← Semua artikel

Jenazah

Membaca Al-Qur’an untuk Orang yang Sudah Wafat: Sampaikah Pahalanya?

Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H. · 19 Oktober 2026 · 11 menit baca

Setiap malam Jumat, seorang ibu membaca surah Yâsîn lalu berdoa agar pahalanya sampai kepada suaminya yang telah wafat. Suatu hari anaknya pulang dari pengajian dan berkata: "Bu, kata ustadz, pahala bacaan Al-Qur’an tidak sampai kepada mayit. Yang sampai hanya doa dan sedekah." Ibunya bingung, karena sejak kecil ia melihat orang-orang di kampungnya membaca Al-Qur’an untuk keluarga yang meninggal.

Para ulama sepakat bahwa doa dan sedekah untuk mayit bermanfaat baginya. Mereka berbeda tentang ibadah badan seperti membaca Al-Qur’an: apakah pahalanya sampai kepada mayit jika dihadiahkan kepadanya? Mereka juga berbeda tentang hukum membaca Al-Qur’an di kuburan dan di sisi orang yang sedang menghadapi kematian. Tulisan ini menghimpun pendapat empat mazhab dari kitab-kitab mereka sendiri.

Hanafi: pahala amal apa pun boleh dihadiahkan dan sampai

Al-Marghînânî (w. 593 H) dalam al-Hidâyah membuka bab haji untuk orang lain dengan kaidah umum:

الأصل في هذا الباب أن الإنسان له أن يجعل ثواب عمله لغيره صلاة أو صوما أو صدقة أو غيرها عند أهل السنة والجماعة

"Pokok dalam bab ini: seseorang boleh menjadikan pahala amalnya untuk orang lain, baik shalat, puasa, sedekah, maupun lainnya, menurut Ahlussunnah wal Jama’ah."

Az-Zaila’î (w. 743 H) dalam Tabyîn al-Ḫaqâ’iq menyebut bacaan Al-Qur’an secara tegas:

الْأَصْلُ فِي هَذَا الْبَابِ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَهُ أَنْ يَجْعَلَ ثَوَابَ عَمَلِهِ لِغَيْرِهِ عِنْدَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ صَلَاةً كَانَ أَوْ صَوْمًا أَوْ حَجًّا أَوْ صَدَقَةً أَوْ قِرَاءَةَ قُرْآنٍ أَوْ الْأَذْكَارَ إلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنْ جَمِيعِ أَنْوَاعِ الْبِرِّ، وَيَصِلُ ذَلِكَ إلَى الْمَيِّتِ وَيَنْفَعُهُ

"Pokok dalam bab ini: seseorang boleh menjadikan pahala amalnya untuk orang lain menurut Ahlussunnah wal Jama’ah, baik shalat, puasa, haji, sedekah, bacaan Al-Qur’an, zikir, maupun segala jenis kebaikan lainnya, dan pahala itu sampai kepada mayit dan bermanfaat baginya."

Tentang membaca Al-Qur’an di kuburan, ada perbedaan di dalam mazhab. Ibnu Maudûd al-Maushilî (w. 683 H) dalam al-Ikhtiyâr menulis:

وَكَرِهَ أَبُو حَنِيفَةَ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ عِنْدَ الْقُبُورِ لِأَنَّهُ لَمْ يَصِحَّ عِنْدَهُ فِي ذَلِكَ شَيْءٌ عَنِ النَّبِيِّ ﵊، وَلَا يَكْرَهُهُ مُحَمَّدٌ، وَبِهِ نَأْخُذُ لِمَا فِيهِ مِنَ النَّفْعِ لِلْمَيِّتِ

"Abû Ḫanîfah memakruhkan membaca Al-Qur’an di kuburan, karena menurutnya tidak ada riwayat sahih dari Nabi ﷺ tentang hal itu. Muḫammad (asy-Syaibânî) tidak memakruhkannya, dan pendapat inilah yang kami ambil, karena di dalamnya ada manfaat bagi mayit."

