عَقِيْدَةُ الإِمَامِ أَبِيْ حَنِيْفَةَ
Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah

Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah

Mengenal akidah ulama salaf (w. 150 H) dari kitab dan syarahnya

Materi disusun oleh Muhammad Ajib Abu Aufa Adnan asy-Syâfi’î al-Asy’arî, Lc., MA.
Sumber utama: al-Fiqh al-Akbar dan al-Washiyyah
Alur kajian

Peta Materi

A

Siapa Abû Ḫanîfah

Imam salaf, perintis mazhab Ḫanafî

01

Dzat & Keesaan Allah

Bukan jism, jauhar, ’aradh; Esa bukan bilangan

02

Tanpa Tempat & Arah

Allah ada sebelum ada tempat; melihat Allah tanpa arah

03

Istawâ & Tafwîdh

Istawâ tanpa kaifiyyah; manhaj salaf

04

Kalam Allah

Tanpa alat, huruf, dan suara

B

Kesimpulan

Enam butir akidah tanzîh

Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Pengantar

Mengenal al-Imam Abû Ḫanîfah

★

an-Nu’mân bin Tsâbit

Lahir di Kufah tahun 80 H, wafat di Baghdad tahun 150 H. Digelari al-Imâm al-A’zham.

§

Imam Salaf

Hidup di masa tâbi’în; perintis mazhab fikih Ḫanafî yang dianut luas umat Islam.

✎

Karya Akidah

Pernyataan akidahnya terhimpun dalam al-Fiqh al-Akbar dan al-Washiyyah, lalu disyarah para ulama.

Mengapa penting? Akidah beliau adalah saksi dari generasi salaf: bagaimana ulama terdahulu mensucikan Allah dari sifat-sifat makhluk.
Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Peta pembahasan

Tasyjîr: Pokok Akidah Abû Ḫanîfah

Tanzîh: Allah tidak serupa dengan makhluk
(لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ)
Dzat Allah
Bukan jism, jauhar, ’aradh
Esa bukan dari segi bilangan
Tempat & Arah
Ada tanpa tempat, tanpa arah
Istawâ tanpa kaifiyyah (tafwîdh)
Meyakini arah/jism: kufur
Sifat Kalam
Tanpa alat & huruf
Kalam Allah bukan makhluk
Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
لَيْسَ كَمِثْلِهِ
01

Dzat dan Keesaan Allah

Allah ada, tetapi tidak seperti segala yang ada: bukan jism, bukan jauhar, bukan ’aradh; Esa bukan dari segi bilangan.

Ibarat 1 · al-Fiqh al-Akbar

Allah Bukan Jism, Bukan Jauhar, Bukan ’Aradh

وَهُوَ شَيْءٌ لَا كَالأَشْيَاءِ. وَمَعْنَى الشَّيْءِ الثَّابِتُ بِلَا جِسْمٍ وَلَا جَوْهَرٍ وَلَا عَرَضٍ، وَلَا حَدَّ لَهُ وَلَا ضِدَّ لَهُ وَلَا نِدَّ لَهُ وَلَا مِثْلَ لَهُ

“Allah adalah sesuatu yang ada, tetapi tidak seperti segala sesuatu. Makna ‘sesuatu’ adalah yang tetap ada, tanpa jism, tanpa jauhar, dan tanpa ’aradh; tidak ada batas (bentuk/ukuran) bagi-Nya, tidak ada lawan, tidak ada tandingan, dan tidak ada yang serupa dengan-Nya.”

— al-Imam Abû Ḫanîfah, al-Fiqh al-Akbar, Maktabah al-Furqân, Uni Emirat Arab, hlm. 26

Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Penjelasan

Memahami Tiga Istilah Kalam

■

Jism

Sesuatu yang tersusun, memiliki ukuran panjang, lebar dan dalam, serta menempati ruang.

●

Jauhar

Bagian terkecil dari benda yang tidak dapat dibagi lagi, namun tetap mengambil tempat.

◐

’Aradh

Sifat yang menempel pada benda: warna, gerak, diam, bentuk, panas, dingin.

