَنَّهُ إنَّمَا أَعْطَاهَا (لِتَكُونَ مِنْ الثَّمَنِ إنْ رَضِيَ السِّلْعَةَ وَإِلَّا فَهِبَةً)", syarat itu disebut dalam inti akad, yaitu ia memberikannya agar menjadi bagian harga jika ia rela dengan barangnya, dan jika tidak menjadi hibah.6 An-Nawawî (w. 676 H) dalam al-Majmû’ menulis:

قَالَ أَصْحَابُنَا إنْ قَالَ هَذَا الشَّرْطَ فِي نَفْسِ الْعَقْدِ فَالْبَيْعُ بَاطِلٌ وَإِنْ قَالَهُ قَبْلَهُ وَلَمْ يَتَلَفَّظَا بِهِ حَالَةَ الْعَقْدِ فَهُوَ بَيْعٌ صَحِيحٌ

"Ulama mazhab kami berkata: jika ia menyebut syarat ini dalam akad itu sendiri, jual belinya batal; jika ia menyebutnya sebelum akad dan keduanya tidak mengucapkannya ketika akad, jual belinya sah."7

Dalam mazhab Hanafi, as-Sughdî (w. 461 H) dalam an-Nutaf fî al-Fatâwâ menyebut bai’ al-’urbân dalam daftar jual beli yang fasid: "وَالثَّانِي وَالْعشْرُونَ بيع العربان وَيُقَال الاربان".8 An-Nawawî menukil dari Ibnu al-Mundzir bahwa pendapat ini juga dipegang "ابْنِ عَبَّاسٍ وَالْحَسَنِ وَمَالِكٍ وَأَبِي حَنِيفَةَ".9

Asy-Syaukânî dalam Nail al-Authâr menyimpulkan: "والأولى ما ذهب إليه الجمهور لأن حديث عمرو بن شعيب قد ورد من طرق يقوي بعضها بعضًا ولأنه يتضمن الحظر وهو أرجح من الإباحة", yang lebih utama adalah pendapat jumhur, karena hadis ’Amr bin Syu’aib datang dari beberapa jalur yang saling menguatkan, dan karena hadis itu mengandung larangan, sedangkan larangan lebih didahulukan daripada kebolehan.10

Pendapat kedua: jual beli seperti ini sah, dan uang muka menjadi milik penjual jika batal. Inilah pendapat yang sahih dalam mazhab Hanbali, dinukil dari ’Umar, Ibnu ’Umar, dan Ibnu Sîrîn. Ibnu Qudâmah menulis: "قَالَ أَحْمَدْ لَا بَأْسَ بِهِ وَفَعَلَهُ عُمَرُ رضي الله عنه وَعَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ أَجَازَهُ، وَقَالَ ابْنُ سِيرِينَ لَا بَأْسَ بِهِ", Aḫmad berkata tidak mengapa, ’Umar melakukannya, Ibnu ’Umar membolehkannya, dan Ibnu Sîrîn berkata tidak mengapa.11 Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menulis: "الصَّحِيحُ مِنْ الْمَذْهَبِ: أَنَّ بَيْعَ الْعُرْبُونِ صَحِيحٌ. وَعَلَيْهِ أَكْثَرُ الْأَصْحَابِ".12 Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ menyebut akad ini sah untuk jual beli dan sewa, "وَسَوَاءٌ عَيَّنَ وَقْتًا لِأَخْذِهِ أَوْ أَطْلَقَ", baik waktu pengambilannya ditentukan maupun tidak.13

Dalil masing-masing pendapat

Dalil pendapat pertama.

