Kajian Fikih · Hubungan Muslim dan Non-Muslim
Dalil, batasan, dan kapan meniru non-Muslim menjadi haram atau dibolehkan
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ
فَهُوَ مِنْهُمْ
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Part of Rumah Fiqih Indonesia
Dosen STAI Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta
@mochwahab23
Lima hadis perintah mukhâlafah dan cara membacanya
Ukuran kapan peniruan disebut tasyabbuh
Syiar agama, ciri khas, dan peniruan yang memuat maksiat
Budaya umum, maslahat, dan teladan adaptasi Nabi ﷺ
Hadis-hadis yang memerintahkan umat Islam tampil berbeda dari non-Muslim, berikut takhrijnya
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”
HR. Abû Dâwud, Kitâb al-Libâs (Sunan, ed. Muḫyiddîn 4/44) dan Aḫmad — dari Ibn ’Umar
وَهَذَا الْحَدِيثُ أَقَلُّ أَحْوَالِهِ أَنْ يَقْتَضِيَ تَحْرِيمَ التَّشَبُّهِ بِهِمْ، وَإِنْ كَانَ ظَاهِرُهُ يَقْتَضِي كُفْرَ الْمُتَشَبِّهِ بِهِمْ
Ibn Taimiyyah: minimal hadis ini menunjukkan haramnya tasyabbuh, meski lahiriahnya bisa sampai kufur.
Ibn Taimiyyah (w. 728 H), Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm, 1/270
جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى، خَالِفُوا الْمَجُوسَ
“Pangkaslah kumis dan biarkan jenggot panjang; berbedalah dari orang Majusi.”
HR. Muslim — dari Abû Hurairah (diriwayatkan Muslim saja, bukan al-Bukhârî)
إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَا يَصْبُغُونَ، فَخَالِفُوهُمْ
“Orang Yahudi dan Nasrani tidak menyemir (uban), maka selisihilah mereka.”
HR. al-Bukhârî (Bâb al-Khidhâb) dan Muslim — dari Abû Hurairah
لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.”
HR. Muslim — dari Ibn ’Abbâs (Muḫarram, menyertai ’Âsyûrâ’)
خَالِفُوا الْيَهُودَ، فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ وَلَا خِفَافِهِمْ
“Selisihilah orang Yahudi; mereka tidak shalat dengan sandal dan khuf mereka.”
HR. Abû Dâwud, Bâb ash-Shalâh fî an-Na’l — dari Syaddâd ibn Aus
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُحِبُّ مُوَافَقَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ بِهِ، فَسَدَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، ثُمَّ فَرَقَ بَعْدُ
Muttafaq ’alaih — dari Ibn ’Abbâs; al-Ḫumaidî, al-Jam’ bain ash-Shaḫîḫain 2/12
Tidak setiap kesamaan dengan non-Muslim disebut tasyabbuh. Para ulama memberi ukuran yang jelas.
مِقْيَاسُ التَّشَبُّهِ أَنْ يَفْعَلَ الْمُتَشَبِّهُ مَا يَخْتَصُّ بِهِ الْمُتَشَبَّهُ بِهِ ... أَمَّا مَا انْتَشَرَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَصَارَ لَا يَتَمَيَّزُ بِهِ الْكُفَّارُ؛ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ تَشَبُّهًا، فَلَا يَكُونُ حَرَامًا مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ تَشَبُّهٌ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ مُحَرَّمًا مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى
Muḫammad ibn Shâliḫ al-’Utsaimîn (w. 1421 H), Majmû’ Fatâwâ wa Rasâ’il 3/47
Meniru apa yang menjadi kekhususan mereka
Bila sudah tersebar dan tak lagi jadi pembeda
Tetap haram bila terlarang dari sisi lain
ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ التَّشْبِيهَ بِأَهْلِ الْكِتَابِ لَا يُكْرَهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ، وَإِنَّا نَأْكُلُ وَنَشْرَبُ كَمَا يَفْعَلُونَ، إِنَّمَا الْحَرَامُ هُوَ التَّشَبُّهُ فِيمَا كَانَ مَذْمُومًا وَفِيمَا يُقْصَدُ بِهِ التَّشْبِيهُ
Menukil Qâdhî Khân dalam Syarḫ al-Jâmi’ ash-Shaghîr.
