Mengenal akidah ulama salaf (w. 150 H) dari kitab dan syarahnya
Imam salaf, perintis mazhab Ḫanafî
Bukan jism, jauhar, ’aradh; Esa bukan bilangan
Allah ada sebelum ada tempat; melihat Allah tanpa arah
Istawâ tanpa kaifiyyah; manhaj salaf
Tanpa alat, huruf, dan suara
Enam butir akidah tanzîh
Lahir di Kufah tahun 80 H, wafat di Baghdad tahun 150 H. Digelari al-Imâm al-A’zham.
Hidup di masa tâbi’în; perintis mazhab fikih Ḫanafî yang dianut luas umat Islam.
Pernyataan akidahnya terhimpun dalam al-Fiqh al-Akbar dan al-Washiyyah, lalu disyarah para ulama.
Allah ada, tetapi tidak seperti segala yang ada: bukan jism, bukan jauhar, bukan ’aradh; Esa bukan dari segi bilangan.
وَهُوَ شَيْءٌ لَا كَالأَشْيَاءِ. وَمَعْنَى الشَّيْءِ الثَّابِتُ بِلَا جِسْمٍ وَلَا جَوْهَرٍ وَلَا عَرَضٍ، وَلَا حَدَّ لَهُ وَلَا ضِدَّ لَهُ وَلَا نِدَّ لَهُ وَلَا مِثْلَ لَهُ
“Allah adalah sesuatu yang ada, tetapi tidak seperti segala sesuatu. Makna ‘sesuatu’ adalah yang tetap ada, tanpa jism, tanpa jauhar, dan tanpa ’aradh; tidak ada batas (bentuk/ukuran) bagi-Nya, tidak ada lawan, tidak ada tandingan, dan tidak ada yang serupa dengan-Nya.”
— al-Imam Abû Ḫanîfah, al-Fiqh al-Akbar, Maktabah al-Furqân, Uni Emirat Arab, hlm. 26
Sesuatu yang tersusun, memiliki ukuran panjang, lebar dan dalam, serta menempati ruang.
Bagian terkecil dari benda yang tidak dapat dibagi lagi, namun tetap mengambil tempat.
Sifat yang menempel pada benda: warna, gerak, diam, bentuk, panas, dingin.
وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاحِدٌ لَا مِنْ طَرِيْقِ العَدَدِ، وَلَكِنْ مِنْ طَرِيْقِ أَنَّهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، لَا يُشْبِهُ شَيْئًا مِنَ الأَشْيَاءِ مِنْ خَلْقِهِ، وَلَا يُشْبِهُهُ شَيْءٌ مِنْ خَلْقِهِ، لَمْ يَزَلْ وَلَا يَزَالُ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ الذَّاتِيَّةِ وَالفِعْلِيَّةِ
“Allah itu Esa bukan dari segi bilangan, melainkan dari segi tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya. Dia tidak serupa dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya, dan tidak ada makhluk yang serupa dengan-Nya. Dia senantiasa ada, sejak azali dan selamanya, dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, baik dzâtiyyah maupun fi’liyyah.”
— al-Imam Abû Ḫanîfah, al-Fiqh al-Akbar, Maktabah al-Furqân, Dubai, hlm. 14
Satu yang bisa ditambah menjadi dua, dibagi, atau menjadi bagian dari suatu jumlah.
Esa pada Dzat, sifat, dan perbuatan-Nya: tidak ada yang menyamai-Nya dari segi apa pun.
لَا شَرِيْكَ لَهُ
Tiada sekutu
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ
Tidak beranak & tidak diperanakkan
لَا يُشْبِهُ شَيْئًا
Tidak serupa dengan makhluk
Allah telah ada sebelum ada tempat, dan tetap seperti sediakala setelah menciptakannya.
