Mengenal akidah Imam Dâr al-Hijrah (w. 179 H) dari riwayat para ulama
Imam Dâr al-Hijrah, penyusun al-Muwaththa’
Isyarat Imam Mâlik dari hadis Nabi Yûnus
Jawaban masyhur: al-istiwâ’ ghairu majhûl
Takwil ijmâlî, jalan para salaf
Hukum meyakini Allah berarah dan berjism
Lima butir akidah tanzîh
Mâlik bin Anas al-Ashbaḫî, lahir di Madinah tahun 93 H dan wafat di sana tahun 179 H.
Guru al-Imam asy-Syâfi’î; perintis mazhab Mâlikî yang tersebar di Hijaz, Maghrib, dan Andalusia.
Kitab hadis dan fikih karyanya; sikap akidahnya diriwayatkan murid-muridnya dan dinukil para ulama.
Isyarat Imam Mâlik dari sabda Nabi: “Janganlah kalian mengutamakan aku atas Yûnus.”
لَمَّا تَكَلَّمَ الإِمَامُ نَاصِرُ الدِّيْنِ بْنُ الْمُنَيِّرِ الْمَالِكِيُّ عَلَى الجِهَةِ وَقَرَّرَ نَفْيَهَا قَالَ: "وَلِهَذَا الْمَعْنَى أَشَارَ الإِمَامُ مَالِكٌ بْنُ أَنَسٍ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَا تُفَضِّلُوْنِي عَلَى يُوْنُسَ". فَقَالَ مَالِكٌ: "إِنَّمَا خَصَّ يُوْنُسَ عَلَى التَّنْزِيْهِ
“Ketika al-Imam Nâshiruddîn bin al-Munayyir al-Mâlikî membahas masalah arah (al-jihah) dan menegaskan peniadaannya, beliau berkata: ‘Kepada makna inilah al-Imam Mâlik bin Anas memberi isyarat ketika menjelaskan sabda Nabi ﷺ: Janganlah kalian mengutamakan aku atas Yûnus. Imam Mâlik berkata: Nabi Yûnus disebut secara khusus untuk menegaskan kesucian Allah (dari arah dan tempat).’”
— Taqiyyuddîn as-Subkî, as-Saif ash-Shaqîl fî ar-Radd ’alâ Ibn Zafîl, al-Maktabah al-Azhariyyah, Mesir, hlm. 40–41
لِأَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُفِعَ إِلَى العَرْشِ، وَيُوْنُسُ عَلَيْهِ السَّلَامُ هُبِطَ إِلَى قَابُوْسِ البَحْرِ، وَنِسْبَتُهُمَا مَعَ ذَلِكَ مِنْ حَيْثُ الجِهَةُ إِلَى اللهِ تَعَالَى نِسْبَةٌ وَاحِدَةٌ، وَلَوْ كَانَ الفَضْلُ بِالْمَكَانِ لَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَبَ مِنْ يُوْنُسَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مَكَانًا، وَلَمَا نَهَى عَنْ ذَلِكَ"
“Sebab Nabi ﷺ diangkat hingga ke Arsy, sedangkan Nabi Yûnus ’alaihissalâm diturunkan ke dasar lautan. Meski demikian, nisbat keduanya kepada Allah dari sisi arah adalah satu dan sama. Seandainya keutamaan itu ditentukan oleh tempat, tentu Nabi ﷺ lebih dekat tempatnya daripada Yûnus, dan beliau tidak akan melarang hal itu.”
— Taqiyyuddîn as-Subkî, as-Saif ash-Shaqîl, hlm. 40–41
رُفِعَ إِلَى العَرْشِ
Mi’raj: diangkat hingga dekat Arsy, tempat paling tinggi
هُبِطَ إِلَى قَابُوْسِ البَحْرِ
Di perut ikan, di dasar lautan, tempat paling rendah
نِسْبَةٌ وَاحِدَةٌ
Yang tinggi tidak lebih dekat kepada Allah karena tempatnya, dan yang rendah tidak lebih jauh karena tempatnya.
Kedekatan kepada Allah adalah kedekatan kemuliaan dan ketaatan, bukan jarak.
Keutamaan dan kedekatan kepada Allah ditentukan oleh tempat.
Nabi ﷺ yang di dekat Arsy pasti lebih dekat daripada Yûnus di dasar laut.
Nabi ﷺ justru melarang mengutamakan diri beliau atas Yûnus.
Allah tidak berada di arah mana pun; kedekatan kepada-Nya bukan kedekatan tempat.
Ketika ditanya “bagaimana istawâ-Nya?”, Imam Mâlik menunduk hingga berkeringat, lalu menjawab dengan empat kalimat.