Ibn Nujaim (w. 970 H), al-Baḫr ar-Râ’iq 2/11
فِيمَا كَانَ مَذْمُومًا
Meniru dalam hal yang memang tercela (syiar batil, maksiat).
فِيمَا يُقْصَدُ بِهِ التَّشْبِيهُ
Dilakukan dengan niat ingin menyerupai mereka.
Tiga keadaan: meniru syiar agama, meniru identitas khas, dan peniruan yang memuat maksiat
Yaitu simbol keagamaan, ritual ibadah, atau atribut yang bermakna akidah.
Contoh yang disepakati haram:
أَنَّ الْأَعْيَادَ مِنْ جُمْلَةِ الشَّرْعِ وَالْمَنَاهِجِ وَالْمَنَاسِكِ الَّتِي قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ: ﴿لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ﴾
Hari raya adalah bagian dari syariat dan manasik tiap agama — bukan sekadar adat.
Ibn Taimiyyah, Iqtidhâ’ 1/528
إِنْ تَزَيَّا مُسْلِمٌ بِمَا صَارَ شِعَارًا لِأَهْلِ ذِمَّةٍ، أَوْ عَلَّقَ صَلِيبًا بِصَدْرِهِ حَرُمَ، وَلَمْ يَكْفُرْ بِذَلِكَ كَسَائِرِ الْمَعَاصِي
Haram, tetapi pelakunya tidak dikafirkan — sama seperti maksiat lain.
al-Buhûtî (w. 1051 H), Kassyâf al-Qinâ’ 3/128 — dinukil al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah 12/6
Fatwa MUI No. 56 Tahun 2016 (14 Desember 2016)
Hukum menggunakan atribut keagamaan non-Muslim: haram; mengajak dan/atau memerintahkan penggunaannya juga haram.
Bukan ibadah, tetapi menjadi ciri eksklusif suatu agama atau komunitas yang tidak dimiliki umat lain.
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَأَى رَجُلًا قَدْ حَلَقَ قَفَاهُ، وَلَبِسَ حَرِيرًا، فَقَالَ: مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Atsar ’Umar: mencukur tengkuk (gaya khas kaum lain) ditegur dengan hadis tasyabbuh.
’Abd ar-Razzâq, al-Mushannaf 10/462
Pesta minuman keras
Pornografi dan pergaulan bebas
Hiburan yang melalaikan di lingkungan maksiat
Pesta pora dan tabdzîr malam tahun baru
Budaya yang sudah umum, kebutuhan dan maslahat, serta teladan adaptasi dari Rasulullah ﷺ
وَإِنَّمَا يَصْلُحُ الِاسْتِدْلَالُ بِقِصَّةِ الْيَهُودِ فِي الْوَقْتِ الَّذِي تَكُونُ الطَّيَالِسَةُ مِنْ شِعَارِهِمْ، وَقَدِ ارْتَفَعَ ذَلِكَ فِي هَذِهِ الْأَزْمِنَةِ فَصَارَ دَاخِلًا فِي عُمُومِ الْمُبَاحِ
Ṭailasân pernah menjadi syiar Yahudi; setelah tidak lagi khas, hukumnya kembali mubah.
Ibn Ḫajar al-’Asqallânî (w. 852 H), Fatḫ al-Bârî 10/275 (ed. as-Salafiyyah)
وَقَدْ سُئِلَ مَالِكٌ عَنْهُ [أي البُرْنُس] فَقَالَ: لَا بَأْسَ بِهِ. قِيلَ: فَإِنَّهُ مِنْ لَبُوسِ النَّصَارَى، قَالَ: كَانَ يُلْبَسُ هَاهُنَا
Imam Mâlik tentang burnus — dinukil dari Fatḫ al-Bârî 10/272 oleh Ibn ’Utsaimîn, Majmû’ Fatâwâ 3/47
Pakaian formal yang kini dipakai lintas bangsa dan agama
Perangkat dan ilmu terapan dari mana pun asalnya
Sistem tata kelola, arsip, dan birokrasi
Mobil, pesawat, telepon, internet
Dipakai untuk keperluan muamalah dan administrasi
Selama tidak lagi menjadi ciri khas, hukumnya kembali ke asal: mubah
Selama tidak menyalahi akidah dan syariat, hukumnya boleh.