قَالَ الإِمَامُ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى: "لَا يُوْصَفُ اللهُ تَعَالَى بِصِفَاتِ الْمَخْلُوْقِيْنَ. أَرَأَيْتَ لَوْ قِيْلَ أَيْنَ اللهُ تَعَالَى؟ فَيُقَالُ لَهُ: كَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَا مَكَانَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الخَلْقَ، وَكَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَكُنْ أَيْنَ وَلَا خَلْقٌ وَلَا شَيْءٌ، وَهُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ"
“Allah tidak boleh disifati dengan sifat-sifat makhluk. Bagaimana pendapatmu jika ditanyakan: di mana Allah? Maka dijawab: Allah telah ada tanpa tempat sebelum menciptakan makhluk; Allah telah ada ketika belum ada ‘di mana’, belum ada makhluk, dan belum ada sesuatu pun. Dialah Pencipta segala sesuatu.”
— Abû Bakr al-Aḫsâ’î, Maslak ats-Tsiqât fî Nushûsh ash-Shifât, Dâr al-Hudâ, Damaskus, hlm. 65–68
وَقَالَ: "مَنْ قَالَ لَا أَعْرِفُ اللهَ فِي السَّمَاءِ أَوْ فِي الأَرْضِ فَقَدْ كَفَرَ". لِأَنَّ هَذَا القَوْلَ يُوْهِمُ أَنَّ لِلْحَقِّ مَكَانًا، وَمَنْ تَوَهَّمَ أَنَّ لِلْحَقِّ مَكَانًا فَهُوَ مُشَبِّهٌ
“Beliau juga berkata: ‘Siapa yang mengatakan: Aku tidak tahu apakah Allah di langit atau di bumi, maka ia telah kafir.’ Sebab ucapan itu mengesankan bahwa Allah memiliki tempat, dan siapa yang meyakini Allah memiliki tempat, ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk).”
— Abû Bakr al-Aḫsâ’î, Maslak ats-Tsiqât fî Nushûsh ash-Shifât, hlm. 65–68
Sebelum ada makhluk, Allah sudah ada, tanpa tempat dan tanpa “di mana”.
Ruang, arah, langit, dan Arsy semuanya diciptakan Allah, sehingga baru (ḫâdits).
Setelah mencipta, Allah tetap seperti sediakala: tidak membutuhkan dan tidak menempati makhluk-Nya.
Kalimat kunci dari ibarat Abû Ḫanîfah:
كَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَا مَكَانَ
قَالَ الإِمَامُ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الوَصِيَّةِ: وَلِقَاءُ اللهِ تَعَالَى لِأَهْلِ الجَنَّةِ حَقٌّ بِلَا كَيْفٍ وَلَا تَشْبِيْهٍ وَلَا جِهَةٍ
“Bertemu dengan Allah bagi penduduk surga adalah benar (pasti), tanpa kaifiyyah (tanpa bentuk, ukuran, dan rupa), tanpa menyerupakan dengan makhluk, dan tanpa arah.”
— Akmaluddîn al-Bâbartî al-Ḫanafî, Syarḫ Washiyyat al-Imâm Abî Ḫanîfah, Dâr al-Fatḫ, Beirut, hlm. 132
بِلَا كَيْفٍ
tanpa bentuk & ukuran
وَلَا تَشْبِيْهٍ
tanpa penyerupaan
وَلَا جِهَةٍ
tanpa arah
Allah istawâ atas Arsy tanpa kaifiyyah, tanpa membutuhkan, dan tanpa bertempat di atasnya.
قَالَ الإِمَامُ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الوَصِيَّة: وَاللهُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى بِلَا كَيْفٍ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ. انتهى. وَهَذَا مَذْهَبُ السَّلَفِ. فَتَفْوِيْضُ عِلْمِهَا إِلَى اللهِ تَعَالَى تَأْوِيْلٌ أَيْضًا لَكِنَّهُ إِجْمَالِيٌّ. وَهُوَ مَذْهَبُ السَّلَفِ فِي جَمِيْعِ الصِّفَاتِ الْمُتَشَابِهَاتِ. وَاخْتَارَهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ
“Allah istawâ atas Arsy tanpa kaifiyyah, tanpa Dia membutuhkannya dan tanpa bertempat di atasnya.” Inilah mazhab salaf: menyerahkan ilmunya kepada Allah (tafwîdh), yang juga merupakan takwil, tetapi takwil ijmâlî. Itulah manhaj salaf pada seluruh sifat mutasyâbihât, dan dipilih oleh Mâlik, asy-Syâfi’î, dan Aḫmad bin Ḫanbal.
