عَقِيْدَةُ الإِمَامِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ
Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah

Akidah al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal

Mengenal akidah Imam Ahlussunnah (w. 241 H) dari riwayat para muridnya

Materi disusun oleh Muhammad Ajib Abu Aufa Adnan asy-Syâfi’î al-Asy’arî, Lc., MA.
Rujukan: al-Khallâl, ’Abdul Wâḫid at-Tamîmî, al-Bayâdhî, dan Ibnu Ḫajar al-Haitamî
Alur kajian

Peta Materi

A

Siapa Imam Aḫmad

Imam Ahlussunnah, penyusun al-Musnad

01

Bukan Jism & Esa

Allah keluar dari makna jism; Esa bukan bilangan

02

Istawâ tanpa Sentuhan

Tanpa mumâssah, tanpa batas, tanpa perubahan

03

Manhaj Tafwîdh

Takwil ijmâlî yang dipilih Imam Aḫmad

04

Arah & Jism

Hukum meyakini Allah berarah dan berjism

B

Kesimpulan

Enam butir akidah tanzîh

Akidah al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal (w. 241 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Pengantar

Mengenal al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal

★

Aḫmad bin Muḫammad

Aḫmad bin Muḫammad bin Ḫanbal asy-Syaibânî; lahir di Baghdad tahun 164 H dan wafat di sana tahun 241 H.

§

Murid asy-Syâfi’î

Belajar fikih kepada Imam asy-Syâfi’î; imam mazhab Ḫanbalî dan teladan dalam keteguhan memegang sunnah.

✎

al-Musnad

Kitab hadisnya yang besar. Akidahnya dihimpun murid-muridnya, seperti riwayat al-Khallâl dan at-Tamîmî.

Mengapa penting? Banyak orang menisbatkan diri kepada Imam Aḫmad dalam akidah. Maka ucapan beliau sendiri tentang jism dan istawâ perlu dibaca langsung.
Akidah al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal (w. 241 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Peta pembahasan

Tasyjîr: Pokok Akidah Imam Aḫmad

Tanzîh: Allah tidak serupa dengan makhluk
(لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ)
Dzat Allah
Bukan jism (ingkar tajsîm)
Esa bukan bilangan, tak terbagi
Istawâ atas Arsy
Tanpa mumâssah & mulâqâh
Tanpa batas sebelum/sesudah Arsy
Tafwîdh: takwil ijmâlî
Arah & Jism
Meyakini Allah berarah: kufur
Meyakini Allah berjism: kufur
Akidah al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal (w. 241 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
لَيْسَ كَمِثْلِهِ
01

Allah Bukan Jism dan Maha Esa

Imam Aḫmad mengingkari orang yang menyebut Allah jism, dan menegaskan Allah Esa bukan dari segi bilangan.

Ibarat 1 · I’tiqâd al-Imâm al-Munabbal

Imam Aḫmad Mengingkari Tajsîm

وَأَنْكَرَ الإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ عَلَى مَنْ يَقُوْلُ بِالجِسْمِ. وَقَالَ: إِنَّ الأَسْمَاءَ مَأْخُوْذَةٌ بِالشَّرِيْعَةِ وَاللُّغَةِ، وَأَهْلُ اللُّغَةِ وَضَعُوا هَذَا الاِسْمَ عَلَى كُلِّ ذِيْ طُوْلٍ وَعَرْضٍ وَسَمْكٍ وَتَرْكِيْبٍ وَصُوْرَةٍ وَتَأْلِيْفٍ. وَاللهُ تَعَالَى خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ. فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُسَمَّى جِسْمًا لِخُرُوْجِهِ عَنْ مَعْنَى الجِسْمِيَّةِ

“Imam Aḫmad bin Ḫanbal mengingkari orang yang mengatakan (Allah) jism. Beliau berkata: Nama-nama diambil dari syariat dan bahasa. Ahli bahasa menetapkan nama ini (jism) untuk segala yang memiliki panjang, lebar, tebal, susunan, rupa, dan rangkaian. Allah keluar dari semua itu. Maka Dia tidak boleh dinamai jism, karena Dia keluar dari makna kejisiman.”

