Mengenal akidah Nâshir as-Sunnah (w. 204 H) dari ucapan dan riwayatnya
Nâshir as-Sunnah, peletak ilmu ushul fikih
Allah ada sebelum tempat; kalam tanpa muwâjahah
Istawâ bilâ kaif; ’alâ murâdillâh
Hukum mujassim; tiga sikap akal kepada Allah
Empat butir akidah tanzîh
Âmantu billâh ’alâ murâdillâh
Lahir di Gaza tahun 150 H, wafat di Mesir tahun 204 H. Bernasab Quraisy, bertemu nasab Nabi ﷺ pada ’Abd Manâf.
Belajar al-Muwaththa’ kepada Imam Mâlik di Madinah; guru Imam Aḫmad bin Ḫanbal.
Peletak dasar ilmu ushul fikih; pendiri mazhab Syâfi’î yang dianut mayoritas Muslim Nusantara.
Allah ada sebelum ada tempat, dan tetap di atas sifat azali-Nya setelah menciptakan tempat.
إِنَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لَا مَكَانَ لَهُ وَلَا جِهَةَ. قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى: وَالدَّلِيْلُ عَلَيْهِ هُوَ أَنَّهُ تَعَالَى كَانَ وَلَا مَكَانَ، فَخَلَقَ الْمَكَانَ وَهُوَ عَلَى صِفَةِ الأَزَلِيَّةِ كَمَا كَانَ قَبْلَ خَلْقِهِ الْمَكَانَ، لَا يَجُوْزُ عَلَيْهِ التَّغْيِيْرُ فِي ذَاتِهِ وَلَا التَّبْدِيْلُ فِي صِفَاتِهِ
“Sesungguhnya Allah tidak memiliki tempat dan tidak memiliki arah. Imam asy-Syâfi’î berkata: Dalilnya, Allah telah ada ketika belum ada tempat. Lalu Dia menciptakan tempat, dan Dia tetap di atas sifat azali-Nya sebagaimana sebelum menciptakan tempat. Tidak boleh terjadi perubahan pada Dzat-Nya dan tidak pula pergantian pada sifat-sifat-Nya.”
— Murtadhâ az-Zabîdî, Itḫâf as-Sâdah al-Muttaqîn bi Syarḫ Iḫyâ’ ’Ulûm ad-Dîn, Dâr al-Fikr, Damaskus, jil. 2, hlm. 24
Allah ada sejak azali, ketika tempat belum ada sama sekali.
Allah menciptakan tempat; tempat adalah makhluk yang baru.
Allah tetap di atas sifat azali-Nya, sebagaimana sebelum tempat diciptakan.
Berpindah dari tanpa tempat menjadi bertempat adalah perubahan, dan perubahan mustahil bagi Allah.
إِنَّ كَلَامَ الْآدَمِيِّيْنَ لَا يُشْبِهُ كَلَامَ اللهِ تَعَالَى. كَلَامُ الْآدَمِيِّيْنَ بِالْمُوَاجَهَةِ
“Sesungguhnya kalam manusia tidak serupa dengan Kalam Allah. Kalam manusia terjadi dengan berhadap-hadapan (muwâjahah), yakni di suatu tempat dan arah.”
— al-Imam asy-Syâfi’î, al-Umm, Dâr al-Ma’rifah, Beirut, jil. 7, hlm. 84
| Aspek | Kalam manusia | Kalam Allah |
|---|---|---|
| Cara | Berhadap-hadapan (muwâjahah) | Tanpa berhadap-hadapan |
| Tempat & arah | Pembicara dan pendengar berada di tempat dan arah tertentu | Tanpa tempat dan tanpa arah |
| Huruf, suara, bahasa | Tersusun dari huruf dan bunyi dalam bahasa tertentu | Tanpa huruf, suara, dan bahasa |
Allah istawâ atas Arsy sebagaimana Dia kabarkan: tanpa kaifiyyah, tidak serupa, dan tidak bersentuhan dengan makhluk.