لَوْ أَنَّ الْمُسْلِمَ بِدَارِ حَرْبٍ، أَوْ دَارِ كُفْرٍ غَيْرِ حَرْبٍ؛ لَمْ يَكُنْ مَأْمُورًا بِالْمُخَالَفَةِ لَهُمْ فِي الْهَدْيِ الظَّاهِرِ، لِمَا عَلَيْهِ فِي ذَلِكَ مِنَ الضَّرَرِ، بَلْ قَدْ يُسْتَحَبُّ لِلرَّجُلِ، أَوْ يَجِبُ عَلَيْهِ، أَنْ يُشَارِكَهُمْ أَحْيَانًا فِي هَدْيِهِمُ الظَّاهِرِ، إِذَا كَانَ فِي ذَلِكَ مَصْلَحَةٌ دِينِيَّةٌ
Bahkan Ibn Taimiyyah — tokoh paling keras soal mukhâlafah — menimbang konteks, mudarat, dan maslahat.
Ibn Taimiyyah, Iqtidhâ’ 1/471
لَمَّا أَرَادَ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنْ يَبْعَثَ إِلَى الرُّومِ، قَالُوا: إِنَّهُمْ لَا يَقْرَءُونَ كِتَابًا إِلَّا مَخْتُومًا، فَاتَّخَذَ رَسُولُ اللهِ ﷺ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ
Cincin stempel — mengikuti kebiasaan surat-menyurat Romawi demi efektivitas dakwah.
Muttafaq ’alaih — dari Anas; al-Ḫumaidî 2/499
اسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ هَادِيًا خِرِّيتًا، وَهُوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ
Jasa profesional non-Muslim — penunjuk jalan hijrah, dikenal dalam sirah sebagai ’Abdullâh ibn Uraiqith.
HR. al-Bukhârî — dari ’Â’isyah
أَتُحْسِنُ السُّرْيَانِيَّةَ؟ ... فَتَعَلَّمْهَا، فَإِنَّهُ يَأْتِينَا كُتُبٌ
Zaid ibn Tsâbit diperintah belajar Suryani (al-Ḫâkim, al-Mustadrak 3/477); riwayat at-Tirmidzî: “tulisan Yahudi” (4/439, ed. Basysyâr).
فَأَقَرَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ ذَلِكَ، وَأَقَرَّهُ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ
Dinar Heraklius (Romawi) dan dirham Persia tetap dipakai (al-Balâdzurî, Futûḫ al-Buldân 448).
إِنَّا كُنَّا بِفَارِسَ إِذَا حُوصِرْنَا خَنْدَقْنَا عَلَيْنَا
Usulan Salmân al-Fârisî menggali parit (riwayat sirah, Târîkh ath-Thabarî 2/566).
’Abd al-Majîd Salîm · 1347 H / 1928 M
Memakai topi Barat untuk menahan panas/dingin tanpa niat tasyabbuh: tidak berdosa. Dengan niat tasyabbuh: berdosa, tidak kafir. Kafir hanya bila meniru dalam kekufuran.
w. 1421 H · Majmû’ Fatâwâ 3/47
Ukurannya adalah kekhususan. Yang telah tersebar di kalangan Muslim dan tak lagi menjadi pembeda bukan tasyabbuh.
Fatwa No. 56 Tahun 2016
Menggunakan atribut keagamaan non-Muslim haram; mengajak atau memerintahkan pemakaiannya juga haram.
Apakah ia syiar atau ritual agama mereka?
Apakah masih menjadi ciri khas mereka, atau dilakukan dengan niat meniru?
Apakah perbuatannya sendiri mengandung maksiat?
Tidak ketiganya: budaya umum, kebutuhan, atau maslahat
وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Berbeda dalam syiar dan identitas, terbuka dalam ilmu, teknologi, dan kemaslahatan.
Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Part of Rumah Fiqih Indonesia
Dosen STAI Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta
@mochwahab23
Putar HP ke posisi mendatar agar slide memenuhi layar