Seluruh alam terdiri dari jism, jauhar, dan ’aradh. Menafikan ketiganya dari Allah berarti menegaskan: Allah bukan bagian dari alam dan tidak serupa dengannya.
Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Ibarat 2 · al-Fiqh al-Akbar

Esa, Bukan dari Segi Bilangan

وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاحِدٌ لَا مِنْ طَرِيْقِ العَدَدِ، وَلَكِنْ مِنْ طَرِيْقِ أَنَّهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، لَا يُشْبِهُ شَيْئًا مِنَ الأَشْيَاءِ مِنْ خَلْقِهِ، وَلَا يُشْبِهُهُ شَيْءٌ مِنْ خَلْقِهِ، لَمْ يَزَلْ وَلَا يَزَالُ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ الذَّاتِيَّةِ وَالفِعْلِيَّةِ

“Allah itu Esa bukan dari segi bilangan, melainkan dari segi tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya. Dia tidak serupa dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya, dan tidak ada makhluk yang serupa dengan-Nya. Dia senantiasa ada, sejak azali dan selamanya, dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, baik dzâtiyyah maupun fi’liyyah.”

— al-Imam Abû Ḫanîfah, al-Fiqh al-Akbar, Maktabah al-Furqân, Dubai, hlm. 14

Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Penjelasan

Makna “Esa” menurut Abû Ḫanîfah

Bukan

Satu sebagai angka

Satu yang bisa ditambah menjadi dua, dibagi, atau menjadi bagian dari suatu jumlah.

Melainkan

Tiada sekutu, tiada serupa

Esa pada Dzat, sifat, dan perbuatan-Nya: tidak ada yang menyamai-Nya dari segi apa pun.

لَا شَرِيْكَ لَهُ

Tiada sekutu

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ

Tidak beranak & tidak diperanakkan

لَا يُشْبِهُ شَيْئًا

Tidak serupa dengan makhluk

Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
لَيْسَ كَمِثْلِهِ
02

Allah Ada Tanpa Tempat dan Tanpa Arah

Allah telah ada sebelum ada tempat, dan tetap seperti sediakala setelah menciptakannya.

Ibarat 3 · Maslak ats-Tsiqât

“Di Mana Allah?”

قَالَ الإِمَامُ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى: "لَا يُوْصَفُ اللهُ تَعَالَى بِصِفَاتِ الْمَخْلُوْقِيْنَ. أَرَأَيْتَ لَوْ قِيْلَ أَيْنَ اللهُ تَعَالَى؟ فَيُقَالُ لَهُ: كَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَا مَكَانَ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الخَلْقَ، وَكَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَكُنْ أَيْنَ وَلَا خَلْقٌ وَلَا شَيْءٌ، وَهُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ"

“Allah tidak boleh disifati dengan sifat-sifat makhluk. Bagaimana pendapatmu jika ditanyakan: di mana Allah? Maka dijawab: Allah telah ada tanpa tempat sebelum menciptakan makhluk; Allah telah ada ketika belum ada ‘di mana’, belum ada makhluk, dan belum ada sesuatu pun. Dialah Pencipta segala sesuatu.”

— Abû Bakr al-Aḫsâ’î, Maslak ats-Tsiqât fî Nushûsh ash-Shifât, Dâr al-Hudâ, Damaskus, hlm. 65–68

Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Ibarat 3 · lanjutan

Ragu “di Langit atau di Bumi”

وَقَالَ: "مَنْ قَالَ لَا أَعْرِفُ اللهَ فِي السَّمَاءِ أَوْ فِي الأَرْضِ فَقَدْ كَفَرَ". لِأَنَّ هَذَا القَوْلَ يُوْهِمُ أَنَّ لِلْحَقِّ مَكَانًا، وَمَنْ تَوَهَّمَ أَنَّ لِلْحَقِّ مَكَانًا فَهُوَ مُشَبِّهٌ

“Beliau juga berkata: ‘Siapa yang mengatakan: Aku tidak tahu apakah Allah di langit atau di bumi, maka ia telah kafir.’ Sebab ucapan itu mengesankan bahwa Allah memiliki tempat, dan siapa yang meyakini Allah memiliki tempat, ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk).”

— Abû Bakr al-Aḫsâ’î, Maslak ats-Tsiqât fî Nushûsh ash-Shifât, hlm. 65–68

Titik tekan: yang dikafirkan bukan soal “tidak tahu”, melainkan keraguan yang berangkat dari anggapan bahwa Allah pasti bertempat.
Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Penjelasan

Alur Pikir: Mengapa Allah Tidak Bertempat?

1

Allah ada sejak azali

Sebelum ada makhluk, Allah sudah ada, tanpa tempat dan tanpa “di mana”.

