“Diharamkan atas kalian bangkai, darah, dan daging babi.” Semua bangkai tampak tercakup.
Dalil pengkhusus
هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ، وَالْحَلَالُ مَيْتَتُهُ
Shaḫîḫ Ibnu Khuzaimah, dari Jâbir
Ditanya tentang laut, Nabi ﷺ bersabda: “Airnya menyucikan dan bangkainya halal.”
Titik beda: sejauh mana dalil khusus membatasi dalil umum — misalnya, apakah semua hewan laut termasuk bangkai yang halal.
Ikhtilaf Ulama dan Cara Bijak Menyikapinya · Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
03
Memilih Mazhab
Bebas memilih mazhab yang muktabar — namun para imam mengajarkan kearifan menimbang tempat dan masyarakat.
Bagaimana Memilih Mazhab?
✓
Boleh memilih mazhab mana pun
yang diyakini, selama mazhab itu muktabar, yakni diakui di kalangan Ahlussunnah wal Jamaah.
⌂
Mengikuti mazhab mayoritas setempat
adalah sikap bijak: lebih mudah belajar, ibadah bersama masyarakat tetap serasi, serta mencegah konflik dan perpecahan umat.
Ikhtilaf Ulama dan Cara Bijak Menyikapinya · Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Kisah teladan
Kisah al-Qâdhî Abû Ya’lâ (1)
Al-Wazîr Ibnu Hubairah (w. 560 H) menuturkan dari Syekh Muḫammad bin Yaḫyâ: seorang ahli fikih datang kepada al-Qâdhî Abû Ya’lâ al-Ḫanbalî (w. 458 H) untuk belajar mazhab Ḫanbalî. Sang Qâdhî lalu menanyakan asal negerinya.
al-Qâdhî Abû Ya’lâ
Penduduk negerimu semuanya bermazhab Syâfi’î. Mengapa engkau berpaling ke mazhab Ḫanbalî?
Sang ahli fikih
Aku berpaling ke mazhabmu karena aku mengagumimu.
Ikhtilaf Ulama dan Cara Bijak Menyikapinya · Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Kisah teladan
Kisah al-Qâdhî Abû Ya’lâ (2)
al-Qâdhî Abû Ya’lâ
Sikapmu ini tidak pantas. Jika engkau pulang bermazhab Ḫanbalî sementara penduduk negerimu bermazhab Syâfi’î, engkau tidak akan sama dengan mereka dalam tata cara ibadah, orang tidak akan belajar kepadamu, dan engkau menanam bibit permusuhan serta pertikaian. Yang lebih utama bagimu adalah tetap bermazhab Syâfi’î seperti penduduk negerimu.
Al-Qâdhî kemudian membawa ahli fikih itu menemui Abû Isḫâq asy-Syîrâzî asy-Syâfi’î (w. 476 H) untuk belajar kepadanya.
al-Musawwadah fî Ushûl al-Fiqh, hlm. 541
Ikhtilaf Ulama dan Cara Bijak Menyikapinya · Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Kisah teladan
Kisah Imam Mâlik dan Orang Kufah (1)
1
Di majelis Imam Mâlik (w. 179 H)
Beliau ditanya tentang waris, lalu menjawab dengan pendapat Zaid bin Tsâbit.
2
Sanggahan
Ismâ’îl (cucu as-Suddî) menimpali: “’Alî bin Abî Thâlib dan Ibnu Mas’ûd tidak berpendapat demikian.”
3
Penjaga bergerak
Imam Mâlik memberi isyarat kepada penjaga. Ismâ’îl mengelak hingga mereka tak berdaya menangkapnya.
4
“Ajak dia dengan lembut”
Ditanya soal kitab dan penanya, Imam Mâlik berpesan agar ia diajak baik-baik. Ia pun kembali ke majelis.
Ikhtilaf Ulama dan Cara Bijak Menyikapinya · Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Kisah teladan
Kisah Imam Mâlik dan Orang Kufah (2)
Imam Mâlik
Engkau dari negeri mana?
Ismâ’îl
Dari Kufah. Aku menyebut pendapat itu agar mendapat faedah darimu.
“Keutamaan ’Alî dan Ibnu Mas’ûd tak dapat dipungkiri, tetapi penduduk negeri kami (Madinah) mengikuti pendapat Zaid bin Tsâbit. Bila engkau berada di tengah suatu kaum, jangan memulai dengan apa yang tidak mereka kenal, sehingga datang dari mereka sesuatu yang tidak kau sukai.”
adz-Dzahabî, Siyar A’lâm an-Nubalâ’, 11/177
Ikhtilaf Ulama dan Cara Bijak Menyikapinya · Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Kisah teladan
Kisah Imam Mâlik dan Sang Khalifah
Khalifah Abû Ja’far al-Manshûr
Wahai Abû ’Abdillâh, jadikanlah ilmu (fikih) ini satu mazhab saja.
Imam Mâlik
Sesungguhnya para sahabat Rasulullah ﷺ telah berpencar ke berbagai negeri, dan mereka berfatwa di setiap negeri sesuai dengan apa yang mereka pandang. Penduduk Madinah punya pendapat sendiri, demikian pula penduduk Irak. Jika engkau paksakan satu mazhab, engkau telah melampaui batas.
Tarjî’ dalam azan atau tidakIqamah satu-satu atau dua-duaSubuh di awal gelap atau saat terangQunut subuh atau tidakBasmalah keras, pelan, atau tidak dibaca
Ibnu Taimiyah, Majmû’ al-Fatâwâ, 20/292
Ikhtilaf Ulama dan Cara Bijak Menyikapinya · Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Kaidah dan nasihat
Nasihat Ibnu Taimiyah (2): Saling Mengakui Ijtihad
“Ini adalah masalah-masalah ijtihad yang diperselisihkan salaf dan para imam. Masing-masing mengakui ijtihad yang lain. Siapa yang benar mendapat dua pahala; siapa yang berijtihad lalu keliru mendapat satu pahala, dan kekeliruannya diampuni.”
Ibnu Taimiyah, Majmû’ al-Fatâwâ, 20/292
Ikhtilaf Ulama dan Cara Bijak Menyikapinya · Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Kaidah dan nasihat
Nasihat Ibnu Taimiyah (3): Tidak Saling Mengingkari
“Siapa yang lebih condong mengikuti asy-Syâfi’î tidak mengingkari orang yang condong mengikuti Mâlik; siapa yang condong mengikuti Aḫmad tidak mengingkari orang yang condong mengikuti asy-Syâfi’î, dan seterusnya.”
Ibnu Taimiyah, Majmû’ al-Fatâwâ, 20/292–293
Ikhtilaf Ulama dan Cara Bijak Menyikapinya · Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.
Sufyân ats-Tsaurî berkata: “Jika engkau melihat seseorang mengamalkan sesuatu yang masih diperselisihkan hukumnya, sedangkan engkau berpendapat lain, maka jangan larang dia.”
al-Khathîb al-Baghdâdî, al-Faqîh wa al-Mutafaqqih, 2/136
Ikhtilaf Ulama dan Cara Bijak Menyikapinya · Muhamad Abdul Wahab, Lc., M.H.