Dalil mazhab Hanafi. Al-Marghînânî berdalil dengan hadis "أنه ضحى بكبشين أملحين أحدهما عن نفسه والآخر عن أمته", Nabi ﷺ berkurban dengan dua domba putih, satu untuk dirinya dan satu untuk umatnya; beliau menjadikan pahala kurban salah satunya untuk umat. Al-Maushilî menambahkan hadis al-Khats’amiyyah tentang haji untuk ayah, hadis seorang laki-laki yang bertanya apakah ibunya mendapat pahala jika ia bersedekah atas namanya, lalu Nabi ﷺ menjawab "نَعَمْ وَلَكَ", ya, dan engkau juga. Untuk bacaan di kuburan, al-Maushilî berdalil dengan "لِوُرُودِ الْآثَارِ بِقِرَاءَةِ آيَةِ الْكُرْسِيِّ وَسُورَةِ الْإِخْلَاصِ وَالْفَاتِحَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ عِنْدَ الْقُبُورِ", adanya atsar tentang membaca Ayat Kursi, surah al-Ikhlâsh, al-Fâtiḫah, dan lainnya di kuburan.

Maliki: makruh menurut riwayat Mâlik, ulama belakangan membolehkan dan menyatakan pahalanya sampai

Ibnu Abî Zaid al-Qairawânî (w. 386 H) dalam ar-Risâlah, ketika membahas orang yang sedang menghadapi kematian, menulis: "وَأَرْخَصَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ فِي الْقِرَاءَةِ عِنْدَ رَأْسِهِ بِسُورَةِ يَس ~ وَلَمْ يَكُنْ ذَلِكَ عِنْدَ مَالِكٍ أَمْرًا مَعْمُولًا بِهِ", sebagian ulama memberi keringanan membaca surah Yâsîn di sisi kepalanya, tetapi hal itu menurut Mâlik bukan perkara yang diamalkan.

Ad-Dardîr (w. 1201 H) dalam asy-Syarḫ al-Kabîr atas Mukhtashar Khalîl merinci pendapat mazhab, lalu menyebut pendapat ulama belakangan:

(وَ) كُرِهَ (قِرَاءَةٌ عِنْدَ مَوْتِهِ) إنْ فُعِلَتْ اسْتِنَانًا ... (وَ) كُرِهَ قِرَاءَةٌ (بَعْدَهُ) أَيْ بَعْدَ مَوْتِهِ (وَعَلَى قَبْرِهِ) لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَمَلِ السَّلَفِ لَكِنْ الْمُتَأَخِّرُونَ عَلَى أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ وَجَعْلِ ثَوَابِهِ لِلْمَيِّتِ وَيَحْصُلُ لَهُ الْأَجْرُ إنْ شَاءَ اللَّهُ

"(Dan) makruh (membaca Al-Qur’an ketika ia menghadapi kematian) jika dilakukan sebagai amalan sunnah ... (dan) makruh membaca (setelahnya), yaitu setelah ia wafat, (dan di atas kuburnya), karena itu bukan amalan salaf. Tetapi ulama belakangan berpendapat tidak mengapa membaca Al-Qur’an dan zikir lalu menjadikan pahalanya untuk mayit, dan pahala itu sampai kepadanya, insya Allah."

Al-’Adawî (w. 1189 H) dalam Ḫâsyiyah-nya atas Syarḫ al-Khurasyî menukil bahwa Ibnu Rusyd (w. 520 H) dalam Nawâzil-nya berfatwa:

إنْ قَرَأَ الرَّجُلُ وَجَعَلَ ثَوَابَ قِرَاءَتِهِ لِمَيِّتٍ جَازَ ذَلِكَ وَحَصَلَ لِلْمَيِّتِ أَجْرُهُ وَوَصَلَ إلَيْهِ نَفْعُهُ إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

"Jika seseorang membaca Al-Qur’an dan menjadikan pahala bacaannya untuk mayit, hal itu boleh, mayit mendapat pahalanya, dan manfaatnya sampai kepadanya, insya Allah."

Al-’Adawî juga menukil rincian dari al-Ubbî: "إنْ قَرَأَ ابْتِدَاءً بِنِيَّةِ الْمَيِّتِ وَصَلَ إلَيْهِ ثَوَابُهُ كَالصَّدَقَةِ وَالدُّعَاءِ وَإِنْ قَرَأَ ثُمَّ وَهَبَهُ لَهُ لَمْ يَصِلْ", jika ia membaca sejak awal dengan niat untuk mayit, pahalanya sampai kepadanya seperti sedekah dan doa; tetapi jika ia membaca lalu (setelah selesai) menghibahkan pahalanya kepada mayit, pahala itu tidak sampai.

