Mengenal akidah Imam Ahlussunnah (w. 241 H) dari riwayat para muridnya
Imam Ahlussunnah, penyusun al-Musnad
Allah keluar dari makna jism; Esa bukan bilangan
Tanpa mumâssah, tanpa batas, tanpa perubahan
Takwil ijmâlî yang dipilih Imam Aḫmad
Hukum meyakini Allah berarah dan berjism
Enam butir akidah tanzîh
Aḫmad bin Muḫammad bin Ḫanbal asy-Syaibânî; lahir di Baghdad tahun 164 H dan wafat di sana tahun 241 H.
Belajar fikih kepada Imam asy-Syâfi’î; imam mazhab Ḫanbalî dan teladan dalam keteguhan memegang sunnah.
Kitab hadisnya yang besar. Akidahnya dihimpun murid-muridnya, seperti riwayat al-Khallâl dan at-Tamîmî.
Imam Aḫmad mengingkari orang yang menyebut Allah jism, dan menegaskan Allah Esa bukan dari segi bilangan.
وَأَنْكَرَ الإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ عَلَى مَنْ يَقُوْلُ بِالجِسْمِ. وَقَالَ: إِنَّ الأَسْمَاءَ مَأْخُوْذَةٌ بِالشَّرِيْعَةِ وَاللُّغَةِ، وَأَهْلُ اللُّغَةِ وَضَعُوا هَذَا الاِسْمَ عَلَى كُلِّ ذِيْ طُوْلٍ وَعَرْضٍ وَسَمْكٍ وَتَرْكِيْبٍ وَصُوْرَةٍ وَتَأْلِيْفٍ. وَاللهُ تَعَالَى خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ. فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُسَمَّى جِسْمًا لِخُرُوْجِهِ عَنْ مَعْنَى الجِسْمِيَّةِ
“Imam Aḫmad bin Ḫanbal mengingkari orang yang mengatakan (Allah) jism. Beliau berkata: Nama-nama diambil dari syariat dan bahasa. Ahli bahasa menetapkan nama ini (jism) untuk segala yang memiliki panjang, lebar, tebal, susunan, rupa, dan rangkaian. Allah keluar dari semua itu. Maka Dia tidak boleh dinamai jism, karena Dia keluar dari makna kejisiman.”
— Abû Bakr al-Khallâl, al-’Aqîdah (riwayat al-Khallâl), Dâr Qutaibah, Damaskus, hlm. 111; ’Abdul Wâḫid at-Tamîmî, I’tiqâd al-Imâm al-Munabbal Abî ’Abdillâh Aḫmad bin Ḫanbal, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, hlm. 45
طُوْلٌ
panjang
عَرْضٌ
lebar
سَمْكٌ
tebal
تَرْكِيْبٌ
susunan
صُوْرَةٌ
rupa
تَأْلِيْفٌ
rangkaian
وَاللهُ تَعَالَى خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ
Allah keluar dari seluruh makna itu, sehingga Dia tidak boleh dinamai jism.
وَجُمْلَةُ اعْتِقَادِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي الَّذِيْ كَانَ يَذْهَبُ إِلَيْهِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى وَاحِدٌ لَا مِنْ عَدَدٍ، وَلَا يَجُوْزُ عَلَيْهِ التَّجَزُّؤُ وَلَا القِسْمَةُ
“Ringkasan akidah Aḫmad bin Ḫanbal radhiyallâhu ’anhu yang beliau pegang: bahwa Allah itu Esa bukan dari segi bilangan, dan tidak boleh bagi-Nya terbagi menjadi bagian-bagian (tajazzu’) dan tidak pula terpecah (qismah).”
— ’Abdul Wâḫid at-Tamîmî, I’tiqâd al-Imâm al-Munabbal Abî ’Abdillâh Aḫmad bin Ḫanbal, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, jil. 1, hlm. 14
لَا مِنْ عَدَدٍ
Esa bukan sebagai angka yang bisa ditambah
لَا تَجَزُّؤَ
Tidak tersusun dari bagian-bagian
وَلَا قِسْمَةَ
Tidak dapat dibagi; bukan bentuk dan ukuran
Allah tidak bersentuhan dengan Arsy, tidak berubah, dan tidak dibatasi, baik sebelum maupun sesudah Arsy diciptakan.
وَكَانَ يَقُوْلُ: "وَلَا يَجُوْزُ أَنْ يُقَالَ اسْتَوَى بِمُمَاسَّةٍ وَلَا بِمُلَاقَاةٍ، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيْرًا. وَاللهُ تَعَالَى لَمْ يَلْحَقْهُ تَغَيُّرٌ وَلَا تَبَدُّلٌ، وَلَا تَلْحَقُهُ الحُدُوْدُ قَبْلَ خَلْقِ العَرْشِ وَلَا بَعْدَ خَلْقِ العَرْشِ"
“Beliau berkata: Tidak boleh dikatakan Allah istawâ dengan bersentuhan (mumâssah) atau dengan bertemu (mulâqâh) dengan Arsy. Maha Tinggi Allah dari yang demikian dengan setinggi-tingginya. Allah tidak mengalami perubahan dan pergantian, dan tidak diliputi batas-batas (ḫudûd: sisi, tempat, arah), baik sebelum Arsy diciptakan maupun sesudahnya.”