— Abû Bakr al-Khallâl, al-’Aqîdah (riwayat al-Khallâl), Dâr Qutaibah, Damaskus, hlm. 111; ’Abdul Wâḫid at-Tamîmî, I’tiqâd al-Imâm al-Munabbal Abî ’Abdillâh Aḫmad bin Ḫanbal, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, hlm. 45

Akidah al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal (w. 241 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Penjelasan

Logika Imam Aḫmad: Makna Kata “Jism”

Jism menurut ahli bahasa

طُوْلٌ

panjang

عَرْضٌ

lebar

سَمْكٌ

tebal

تَرْكِيْبٌ

susunan

صُوْرَةٌ

rupa

تَأْلِيْفٌ

rangkaian

وَاللهُ تَعَالَى خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ

Allah keluar dari seluruh makna itu, sehingga Dia tidak boleh dinamai jism.

Kaidahnya: nama bagi Allah diambil dari syariat dan bahasa. Lafaz jism menurut bahasa bermakna benda bervolume dan tersusun, maka mustahil dinisbatkan kepada Allah, dan syariat pun tidak pernah menamai Allah dengannya.
Akidah al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal (w. 241 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Ibarat 2 · I’tiqâd al-Imâm al-Munabbal

Esa, Bukan dari Segi Bilangan

وَجُمْلَةُ اعْتِقَادِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي الَّذِيْ كَانَ يَذْهَبُ إِلَيْهِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى وَاحِدٌ لَا مِنْ عَدَدٍ، وَلَا يَجُوْزُ عَلَيْهِ التَّجَزُّؤُ وَلَا القِسْمَةُ

“Ringkasan akidah Aḫmad bin Ḫanbal radhiyallâhu ’anhu yang beliau pegang: bahwa Allah itu Esa bukan dari segi bilangan, dan tidak boleh bagi-Nya terbagi menjadi bagian-bagian (tajazzu’) dan tidak pula terpecah (qismah).”

— ’Abdul Wâḫid at-Tamîmî, I’tiqâd al-Imâm al-Munabbal Abî ’Abdillâh Aḫmad bin Ḫanbal, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, jil. 1, hlm. 14

لَا مِنْ عَدَدٍ

Esa bukan sebagai angka yang bisa ditambah

لَا تَجَزُّؤَ

Tidak tersusun dari bagian-bagian

وَلَا قِسْمَةَ

Tidak dapat dibagi; bukan bentuk dan ukuran

Akidah al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal (w. 241 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
لَيْسَ كَمِثْلِهِ
02

Istawâ atas Arsy Tanpa Sentuhan dan Tanpa Batas

Allah tidak bersentuhan dengan Arsy, tidak berubah, dan tidak dibatasi, baik sebelum maupun sesudah Arsy diciptakan.

Ibarat 3 · al-’Aqîdah riwayat al-Khallâl

Istawâ Bukan Bersentuhan atau Bertemu

وَكَانَ يَقُوْلُ: "وَلَا يَجُوْزُ أَنْ يُقَالَ اسْتَوَى بِمُمَاسَّةٍ وَلَا بِمُلَاقَاةٍ، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيْرًا. وَاللهُ تَعَالَى لَمْ يَلْحَقْهُ تَغَيُّرٌ وَلَا تَبَدُّلٌ، وَلَا تَلْحَقُهُ الحُدُوْدُ قَبْلَ خَلْقِ العَرْشِ وَلَا بَعْدَ خَلْقِ العَرْشِ"

“Beliau berkata: Tidak boleh dikatakan Allah istawâ dengan bersentuhan (mumâssah) atau dengan bertemu (mulâqâh) dengan Arsy. Maha Tinggi Allah dari yang demikian dengan setinggi-tingginya. Allah tidak mengalami perubahan dan pergantian, dan tidak diliputi batas-batas (ḫudûd: sisi, tempat, arah), baik sebelum Arsy diciptakan maupun sesudahnya.”