Dalil mazhab Maliki. Untuk kemakruhan, ad-Dardîr beralasan "لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَمَلِ السَّلَفِ", karena itu bukan amalan salaf. Al-’Adawî menambahkan alasan kedua: "وَلِأَنَّ الْمَقْصُودَ هُنَا تَدَبُّرُ أَحْوَالِ الْمَيِّتِ لِيُتَّعَظَ بِهَا وَهُوَ أَمْرٌ يَشْغَلُ عَنْ تَدَبُّرِ الْقُرْآنِ", karena tujuan di saat itu adalah merenungkan keadaan mayit untuk mengambil pelajaran, dan hal itu menyibukkan dari merenungkan Al-Qur’an. Ibnu Ḫabîb, dari kalangan Maliki, membolehkan bacaan di sisi orang yang menghadapi kematian "لِخَبَرِ: «اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ»", berdasarkan hadis "bacakanlah Yâsîn kepada orang-orang yang akan meninggal di antara kalian". Al-’Adawî berkomentar: "وَلَعَلَّهُ لَمْ يَصِحَّ عِنْدَ مَالِكٍ", barangkali hadis itu tidak sahih menurut Mâlik.

Syafi’i: pendapat yang masyhur tidak sampai, kecuali dibaca di sisi mayit atau disertai doa

An-Nawawî dalam al-Minhâj hanya menyebut sedekah dan doa sebagai amal yang bermanfaat bagi mayit. Ar-Ramlî (w. 1004 H) dalam Nihâyat al-Muḫtâj menjelaskan apa yang dipahami dari ungkapan itu, lalu menyebut pendapat lain:

وَأَفْهَمُ كَلَامَ الْمُصَنِّفِ أَنَّهُ لَا يَنْفَعُهُ سِوَى ذَلِكَ مِنْ بَقِيَّةِ الْعِبَادَاتِ وَلَوْ قِرَاءَةً ... وَفِي الْقِرَاءَةِ وَجْهٌ وَهُوَ مَذْهَبُ الْأَئِمَّةِ الثَّلَاثَةِ بِوُصُولِ ثَوَابِهَا لِلْمَيِّتِ بِمُجَرَّدِ قَصْدِهِ بِهَا، وَاخْتَارَهُ كَثِيرٌ مِنْ أَئِمَّتِنَا، وَحَمَلَ جَمْعٌ الْأَوَّلَ عَلَى قِرَاءَتِهِ لَا بِحَضْرَةِ الْمَيِّتِ وَلَا بِنِيَّةِ الْقَارِئِ ثَوَابَ قِرَاءَتِهِ لَهُ أَوْ نَوَاهُ وَلَمْ يَدْعُ

"Ungkapan penulis (al-Minhâj) memberi pemahaman bahwa selain itu, dari ibadah-ibadah lainnya, tidak bermanfaat bagi mayit, walaupun bacaan Al-Qur’an ... Tentang bacaan ada satu pendapat dalam mazhab, dan inilah mazhab tiga imam lainnya, bahwa pahalanya sampai kepada mayit hanya dengan meniatkannya untuk mayit; pendapat ini dipilih oleh banyak imam kita. Sekelompok ulama membawa pendapat pertama kepada bacaan yang tidak dilakukan di hadapan mayit, dan tanpa niat pembaca menjadikan pahalanya untuk mayit, atau dengan niat tetapi tanpa doa."

Ar-Ramlî lalu menukil Ibnu ash-Shalâḫ:

قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَيَنْبَغِي الْجَزْمُ بِنَفْعِ اللَّهُمَّ أَوْصِلْ ثَوَابَ مَا قَرَأْنَاهُ: أَيْ مِثْلَهُ فَهُوَ الْمُرَادُ، وَإِنْ لَمْ يُصَرِّحْ بِهِ لِفُلَانٍ

"Ibnu ash-Shalâḫ berkata: Semestinya dipastikan bermanfaatnya ucapan Allâhumma aushil tsawâba mâ qara’nâhu li fulân (Ya Allah, sampaikanlah pahala apa yang telah kami baca kepada si fulan), yakni pahala yang semisalnya, dan itulah yang dimaksud walaupun tidak diucapkan."