— Kamâluddîn al-Bayâdhî, Isyârât al-Marâm min ’Ibârât al-Imâm Abî Ḫanîfah an-Nu’mân, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, hlm. 156
Tafwîdh disebut juga takwil global: lafaz dipalingkan dari makna lahiriah yang jasmani, tanpa menentukan makna tertentu.
Ditempuh pada seluruh sifat mutasyâbihât; dipilih oleh Imam Mâlik, asy-Syâfi’î, dan Aḫmad bin Ḫanbal.
وَاعْلَمْ أَنَّ القَرَافِيَّ وَغَيْرَهُ حَكَوْا عَنِ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَأَحْمَدَ وَأَبِي حَنِيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ القَوْلَ بِكُفْرِ القَائِلِيْنَ بِالجِهَةِ وَالتَّجْسِيْمِ، وَهُمْ حَقِيْقُوْنَ بِذَلِكَ
“Ketahuilah, al-Qarâfî dan ulama lainnya meriwayatkan dari asy-Syâfi’î, Mâlik, Aḫmad, dan Abû Ḫanîfah radhiyallâhu ’anhum pendapat tentang kufurnya orang yang mengatakan Allah berada di suatu arah (jihah) dan Allah berupa jism (tajsîm); dan mereka memang layak dihukumi demikian.”
— Ibnu Ḫajar al-Haitamî, al-Minhâj al-Qawîm Syarḫ al-Muqaddimah al-Ḫadhramiyyah, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, hlm. 144
Kita berbicara dengan alat dan huruf; Allah berkalam tanpa alat dan tanpa huruf.
وَنَحْنُ نَتَكَلَّمُ بِالآلَاتِ وَالحُرُوْفِ. وَاللهُ تَعَالَى يَتَكَلَّمُ بِلَا آلَةٍ وَلَا حُرُوْفٍ. وَالحُرُوْفُ مَخْلُوْقَةٌ، وَكَلَامُ اللهِ تَعَالَى غَيْرُ مَخْلُوْقٍ
“Kita berbicara dengan alat-alat (mulut, lidah, bibir) dan huruf-huruf. Sedangkan Allah berkalam tanpa alat dan tanpa huruf. Huruf-huruf itu makhluk, adapun Kalam Allah bukan makhluk.”
— al-Imam Abû Ḫanîfah, al-Fiqh al-Akbar, Maktabah al-Furqân, Uni Emirat Arab, hlm. 26
| Aspek | Kalam makhluk | Kalam Allah |
|---|---|---|
| Alat | Mulut, lidah, bibir, tenggorokan | Tanpa alat apa pun |
| Huruf & suara | Tersusun dari huruf dan bunyi | Tanpa huruf, tanpa suara |
| Bahasa | Terikat bahasa tertentu | Tidak terikat bahasa |
| Status | Makhluk: baru dan berawal | Sifat Allah: bukan makhluk, azali |
Enam butir pokok yang dirangkum dari ibarat-ibarat di atas.
Allah ada tanpa bentuk, ukuran, rupa, tempat, dan arah. Tidak ada yang mengetahui hakikat Allah kecuali Allah.
Allah tidak di bumi, tidak di atas langit, tidak di atas Arsy, dan tidak di mana-mana. Maha Suci Allah dari tempat dan arah.
Allah istawâ atas Arsy, tetapi maknanya bukan berada di atas Arsy; hakikat maknanya hanya Allah yang mengetahui.
Adanya Allah bukan berupa bentuk atau ukuran, bukan kecil dan bukan besar, tidak di suatu tempat dan tidak di suatu arah.
Allah tidak sama dengan apa pun, baik dari segi Dzat maupun sifat. Itulah makna Allah Maha Esa.
Allah tidak bisa dibayangkan dan digambarkan dalam benak. Apa pun yang terbayang tentang Allah, Allah tidak seperti itu.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Asy-Syûrâ [42]: 11)
Wallâhu a’lam bish-shawâb
Putar HP ke posisi mendatar agar slide memenuhi layar