— Abû Bakr al-Khallâl, al-’Aqîdah (riwayat al-Khallâl), Dâr Qutaibah, Damaskus, hlm. 108; ’Abdul Wâḫid at-Tamîmî, I’tiqâd al-Imâm al-Munabbal, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, hlm. 38

Akidah al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal (w. 241 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Penjelasan

Empat Penafian dalam Ucapan Imam Aḫmad

لَا بِمُمَاسَّةٍ

Tanpa bersentuhan

Allah tidak menempel dan tidak duduk di atas Arsy.

وَلَا بِمُلَاقَاةٍ

Tanpa bertemu

Tidak ada pertemuan atau persambungan antara Allah dan Arsy.

لَا تَغَيُّرَ وَلَا تَبَدُّلَ

Tanpa perubahan

Penciptaan Arsy tidak mengubah apa pun pada Dzat dan sifat Allah.

لَا تَلْحَقُهُ الحُدُوْدُ

Tanpa batas

Allah tidak dibatasi sisi, tempat, atau arah, sebelum maupun sesudah Arsy ada.

Akidah al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal (w. 241 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Penjelasan

Sebelum dan Sesudah Arsy Diciptakan

Sebelum Arsy

Allah ada tanpa batas, tanpa tempat, tanpa arah.

Arsy diciptakan

Arsy adalah makhluk, diciptakan oleh Allah.

Sesudah Arsy

Allah tetap seperti sediakala: tidak berubah dan tidak dibatasi.

Jika Allah menempati Arsy setelah menciptakannya, berarti Dia berubah. Dan perubahan mustahil bagi Allah.

لَمْ يَلْحَقْهُ تَغَيُّرٌ وَلَا تَبَدُّلٌ

Akidah al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal (w. 241 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
لَيْسَ كَمِثْلِهِ
03

Manhaj Tafwîdh yang Dipilih Imam Aḫmad

Istawâ tanpa kaifiyyah; hakikat maknanya diserahkan kepada Allah.

Ibarat 4 · Isyârât al-Marâm

Tafwîdh: Mazhab Salaf yang Dipilih Imam Aḫmad

قَالَ الإِمَامُ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الوَصِيَّة: وَاللهُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى بِلَا كَيْفٍ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ. انتهى. وَهَذَا مَذْهَبُ السَّلَفِ. فَتَفْوِيْضُ عِلْمِهَا إِلَى اللهِ تَعَالَى تَأْوِيْلٌ أَيْضًا لَكِنَّهُ إِجْمَالِيٌّ. وَهُوَ مَذْهَبُ السَّلَفِ فِي جَمِيْعِ الصِّفَاتِ الْمُتَشَابِهَاتِ. وَاخْتَارَهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ

al-Imam Abû Ḫanîfah berkata dalam al-Washiyyah: “Allah istawâ atas Arsy tanpa kaifiyyah, tanpa Dia membutuhkannya dan tanpa bertempat di atasnya.” Inilah mazhab salaf: menyerahkan ilmunya kepada Allah (tafwîdh), yang juga merupakan takwil, tetapi takwil ijmâlî. Itulah manhaj salaf pada seluruh sifat mutasyâbihât, dan dipilih oleh Mâlik, asy-Syâfi’î, dan Aḫmad bin Ḫanbal.

— Kamâluddîn al-Bayâdhî, Isyârât al-Marâm min ’Ibârât al-Imâm Abî Ḫanîfah an-Nu’mân, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, hlm. 156

Akidah al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal (w. 241 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Penjelasan

Alur Tafwîdh dalam Ucapan Imam Aḫmad

Ayat mutasyâbih
الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى
1. Lafaz diimani
Istawâ ditetapkan sebagaimana datang
2. Makna jasmani dinafikan
لَا بِمُمَاسَّةٍ وَلَا بِمُلَاقَاةٍ
3. Tafwîdh
Hakikat makna diserahkan kepada Allah
≈

Takwil Ijmâlî

Tafwîdh disebut juga takwil global: lafaz dipalingkan dari makna lahiriah yang jasmani, tanpa menentukan makna tertentu.

