Kajian Fikih · Hubungan Muslim dan Non-Muslim

Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir

Dalil, batasan, dan kapan meniru non-Muslim menjadi haram atau dibolehkan

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ
فَهُوَ مِنْهُمْ

Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.

Part of Rumah Fiqih Indonesia

Dosen STAI Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta

@mochwahab23

Peta Materi

Alur Pembahasan

01

Dalil-dalil

Lima hadis perintah mukhâlafah dan cara membacanya

02

Batasan

Ukuran kapan peniruan disebut tasyabbuh

03

Kapan Haram

Syiar agama, ciri khas, dan peniruan yang memuat maksiat

04

Kapan Boleh

Budaya umum, maslahat, dan teladan adaptasi Nabi ﷺ

Penutup: fatwa ulama kontemporer dan alur ringkas menimbang hukum tasyabbuh.
Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih
01

Dalil-dalil Perintah Mukhâlafah

Hadis-hadis yang memerintahkan umat Islam tampil berbeda dari non-Muslim, berikut takhrijnya

Dalil Pokok

Siapa Menyerupai Suatu Kaum

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”

HR. Abû Dâwud, Kitâb al-Libâs (Sunan, ed. Muḫyiddîn 4/44) dan Aḫmad — dari Ibn ’Umar

وَهَذَا الْحَدِيثُ أَقَلُّ أَحْوَالِهِ أَنْ يَقْتَضِيَ تَحْرِيمَ التَّشَبُّهِ بِهِمْ، وَإِنْ كَانَ ظَاهِرُهُ يَقْتَضِي كُفْرَ الْمُتَشَبِّهِ بِهِمْ

Ibn Taimiyyah: minimal hadis ini menunjukkan haramnya tasyabbuh, meski lahiriahnya bisa sampai kufur.

Ibn Taimiyyah (w. 728 H), Iqtidhâ’ ash-Shirâth al-Mustaqîm, 1/270

Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih
Penampilan Lahiriah

Jenggot, Kumis, dan Semir Uban

جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى، خَالِفُوا الْمَجُوسَ

“Pangkaslah kumis dan biarkan jenggot panjang; berbedalah dari orang Majusi.”

HR. Muslim — dari Abû Hurairah (diriwayatkan Muslim saja, bukan al-Bukhârî)

إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَا يَصْبُغُونَ، فَخَالِفُوهُمْ

“Orang Yahudi dan Nasrani tidak menyemir (uban), maka selisihilah mereka.”

HR. al-Bukhârî (Bâb al-Khidhâb) dan Muslim — dari Abû Hurairah

Perintah mukhâlafah di sini menyentuh penampilan sehari-hari, bukan hanya ritual ibadah.
Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih
Ibadah

Puasa Tâsû’â’ dan Shalat Bersandal

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.”

HR. Muslim — dari Ibn ’Abbâs (Muḫarram, menyertai ’Âsyûrâ’)

خَالِفُوا الْيَهُودَ، فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ وَلَا خِفَافِهِمْ

“Selisihilah orang Yahudi; mereka tidak shalat dengan sandal dan khuf mereka.”

HR. Abû Dâwud, Bâb ash-Shalâh fî an-Na’l — dari Syaddâd ibn Aus

Catatan lafaz: ungkapan «صلوا في نعالكم وخالفوا اليهود» yang sering beredar adalah ringkasan makna; lafaz riwayat Abû Dâwud seperti tertulis di atas.
Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih
Catatan Metodologis

Membaca Perintah Mukhâlafah dengan Tepat

Kadar perintahnya berbeda-beda. Shalat bersandal adalah anjuran, bukan kewajiban — sehingga “perintah menyelisihi” tidak otomatis bermakna wajib.
Ada tahapan syariat. Di awal hijrah Nabi ﷺ justru senang mencocoki Ahli Kitab dalam hal yang belum ada perintahnya, lalu mukhâlafah disyariatkan setelah Islam kuat.
Hukumnya bergantung pada apa yang ditiru: akidah dan syiar, ciri khas, atau sekadar hal umum.

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُحِبُّ مُوَافَقَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ فِيمَا لَمْ يُؤْمَرْ بِهِ، فَسَدَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، ثُمَّ فَرَقَ بَعْدُ

Muttafaq ’alaih — dari Ibn ’Abbâs; al-Ḫumaidî, al-Jam’ bain ash-Shaḫîḫain 2/12

Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih
02

Batasan Tasyabbuh

Tidak setiap kesamaan dengan non-Muslim disebut tasyabbuh. Para ulama memberi ukuran yang jelas.