2

Tempat adalah makhluk

Ruang, arah, langit, dan Arsy semuanya diciptakan Allah, sehingga baru (ḫâdits).

3

Allah tidak berubah

Setelah mencipta, Allah tetap seperti sediakala: tidak membutuhkan dan tidak menempati makhluk-Nya.

Kalimat kunci dari ibarat Abû Ḫanîfah:

كَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَا مَكَانَ

Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Ibarat 4 · al-Washiyyah

Melihat Allah di Surga: Tanpa Kaifiyyah, Tanpa Arah

قَالَ الإِمَامُ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الوَصِيَّةِ: وَلِقَاءُ اللهِ تَعَالَى لِأَهْلِ الجَنَّةِ حَقٌّ بِلَا كَيْفٍ وَلَا تَشْبِيْهٍ وَلَا جِهَةٍ

“Bertemu dengan Allah bagi penduduk surga adalah benar (pasti), tanpa kaifiyyah (tanpa bentuk, ukuran, dan rupa), tanpa menyerupakan dengan makhluk, dan tanpa arah.”

— Akmaluddîn al-Bâbartî al-Ḫanafî, Syarḫ Washiyyat al-Imâm Abî Ḫanîfah, Dâr al-Fatḫ, Beirut, hlm. 132

بِلَا كَيْفٍ

tanpa bentuk & ukuran

وَلَا تَشْبِيْهٍ

tanpa penyerupaan

وَلَا جِهَةٍ

tanpa arah

Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
لَيْسَ كَمِثْلِهِ
03

Istawâ atas Arsy dan Manhaj Tafwîdh

Allah istawâ atas Arsy tanpa kaifiyyah, tanpa membutuhkan, dan tanpa bertempat di atasnya.

Ibarat 5 · al-Washiyyah

Istawâ Tanpa Kaifiyyah dan Tanpa Istiqrâr

قَالَ الإِمَامُ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الوَصِيَّة: وَاللهُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى بِلَا كَيْفٍ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ. انتهى. وَهَذَا مَذْهَبُ السَّلَفِ. فَتَفْوِيْضُ عِلْمِهَا إِلَى اللهِ تَعَالَى تَأْوِيْلٌ أَيْضًا لَكِنَّهُ إِجْمَالِيٌّ. وَهُوَ مَذْهَبُ السَّلَفِ فِي جَمِيْعِ الصِّفَاتِ الْمُتَشَابِهَاتِ. وَاخْتَارَهُ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ

“Allah istawâ atas Arsy tanpa kaifiyyah, tanpa Dia membutuhkannya dan tanpa bertempat di atasnya.” Inilah mazhab salaf: menyerahkan ilmunya kepada Allah (tafwîdh), yang juga merupakan takwil, tetapi takwil ijmâlî. Itulah manhaj salaf pada seluruh sifat mutasyâbihât, dan dipilih oleh Mâlik, asy-Syâfi’î, dan Aḫmad bin Ḫanbal.

— Kamâluddîn al-Bayâdhî, Isyârât al-Marâm min ’Ibârât al-Imâm Abî Ḫanîfah an-Nu’mân, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, hlm. 156

Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Penjelasan

Alur Tafwîdh: Cara Salaf Menyikapi Sifat Mutasyâbihât

Ayat mutasyâbih
الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى
1. Lafaz diimani
Istawâ ditetapkan sebagaimana datang
2. Makna jasmani dinafikan
Bukan duduk, menetap, atau butuh
3. Tafwîdh
Hakikat makna diserahkan kepada Allah
≈

Takwil Ijmâlî

Tafwîdh disebut juga takwil global: lafaz dipalingkan dari makna lahiriah yang jasmani, tanpa menentukan makna tertentu.

✓

Manhaj Salaf

Ditempuh pada seluruh sifat mutasyâbihât; dipilih oleh Imam Mâlik, asy-Syâfi’î, dan Aḫmad bin Ḫanbal.

Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Ibarat 6 · al-Minhâj al-Qawîm

Meyakini Allah Berarah atau Berjism

وَاعْلَمْ أَنَّ القَرَافِيَّ وَغَيْرَهُ حَكَوْا عَنِ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَأَحْمَدَ وَأَبِي حَنِيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ القَوْلَ بِكُفْرِ القَائِلِيْنَ بِالجِهَةِ وَالتَّجْسِيْمِ، وَهُمْ حَقِيْقُوْنَ بِذَلِكَ

“Ketahuilah, al-Qarâfî dan ulama lainnya meriwayatkan dari asy-Syâfi’î, Mâlik, Aḫmad, dan Abû Ḫanîfah radhiyallâhu ’anhum pendapat tentang kufurnya orang yang mengatakan Allah berada di suatu arah (jihah) dan Allah berupa jism (tajsîm); dan mereka memang layak dihukumi demikian.”

— Ibnu Ḫajar al-Haitamî, al-Minhâj al-Qawîm Syarḫ al-Muqaddimah al-Ḫadhramiyyah, Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah, Beirut, hlm. 144

al-Jihah: meyakini Allah berada di suatu arah
at-Tajsîm: meyakini Allah berbentuk dan berukuran
Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
لَيْسَ كَمِثْلِهِ
04

Kalam Allah Tanpa Huruf dan Suara

Kita berbicara dengan alat dan huruf; Allah berkalam tanpa alat dan tanpa huruf.

Ibarat 7 · al-Fiqh al-Akbar

Allah Berkalam Tanpa Alat dan Huruf

وَنَحْنُ نَتَكَلَّمُ بِالآلَاتِ وَالحُرُوْفِ. وَاللهُ تَعَالَى يَتَكَلَّمُ بِلَا آلَةٍ وَلَا حُرُوْفٍ. وَالحُرُوْفُ مَخْلُوْقَةٌ، وَكَلَامُ اللهِ تَعَالَى غَيْرُ مَخْلُوْقٍ

“Kita berbicara dengan alat-alat (mulut, lidah, bibir) dan huruf-huruf. Sedangkan Allah berkalam tanpa alat dan tanpa huruf. Huruf-huruf itu makhluk, adapun Kalam Allah bukan makhluk.”

— al-Imam Abû Ḫanîfah, al-Fiqh al-Akbar, Maktabah al-Furqân, Uni Emirat Arab, hlm. 26

Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Perbandingan

Kalam Makhluk vs Kalam Allah

AspekKalam makhlukKalam Allah
AlatMulut, lidah, bibir, tenggorokanTanpa alat apa pun
Huruf & suaraTersusun dari huruf dan bunyiTanpa huruf, tanpa suara
BahasaTerikat bahasa tertentuTidak terikat bahasa
StatusMakhluk: baru dan berawalSifat Allah: bukan makhluk, azali
Huruf yang kita baca dan tulis adalah ungkapan (’ibârah) yang menunjuk kepada Kalam Allah; Kalam itu sendiri adalah sifat Allah yang azali.
Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
لَيْسَ كَمِثْلِهِ
B

Kesimpulan Akidah Abû Ḫanîfah

Enam butir pokok yang dirangkum dari ibarat-ibarat di atas.

Butir 1–3

Kesimpulan (1)

1

Ada tanpa kaifiyyah

Allah ada tanpa bentuk, ukuran, rupa, tempat, dan arah. Tidak ada yang mengetahui hakikat Allah kecuali Allah.

2

Tidak bertempat di mana pun

Allah tidak di bumi, tidak di atas langit, tidak di atas Arsy, dan tidak di mana-mana. Maha Suci Allah dari tempat dan arah.

3

Istawâ dengan tafwîdh al-ma’nâ

Allah istawâ atas Arsy, tetapi maknanya bukan berada di atas Arsy; hakikat maknanya hanya Allah yang mengetahui.

Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah
Butir 4–6

Kesimpulan (2)

4

Bukan jism, jauhar, ’aradh

Adanya Allah bukan berupa bentuk atau ukuran, bukan kecil dan bukan besar, tidak di suatu tempat dan tidak di suatu arah.

5

Esa berarti tidak serupa

Allah tidak sama dengan apa pun, baik dari segi Dzat maupun sifat. Itulah makna Allah Maha Esa.

6

Tak terjangkau bayangan

Allah tidak bisa dibayangkan dan digambarkan dalam benak. Apa pun yang terbayang tentang Allah, Allah tidak seperti itu.

Akidah al-Imam Abû Ḫanîfah (w. 150 H) · Kajian Akidah Ahlussunnah wal Jama’ah

Penutup

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Asy-Syûrâ [42]: 11)

Wallâhu a’lam bish-shawâb

Putar HP ke posisi mendatar agar slide memenuhi layar