  1. Hadis larangan. Ibnu Qudâmah menyebut dalil mereka: "لِأَنَّ «النَّبِيَّ ﷺ نَهَى عَنْ بَيْعِ الْعُرْبُونِ» رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ".14
  2. Mengambil harta tanpa imbalan. Ibnu Qudâmah melanjutkan: "وَلِأَنَّهُ شَرَطَ لِلْبَائِعِ شَيْئًا بِغَيْرِ عِوَضٍ فَلَمْ يَصِحَّ كَمَا لَوْ شَرَطَهُ لِأَجْنَبِيٍّ وَلِأَنَّهُ بِمَنْزِلَةِ الْخِيَارِ الْمَجْهُولِ ... وَهَذَا هُوَ الْقِيَاسُ", karena ia mensyaratkan untuk penjual sesuatu tanpa imbalan, seperti jika disyaratkan untuk orang lain; dan karena ia seperti hak khiyar yang tidak diketahui batas waktunya ... dan inilah qiyas.15 Ibnu ’Abd al-Barr dan al-Qâdhî ’Abd al-Wahhâb menyebutnya memakan harta dengan batil, sebagaimana dikutip di atas.
  3. Dua syarat yang merusak. Ar-Ramlî: "وَلِمَا فِيهِ مِنْ شَرْطَيْنِ مُفْسِدَيْنِ شَرْطُ الْهِبَةِ وَشَرْطُ رَدِّ الْبَيْعِ بِتَقْدِيرِ أَنْ لَا يَرْضَى", karena di dalamnya ada dua syarat yang merusak: syarat hibah, dan syarat mengembalikan barang jika pembeli tidak rela.16

Dalil pendapat kedua.

  1. Atsar ’Umar. Al-Buhûtî berdalil: "لِمَا رَوَى نَافِعُ بْنُ عَبْدِ الْحَارِثِ أَنَّهُ اشْتَرَى لِعُمَرَ دَارَ السِّجْنِ مِنْ صَفْوَانَ فَإِنْ رَضِيَ عُمَرُ وَإِلَّا لَهُ كَذَا وَكَذَا", Nâfi’ bin ’Abd al-Ḫârits membeli rumah untuk penjara bagi ’Umar dari Shafwân, dengan ketentuan jika ’Umar rela, jual beli jadi, dan jika tidak, Shafwân mendapat sekian.17 Ibnu Qudâmah menukil al-Atsram: "قُلْت لِأَحْمَدَ تَذْهَبُ إلَيْهِ؟ قَالَ أَيُّ شَيْءٍ أَقُلْ؟ هَذَا عُمَرُ رضي الله عنه وَضَعَّفَ الْحَدِيثَ الْمَرْوِيَّ", aku bertanya kepada Aḫmad: apakah engkau berpendapat demikian? Ia menjawab: apa yang bisa kukatakan? Ini ’Umar. Dan ia melemahkan hadis yang diriwayatkan.18
  2. Hadis mursal Zaid bin Aslam. Asy-Syaukânî menyebut riwayat ’Abd ar-Razzâq: "عن زيد بن أسلم أنه سئل رسول الله ﷺ عن العربان في البيع فأحله", Rasulullah ﷺ ditanya tentang ’urbân dalam jual beli lalu beliau menghalalkannya, tetapi ia menilai "وهو مرسل، وفي إسناده إبراهيم بن أبي يحيى وهو ضعيف".19

Jawaban atas dalil-dalil itu.