Untuk bacaan di kuburan, Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H) dalam Tuḫfat al-Muḫtâj menulis bahwa peziarah dianjurkan "(وَيَقْرَأُ) مَا تَيَسَّرَ (وَيَدْعُو) لَهُ عَقِبَ الْقِرَاءَةِ", membaca Al-Qur’an semampunya lalu berdoa untuk mayit setelah membaca, dan menegaskan:

وَيَكُونُ الْمَيِّتُ كَحَاضِرٍ تُرْجَى لَهُ الرَّحْمَةُ وَالْبَرَكَةُ بَلْ تَصِلُ لَهُ الْقِرَاءَةُ هُنَا وَفِيمَا إذَا دَعَا لَهُ عَقِبَهَا وَلَوْ بَعِيدًا

"Mayit seperti orang yang hadir yang diharapkan mendapat rahmat dan berkah. Bahkan bacaan itu sampai kepadanya di sini (di kuburan), dan juga ketika pembaca berdoa untuknya setelah membaca, walaupun dari tempat yang jauh."

Dalam Tuḫfat al-Muḫtâj bab wasiat, Ibnu Ḫajar menyebut pendapat yang menyatakan pahala sampai sebagai "مَذْهَبُ الْأَئِمَّةِ الثَّلَاثَةِ عَلَى اخْتِلَافٍ فِيهِ عَنْ مَالِكٍ", mazhab tiga imam, dengan perbedaan riwayat dari Mâlik, dan menukil pendapat sebagian ulama bahwa "فَيَنْبَغِي نِيَّتُهَا عَنْهُ لِاحْتِمَالِ أَنَّ هَذَا الْقَوْلَ هُوَ الْحَقُّ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ", sebaiknya bacaan itu diniatkan untuk mayit, karena ada kemungkinan pendapat inilah yang benar pada hakikatnya.

Dalil mazhab Syafi’i. Ar-Ramlî menyebut bahwa manfaat doa dan sedekah bagi mayit ditetapkan "إجْمَاعًا", dengan ijmak, dan dengan hadis sahih "«إنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ دَرَجَةَ الْعَبْدِ فِي الْجَنَّةِ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِهِ لَهُ»", Allah mengangkat derajat seorang hamba di surga karena istighfar anaknya untuknya. Hadis ini menurutnya "مُخَصِّصُ وَقِيلَ نَاسِخُ لِقَوْلِهِ تَعَالَى ﴿وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلا مَا سَعَى﴾", mengkhususkan, atau menurut pendapat lain menghapus, keumuman firman Allah "dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya" (QS. an-Najm: 39). Karena itu, amal yang tidak disebut dalam nas, seperti bacaan Al-Qur’an, tetap berada dalam keumuman ayat menurut pendapat yang masyhur. Ar-Ramlî juga membawakan hadis "«يَنْقَطِعُ عَمَلُ ابْنِ آدَمَ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ»", yang di dalamnya disebut doa anak yang saleh. Untuk pendapat yang menyatakan bacaan sampai melalui doa, Ibnu ash-Shalâḫ beralasan: "لِأَنَّهُ إذَا نَفَعَهُ الدُّعَاءُ بِمَا لَيْسَ لِلدَّاعِي فَمَا لَهُ أَوْلَى", jika doa dengan sesuatu yang bukan milik orang yang berdoa saja bermanfaat bagi mayit, maka doa dengan sesuatu yang menjadi miliknya (pahala bacaannya) lebih utama untuk bermanfaat.

Hanbali: setiap ibadah yang pahalanya dihadiahkan bermanfaat bagi mayit

Ibnu Qudâmah (w. 620 H) dalam al-Mughnî menulis:

وَأَيُّ قُرْبَةٍ فَعَلَهَا، وَجَعَلَ ثَوَابَهَا لِلْمَيِّتِ الْمُسْلِمِ، نَفَعَهُ ذَلِكَ، إنْ شَاءَ اللَّهُ

"Ibadah apa pun yang dikerjakan seseorang lalu ia jadikan pahalanya untuk mayit muslim, hal itu bermanfaat bagi mayit, insya Allah."