قَالَ الإِمَامُ الشَّافِعِيُّ: قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى﴾، وَكُلُّ مَا عَلَا فَهُوَ سَمَاءٌ. وَالعَرْشُ أَعْلَى السَّمَوَاتِ، فَهُوَ عَلَى العَرْشِ كَمَا أَخْبَرَ بِلَا كَيْفٍ، بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ، غَيْرُ مُمَاسٍّ مِنْ خَلْقِهِ. ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ، وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ﴾
“Allah berfirman: ‘Ar-Raḫmânu ’ala al-’Arsyi istawâ.’ Segala yang tinggi disebut langit, dan Arsy adalah langit yang paling tinggi. Allah (istawâ) atas Arsy sebagaimana Dia kabarkan, tanpa kaifiyyah, berbeda dari makhluk-Nya, dan tidak bersentuhan dengan makhluk-Nya. ‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.’”
— al-Imam al-Baihaqî, Manâqib asy-Syâfi’î, Maktabah Dâr at-Turâts, Mesir, jil. 1, hlm. 397
كَمَا أَخْبَرَ بِلَا كَيْفٍ
Lafaz istawâ diimani apa adanya, tanpa sifat makhluk seperti duduk atau menetap.
بَائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ
Allah tidak menyatu dan tidak serupa dengan makhluk-Nya.
غَيْرُ مُمَاسٍّ
Allah tidak menempel dan tidak berada pada Arsy maupun makhluk lain.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Penutup ucapan beliau: kaidah induk tanzîh dari QS Asy-Syûrâ [42]: 11.
قَالَ الإِمَامُ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الوَصِيَّة: وَاللهُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى بِلَا كَيْفٍ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ. انتهى. وَهَذَا مَذْهَبُ السَّلَفِ. فَتَفْوِيْضُ عِلْمِهَا إِلَى اللهِ تَعَالَى تَأْوِيْلٌ أَيْضًا لَكِنَّهُ إِجْمَالِيٌّ. وَهُوَ مَذْهَبُ السَّلَفِ فِي جَمِيْعِ الصِّفَاتِ الْمُتَشَابِهَاتِ. وَاخْتَارَهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ
al-Imam Abû Ḫanîfah berkata dalam al-Washiyyah: “Allah istawâ atas Arsy tanpa kaifiyyah, tanpa Dia membutuhkannya dan tanpa bertempat di atasnya.” Inilah mazhab salaf: menyerahkan ilmunya kepada Allah (tafwîdh), yang juga merupakan takwil, tetapi takwil ijmâlî. Itulah manhaj salaf pada seluruh sifat mutasyâbihât, dan dipilih oleh Mâlik, asy-Syâfi’î, dan Aḫmad bin Ḫanbal.
— Kamâluddîn al-Bayâdhî, Isyârât al-Marâm min ’Ibârât al-Imâm Abî Ḫanîfah an-Nu’mân, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, hlm. 156
قَالَ الإِمَامُ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: آمَنْتُ بِاللهِ وَبِمَا جَاءَ عَنِ اللهِ عَلَى مُرَادِ اللهِ، وَآمَنْتُ بِرَسُوْلِ اللهِ وَبِمَا جَاءَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ عَلَى مُرَادِ رَسُوْلِ اللهِ
“Aku beriman kepada Allah dan kepada apa yang datang dari Allah sesuai maksud Allah (tafwîdh al-ma’nâ). Aku beriman kepada Rasulullah dan kepada apa yang datang dari Rasulullah sesuai maksud Rasulullah.”
— Ibnu Qudâmah, Lum’at al-I’tiqâd, Wizârat asy-Syu’ûn al-Islâmiyyah wa al-Auqâf wa ad-Da’wah wa al-Irsyâd, Arab Saudi, hlm. 7
آمَنْتُ
lafaznya diimani
عَلَى مُرَادِ اللهِ
maknanya menurut kehendak Allah
بِلَا تَعْيِيْنٍ
tanpa memastikan makna tertentu
Tafwîdh disebut juga takwil global: lafaz dipalingkan dari makna lahiriah yang jasmani, tanpa menentukan makna tertentu.
Ucapan “’alâ murâdillâh” adalah rumusan ringkas manhaj ini, yang juga dipilih Imam Mâlik dan Aḫmad bin Ḫanbal.
Meyakini Allah berarah dan berjism dihukumi kufur; tauhid adalah mengakui lemahnya akal menjangkau hakikat-Nya.