عَنْ يَحْيَى بْنِ يَحْيَى يَقُوْلُ: كُنَّا عِنْدَ مَالِكٍ بْنِ أَنَسٍ فَجَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ، ﴿الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى﴾ فَكَيْفَ اِسْتَوَى؟ فَأَطْرَقَ مَالِكٌ بِرَأْسِهِ حَتَّى عَلَاهُ الرَّحْضَاءُ. ثُمَّ قَالَ: الاِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَالكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَالإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ
“Yaḫyâ bin Yaḫyâ berkata: Kami sedang bersama Mâlik bin Anas. Lalu datang seorang laki-laki dan berkata: Wahai Abû ’Abdillâh, ‘Ar-Raḫmânu ’ala al-’Arsyi istawâ’, bagaimana Dia istawâ? Imam Mâlik menundukkan kepala hingga keringat bercucuran, lalu berkata: Istiwâ’ itu tidak majhûl, kaif itu tidak masuk akal, mengimaninya wajib, dan menanyakannya bid’ah.”
— al-Imam al-Baihaqî, al-Asmâ’ wa ash-Shifât, Maktabah as-Sawâdî, Arab Saudi, jil. 2, hlm. 305
الاِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ
Sifat istawâ disebut dalam Al-Qur’an, sehingga keberadaannya diketahui.
وَالكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ
Kaifiyyah, yakni sifat makhluk seperti bertempat atau berarah, mustahil dan harus ditiadakan dari Allah.
وَالإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ
Lafaz istawâ diimani sebagaimana Allah firmankan, tanpa diingkari.
وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ
Bertanya tentang hakikat dan “bagaimana”-nya istawâ termasuk perbuatan bid’ah.
Istawâ tanpa kaifiyyah, tanpa membutuhkan Arsy, dan tanpa bertempat di atasnya.
قَالَ الإِمَامُ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الوَصِيَّة: وَاللهُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى بِلَا كَيْفٍ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ. انتهى. وَهَذَا مَذْهَبُ السَّلَفِ. فَتَفْوِيْضُ عِلْمِهَا إِلَى اللهِ تَعَالَى تَأْوِيْلٌ أَيْضًا لَكِنَّهُ إِجْمَالِيٌّ. وَهُوَ مَذْهَبُ السَّلَفِ فِي جَمِيْعِ الصِّفَاتِ الْمُتَشَابِهَاتِ. وَاخْتَارَهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ
al-Imam Abû Ḫanîfah berkata dalam al-Washiyyah: “Allah istawâ atas Arsy tanpa kaifiyyah, tanpa Dia membutuhkannya dan tanpa bertempat di atasnya.” Inilah mazhab salaf: menyerahkan ilmunya kepada Allah (tafwîdh), yang juga merupakan takwil, tetapi takwil ijmâlî. Itulah manhaj salaf pada seluruh sifat mutasyâbihât, dan dipilih oleh Mâlik, asy-Syâfi’î, dan Aḫmad bin Ḫanbal.
— Kamâluddîn al-Bayâdhî, Isyârât al-Marâm min ’Ibârât al-Imâm Abî Ḫanîfah an-Nu’mân, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, hlm. 156
Tafwîdh disebut juga takwil global: lafaz dipalingkan dari makna lahiriah yang jasmani, tanpa menentukan makna tertentu.
Empat kalimat beliau tentang istawâ adalah rumusan ringkas manhaj ini, yang juga dipilih asy-Syâfi’î dan Aḫmad bin Ḫanbal.
Para imam mazhab, termasuk Imam Mâlik, dinukil menghukumi kufur keyakinan jihah dan tajsîm.
وَاعْلَمْ أَنَّ القَرَافِيَّ وَغَيْرَهُ حَكَوْا عَنِ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَأَحْمَدَ وَأَبِي حَنِيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ القَوْلَ بِكُفْرِ القَائِلِيْنَ بِالجِهَةِ وَالتَّجْسِيْمِ، وَهُمْ حَقِيْقُوْنَ بِذَلِكَ
“Ketahuilah, al-Qarâfî dan ulama lainnya meriwayatkan dari asy-Syâfi’î, Mâlik, Aḫmad, dan Abû Ḫanîfah radhiyallâhu ’anhum pendapat tentang kufurnya orang yang mengatakan Allah berada di suatu arah (jihah) dan Allah berupa jism (tajsîm); dan mereka memang layak dihukumi demikian.”
— Ibnu Ḫajar al-Haitamî, al-Minhâj al-Qawîm Syarḫ al-Muqaddimah al-Ḫadhramiyyah, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, hlm. 144
Lima butir pokok yang dirangkum dari ibarat-ibarat di atas.
Allah ada tanpa bentuk, ukuran, rupa, tempat, dan arah. Tidak ada yang mengetahui hakikat Allah kecuali Allah.
Allah tidak di bumi, tidak di atas langit, tidak di atas Arsy, dan tidak di mana-mana. Maha Suci Allah dari tempat dan arah.
Allah istawâ atas Arsy, tetapi maknanya bukan berada di atas Arsy; hakikat maknanya hanya Allah yang mengetahui.
Adanya Allah bukan berupa bentuk atau ukuran, bukan kecil dan bukan besar, tidak di suatu tempat dan tidak di suatu arah.
Allah tidak bisa dibayangkan, dikhayalkan, dan digambarkan dalam benak. Apa pun yang terbayang tentang Allah, Allah tidak seperti itu.
الاِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَالكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ
“Istiwâ’ itu diketahui, dan kaif itu tidak masuk akal.” (al-Imam Mâlik bin Anas)
Wallâhu a’lam bish-shawâb
Putar HP ke posisi mendatar agar slide memenuhi layar