Al-Mardâwî (w. 885 H) dalam al-Inshâf menegaskan bahwa ini adalah mazhab: "وَهُوَ الْمَذْهَبُ مُطْلَقًا، وَعَلَيْهِ جَمَاهِيرُ الْأَصْحَابِ", inilah mazhab secara mutlak, dan dipegang oleh mayoritas ulama mazhab. Tentang membaca Al-Qur’an di kuburan, al-Mardâwî mencatat riwayat bahwa Aḫmad pernah melarang seorang tunanetra yang membaca di kuburan dan berkata "الْقِرَاءَةُ عِنْدَ الْقَبْرِ بِدْعَةٌ", membaca di kuburan itu bid’ah. Kemudian Muḫammad bin Qudâmah al-Jauharî menyampaikan kepadanya riwayat bahwa Ibnu ’Umar berwasiat agar dibacakan awal dan akhir surah al-Baqarah di kuburnya, lalu Aḫmad berkata: "ارْجِعْ فَقُلْ لِلرَّجُلِ: يَقْرَأُ", kembalilah dan katakan kepada orang itu: silakan membaca. Al-Mardâwî menyimpulkan: "فَهَذَا يَدُلُّ عَلَى رُجُوعِهِ", ini menunjukkan bahwa Aḫmad menarik kembali pendapatnya.

Al-Buhûtî (w. 1051 H) dalam Kasysyâf al-Qinâ’ menetapkannya sebagai mazhab dan menyebut bacaan secara tegas:

(وَكُلُّ قُرْبَةٍ فَعَلَهَا الْمُسْلِمُ وَجُعِلَ ثَوَابُهَا أَوْ بَعْضُهَا كَالنِّصْفِ وَنَحْوِهِ) كَالثُّلُثِ أَوْ الرُّبُعِ (لِمُسْلِمٍ حَيٍّ أَوْ مَيِّتٍ جَازَ) ذَلِكَ (وَنَفْعُهُ، ذَلِكَ لِحُصُولِ الثَّوَابِ لَهُ ... وَكَذَا قِرَاءَةٌ وَغَيْرُهَا)

"(Setiap ibadah yang dikerjakan seorang muslim lalu pahalanya, atau sebagiannya seperti separuh dan semisalnya) seperti sepertiga atau seperempat, (dijadikan untuk muslim yang masih hidup atau sudah wafat, hal itu boleh) (dan bermanfaat baginya) ... (demikian pula bacaan Al-Qur’an dan lainnya)."

Ia juga menulis: "(وَلَا تُكْرَهُ الْقِرَاءَةُ عَلَى الْقَبْرِ وَ) لَا (فِي الْمَقْبَرَةِ بَلْ تُسْتَحَبُّ)", membaca Al-Qur’an di atas kubur dan di area pemakaman tidak makruh, bahkan dianjurkan.

Dalil mazhab Hanbali. Ibnu Qudâmah berdalil dengan hadis-hadis sahih tentang sedekah, haji, dan puasa untuk mayit, lalu berkata: "وَفِيهَا دَلَالَةٌ عَلَى انْتِفَاعِ الْمَيِّتِ بِسَائِرِ الْقُرَبِ؛ لِأَنَّ الصَّوْمَ وَالْحَجَّ وَالدُّعَاءَ وَالِاسْتِغْفَارَ عِبَادَاتٌ بَدَنِيَّةٌ، وَقَدْ أَوْصَلَ اللَّه نَفْعَهَا إلَى الْمَيِّتِ، فَكَذَلِكَ مَا سِوَاهَا", hadis-hadis itu menunjukkan bahwa mayit mendapat manfaat dari seluruh ibadah, karena puasa, haji, doa, dan istighfar adalah ibadah badan, dan Allah telah menyampaikan manfaatnya kepada mayit; demikian pula ibadah lainnya. Ia menambahkan dalil praktik umat:

وَأَنَّهُ إجْمَاعُ الْمُسْلِمِينَ؛ فَإِنَّهُمْ فِي كُلِّ عَصْرٍ وَمِصْرٍ يَجْتَمِعُونَ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ، وَيُهْدُونَ ثَوَابَهُ إلَى مَوْتَاهُمْ مِنْ غَيْرِ نَكِيرٍ

"Dan bahwa ini adalah ijmak kaum muslimin: di setiap masa dan negeri mereka berkumpul, membaca Al-Qur’an, dan menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang telah wafat di antara mereka, tanpa ada yang mengingkari."