وَاعْلَمْ أَنَّ القَرَافِيَّ وَغَيْرَهُ حَكَوْا عَنِ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَأَحْمَدَ وَأَبِي حَنِيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ القَوْلَ بِكُفْرِ القَائِلِيْنَ بِالجِهَةِ وَالتَّجْسِيْمِ، وَهُمْ حَقِيْقُوْنَ بِذَلِكَ
“Ketahuilah, al-Qarâfî dan ulama lainnya meriwayatkan dari asy-Syâfi’î, Mâlik, Aḫmad, dan Abû Ḫanîfah radhiyallâhu ’anhum pendapat tentang kufurnya orang yang mengatakan Allah berada di suatu arah (jihah) dan Allah berupa jism (tajsîm); dan mereka memang layak dihukumi demikian.”
— Ibnu Ḫajar al-Haitamî, al-Minhâj al-Qawîm Syarḫ al-Muqaddimah al-Ḫadhramiyyah, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, hlm. 144
قَالَ الشَّافِعِيُّ: لَا يَكْفُرُ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِ القِبْلَةِ، وَاسْتُثْنِيَ مِنْ ذَلِكَ الْمُجَسِّمُ
“Imam asy-Syâfi’î berkata: Tidak dikafirkan seorang pun dari ahlul kiblat. Dan dikecualikan dari itu: al-mujassim (orang yang meyakini Allah berbentuk dan berukuran).”
— Jalâluddîn as-Suyûthî, al-Asybâh wa an-Nazhâ’ir, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, hlm. 488
Orang yang shalat menghadap kiblat tidak mudah dikafirkan karena perbedaan pendapat.
Meyakini Allah berbentuk dan berukuran menyalahi pokok tanzîh, sehingga dikecualikan dari kaidah ini.
قَالَ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَنِ انْتَهَضَ لِطَلَبِ مُدَبِّرِهِ فَانْتَهَى إِلَى مَوْجُوْدٍ يَنْتَهِيْ إِلَيْهِ فِكْرُهُ فَهُوَ مُشَبِّهٌ، وَإِنِ اطْمَأَنَّ إِلَى العَدَمِ الصِّرْفِ فَهُوَ مُعَطِّلٌ، وَإِنِ اطْمَأَنَّ إِلَى مَوْجُوْدٍ وَاعْتَرَفَ بِالعَجْزِ عَنْ إِدْرَاكِهِ فَهُوَ مُوَحِّدٌ
“Siapa yang bangkit mencari Pengatur dirinya lalu berhenti pada suatu wujud yang dibayangkan pikirannya, ia adalah musyabbih. Jika ia merasa puas dengan ketiadaan murni, ia adalah mu’aththil. Dan jika ia merasa tenang dengan adanya Dzat yang wujud, seraya mengakui ketidakmampuannya menjangkau hakikat-Nya, ia adalah muwaḫḫid.”
— Badruddîn az-Zarkasyî, Tasynîf al-Masâmi’ bi Jam’ al-Jawâmi’, al-Maktabah al-Qurthubah, Mesir, jil. 4, hlm. 643
مُشَبِّهٌ
Menyerupakan Allah dengan makhluk
مُعَطِّلٌ
Meniadakan Allah atau sifat-sifat-Nya
مُوَحِّدٌ
Mentauhidkan Allah dengan benar
Empat butir pokok yang dirangkum dari ibarat-ibarat di atas.
Allah tidak di bumi, tidak di atas langit, tidak di atas Arsy, dan tidak di mana-mana. Maha Suci Allah dari tempat dan arah. Tidak ada yang mengetahui hakikat Allah kecuali Allah.
Allah istawâ atas Arsy, tetapi maknanya bukan berada di atas Arsy. Hanya Allah yang mengetahui hakikat makna istawâ.
Adanya Allah bukan berupa bentuk atau ukuran, bukan kecil dan bukan besar, tidak di suatu tempat dan tidak di suatu arah. Tidak ada yang mengetahui hakikat Allah kecuali Allah.
Allah tidak bisa dibayangkan, dikhayalkan, dan digambarkan dalam benak. Apa pun yang terbayang dalam pikiranmu, Allah tidak seperti itu.
آمَنْتُ بِاللهِ وَبِمَا جَاءَ عَنِ اللهِ عَلَى مُرَادِ اللهِ
“Aku beriman kepada Allah dan kepada apa yang datang dari Allah sesuai maksud Allah.” (al-Imam asy-Syâfi’î)
Wallâhu a’lam bish-shawâb
Putar HP ke posisi mendatar agar slide memenuhi layar