  1. Tentang hadis larangan. Asy-Syaukânî sendiri menilai hadis riwayat Mâlik itu "منقطع لأنه من رواية مالك أنه بلغه عن عمرو بن شعيب ولم يدركه", terputus karena Mâlik meriwayatkannya dengan balâgh dari ’Amr bin Syu’aib tanpa bertemu dengannya, walaupun kemudian ia menguatkannya dengan banyaknya jalur.20
  2. Tentang atsar ’Umar. Ibnu Qudâmah memberi kemungkinan bahwa uang itu diserahkan sebelum akad, lalu akad dilakukan tersendiri: "وَيَحْتَمِلُ أَنَّ الشِّرَاءَ الَّذِي اُشْتُرِيَ لِعُمَرَ كَانَ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ فَيُحْتَمَلُ عَلَيْهِ جَمْعًا بَيْنَ فِعْلِهِ وَبَيْنَ الْخَبَرِ وَمُوَافَقَةِ الْقِيَاسِ وَالْأَئِمَّةِ الْقَائِلِينَ بِفَسَادِ الْعُرْبُونِ", mungkin pembelian untuk ’Umar itu dalam bentuk ini, sehingga dibawa kepadanya untuk menggabungkan perbuatan ’Umar dengan hadis, qiyas, dan para imam yang menganggap ’urbûn rusak.21 Dalam bentuk ini, jika pembeli tidak jadi membeli, "لَمْ يَسْتَحِقَّ الْبَائِعُ الدِّرْهَمَ لِأَنَّهُ يَأْخُذُهُ بِغَيْرِ عِوَضٍ وَلِصَاحِبِهِ الرُّجُوعُ فِيهِ وَلَا يَصِحُّ جَعْلُهُ عِوَضًا عَنْ انْتِظَارِهِ", penjual tidak berhak atas dirham itu karena mengambilnya tanpa imbalan, pemiliknya boleh memintanya kembali, dan uang itu tidak sah dijadikan imbalan atas penantian penjual.22

Mengapa berbeda?

  1. Hadis larangan. Jumhur dan asy-Syaukânî menerimanya karena banyak jalur; Aḫmad melemahkannya.
  2. Atsar ’Umar. Mazhab Hanbali mengamalkannya; jumhur membawanya kepada bentuk yang tidak bertentangan dengan hadis.
  3. Qiyas. Jumhur memandang uang muka yang hangus sebagai harta yang diambil tanpa imbalan dan khiyar yang tidak jelas batasnya. Mazhab Hanbali mendahulukan atsar ’Umar atas qiyas ini, dan Ibnu Qudâmah sendiri mengakui qiyas berpihak kepada jumhur.

Ringkasnya

PendapatPemegangDalil utamaCatatan
Tidak sahHanafi, Maliki, Syafi’i, Abû al-Khaththâb (Hanbali); Ibnu ’Abbâs, al-Ḫasan; asy-SyaukânîHadis larangan; mengambil harta tanpa imbalan; dua syarat yang merusakSyafi’i: batal jika syarat disebut dalam akad, sah jika sebelum akad
SahHanbali (pendapat yang sahih); ’Umar, Ibnu ’Umar, Ibnu SîrînAtsar ’Umar; Aḫmad melemahkan hadis laranganBerlaku juga untuk sewa; tanpa harus ada batas waktu

Pelajaran untuk kita

  1. Uang muka yang dihitung sebagai harga jika jadi dan dikembalikan jika batal dibolehkan, sebagaimana disebut at-Talqîn dan al-Kâfî sebagai bentuk yang boleh.
  2. Uang muka yang hangus jika batal hanya dibolehkan mazhab Hanbali. Hanafi, Maliki, dan Syafi’i menganggapnya tidak sah, dan menurut Ibnu ’Abd al-Barr uang itu dikembalikan kepada pembeli.
  3. Dalam mazhab Syafi’i, yang menentukan adalah saat syarat itu diucapkan. Jika syarat hangus diucapkan dalam akad, jual belinya batal; jika diucapkan sebelum akad dan tidak diulang ketika akad, jual belinya sah.
  4. Dalam mazhab Hanbali pun, uang yang diserahkan sebelum akad agar penjual tidak menjual barang kepada orang lain tidak boleh diambil penjual jika pembeli tidak jadi membeli, karena menurut Ibnu Qudâmah penantian tidak boleh diberi imbalan.