Ibnu Qudâmah menjawab dalil ayat "وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلا مَا سَعَى" dengan "وَالْآيَةُ مَخْصُوصَةٌ بِمَا سَلَّمُوهُ، وَمَا اخْتَلَفْنَا فِيهِ فِي مَعْنَاهُ، فَنَقِيسُهُ عَلَيْهِ", ayat itu sudah dikhususkan dengan amal yang mereka akui sampai (doa dan sedekah), dan amal yang diperselisihkan sama maknanya dengan amal itu, sehingga kami mengqiyaskannya. Al-Buhûtî berdalil untuk bacaan di kuburan dengan hadis Anas secara marfu’: "«مَنْ دَخَلَ الْمَقَابِرَ فَقَرَأَ فِيهَا يس خُفِّفَ عَنْهُمْ يَوْمَئِذٍ وَكَانَ لَهُ بِعَدَدِهِمْ حَسَنَاتٌ»", siapa yang memasuki pemakaman lalu membaca Yâsîn di sana, diringankan (azab) dari mereka pada hari itu dan ia mendapat kebaikan sebanyak jumlah mereka, serta atsar yang ia nyatakan sahih tentang wasiat agar dibacakan awal dan akhir surah al-Baqarah di kubur: "وَصَحَّ عَنْ ابْنِ عَمْرٍو أَنَّهُ أَوْصَى إذَا دُفِنَ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَهُ بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا".

Mengapa berbeda?

  1. Keumuman ayat an-Najm 39. Semua mazhab mengakui bahwa ayat "manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya" dikhususkan oleh nas tentang doa dan sedekah. Pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi’i berhenti pada yang disebut nas. Hanafi dan Hanbali mengqiyaskan seluruh ibadah kepada yang disebut nas, karena puasa dan haji yang disebut dalam hadis juga ibadah badan.
  2. Amalan salaf dan praktik umat. Mâlik memakruhkan bacaan di sisi mayit dan di kuburan karena bukan amalan salaf. Ibnu Qudâmah justru menjadikan kebiasaan kaum muslimin di setiap masa sebagai ijmak.
  3. Penilaian hadis tentang Yâsîn. Ibnu Ḫabîb dari Maliki, Hanbali, dan kebanyakan ulama Syafi’i berpegang pada hadis-hadis membaca Yâsîn. Al-’Adawî menduga hadis itu tidak sahih menurut Mâlik, dan Abû Ḫanîfah memakruhkan bacaan di kuburan karena tidak ada riwayat yang sahih menurutnya.

Ringkasnya

MazhabPahala bacaan Al-Qur’an untuk mayitMembaca di kuburan
HanafiSampai, seperti semua jenis kebaikan (Tabyîn al-Ḫaqâ’iq)Makruh menurut Abû Ḫanîfah; tidak makruh menurut Muḫammad, dan inilah yang diambil (al-Ikhtiyâr)
MalikiRiwayat Mâlik: membaca untuk mayit makruh; ulama belakangan dan Ibnu Rusyd: boleh dan pahalanya sampai, insya AllahMakruh menurut riwayat Mâlik
Syafi’iMasyhur: tidak sampai; sampai jika dibaca di hadapan mayit atau diikuti doa agar pahalanya disampaikanDianjurkan membaca lalu berdoa; bacaan itu sampai
HanbaliSampai dan bermanfaat (mazhab secara mutlak)Tidak makruh, bahkan dianjurkan; Aḫmad menarik kembali pendapatnya yang memakruhkan

Pelajaran untuk kita

  1. Doa dan sedekah untuk mayit bermanfaat menurut keempat mazhab. Perbedaan hanya ada pada ibadah badan seperti bacaan Al-Qur’an.
  2. Pahala bacaan Al-Qur’an yang dihadiahkan untuk mayit sampai kepadanya menurut Hanafi dan Hanbali, dan menurut ulama Maliki belakangan. Ibnu Ḫajar dan ar-Ramlî menyebut pendapat ini sebagai mazhab tiga imam.
  3. Dalam mazhab Syafi’i, cara yang dipegang ar-Ramlî dan Ibnu Ḫajar adalah membaca lalu berdoa: Allâhumma aushil tsawâba mâ qara’nâhu ilâ fulân. Menurut Ibnu ash-Shalâḫ dan Tuḫfat al-Muḫtâj, bacaan yang diikuti doa seperti ini sampai kepada mayit, walaupun dibaca dari tempat yang jauh. Kebiasaan ibu dalam kisah di atas, membaca Yâsîn lalu berdoa agar pahalanya sampai, sesuai dengan cara ini.
  4. Membaca Al-Qur’an di kuburan dianjurkan menurut Syafi’i dan Hanbali, tidak makruh menurut pendapat Muḫammad yang diambil dalam al-Ikhtiyâr, dan makruh menurut riwayat Mâlik.