Ukuran Tasyabbuh

Yang Dilarang adalah Meniru Kekhususan

مِقْيَاسُ التَّشَبُّهِ أَنْ يَفْعَلَ الْمُتَشَبِّهُ مَا يَخْتَصُّ بِهِ الْمُتَشَبَّهُ بِهِ ... أَمَّا مَا انْتَشَرَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ وَصَارَ لَا يَتَمَيَّزُ بِهِ الْكُفَّارُ؛ فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ تَشَبُّهًا، فَلَا يَكُونُ حَرَامًا مِنْ أَجْلِ أَنَّهُ تَشَبُّهٌ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ مُحَرَّمًا مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى

Muḫammad ibn Shâliḫ al-’Utsaimîn (w. 1421 H), Majmû’ Fatâwâ wa Rasâ’il 3/47

Ukuran

Meniru apa yang menjadi kekhususan mereka

Gugur

Bila sudah tersebar dan tak lagi jadi pembeda

Tetapi

Tetap haram bila terlarang dari sisi lain

Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih
Pandangan Mazhab Ḫanafî

Dua Kunci: Tercela dan Disengaja

ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ التَّشْبِيهَ بِأَهْلِ الْكِتَابِ لَا يُكْرَهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ، وَإِنَّا نَأْكُلُ وَنَشْرَبُ كَمَا يَفْعَلُونَ، إِنَّمَا الْحَرَامُ هُوَ التَّشَبُّهُ فِيمَا كَانَ مَذْمُومًا وَفِيمَا يُقْصَدُ بِهِ التَّشْبِيهُ

Menukil Qâdhî Khân dalam Syarḫ al-Jâmi’ ash-Shaghîr.

Ibn Nujaim (w. 970 H), al-Baḫr ar-Râ’iq 2/11

فِيمَا كَانَ مَذْمُومًا

Meniru dalam hal yang memang tercela (syiar batil, maksiat).

فِيمَا يُقْصَدُ بِهِ التَّشْبِيهُ

Dilakukan dengan niat ingin menyerupai mereka.

Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih
Tasyjîr

Tiga Tingkat Hukum Tasyabbuh

Tasyabbuh dengan non-Muslim
Kufur
Meniru dalam perkara kekufuran: mengagungkan hari raya mereka sebagai penghormatan agama, atau memakai syiar disertai merendahkan agama.
Haram (berdosa)
Memakai syiar/ciri khas mereka tanpa meyakini akidahnya, atau berniat menyerupai — berdosa, tetapi tidak kafir (al-Buhûtî: menggantung salib → haram, tidak kafir).
Boleh
Hal umum yang tak lagi khas, tanpa niat menyerupai, atau karena darurat/kebutuhan — misalnya memakai topi untuk menahan panas.
Ringkasan dari Fatwa Dâr al-Iftâ’ al-Mishriyyah (’Abd al-Majîd Salîm, 1347 H/1928 M) 5/472 dan al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah 12/6–7
03

Kapan Tasyabbuh Menjadi Haram?

Tiga keadaan: meniru syiar agama, meniru identitas khas, dan peniruan yang memuat maksiat

A · Meniru Syiar Agama

Simbol, Ritual, dan Hari Raya Keagamaan

Yaitu simbol keagamaan, ritual ibadah, atau atribut yang bermakna akidah.

Contoh yang disepakati haram:

Ikut ritual perayaan ibadah agama lain
Memakai simbol ibadah agama tertentu (mis. salib)
Mengikuti ritual pemberkatan keagamaan

أَنَّ الْأَعْيَادَ مِنْ جُمْلَةِ الشَّرْعِ وَالْمَنَاهِجِ وَالْمَنَاسِكِ الَّتِي قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ: ﴿لِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا هُمْ نَاسِكُوهُ﴾

Hari raya adalah bagian dari syariat dan manasik tiap agama — bukan sekadar adat.

Ibn Taimiyyah, Iqtidhâ’ 1/528

Alasannya: ikut serta dalam syiar agama lain mengandung pengakuan dan pengagungan terhadap keyakinan mereka.
Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih
A · Meniru Syiar Agama

Penegasan Fukaha dan Fatwa MUI

إِنْ تَزَيَّا مُسْلِمٌ بِمَا صَارَ شِعَارًا لِأَهْلِ ذِمَّةٍ، أَوْ عَلَّقَ صَلِيبًا بِصَدْرِهِ حَرُمَ، وَلَمْ يَكْفُرْ بِذَلِكَ كَسَائِرِ الْمَعَاصِي

Haram, tetapi pelakunya tidak dikafirkan — sama seperti maksiat lain.

al-Buhûtî (w. 1051 H), Kassyâf al-Qinâ’ 3/128 — dinukil al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah 12/6

MUI

Fatwa MUI No. 56 Tahun 2016 (14 Desember 2016)

Hukum menggunakan atribut keagamaan non-Muslim: haram; mengajak dan/atau memerintahkan penggunaannya juga haram.

Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih
B · Meniru Identitas Khas

Tradisi yang Menjadi Ciri Eksklusif

Bukan ibadah, tetapi menjadi ciri eksklusif suatu agama atau komunitas yang tidak dimiliki umat lain.

Potongan rambut khas rohaniwan agama tertentu
Pakaian yang menjadi identitas ritual tertentu
Tradisi budaya yang bermakna keagamaan

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَأَى رَجُلًا قَدْ حَلَقَ قَفَاهُ، وَلَبِسَ حَرِيرًا، فَقَالَ: مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Atsar ’Umar: mencukur tengkuk (gaya khas kaum lain) ditegur dengan hadis tasyabbuh.

’Abd ar-Razzâq, al-Mushannaf 10/462

Hukumnya mengikuti keadaan: haram selama masih menjadi ciri eksklusif. Bila telah menjadi budaya umum, hukumnya berubah (lihat Bagian 04).
Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih
C · Mengandung Dosa

Peniruan yang Memuat Maksiat

Pesta minuman keras

Pornografi dan pergaulan bebas

Hiburan yang melalaikan di lingkungan maksiat

Pesta pora dan tabdzîr malam tahun baru

Tetap haram walau bukan identitas agama.
Haramnya karena perbuatan maksiat itu sendiri — إِلَّا أَنْ يَكُونَ مُحَرَّمًا مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى (Ibn ’Utsaimîn).
Bila disertai niat meniru, dosanya berlapis.
Mazhab Ḫanafî memasukkan peniruan فِيمَا كَانَ مَذْمُومًا ke dalam tasyabbuh yang haram.
Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih
04

Kapan Tasyabbuh Dibolehkan?

Budaya yang sudah umum, kebutuhan dan maslahat, serta teladan adaptasi dari Rasulullah ﷺ

A · Sudah Menjadi Tradisi Umum

Ketika Ciri Khas Telah Hilang

وَإِنَّمَا يَصْلُحُ الِاسْتِدْلَالُ بِقِصَّةِ الْيَهُودِ فِي الْوَقْتِ الَّذِي تَكُونُ الطَّيَالِسَةُ مِنْ شِعَارِهِمْ، وَقَدِ ارْتَفَعَ ذَلِكَ فِي هَذِهِ الْأَزْمِنَةِ فَصَارَ دَاخِلًا فِي عُمُومِ الْمُبَاحِ

Ṭailasân pernah menjadi syiar Yahudi; setelah tidak lagi khas, hukumnya kembali mubah.

Ibn Ḫajar al-’Asqallânî (w. 852 H), Fatḫ al-Bârî 10/275 (ed. as-Salafiyyah)

وَقَدْ سُئِلَ مَالِكٌ عَنْهُ [أي البُرْنُس] فَقَالَ: لَا بَأْسَ بِهِ. قِيلَ: فَإِنَّهُ مِنْ لَبُوسِ النَّصَارَى، قَالَ: كَانَ يُلْبَسُ هَاهُنَا

Imam Mâlik tentang burnus — dinukil dari Fatḫ al-Bârî 10/272 oleh Ibn ’Utsaimîn, Majmû’ Fatâwâ 3/47

Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih
A · Sudah Menjadi Tradisi Umum

Contoh dalam Kehidupan Sekarang

Jas dan dasi

Pakaian formal yang kini dipakai lintas bangsa dan agama

Teknologi

Perangkat dan ilmu terapan dari mana pun asalnya

Administrasi modern

Sistem tata kelola, arsip, dan birokrasi

Transportasi & komunikasi

Mobil, pesawat, telepon, internet

Kalender Masehi

Dipakai untuk keperluan muamalah dan administrasi

Kaidahnya

Selama tidak lagi menjadi ciri khas, hukumnya kembali ke asal: mubah

Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih
B · Maslahat dan Kebutuhan

Tidak Mengandung Unsur Agama

Mempelajari ilmu dari Barat
Bekerja dengan standar internasional
Mengikuti prosedur profesional modern

Selama tidak menyalahi akidah dan syariat, hukumnya boleh.