✓

Jejak Imam Aḫmad

Penafian sentuhan, pertemuan, perubahan, dan batas adalah sisi tanzîh dari manhaj ini, yang juga dipilih Mâlik dan asy-Syâfi’î.

Akidah al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal (w. 241 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
لَيْسَ كَمِثْلِهِ
04

Meyakini Allah Berarah atau Berjism

Para imam mazhab, termasuk Imam Aḫmad, dinukil menghukumi kufur keyakinan jihah dan tajsîm.

Ibarat 5 · al-Minhâj al-Qawîm

Hukum Keyakinan Jihah dan Tajsîm

وَاعْلَمْ أَنَّ القَرَافِيَّ وَغَيْرَهُ حَكَوْا عَنِ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَأَحْمَدَ وَأَبِي حَنِيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ القَوْلَ بِكُفْرِ القَائِلِيْنَ بِالجِهَةِ وَالتَّجْسِيْمِ، وَهُمْ حَقِيْقُوْنَ بِذَلِكَ

“Ketahuilah, al-Qarâfî dan ulama lainnya meriwayatkan dari asy-Syâfi’î, Mâlik, Aḫmad, dan Abû Ḫanîfah radhiyallâhu ’anhum pendapat tentang kufurnya orang yang mengatakan Allah berada di suatu arah (jihah) dan Allah berupa jism (tajsîm); dan mereka memang layak dihukumi demikian.”

— Ibnu Ḫajar al-Haitamî, al-Minhâj al-Qawîm Syarḫ al-Muqaddimah al-Ḫadhramiyyah, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, hlm. 144

al-Jihah: meyakini Allah berada di suatu arah
at-Tajsîm: meyakini Allah berbentuk dan berukuran
Akidah al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal (w. 241 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
لَيْسَ كَمِثْلِهِ
B

Kesimpulan Akidah Imam Aḫmad

Enam butir pokok yang dirangkum dari ibarat-ibarat di atas.

Butir 1–3

Kesimpulan (1)

1

Ada tanpa kaifiyyah

Allah ada tanpa bentuk, ukuran, rupa, tempat, dan arah. Tidak ada yang mengetahui hakikat Allah kecuali Allah.

2

Tidak bertempat di mana pun

Allah tidak di bumi, tidak di atas langit, tidak di atas Arsy, dan tidak di mana-mana. Maha Suci Allah dari tempat dan arah.

3

Istawâ dengan tafwîdh al-ma’nâ

Allah istawâ atas Arsy, tetapi maknanya bukan berada di atas Arsy; hakikat maknanya hanya Allah yang mengetahui.

Akidah al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal (w. 241 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Butir 4–6

Kesimpulan (2)

4

Bukan jism, jauhar, ’aradh

Adanya Allah bukan berupa bentuk atau ukuran, bukan kecil dan bukan besar, tidak di suatu tempat dan tidak di suatu arah.

5

Esa berarti tidak serupa

Allah tidak sama dengan apa pun, baik dari segi Dzat maupun sifat; bukan bentuk kecil, besar, atau sangat besar. Itulah makna Allah Maha Esa.

6

Tak terjangkau bayangan

Allah tidak bisa dibayangkan, dikhayalkan, dan digambarkan dalam benak. Apa pun yang terbayang tentang Allah, Allah tidak seperti itu.

Akidah al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal (w. 241 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah

Penutup

وَاللهُ تَعَالَى خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ

“Allah keluar dari semua (sifat jism) itu.” (al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal)

Wallâhu a’lam bish-shawâb

Putar HP ke posisi mendatar agar slide memenuhi layar