Rujukan

  1. Al-Marghînânî (w. 593 H). Al-Hidâyah fî Syarḫ Bidâyat al-Mubtadî. Juz 1, hlm. 178, Kitâb al-Ḫajj, Bâb al-Ḫajj ’an al-Ghair. shamela.ws/book/11820/245
  2. Az-Zaila’î (w. 743 H). Tabyîn al-Ḫaqâ’iq Syarḫ Kanz ad-Daqâ’iq. Juz 2, hlm. 83, Kitâb al-Ḫajj, Bâb al-Ḫajj ’an al-Ghair. shamela.ws/book/23023/435
  3. Ibnu Maudûd al-Maushilî (w. 683 H). Al-Ikhtiyâr li Ta’lîl al-Mukhtâr. Juz 4, hlm. 179, Kitâb al-Karâhiyyah, Fashl fî al-Kalâm. shamela.ws/book/1066/701
  4. An-Nafrâwî (w. 1126 H). Al-Fawâkih ad-Dawânî ’alâ Risâlat Ibn Abî Zaid al-Qairawânî. Juz 1, hlm. 284, Bâb mâ Yuf’al bi al-Muḫtadhar. shamela.ws/book/21589/282
  5. Ad-Dardîr (w. 1201 H) dan ad-Dasûqî (w. 1230 H). Asy-Syarḫ al-Kabîr ’alâ Mukhtashar Khalîl wa Ḫâsyiyat ad-Dasûqî. Juz 1, hlm. 423, Fashl Aḫkâm al-Mautâ. shamela.ws/book/21604/422
  6. Al-’Adawî (w. 1189 H). Ḫâsyiyat al-’Adawî ’alâ Syarḫ al-Khurasyî. Juz 2, hlm. 137, Fashl Shalât al-Janâzah. shamela.ws/book/91/491
  7. Ar-Ramlî (w. 1004 H). Nihâyat al-Muḫtâj ilâ Syarḫ al-Minhâj. Juz 6, hlm. 92–93, Kitâb al-Washâyâ, Fashl fî Aḫkâm Ma’nawiyyah li al-Mûshâ bih. shamela.ws/book/3565/2568, shamela.ws/book/3565/2569
  8. Ibnu Ḫajar al-Haitamî (w. 974 H). Tuḫfat al-Muḫtâj fî Syarḫ al-Minhâj. Juz 3, hlm. 202, Kitâb al-Janâ’iz, Fashl fî ad-Dafn, dan juz 7, hlm. 73, Kitâb al-Washâyâ. shamela.ws/book/9059/1200, shamela.ws/book/9059/2917
  9. Ibnu Qudâmah (w. 620 H). Al-Mughnî (cet. Maktabah al-Qâhirah). Juz 2, hlm. 423–424, Kitâb al-Janâ’iz. shamela.ws/book/8463/871, shamela.ws/book/8463/872
  10. Al-Mardâwî (w. 885 H). Al-Inshâf fî Ma’rifat ar-Râjiḫ min al-Khilâf (taḫqîq al-Fiqî). Juz 2, hlm. 558, Kitâb al-Janâ’iz. shamela.ws/book/21609/1053
  11. Al-Buhûtî (w. 1051 H). Kasysyâf al-Qinâ’ ’an Matn al-Iqnâ’ (taḫqîq Mushailiḫî). Juz 2, hlm. 147, Kitâb al-Janâ’iz. shamela.ws/book/21642/651
Bagikan ke WhatsApp
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Dosen & Pengajar Fiqih · Profil

Artikel lainnya

Muamalah

Harga Kredit Lebih Mahal dari Harga Tunai: Riba atau Jual Beli yang Sah?

19 Oktober 2026 · 10 menit baca
Makanan & Sembelihan

Lupa atau Sengaja Tidak Membaca Basmalah saat Menyembelih: Halalkah Dagingnya?

19 Oktober 2026 · 10 menit baca
Zakat

Zakat Profesi: Menimbang Pendapat Yûsuf al-Qaradhâwî dengan Pendapat Empat Mazhab

19 Oktober 2026 · 14 menit baca · PDF