Catatan Kaki

  1. Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 4, hlm. 175, Kitâb al-Buyû’, Fashl fî Bai’ al-’Urbûn, no. 3128. shamela.ws/book/8463/1638 ↑
  2. Ibnu ’Abd al-Barr (w. 463 H). Al-Kâfî fî Fiqh Ahl al-Madînah. Juz 2, hlm. 741, Bâb Aḫkâm mâ Warada an-Nahy ’anhu min al-Buyû’. shamela.ws/book/7367/739 ↑
  3. Al-Qâdhî ’Abd al-Wahhâb (w. 422 H). At-Talqîn fî al-Fiqh al-Mâlikî. Juz 2, hlm. 153, Kitâb al-Buyû’. shamela.ws/book/7262/163 ↑
  4. Ibnu Rusyd al-Jadd (w. 520 H). Al-Muqaddimât al-Mumahhidât. Juz 2, hlm. 72, Kitâb al-Gharar. shamela.ws/book/21735/685 ↑
  5. Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 4, hlm. 321, Bâb fî al-Buyû’ al-Manhiyy ’anhâ. shamela.ws/book/9059/1802 ↑
  6. Ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 3, hlm. 476, Bâb al-Buyû’ al-Manhiyy ’anhâ. shamela.ws/book/3565/1524 ↑
  7. An-Nawawî (w. 676 H). Al-Majmû’ Syarḫ al-Muhadzdzab (cet. al-Munîriyyah). Juz 9, hlm. 335, Bâb mâ Nuhiya ’anhu min Bai’ al-Gharar. shamela.ws/book/2186/4800 ↑
  8. As-Sughdî (w. 461 H). An-Nutaf fî al-Fatâwâ. Juz 1, hlm. 472, Anwâ’ al-Buyû’ al-Fâsidah. shamela.ws/book/6178/468 ↑
  9. An-Nawawî, al-Majmû’, juz 9, hlm. 335. shamela.ws/book/2186/4800 ↑
  10. Asy-Syaukânî (w. 1250 H). Nail al-Authâr Syarḫ Muntaqâ al-Akhbâr (taḫqîq Ḫallâq). Juz 10, hlm. 49, Kitâb al-Buyû’, Bâb an-Nahy ’an Bai’ al-’Urbûn. shamela.ws/book/1218/4618 ↑
  11. Ibnu Qudâmah, al-Mughnî, juz 4, hlm. 175. shamela.ws/book/8463/1638 ↑
  12. Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 4, hlm. 357, Bâb asy-Syurûth fî al-Bai’. shamela.ws/book/21609/1981 ↑
  13. Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 3, hlm. 195, Bâb asy-Syurûth fî al-Bai’. shamela.ws/book/21642/1228 ↑
  14. Ibnu Qudâmah, al-Mughnî, juz 4, hlm. 175. shamela.ws/book/8463/1638 ↑
  15. Ibnu Qudâmah, al-Mughnî, juz 4, hlm. 175. shamela.ws/book/8463/1638 ↑
  16. Ar-Ramlî, Nihâyat al-Muḫtâj, juz 3, hlm. 477. shamela.ws/book/3565/1525 ↑
  17. Al-Buhûtî, Kasysyâf al-Qinâ’, juz 3, hlm. 195. shamela.ws/book/21642/1228 ↑
  18. Ibnu Qudâmah, al-Mughnî, juz 4, hlm. 176. shamela.ws/book/8463/1639 ↑
  19. Asy-Syaukânî, Nail al-Authâr, juz 10, hlm. 48. shamela.ws/book/1218/4617 ↑
  20. Asy-Syaukânî, Nail al-Authâr, juz 10, hlm. 47. shamela.ws/book/1218/4616 ↑
  21. Ibnu Qudâmah, al-Mughnî, juz 4, hlm. 176. shamela.ws/book/8463/1639 ↑
  22. Ibnu Qudâmah, al-Mughnî, juz 4, hlm. 176. shamela.ws/book/8463/1639 ↑
Bagikan ke WhatsApp
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Dosen & Pengajar Fiqih · Profil

Artikel lainnya

Shalat

Menjamak Shalat karena Hujan atau Keperluan, Tanpa Safar

21 Oktober 2026 · 9 menit baca
Munakahat

Talak Saat Istri Haid: Jatuh atau Tidak?

21 Oktober 2026 · 8 menit baca
Munakahat

Mahar Paling Sedikit: Adakah Batas Minimalnya?

20 Oktober 2026 · 10 menit baca