— Abû Bakr al-Khallâl, al-’Aqîdah (riwayat al-Khallâl), Dâr Qutaibah, Damaskus, hlm. 108; ’Abdul Wâḫid at-Tamîmî, I’tiqâd al-Imâm al-Munabbal, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, hlm. 38
لَا بِمُمَاسَّةٍ
Allah tidak menempel dan tidak duduk di atas Arsy.
وَلَا بِمُلَاقَاةٍ
Tidak ada pertemuan atau persambungan antara Allah dan Arsy.
لَا تَغَيُّرَ وَلَا تَبَدُّلَ
Penciptaan Arsy tidak mengubah apa pun pada Dzat dan sifat Allah.
لَا تَلْحَقُهُ الحُدُوْدُ
Allah tidak dibatasi sisi, tempat, atau arah, sebelum maupun sesudah Arsy ada.
Allah ada tanpa batas, tanpa tempat, tanpa arah.
Arsy adalah makhluk, diciptakan oleh Allah.
Allah tetap seperti sediakala: tidak berubah dan tidak dibatasi.
Jika Allah menempati Arsy setelah menciptakannya, berarti Dia berubah. Dan perubahan mustahil bagi Allah.
لَمْ يَلْحَقْهُ تَغَيُّرٌ وَلَا تَبَدُّلٌ
Istawâ tanpa kaifiyyah; hakikat maknanya diserahkan kepada Allah.
قَالَ الإِمَامُ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الوَصِيَّة: وَاللهُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى بِلَا كَيْفٍ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ. انتهى. وَهَذَا مَذْهَبُ السَّلَفِ. فَتَفْوِيْضُ عِلْمِهَا إِلَى اللهِ تَعَالَى تَأْوِيْلٌ أَيْضًا لَكِنَّهُ إِجْمَالِيٌّ. وَهُوَ مَذْهَبُ السَّلَفِ فِي جَمِيْعِ الصِّفَاتِ الْمُتَشَابِهَاتِ. وَاخْتَارَهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ
al-Imam Abû Ḫanîfah berkata dalam al-Washiyyah: “Allah istawâ atas Arsy tanpa kaifiyyah, tanpa Dia membutuhkannya dan tanpa bertempat di atasnya.” Inilah mazhab salaf: menyerahkan ilmunya kepada Allah (tafwîdh), yang juga merupakan takwil, tetapi takwil ijmâlî. Itulah manhaj salaf pada seluruh sifat mutasyâbihât, dan dipilih oleh Mâlik, asy-Syâfi’î, dan Aḫmad bin Ḫanbal.
— Kamâluddîn al-Bayâdhî, Isyârât al-Marâm min ’Ibârât al-Imâm Abî Ḫanîfah an-Nu’mân, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, hlm. 156
Tafwîdh disebut juga takwil global: lafaz dipalingkan dari makna lahiriah yang jasmani, tanpa menentukan makna tertentu.
Penafian sentuhan, pertemuan, perubahan, dan batas adalah sisi tanzîh dari manhaj ini, yang juga dipilih Mâlik dan asy-Syâfi’î.
Para imam mazhab, termasuk Imam Aḫmad, dinukil menghukumi kufur keyakinan jihah dan tajsîm.
وَاعْلَمْ أَنَّ القَرَافِيَّ وَغَيْرَهُ حَكَوْا عَنِ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَأَحْمَدَ وَأَبِي حَنِيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ القَوْلَ بِكُفْرِ القَائِلِيْنَ بِالجِهَةِ وَالتَّجْسِيْمِ، وَهُمْ حَقِيْقُوْنَ بِذَلِكَ
“Ketahuilah, al-Qarâfî dan ulama lainnya meriwayatkan dari asy-Syâfi’î, Mâlik, Aḫmad, dan Abû Ḫanîfah radhiyallâhu ’anhum pendapat tentang kufurnya orang yang mengatakan Allah berada di suatu arah (jihah) dan Allah berupa jism (tajsîm); dan mereka memang layak dihukumi demikian.”
— Ibnu Ḫajar al-Haitamî, al-Minhâj al-Qawîm Syarḫ al-Muqaddimah al-Ḫadhramiyyah, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, hlm. 144
Enam butir pokok yang dirangkum dari ibarat-ibarat di atas.
Allah ada tanpa bentuk, ukuran, rupa, tempat, dan arah. Tidak ada yang mengetahui hakikat Allah kecuali Allah.
Allah tidak di bumi, tidak di atas langit, tidak di atas Arsy, dan tidak di mana-mana. Maha Suci Allah dari tempat dan arah.
Allah istawâ atas Arsy, tetapi maknanya bukan berada di atas Arsy; hakikat maknanya hanya Allah yang mengetahui.
Adanya Allah bukan berupa bentuk atau ukuran, bukan kecil dan bukan besar, tidak di suatu tempat dan tidak di suatu arah.
Allah tidak sama dengan apa pun, baik dari segi Dzat maupun sifat; bukan bentuk kecil, besar, atau sangat besar. Itulah makna Allah Maha Esa.
Allah tidak bisa dibayangkan, dikhayalkan, dan digambarkan dalam benak. Apa pun yang terbayang tentang Allah, Allah tidak seperti itu.
وَاللهُ تَعَالَى خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ
“Allah keluar dari semua (sifat jism) itu.” (al-Imam Aḫmad bin Ḫanbal)
Wallâhu a’lam bish-shawâb
Putar HP ke posisi mendatar agar slide memenuhi layar