لَوْ أَنَّ الْمُسْلِمَ بِدَارِ حَرْبٍ، أَوْ دَارِ كُفْرٍ غَيْرِ حَرْبٍ؛ لَمْ يَكُنْ مَأْمُورًا بِالْمُخَالَفَةِ لَهُمْ فِي الْهَدْيِ الظَّاهِرِ، لِمَا عَلَيْهِ فِي ذَلِكَ مِنَ الضَّرَرِ، بَلْ قَدْ يُسْتَحَبُّ لِلرَّجُلِ، أَوْ يَجِبُ عَلَيْهِ، أَنْ يُشَارِكَهُمْ أَحْيَانًا فِي هَدْيِهِمُ الظَّاهِرِ، إِذَا كَانَ فِي ذَلِكَ مَصْلَحَةٌ دِينِيَّةٌ

Bahkan Ibn Taimiyyah — tokoh paling keras soal mukhâlafah — menimbang konteks, mudarat, dan maslahat.

Ibn Taimiyyah, Iqtidhâ’ 1/471

Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih
C · Teladan Rasulullah ﷺ

Adaptasi yang Dicontohkan Nabi (1)

لَمَّا أَرَادَ رَسُولُ اللهِ ﷺ أَنْ يَبْعَثَ إِلَى الرُّومِ، قَالُوا: إِنَّهُمْ لَا يَقْرَءُونَ كِتَابًا إِلَّا مَخْتُومًا، فَاتَّخَذَ رَسُولُ اللهِ ﷺ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ

Cincin stempel — mengikuti kebiasaan surat-menyurat Romawi demi efektivitas dakwah.

Muttafaq ’alaih — dari Anas; al-Ḫumaidî 2/499

اسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ هَادِيًا خِرِّيتًا، وَهُوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ

Jasa profesional non-Muslim — penunjuk jalan hijrah, dikenal dalam sirah sebagai ’Abdullâh ibn Uraiqith.

HR. al-Bukhârî — dari ’Â’isyah

Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih
C · Teladan Rasulullah ﷺ

Adaptasi yang Dicontohkan Nabi (2)

Bahasa asing

أَتُحْسِنُ السُّرْيَانِيَّةَ؟ ... فَتَعَلَّمْهَا، فَإِنَّهُ يَأْتِينَا كُتُبٌ

Zaid ibn Tsâbit diperintah belajar Suryani (al-Ḫâkim, al-Mustadrak 3/477); riwayat at-Tirmidzî: “tulisan Yahudi” (4/439, ed. Basysyâr).

Mata uang

فَأَقَرَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ ذَلِكَ، وَأَقَرَّهُ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ

Dinar Heraklius (Romawi) dan dirham Persia tetap dipakai (al-Balâdzurî, Futûḫ al-Buldân 448).

Strategi perang

إِنَّا كُنَّا بِفَارِسَ إِذَا حُوصِرْنَا خَنْدَقْنَا عَلَيْنَا

Usulan Salmân al-Fârisî menggali parit (riwayat sirah, Târîkh ath-Thabarî 2/566).

Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih
Ulama Kontemporer

Fatwa dan Pandangan Mutakhir

Dâr al-Iftâ’ al-Mishriyyah

’Abd al-Majîd Salîm · 1347 H / 1928 M

Memakai topi Barat untuk menahan panas/dingin tanpa niat tasyabbuh: tidak berdosa. Dengan niat tasyabbuh: berdosa, tidak kafir. Kafir hanya bila meniru dalam kekufuran.

Ibn ’Utsaimîn

w. 1421 H · Majmû’ Fatâwâ 3/47

Ukurannya adalah kekhususan. Yang telah tersebar di kalangan Muslim dan tak lagi menjadi pembeda bukan tasyabbuh.

Majelis Ulama Indonesia

Fatwa No. 56 Tahun 2016

Menggunakan atribut keagamaan non-Muslim haram; mengajak atau memerintahkan pemakaiannya juga haram.

Benang merahnya sama: yang dilarang adalah syiar agama, ciri khas, dan niat meniru — bukan setiap kesamaan.
Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih
Ringkasan

Alur Menimbang Hukum Tasyabbuh

1

Apakah ia syiar atau ritual agama mereka?

Haram
2

Apakah masih menjadi ciri khas mereka, atau dilakukan dengan niat meniru?

Haram
3

Apakah perbuatannya sendiri mengandung maksiat?

Haram
✓

Tidak ketiganya: budaya umum, kebutuhan, atau maslahat

Boleh
Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir · Kajian Fikih

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Terima Kasih

Berbeda dalam syiar dan identitas, terbuka dalam ilmu, teknologi, dan kemaslahatan.

Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.

Part of Rumah Fiqih Indonesia

Dosen STAI Dirosat Islamiyah Al-Hikmah Jakarta

@mochwahab23

Putar HP ke posisi mendatar agar slide memenuhi layar